Jadwal UAS Semester Ganjil Tahun Akademik 2024-2025

Student exam

PENGUMUMAN Jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil Tahun Akademik 2024/2025 Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang Kepada seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, berikut kami sampaikan informasi penting terkait pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) Semester Ganjil Tahun Akademik 2024/2025: Tanggal Pelaksanaan: 6 Januari 2025 s/d 11 Januari 2025 Waktu Ujian: Pukul 07.30 – 15.45 Tempat: Ruang-ruang kelas di GKB 1 Kampus III UMM Adapun jadwal detail UAS untuk setiap mata kuliah dapat diunduh pada link ini. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Mahasiswa wajib membawa Kartu Studi Mahasiswa (KSM) yang sudah ditandatangi oleh dosen wali/dosen PA dan disahkan dengan stempel Program Studi Pendidikan Biologi. Pastikan telah melakukan konfirmasi pembayaran SPP dan validasi keuangan sebelum ujian dimulai. Hadir 15 menit sebelum jadwal ujian dimulai. Mengenakan pakaian sopan sesuai kode etik mahasiswa UMM. Mari persiapkan diri dengan maksimal untuk mencapai hasil yang terbaik! Jika ada pertanyaan atau kendala, silakan hubungi Sekretariat Program Studi di GKB 1 Lantai 5 Ruang 539. Good luck and give it your best! Salam hangat dari Prodi Pendidikan Biologi UMM 🌿✨

Menyerap Inspirasi dari Pendidikan “Berani” Ala Turki

Dosen UMM Studi Banding di Turki

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM — Perjalanan ke Turki, tanah kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi, bukan sekadar wisata. Pengalaman mendalam bersama tim Journal of Community Service and Empowerment UMM, 11-18 Desember 2024, telah membuka mata dan cakrawala pandang saya akan begitu banyak hal, terutama sistem pendidikannya yang inovatif. Sebuah refleksi dan hal berharga yang seharusnya juga terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia. Momen ini tepat, saat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikomandoi Prof. Abdul Mu’ti sedang berbenah dan mencari bentuk yang sesuai. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Hagia Sophia, Blue Mosque Sultan Ahmet, dan Topkapi kekaguman saya tak terbendung. Bukan hanya karena bangunan megah yang menyimpan sejarah panjang peradaban Islam, tetapi juga karena peristiwa yang terjadi di sana. Di tengah kunjungan kami, sekelompok anak-anak sekolah dasar dengan percaya diri menghampiri kami untuk berlatih berbicara bahasa Inggris. Mereka dengan lancar mengajukan pertanyaan dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Agak susah menemukan anak-anak SD di Indonesia yang berani berbaur, mengasah kemampuan secara nyata, tapi hanya diajarkan teori bahasa di kelas. Pendidikan “Berani”: Kunci Sukses Generasi Kejadian ini membuat saya merenung. Anak-anak Turki diajarkan untuk berani berkomunikasi, bahkan dengan orang asing. Mereka tidak canggung dan justru terlihat antusias. Pendidikan “berani” inilah yang sesungguhnya menarik. Generasi muda perlu didorong untuk keluar dari zona nyaman, berani berinteraksi, dan tidak takut untuk mengungkapkan pendapat. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Turki telah melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikannya. Kurikulum baru yang diterapkan lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi. Fokus utama dari kurikulum ini adalah pengembangan keterampilan abad 21, seperti: (1) Pemecahan masalah: Siswa dilatih untuk berpikir kritis dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi. (2) Berpikir kritis: Kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan yang tepat sangatlah penting. (3) Kolaborasi: Kerja sama tim menjadi kunci sukses dalam dunia yang semakin kompleks. Siswa diajarkan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. (4) Komunikasi efektif: Kemampuan menyampaikan ide dan pikiran dengan jelas dan persuasif sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang. Apa yang Bisa Kita Pelajari? Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari sistem pendidikan Turki. Pertama, pentingnya membangun kepercayaan diri pada anak sejak dini. Kedua, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Ketiga, pentingnya keterampilan abad 21 dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan. Sebagai dosen dan praktisi pendidikan, saya tertantang untuk menerapkan pembelajaran dari Turki di Indonesia. Menurut hemat saya, beberapa hal yang dapat kita lakukan. Saatnya memperkuat program bahasa asing: Mulai dari tingkat sekolah dasar, siswa perlu dibekali dengan kemampuan berbahasa asing yang baik. Selanjutnya, mengadakan program pertukaran pelajar: Dengan berinteraksi dengan siswa dari negara lain, siswa Indonesia dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi. Selain itu, mengembangkan kurikulum yang lebih relevan: Kurikulum perlu terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Tak lupa pula, meningkatkan kualitas guru: Guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu diberikan pelatihan yang memadai agar dapat menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Saat para siswa mereka mewawancarai turis, para guru pun tampak antusias. Berinteraksi dengan murid dan sekaligus para turis. Mereka juga bersikap terbuka dan ikut belajar. Mereka menunjukkan keramahan orang-orang Turki. Bukankah awal sukses pembelajaran dan secara umum pendidikan terletak pada aktor utama, yakni para guru? Perjalanan ke Turki telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Pendidikan “berani” yang diterapkan di sana dapat menjadi contoh bagi kita semua. Dengan menerapkan pembelajaran dari Turki, kita dapat mencetak generasi muda yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Semoga kita bisa menerapkannya. Catatan ini, dibuat sambil berdoa di Masjid Cappadocia, Goreme, Turki. Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM)   Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/belajar-dari-pendidikan-berani-ala-turki/   Belajar dari Pendidikan “Berani” Ala Turki Diakses pada 23 Desember 2024

