Mengembalikan Esensi Pelajar: Refleksi Hari Pelajar Internasional

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Setiap 17 November, dunia merayakan Hari Pelajar Internasional. Di berbagai tempat, peringatan ini dikemas dalam seminar, bincang akademik, hingga unggahan kreatif di media sosial. Namun di balik itu semua, ada satu undangan untuk merenung: apa makna sesungguhnya menjadi seorang pelajar? Pertanyaan ini penting, sebab dalam derasnya tuntutan nilai, sertifikasi, dan kompetisi, esensi pelajar sering menyempit menjadi sekadar “pencari skor”. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menulis dalam bukunya “Experience and Education” (1938) bahwa pendidikan bukan proses menuangkan fakta ke kepala anak, melainkan pengalaman hidup yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Dewey melihat pelajar sebagai agen aktif yang tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan. Refleksi ini mengajak kita bertanya ulang: apakah sistem pendidikan kini memberi ruang bagi pelajar untuk mengalami proses belajar secara utuh, atau justru mengurung mereka dalam pola hafalan dan ketergesa-gesaan? Paulo Freire, dalam karyanya yang sangat berpengaruh “Pedagogy of the Oppressed” (1970), mengkritik pendekatan pendidikan yang ia sebut sebagai “banking model of education”, di mana guru dianggap sebagai pihak yang “mengisi” dan pelajar sebagai “wadah kosong”. Freire menegaskan pelajar seharusnya menjadi subjek yang kritis dan sadar. Dalam konteks Hari Pelajar Internasional, gagasan Freire mengingatkan bahwa menghargai pelajar berarti menghargai kesadaran, pertanyaan, dan keberanian berpikir—bukan hanya hasil akhir. Sir Ken Robinson, seorang tokoh pendidikan dunia, dalam bukunya “Creative Schools” (2015), menyoroti bagaimana sistem pendidikan sering kali beroperasi layaknya pabrik: seragam, linear, dan mengandalkan standar tunggal. Padahal, kata Robinson, pelajar lebih mirip tanaman di kebun—masing-masing tumbuh dengan ritme dan potensi yang berbeda. Dunia pendidikan yang terlalu menstandarkan indikator keberhasilan berisiko mengabaikan keragaman potensi tersebut. Pelajar akhirnya merasa harus memenuhi “template”, bukan menemukan dirinya. Kesamaan gagasan dari Dewey, Freire, dan Robinson mengarah pada satu pesan: pelajar bukan objek pendidikan, tetapi subjek yang sedang menjalani proses pertumbuhan intelektual, emosional, dan sosial. Pelajar bukan produk jadi; mereka adalah perjalanan itu sendiri. Namun dalam kenyataannya, banyak pelajar hari ini hidup dalam tekanan: cepat lulus, cepat sukses, cepat dapat pekerjaan. Jarang kita memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, merenung, atau mencari jati diri. Psikolog Carol Dweck, melalui bukunya “Mindset: The New Psychology of Success” (2006), menekankan pentingnya growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan proses. Pelajar seharusnya tak dinilai hanya pada pencapaian akhir, tetapi juga pada kemauan berproses, berusaha, dan bangkit dari kegagalan. Sayangnya, sistem yang terlalu menuntut hasil membuat pelajar takut mencoba hal baru. Mereka takut salah, takut berbeda. Padahal, Albert Einstein—dalam esainya On Education yang kemudian dimuat dalam kumpulan tulisan Out of My Later Years (1950)—mengkritik pendidikan yang mengagungkan kecerdasan di atas rasa ingin tahu. Bagi Einstein, rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama manusia untuk belajar. Maka, tugas kita adalah memastikan pelajar tidak kehilangan hasrat eksploratif yang menjadi hakikat belajar itu sendiri. Di Indonesia, pelajar memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan perubahan sosial. Pergerakan nasional banyak dipelopori pemuda, dan gerakan mahasiswa kerap menjadi titik balik berbagai fase bangsa. Namun identitas itu hanya bisa tumbuh jika pelajar dibentuk dalam budaya berpikir