Teachers are the Real Heroes

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Setiap kali kita mendengar kata pahlawan, mungkin yang pertama muncul di benak kita adalah sosok yang melakukan aksi besar, menyelamatkan orang di tengah bahaya, atau tampil dalam sorotan publik. Namun, saya ingin mengajak kita untuk melihat kembali bahwa di ruang kelas, di sekolah-sekolah, di tengah tantangan hari-hari biasa, terdapat sosok yang sama-potensinya pahlawan: dialah seorang guru. Ya, guru adalah pahlawan sebenarnya. Kita tentu bertanya, mengapa guru layak disebut pahlawan? Pertama, guru melakukan pekerjaan yang jauh melampaui sekadar menyampaikan materi. Dalam buku My Teacher is My Hero: Tributes to the People Who Gave Us Knowledge, Motivation, and Wisdom, editor Susan Reynolds (2008) mengumpulkan kisah‐kisah nyata dari lebih lima puluh orang yang mengungkap bagaimana guru mereka “lebih dari pengajar; mereka mentransformasi hidup”. Buku ini menyebut: “Great teachers are the unsung heroes of our lives.” Ini menunjukkan bahwa guru bukan hanya fasilitator belajar, tetapi juga pembentuk karakter, pemberi motivasi, dan pemantik inspirasi. Kedua, riset menunjukkan bahwa di tengah perubahan cepat dan tuntutan baru di pendidikan, guru harus menunjukkan sifat‐sifat seperti kelincahan (agility) dan adaptabilitas (adaptability). Dalam artikel “The heroism of teachers: Agility and adaptability through professional education” (2021) dikatakan bahwa “self-efficacy, resilience and optimism are significant predictors of prosocial behaviours, which in turn lead to job satisfaction in teachers” (La Valle, 2021). Dengan kata lain: guru yang percaya diri, gigih, optimis—itu semua mendukung perilaku pro-sosial (membantu siswa, berkolaborasi, peduli) dan akhirnya keberlanjutan profesinya. Sifat‐sifat ini memang sangat mirip dengan konsep “pahlawan”: menghadapi tantangan, bertahan, dan tetap berdampak. Ketiga, konsep guru sebagai pahlawan juga muncul dalam gambaran identitas profesional guru yang terus berkembang. Sebagai contoh, studi “Travelling the Hero’s journey with first year pre‑service teachers” (2023) meneliti pengalaman calon guru tahun pertama melalui lensa “perjalanan pahlawan” (hero’s journey) di mana mereka melalui tantangan, krisis, refleksi, dan akhirnya penguatan identitas sebagai guru (McKay, 2023). Dengan begini, kita bisa melihat bahwa guru memang mengambil peran khas: bukan sekadar “memberi pelajaran”, tetapi menjalani perjalanan transformasi dan kemudian membantu orang lain tumbuh. Peran Tersembunyi Tapi Besar Dalam keseharian, guru menolong kita bangkit ketika kita belum percaya diri; guru membantu kita memahami dunia ketika kita bingung; guru kadang menjadi tempat curhat ketika kita merasa gagal; guru menjadi figur kepercayaan ketika lingkungan kita tak selalu mendukung. Kisah‐kisah dalam My Teacher is My Hero menekankan bahwa efek guru seringkali “terasa lama setelah kelas usai” (Susan Reynolds, 2008). Ini adalah ciri khas pahlawan: dampaknya tidak hanya instan, tetapi berjangka panjang. Lebih jauh, guru di banyak konteks menghadapi kompleksitas: mulai dari kondisi sekolah yang terbatas, jumlah siswa yang banyak, variasi latar belakang siswa yang sangat beragam, perubahan kurikulum yang cepat, hingga tekanan non-akademik seperti kebutuhan sosial dan emosional siswa. Ini juga kita dapatkan di Indonesia. Di sini, kemampuan guru untuk “menjadi pahlawan sehari-hari” sangat dibutuhkan: kepekaan terhadap siswa, kreativitas dalam pembelajaran, dan keberanian untuk terus belajar sendiri. Kita hidup di era yang dinamis: teknologi digital, pandemi, perubahan kurikulum, tuntutan kompetensi masa depan, masalah kesejahteraan siswa, ketimpangan belajar—semuanya memunculkan tantangan baru bagi guru. Dalam konteks ini, artikel “The heroism of teachers…” menegaskan bahwa profesionalisme guru tidak hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga soal kesiapan menghadapi perubahan (adaptability) dan mengambil inisiatif dalam pengembangan profesional (la Velle, 2021). Dengan demikian, guru yang mampu menghadapi tantangan itu layak disebut pahlawan, karena mereka berdiri di garis depan perubahan pendidikan. Tak hanya itu: dalam tahap awal profesi, calon guru, atau guru baru, mengalami fase yang seringkali penuh guncangan—termasuk tekanan identitas, tuntutan performa tinggi, kurangnya dukungan. Studi “Navigating a pathway of professional learning: Travelling the Hero’s journey