Lonceng Kematian Wisata Museum Keraton

Museum Keraton Sumenep

Oleh : Dr Husamah Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, asal Sumenep   Museum Keraton Sumenep, yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kabupaten Sumenep dan Jawa Timur, kini menghadapi ancaman serius. Museum ini merupakan salah satu destinasi wisata yang memegang peranan penting dalam memelihara dan memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas. Sayangnya, keadaannya saat ini jauh dari kata ideal. Jika tidak segera ada tindakan nyata, museum ini mungkin hanya akan menjadi kenangan suram tentang kegagalan kita menjaga warisan budaya. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Museum Keraton Sumenep bersama rombongan dosen dari sebuah universitas. Alih-alih mendapatkan pengalaman edukatif yang menyenangkan, kami malah dikecewakan oleh kondisi museum yang sangat memprihatinkan. Gedung museum, yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk belajar sejarah, justru memperlihatkan tanda-tanda keusangan dan minim perawatan. Banyak koleksi benda-benda bersejarah yang tampak terabaikan; sebagian bahkan sudah basah dan berjamur akibat kebocoran atap. Ruangan-ruangan tertentu terlihat becek dan tidak nyaman untuk dikunjungi. Ragam Masalah Museum yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran sejarah ini juga minim informasi yang relevan dan modern. Dalam era digital seperti sekarang, integrasi teknologi dengan pengelolaan museum adalah suatu keharusan. Sebagai contoh, sistem informasi berbasis QR Code bisa menjadi solusi untuk mempermudah pengunjung mengakses informasi benda-benda bersejarah. Dengan teknologi ini, cukup dengan memindai QR Code, pengunjung dapat memperoleh detail tentang sejarah koleksi secara langsung melalui smartphone. Namun, hal semacam ini belum diadopsi oleh Museum Keraton Sumenep. Sebaliknya, pengunjung harus puas dengan pemandu wisata yang lebih banyak membahas cerita mistis dan “katanya-katanya” dibandingkan fakta sejarah yang mendalam. Masalah lainnya adalah kurangnya kesadaran akan kebersihan dan suasana yang nyaman. Saat pertama kali memasuki area depan museum, pengunjung disambut dengan pemandangan sampah yang berserakan. Tidak jarang, area ini juga dipenuhi oleh orang-orang yang bermain kartu domino atau uno, menciptakan suasana yang tidak sesuai dengan citra sebuah tempat wisata bersejarah. Kesan pertama yang buruk ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi daya tarik museum, terutama bagi wisatawan yang datang untuk mencari pengetahuan dan pengalaman budaya. Perlu Berbenah Pengelolaan museum ini berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Keraton Sumenep. Namun, dari kondisi yang ada, tampak jelas bahwa pengelolaan ini belum berjalan optimal. Museum Keraton Sumenep seharusnya belajar dari pengelolaan museum di daerah lain atau bahkan di luar negeri. Banyak museum modern yang berhasil memadukan pelestarian budaya dengan teknologi untuk menciptakan pengalaman wisata yang menarik dan edukatif. Sebagai contoh, museum-museum di Eropa telah lama menggunakan teknologi interaktif untuk menarik perhatian generasi muda. Mereka memanfaatkan augmented reality, virtual tours, hingga aplikasi berbasis smartphone yang memungkinkan pengunjung untuk mengeksplorasi koleksi museum tanpa bergantung sepenuhnya pada pemandu. Dengan demikian, museum bukan hanya menjadi tempat menyimpan artefak sejarah, tetapi juga ruang belajar yang interaktif dan menyenangkan. Selain itu, penting juga bagi Museum Keraton Sumenep untuk memperbaiki kualitas pemandu wisatanya. Pemandu bukan hanya sekadar narator, tetapi juga mediator antara sejarah dan pengunjung. Mereka perlu dilatih untuk menyampaikan informasi yang faktual, menarik, dan relevan dengan kebutuhan pengunjung, termasuk siswa, mahasiswa, dan wisatawan mancanegara. Saatnya Menyelamatkan Museum Keraton Sumenep juga perlu menggandeng berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan dan pelestarian. Misalnya, kerjasama dengan universitas lokal untuk penelitian sejarah, kerjasama dengan pelaku bisnis untuk sponsorship kegiatan budaya, atau bahkan kolaborasi dengan komunitas digital untuk pengembangan teknologi informasi. Dukungan pemerintah daerah juga sangat diperlukan. Alokasi anggaran yang memadai harus diberikan untuk perbaikan infrastruktur museum, perawatan koleksi, dan pengembangan teknologi informasi. Selain itu, kampanye promosi museum melalui media sosial dan event-event budaya bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Museum Keraton Sumenep adalah warisan yang sangat berharga, bukan hanya bagi masyarakat Sumenep, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Ia adalah bukti nyata keberadaan dan kejayaan masa lalu yang seharusnya dijaga, dihargai, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang. Sayangnya, tanpa upaya yang serius, museum ini akan kehilangan daya tariknya dan mungkin akan dilupakan. Sebagai masyarakat, kita juga memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap keberlangsungan museum ini. Edukasi tentang pentingnya menjaga warisan budaya harus menjadi bagian dari pendidikan sejak dini. Mengunjungi museum tidak hanya sekadar wisata, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap sejarah yang telah membentuk identitas kita hari ini. Museum Keraton Sumenep tidak boleh dibiarkan mati perlahan. Ia membutuhkan perhatian, dedikasi, dan inovasi dari semua pihak untuk mengembalikan kejayaannya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah terpenting di Indonesia. Jika tidak, lonceng kematian Museum Keraton Sumenep hanya tinggal menunggu waktu. Oleh : Dr Husamah Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, asal Sumenep   Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/lonceng-kematian-wisata-museum-keraton/ Lonceng Kematian Wisata Museum Keraton Diakses pada 30 Desember 2024