kritis, dialogis, dan peduli. Pelajar yang hanya mengejar nilai cenderung apatis; tetapi pelajar yang menemukan makna dalam belajarnya akan mampu berpikir lebih luas tentang dunia dan bangsanya. Dalam momentum Hari Pelajar Internasional ini, mungkin sudah saatnya kita membalik perspektif. Masalahnya bukan pada pelajar yang “kurang rajin”, “kurang disiplin”, atau “kurang cerdas”. Barangkali yang perlu berubah adalah ekosistem pendidikan: pola pengajaran, ekspektasi orang dewasa, ruang dialog, dan cara kita mendefinisikan keberhasilan. Kita terlalu sering melihat pelajar melalui kacamata orang dewasa yang penuh standar, padahal dunia mereka sedang tumbuh dan mencari arah. Mengembalikan esensi pelajar berarti mengembalikan hak-hak mereka untuk: (1) Bertanya tanpa takut dinilai. (2) Salah tanpa merasa gagal. (3) Tumbuh tanpa diseragamkan. (4) Belajar karena ingin, bukan karena tekanan. (5) Bermimpi tanpa batasan angka. Akhirnya, Hari Pelajar Internasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan moral untuk memastikan bahwa pelajar tetap menjadi manusia yang utuh—bukan mesin nilai, bukan objek penilaian, bukan produk yang dituntut “jadi siap pakai”. Pelajar adalah individu dengan potensi, kecemasan, kreativitas, dan harapan. Dan tugas pendidikan yang paling mulia adalah memastikan semua itu tumbuh, bukan hilang. Mengembalikan esensi pelajar berarti mengembalikan kemanusiaan dalam belajar. Dan di situlah masa depan dibangun. Artikel opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/mengembalikan-esensi-pelajar-refleksi-hari-pelajar-internasional/
Anakku, Hormatilah Gurumu

OPINI — Oleh: Dr Husamah, SPd, MPd, Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Sekolah sejatinya bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah kedua tempat karakter, etika, dan budi pekerti ditempa. Di sanalah anak belajar tentang kehidupan, tentang hormat, sopan santun, dan adab. Tapi, mari kita jujur sejenak. Ada sesuatu yang terasa hilang dari ruang-ruang kelas kita hari ini: adab terhadap guru. Fenomena ini bukan isapan jempol. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai media memberitakan hal yang membuat kita terenyuh. Seorang guru di Gresik ditampar muridnya karena menegur soal tugas. Di Sampang, seorang guru agama ditantang duel oleh siswanya karena ditegur merokok di sekolah. Ada juga siswa di Bekasi yang mencaci maki gurunya di media sosial hingga video itu viral. Ironisnya, bukan hanya siswa, tapi kadang orang tua ikut “menghakimi” guru di ruang publik, seolah guru adalah pelayan, bukan pendidik. Padahal, dalam tradisi pendidikan Islam dan budaya Timur kita, guru bukan sekadar profesi, tapi peran suci. Rasulullah ﷺ bersabda: “Innama bu’itstu mu’alliman”. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan bahwa mengajar bukan pekerjaan biasa. Guru adalah pewaris tugas kenabian. Mereka mengajarkan ilmu, menuntun jiwa, dan menanamkan adab. Maka, kehilangan rasa hormat kepada guru bukan hanya masalah perilaku, tapi krisis spiritual dan moral. Ketika Adab Ditinggalkan Fenomena siswa yang berbicara dengan nada tinggi kepada guru kini jadi hal yang sering terdengar. “Ah, cerewet amat, Bu!”, ucapan seperti ini yang dulu tabu, kini meluncur ringan dari bibir remaja. Saat guru menegur karena tidak mengerjakan tugas, sebagian malah merasa harga dirinya diserang. Ada yang menunduk, tapi bukan karena malu, melainkan sibuk dengan ponsel. Lebih parah lagi, media sosial menjadi panggung baru untuk melawan guru. Caption bernada sindiran, meme mengejek, hingga video guru dijadikan bahan lelucon. Seketika, wibawa guru runtuh di mata publik. Dunia digital yang semestinya jadi sarana belajar justru berubah menjadi arena cibiran. Dampaknya? Proses belajar pun kehilangan ruh. Tidak ada keberkahan dalam ilmu yang diajarkan dengan hati yang tersakiti. Guru mungkin tetap mengajar, tapi doanya tidak lagi penuh harap. Dan anak-anak yang belajar tanpa adab akan kehilangan cahaya ilmu: karena sebagaimana dikatakan ulama, “ilmu tanpa adab adalah petaka”. Akar Masalah: Dari Rumah dan Lingkungan Rusaknya adab tidak muncul tiba-tiba. Ada akar yang dalam: dari rumah, lingkungan, dan media. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah, seolah tanggung jawab moral hanya milik guru. Padahal, rumah adalah madrasah pertama. Orang tua yang di rumah sering membicarakan kekurangan guru di depan anaknya, tanpa sadar menanamkan benih tidak hormat. “Ah, gurumu itu salah kok!” Kalimat sederhana seperti itu bisa menghapus kepercayaan anak terhadap otoritas moral guru. Media sosial pun memperparah. Konten yang menormalisasi perilaku kasar, sikap sarkastik terhadap orang tua dan pendidik, menjelma panutan baru bagi remaja. Lingkungan yang lebih menghargai popularitas ketimbang kesantunan melahirkan generasi yang pandai bicara, tapi miskin sopan santun. Guru Adalah Pewaris Nabi Guru dalam Islam memiliki derajat tinggi karena perannya sebagai penerus risalah ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Laisa minna man lam yuwaqqir kabīranā wa yarham ṣaghīranā wa ya’rif li ‘āliminā ḥaqqah”. “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama.” (HR. Ahmad) Hadis ini menegaskan bahwa menghormati orang berilmu adalah bagian dari iman. Guru, terutama yang mengajarkan ilmu agama, adalah pewaris para nabi. Maka wajar jika para salaf terdahulu begitu menjunjung tinggi adab terhadap guru. Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Saat Rasulullah duduk bersama kami di masjid, kami terdiam seolah ada burung di atas kepala kami.” (HR. Bukhari) Itulah bentuk adab, tenang, fokus, penuh hormat. Ibnu Abbas bahkan pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit, gurunya, seraya berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami.” Umar bin Khattab pun berpesan: “Tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.” Bayangkan, para sahabat yang mulia saja begitu tunduk kepada gurunya. Maka bagaimana mungkin kita yang hanya tahu sebagian kecil dari ilmu mereka justru berani bersikap sombong? Hilangkan Ilmu, Hilanglah Berkah Dr. Umar As-Sufyani, pernah berkata: “Jika murid berakhlak buruk kepada gurunya, maka akan hilang keberkahan dari ilmu yang ia pelajari.” Ilmu yang tanpa adab akan sulit menembus hati. Mungkin pengetahuan melekat di kepala, tapi tak pernah menjadi cahaya yang menerangi hidup. Itulah mengapa Imam Burhanuddin az-Zarnuji, dalam kitab Ta’limul Muta’allim, berkata: “Seorang pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaatnya kecuali dengan menghormati ilmu, orang yang berilmu, dan guru-gurunya. Tidak sukses orang yang sukses kecuali karena hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena tidak hormat.” Demikian pula Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya menulis: “Jadilah orang yang memuliakan gurumu, karena memuliakannya adalah bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan orang yang berilmu.” Itulah kunci keberkahan ilmu, bukan sekadar pandai, tapi juga beradab. Sebab ilmu sejati bukan hanya soal hafalan, tapi tentang perubahan hati. Teladan Ulama dalam Menghormati Guru Para ulama klasik memberikan contoh luar biasa tentang bagaimana seorang murid memuliakan gurunya. Al-Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Aku membalik lembaran kitab di depan Imam Malik dengan lembut agar beliau tidak mendengar suaranya, karena segan padanya.” Abdurrahman bin Harmalah berkata: “Tidak ada seorang pun yang berani bertanya kepada Said bin Musayyib tanpa izin, seperti meminta izin kepada seorang raja.” Bahkan Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Demi Allah, aku tidak berani minum air di hadapan Imam Syafi’i karena segan