with first year pre-service teachers” menunjukkan bahwa menganggap proses ini sebagai “perjalanan sang pahlawan” membantu calon guru memahami bahwa tantangan adalah bagian dari pertumbuhan profesional (McKay et al., 2023). Jadi, guru tidak hanya pahlawan bagi siswa, tetapi juga bagi dirinya sendiri—mengatasi rintangan, menguatkan jati-dirinya, dan akhirnya memberi dampak. Saatnya Menghargai Guru sebagai Pahlawan Ketika kita menyadari bahwa guru adalah pahlawan, maka beberapa implikasi positif muncul. Pertama, penghormatan yang lebih tulus terhadap profesi guru. Buku My Teacher is My Hero mengajak kita memberi penghargaan nyata kepada guru, bukan sekadar hari guru atau hadiah simbolik, tetapi juga pengakuan akan pengorbanan, kreativitas, dan ketekunan mereka. Kedua, dengan pengakuan ini kita diingatkan bahwa sistem pendidikan harus mendukung guru: pelatihan berkelanjutan, dukungan emosional, fasilitas memadai, kebijakan yang realistis. Karena jika pahlawan kita dibiarkan berjuang sendiri, kita kehilangan potensi besar. Ketiga, bagi siswa dan masyarakat, menyadari bahwa guru adalah pahlawan dapat mengubah cara kita memandang pembelajaran: bukan sebagai rutinitas atau kewajiban, tetapi sebagai interaksi dengan seseorang yang peduli, yang menemani perjalanan kita tumbuh. Ini memberi dimensi humanistik pada pendidikan, yang sangat penting di zaman yang kadang terlalu teknis dan kompetitif. Sebagai pendidik atau pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, kita bisa melakukan beberapa hal agar penghargaan terhadap guru sebagai pahlawan bukan sekadar retorika. Pertama, mendorong budaya sekolah di mana guru berbagi kisah perjuangan, inovasi, dan pembelajaran mereka—mirip dengan kisah dalam My Teacher is My Hero (Susan Reynolds, 2008) —sebagai inspirasi bagi kolega dan generasi baru. Kedua, mendukung guru dalam pengembangan profesional yang menguatkan kapasitas adaptabilitas, kreativitas, dan empati—karena aspek-aspek ini yang dalam riset terbukti mendukung perilaku pro-sosial guru (Linda la Velle, 2021). Ketiga, mengajak stakeholder (orang tua, masyarakat, pembuat kebijakan) untuk melihat guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai arsitek karakter dan pembentuk masa depan—dan memperlakukan mereka layaknya pahlawan yang layak mendapat penghormatan dan dukungan nyata. Keempat, mengajak siswa untuk menuliskan kisah guru mereka yang menginspirasi—sebagai bagian dari literasi apresiatif—agar siswa menyadari dampak positif yang pernah atau sedang diterima. Mari kita tutup dengan satu analogi: ketika perang dilawan oleh pahlawan bersenjata, maka dalam peperangan melawan buta huruf, ketidakpedulian, ketidaksiapan masa depan, gurulah yang berdiri tegak di garis paling depan. Mereka mungkin tidak memakai jubah atau mendapat sorak-sorai publik, namun efeknya nyata: anak-anak tumbuh, harapan menggeliat, masyarakat berubah. Seperti yang dikatakan Susan Reynolds dalam My Teacher is My Hero: guru “transform lives … making an impact that lasts long after the classroom”. Jadi, jika kita benar-benar menghargai pendidikan, maka pantaslah kita menyebut: Guru adalah
UMM Gelar Workshop Inovasi: Perkuat Literasi dan Numerasi Guru Melalui Kecerdasan Buatan AI

Malang — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berinovasi dalam memperkuat kompetensi guru melalui kegiatan workshop bertajuk “Optimalisasi Kemampuan Literasi & Numerasi Siswa Melalui Perencanaan Pembelajaran Berbantuan Artificial Intelligence (AI)”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FKIP – 6.14 UMM ini diikuti puluhan guru dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jakarta. Sabtu (08/11/2025). Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen FKIP untuk berkontribusi aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional. “Workshop ini adalah bukti konkret FKIP dalam membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat kompetensi guru agar siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” ujarnya. Mahfud menambahkan, kegiatan yang dirancang setara 32 jam pelatihan (JP) ini bersifat aplikatif dan berorientasi pada hasil, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa di sekolah. AI sebagai Katalisator Pembelajaran Mendalam Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama yang merupakan Microcredential Awardee on Literacy & Numeracy dari Deakin University, Australia, yakni Fuad Jaya Miharja, M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi UMM) dan Kharisma Naidi Warnanda S., M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMM). Dalam paparannya, Fuad menjelaskan bahwa AI berperan sebagai katalisator pembelajaran mendalam. “AI bukan pengganti guru, melainkan partner super yang membantu guru menghasilkan pembelajaran kontekstual dan personal sesuai kebutuhan siswa,” ungkapnya. Menurut Fuad, AI dapat membantu guru mengotomasi pekerjaan administratif seperti pembuatan soal dan laporan, merancang asesmen yang proporsional antara HOTS dan LOTS, serta memberikan umpan balik formatif yang cepat dan autentik. Merancang Asesmen Pintar dan Adaptif Sementara itu, Kharisma menyoroti pentingnya penerapan Smart Assessment atau asesmen pintar berbasis AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. “Asesmen pintar tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga memperbaikinya. Dengan AI, guru bisa memperoleh umpan balik instan dan data pembelajaran yang bisa langsung digunakan untuk menyesuaikan strategi mengajar,” jelasnya. Ia menambahkan, teknologi AI memungkinkan perancangan asesmen adaptif sesuai kemampuan dan kecepatan belajar tiap siswa, sekaligus membantu guru melakukan learning analytics untuk peningkatan berkelanjutan. Sesi Hands-on: Dari Teori ke Praktik Pada sesi praktik, peserta diajak menyusun Lesson Design dan Asesmen Literasi & Numerasi berbasis AI. Guru-guru yang hadir aktif mengeksplorasi berbagai aplikasi AI untuk pendidikan, seperti perencanaan pembelajaran adaptif dan pembuatan rubrik penilaian otomatis. Salah satu peserta, Nur Aini Yan Meinati, mengaku mendapat wawasan baru tentang integrasi literasi dan numerasi dalam pembelajaran Bahasa. “Workshop ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana AI bisa menjadi mitra cerdas guru tanpa menghilangkan esensi pedagogik,” tuturnya. Senada, Priska Sinta Andina, guru Bahasa dari SMA Negeri 9 Malang, menilai penggunaan AI mampu meningkatkan efisiensi guru. “AI bisa menghemat waktu dalam mendesain pembelajaran, tapi tetap perlu analisis mendalam dari guru agar hasilnya tetap berkualitas,” katanya. Para narasumber juga menekankan pentingnya keterampilan dalam membuat prompt yang kuat dan presisi (strong & precise prompt) agar hasil keluaran AI relevan dan bermakna. Artikel ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/umm-gelar-workshop-inovasi-perkuat-literasi-dan-numerasi-guru-melalui-kecerdasan-buatan-ai/
Selami Kearifan Ritual “Reresik Kali”, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto Tembus Publikasi Jurnal Q1

Malang – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., bersama tim peneliti yang terdiri atas Dr. Husamah, M.Pd., Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., dan Turut Indria Permana, M.Pd., berhasil menembus publikasi internasional bereputasi Q1. Artikel mereka yang mengangkat ritual “reresik kali” atau tradisi pembersihan sungai masyarakat Jawa, resmi diterbitkan di Social Sciences and Humanities Open, jurnal internasional yang diterbitkan oleh Elsevier. Penelitian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI melalui skema penelitian Fundamental BIMA. Penelitian ini mengangkat tema besar tentang kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan, dengan menjadikan ritual “reresik kali” sebagai pintu masuk memahami relasi manusia dan alam di masyarakat Jawa. Dalam riset tersebut, tim peneliti menelusuri makna, nilai, dan implikasi ekologis dari tradisi yang telah diwariskan turun-temurun ini. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik budaya tersebut bukan sekadar ritual simbolik, melainkan juga wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan tata kehidupan yang selaras dengan alam. “Reresik kali” sendiri merupakan tradisi membersihkan sungai yang disertai doa dan upacara adat. Masyarakat melakukan pembersihan bersama, melepaskan sesaji, serta berdoa agar sungai tetap bersih, tidak membawa malapetaka, dan memberikan berkah bagi kehidupan. Dalam konteks ekologis, ritual ini terbukti memiliki fungsi sosial dan konservatif yang kuat—menjadi mekanisme alami dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber daya air dan ekosistemnya. Dalam publikasinya, tim peneliti memadukan pendekatan etnografi, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta warga sekitar sungai. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan perspektif ekologi budaya dan antropologi lingkungan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ritual “reresik kali” dapat dipahami sebagai sistem pengetahuan lokal yang mengatur interaksi manusia dengan lingkungannya secara harmonis, bahkan tanpa perlu intervensi teknologi modern. Menurut Prof. Abdulkadir, riset ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai dan pelestarian air. “Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki sistem nilai dan ritual yang telah lama berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem. ‘Reresik kali’ bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang ekologi dan spiritualitas lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa publikasi di jurnal Q1 Elsevier ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti bahwa kearifan lokal Indonesia dapat menjadi referensi ilmiah global. Temuan penelitian tersebut menegaskan bahwa pelestarian tradisi dan pendekatan ilmiah dapat saling menguatkan. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai basis, upaya konservasi sungai dapat lebih berkelanjutan karena melibatkan partisipasi masyarakat dan mengakar pada nilai-nilai budaya. Model ini diusulkan oleh tim peneliti sebagai strategi alternatif dalam pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas, yang relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin tentang lingkungan hidup, air bersih, dan kemitraan sosial. Dr. Husamah, M.Pd., salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa keberhasilan riset ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas bidang. “Kami menggabungkan perspektif pendidikan lingkungan, antropologi sosial, dan ekologi. Pendekatan multidisiplin membuat hasil penelitian lebih komprehensif dan kontekstual,” jelasnya. Ia berharap hasil ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen lain di FKIP untuk terus mengeksplorasi riset-riset yang mengangkat kearifan lokal Indonesia. Senada dengan itu, Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., menekankan bahwa keberhasilan publikasi ini tidak hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang kontribusi ilmiah UMM dalam isu global. “Kita menunjukkan bahwa lokalitas bisa berbicara di level internasional. Dunia perlu belajar dari praktik masyarakat yang menjaga sungai tidak hanya dengan teknologi, tetapi dengan nilai-nilai spiritual dan sosial,” tuturnya. Sementara itu, Turut Indria Permana, M.Pd., menambahkan bahwa tradisi seperti “reresik kali” menyimpan potensi besar untuk diintegrasikan dalam pendidikan karakter dan pendidikan lingkungan di sekolah. “Anak-anak bisa belajar tentang tanggung jawab ekologis dari praktik nyata masyarakat. Ini cara mendidik yang kontekstual dan menyentuh nilai kemanusiaan,” ujarnya. Apresiasi atas capaian ini datang dari Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. M. Mahfud Effendi. Ia menyampaikan rasa bangganya karena tim dosen UMM kembali mengharumkan nama universitas di level internasional. “Publikasi di jurnal Q1 Elsevier bukanlah hal mudah. Ini membuktikan bahwa dosen-dosen FKIP UMM tidak hanya unggul dalam pengajaran, tetapi juga produktif dan relevan dalam penelitian. Lebih dari itu, mereka mengangkat isu lokal menjadi wacana global,” ujarnya. Prof. Mahfud menegaskan bahwa FKIP UMM akan terus mendorong penelitian yang berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan. “Kami ingin FKIP menjadi pusat penelitian pendidikan dan budaya yang mampu menjawab tantangan zaman. Riset seperti ini membuktikan bahwa universitas mampu menjadi jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kearifan masyarakat,” lanjutnya. Ke depan, tim peneliti berencana melanjutkan kajian lanjutan untuk mengeksplorasi ritual lingkungan lain di berbagai daerah di Indonesia, serta mengembangkan model pendidikan berbasis kearifan lokal. Mereka juga berharap temuan ini dapat menginspirasi pemerintah dan lembaga lingkungan untuk menjadikan tradisi seperti “reresik kali” sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan air dan konservasi sungai. Dengan keberhasilan publikasi di Social Sciences and Humanities Open (Elsevier), riset ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat berkontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan global. Melalui pendekatan yang menghargai budaya dan lingkungan, tim UMM menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis ekologis tidak hanya datang dari laboratorium atau kebijakan besar, tetapi juga dari hati dan tangan masyarakat yang setia merawat alamnya.