Mas Dedek sebagai praktisi dari DD Orchid Nursery saat memberikan kuliah Budidaya Anggrek mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi UMM
Mas Dedek sebagai praktisi dari DD Orchid Nursery saat memberikan kuliah Budidaya Anggrek mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi UMM

Batu — Pembelajaran di kelas sering kali dianggap cukup untuk memahami konsep. Namun, pada kenyataannya, ilmu biologi—terutama yang berkaitan dengan budidaya—tidak akan benar-benar dikuasai tanpa praktik langsung di lapangan. Hal inilah yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM melalui kegiatan kuliah lapangan pada mata kuliah Budidaya Anggrek yang dilaksanakan di DD Orchid Nursery (Rabu/22 April 2026).

Kegiatan ini menghadirkan praktisi langsung, Mas Dedek, yang dikenal sebagai pelaku usaha sekaligus pengelola DD Orchid Nursery. Kehadiran praktisi bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi inti dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mahasiswa tidak hanya mendengar teori, tetapi melihat, menyentuh, dan memahami proses budidaya secara nyata.

Sejak awal kegiatan, mahasiswa terlihat mengikuti sesi dengan serius. Dalam sesi pemaparan, Mas Dedek menjelaskan dasar-dasar budidaya anggrek, mulai dari pemilihan bibit, teknik perbanyakan, hingga perawatan tanaman agar memiliki nilai jual tinggi. Penjelasan dilakukan secara langsung dan lugas—ciri khas praktisi yang berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori.

Tidak berhenti di situ, mahasiswa kemudian diajak masuk ke area nursery. Di sinilah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi. Mahasiswa mengamati berbagai tahap pertumbuhan anggrek, mulai dari kultur dalam botol hingga tanaman siap jual. Mereka juga diperlihatkan teknik aklimatisasi, yaitu proses penting dalam memindahkan tanaman dari kondisi steril ke lingkungan terbuka.

Terlihat dalam kegiatan tersebut, mahasiswa aktif bertanya dan berdiskusi. Ini bukan suasana kelas yang pasif. Justru sebaliknya—interaksi berjalan dua arah. Mahasiswa mencoba mengaitkan konsep yang dipelajari di kampus dengan praktik yang mereka lihat langsung di lapangan.

Dosen pengampu, Dr. Iin Hindun, M.Kes., turut hadir mendampingi jalannya kegiatan. Kehadiran beliau bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penguat jembatan antara teori dan praktik. Dalam beberapa kesempatan, beliau memberikan penegasan terhadap konsep-konsep ilmiah yang muncul selama praktik berlangsung, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami “bagaimana”, tetapi juga “mengapa”.

Jika diperhatikan dari rangkaian kegiatan, ada pola pembelajaran yang jelas: observasi – praktik – refleksi. Pola ini jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran satu arah di kelas. Mahasiswa tidak hanya menghafal, tetapi membangun pemahaman.

Di area greenhouse, mahasiswa diperlihatkan berbagai jenis anggrek dengan karakteristik yang berbeda. Mereka belajar bahwa setiap jenis memiliki kebutuhan lingkungan yang spesifik—mulai dari intensitas cahaya, kelembaban, hingga media tanam. Hal-hal seperti ini sering kali luput jika hanya dipelajari dari buku.

Selain aspek teknis, mahasiswa juga mendapatkan wawasan kewirausahaan. Mas Dedek menjelaskan bagaimana budidaya anggrek dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Ini penting, mengingat lulusan Pendidikan Biologi tidak hanya diarahkan menjadi pendidik, tetapi juga memiliki peluang sebagai bioedupreneur.

Menariknya, di akhir sesi, setiap mahasiswa diberikan satu tanaman anggrek. Ini bukan sekadar simbolis. Ada pesan yang jelas: pembelajaran tidak berhenti di lokasi praktik. Mahasiswa diharapkan melanjutkan proses belajar secara mandiri melalui perawatan tanaman tersebut.

Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi UMM kuliah Budidaya Anggrek di DD Orchid Nursery dan mendapatkan bunga anggrek
Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi UMM kuliah Budidaya Anggrek di DD Orchid Nursery dan mendapatkan bunga anggrek

Pendekatan seperti ini patut dipertahankan. Terlalu banyak pembelajaran yang berhenti di ruang kelas tanpa pernah diuji di lapangan. Padahal, dalam bidang biologi, realitas di lapangan sering kali jauh lebih kompleks dibandingkan teori.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi memiliki dampak nyata. Kampus tidak bisa berjalan sendiri jika ingin menghasilkan lulusan yang benar-benar siap menghadapi dunia kerja. Sebaliknya, praktisi juga membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring dengan dunia akademik.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Bukan sekadar mencetak lulusan yang tahu teori, tetapi yang mampu bekerja, beradaptasi, dan bahkan menciptakan peluang.

Singkatnya, ini bukan hanya kuliah lapangan biasa. Ini adalah bentuk pembelajaran yang mendekati realitas—dan itu yang sebenarnya dibutuhkan mahasiswa hari ini.