padanya.” Sungguh, karena adab yang luhur itulah ilmu mereka diberkahi, nama mereka harum sepanjang masa. Dan lihatlah buahnya—keilmuan mereka tak hanya dihafal, tapi dijadikan pedoman hingga berabad-abad. Kembali pada Akar: Adab Sebagai Pondasi Kita hidup di zaman yang serba cepat dan instan. Semua ingin hasil tanpa proses, nilai tanpa usaha, ilmu tanpa guru. Padahal, sebagaimana pepatah Arab berkata, “Man lam yadzuq dzulla ta’allum sa’atan lam yadzuq ‘izzal jahli abadan”. “Barang siapa tidak pernah merasakan rendah hati saat belajar, ia akan selamanya hidup dalam kehinaan kebodohan.” Adab adalah jembatan antara ilmu dan keberkahan. Tanpa adab, ilmu akan kering dan tak bernilai. Maka, wahai anak-anakku, hormatilah gurumu. Jangan hanya karena ia menegurmu, lalu engkau benci padanya. Ketahuilah, setiap teguran guru adalah tanda cinta, bukan kebencian. Sayyidina Ali RA bahkan berkata: “Aku adalah hamba
Profesi Guru Takkan Pernah Mati

OPINI — Oleh: Dr. Husamah Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Di mata sebagian orang, profesi guru mungkin tampak sederhana. Nyatanya, di negeri ini-dengan lebih dari 287 juta penduduk sebagaimana yang dirilis BPS (2025) dan jutaan anak didik yang menanti edukasi-guru tetaplah menjadi fondasi utama peradaban. Dalam setiap fase pembangunan bangsa, sosok guru selalu hadir: menyalakan akal, menumbuhkan karakter, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan guru menjadi profesi yang menjadi titik kebangkitan peradaban sebuah bangsa. Mari kita belajar dari semangat bangsa Jepang. Sejarah mencatat vitalnya peran guru dalam kebangkitan Jepang setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu, Kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya telah luluh lantak oleh bom nuklir yang dijatuhkan tentara Amerika Serikat.Lihatlah bagaiman Jepang saat ini. Indonesia Membutuhkan Jutaan Guru Menurut data yang pernah disampaikan Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Indonesia memerlukan lebih dari 1,3 juta guru pada tahun 2024 dan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya. Lonjakan kebutuhan ini bukan semata akibat bertambahnya sekolah atau peserta didik, tetapi juga karena banyaknya guru yang memasuki masa pensiun dan belum seimbangnya persebaran tenaga pendidik di berbagai wilayah, terutama di daerah 3T-tertinggal, terdepan, dan terluar. Di sisi lain, guru non-ASN yang masih aktif mengajar di sekolah negeri tercatat lebih dari 1,2 juta orang. Data ini menunjukkan dua hal sekaligus: kebutuhan guru masih terbuka lebar, dan profesi ini tetap menjadi salah satu profesi dengan kontribusi sosial paling tinggi. Profesi Abadi Guru adalah profesi tertua di dunia. Sejak manusia mengenal tradisi lisan, pembelajaran, dan nilai, peran guru telah ada dalam berbagai bentuk: dari pandita, ulama, resi, hingga dosen. Di era modern, guru menjadi penggerak utama lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsuf pendidikan Paulo Freire pernah mengatakan bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan. Itulah mengapa, dalam tulisan Milind Watve berjudul “A Teacher Never Dies” (2019), ia menegaskan bahwa seorang guru sejati tidak pernah mati, karena nilai-nilainya hidup dalam diri setiap murid yang ia ajar. Demikian pula artikel “Teachers Who Never Die” yang ditulis oleh José Matias Alves, seorang professor di Faculty of Education and Psychology, Universidade Católica Portuguesa, Porto menyebut guru sebagai agen transformasi sosial yang pengaruhnya melampaui ruang kelas dan masa hidupnya. Ia mengutip sebuah aktivitas yang meminta beberapa profesional (manajer, ahli hukum, mahasiswa, dan lainnya) untuk menuliskan kenangan tak terlupakan tentang seorang guru yang pernah mereka miliki. Permintaan ini menghasilkan 40 narasi yang dikumpulkan dan diterbitkan pada tahun 2022 dalam sebuah buku digital yang mendukung gagasan bahwa betapa besarnya jasa guru, dan profesi guru yang tidak akan pernah mati. Dr. Chawanna Bethany Chambers, seorang guru peraih penghargaan nasional dan bersertifikat di Amerika, dalam esainya “Passion Never Dies” (2017) menegaskan bahwa gairah seorang guru adalah energi abadi yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia senada dengan catatan Rubem Alves (2006) bahwa mengajar adalah latihan menuju keabadian. Entah bagaimana, kita terus hidup dalam diri mereka yang matanya belajar melihat dunia melalui keajaiban kata-kata kita. Oleh karena itu, guru tidak pernah mati. Bukan Guru Biasa Nikolaus Bönke, Profesor di Department of Educational Science, University of Freiburg, Germany, bersama koleganya dalam artikel yang terbit di Jurnal Teaching and Teacher Education (2024) menegaskan guru bukan sekadar pengajar statis, melainkan pembelajar sepanjang hayat yang terus berevolusi, memperkaya kompetensinya (misalnya dalam bidang digital, sains, maupun globalisasi), dan menjaga semangatnya agar tetap relevan. Guru memiliki kapasitas dinamis untuk beradaptasi, berefleksi, dan memperbarui motivasinya dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan pendidikan. Namun, tentu menjadi guru di era digital bukan lagi sekadar perkara mengajar di depan kelas. Dunia pendidikan telah berubah.Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tidak cukup hanya menjadi “guru biasa”. Mereka harus menjadi guru dengan kompetensi tambahan yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Calon guru Matematika, misalnya, harus mampu menjadi ahli cyber education, memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan dalam analisis dan pemecahan masalah. Calon guru Bahasa Inggris dituntut menjadi pebisnis internasional-mampu menjembatani komunikasi lintas budaya dan membuka jejaring global. Calon guru Biologi ditantang menjadi pengusaha sekaligus peneliti dan ilmuwan yang membawa riset bioteknologi ke ruang kelas. Calon guru Bahasa Indonesia seharusnya tidak hanya mengajarkan ejaan dan sastra, tetapi menjadi diplomat bahasa yang mampu mempromosikan identitas Indonesia di dunia. Guru PPKn perlu memahami tata negara dan dinamika kebijakan publik agar mampu melahirkan warga negara yang kritis dan berintegritas. Sedangkan calon guru SD (PGSD) harus tampil sebagai guru multitalenta-menguasai berbagai bidang, peka terhadap psikologi anak, dan kreatif memadukan teknologi dengan pembelajaran karakter. Pandangan para pakar pendidikan di berbagai belahan dunia menunjukkan satu benang merah: profesi guru tidak akan tergantikan. Bönke et al (2024) menyoroti bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan, belum mampu menggantikan peran afektif, sosial, dan moral guru dalam membentuk kepribadian siswa. Guru tidak sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, fasilitator, dan teladan moral yang menumbuhkan empati dan kebijaksanaan-nilai-nilai yang tak bisa diprogram dalam algoritma. Dengan demikian, di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial, guru tetap menjadi profesi yang tak tergantikan. Di Indonesia, di mana pemerataan pendidikan masih menjadi tantangan, keberadaan guru justru semakin vital. Tugas kita bersama adalah memastikan para guru tidak hanya cukup jumlahnya, tetapi juga memiliki kompetensi, kesejahteraan, dan kesempatan yang layak untuk berkembang. Profesi guru bukan hanya tentang mengajar; ia adalah panggilan hidup untuk menyalakan peradaban. Selama manusia masih memerlukan ilmu, nilai, dan arah, profesi guru akan tetap hidup. Guru boleh pensiun, wafat, atau berganti generasi-tetapi semangat dan pengaruhnya akan terus hidup dalam diri murid-muridnya. Sebab benar adanya: “seorang guru tidak pernah mati.” Artikel ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/profesi-guru-takkan-pernah-mati/