Pendidikan Biologi UMM Ajak Pakar Kupas Deep Learning dan SDGs

Pemaparan materi terkait oleh Assoc Prof Nguyen Ngoc Bao Chau Ph.D

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) mengadakan Seminar Nasional Pendidikan Biologi IX dengan tema “Inovasi Penelitian Biologi dan Pendidikan untuk Mendukung Pencapaian SDG’s: Sinergis Menuju Masa Depan Hijau dan Inklusif.” Seminar ini mengundang berbagai pakar di bidang biologi dan pendidikan, termasuk dari luar negeri, untuk membahas peran penting biologi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya mengenai respons terhadap isu Deep Learning dalam pendidikan dan biologi. Pembukaan dan Sambutan Sambutan pertama disampaikan oleh Prof Dr Trisakti Handayani MM, Dekan FKIP UMM, yang mengapresiasi seminar ini sebagai langkah penting untuk memperkuat peran biologi dalam pendidikan. “Puji syukur kehadirat Allah SWT, seminar ini dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan buku kumpulan abstrak dan makalah-makalah yang telah didaftarkan terbit di Prosiding dan Jurnal Ilmiah. Makalah terkait deep learning adalah isu yang sedang diperbincangkan saat ini,” ujarnya dalam acara yang berlangsung pada Sabtu (30/11/2024) itu. Harapan untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi, Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana biologi dan pendidikan dapat menjadi pilar dalam mencapai SDGs. “Kami berharap seminar ini menjadi ajang berbagi wawasan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan yang berkelanjutan,” katanya. Pembicara Utama Seminar Seminar ini turut menghadirkan beberapa pembicara utama, di antaranya Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi, Rektor UMM; Assoc Prof Nguyen Ngoc Bao Chau PhD, dari Ho Chi Minh City Open University Vietnam; Assoc Prof Dr Bowo Sugiharto MPd, Ketua HPPBI-Indonesia; dan Assoc Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd, dari Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu, seminar ini juga mengundang para akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan untuk berbagi temuan terkini dan berkolaborasi dalam mengembangkan pendekatan baru dalam pengajaran dan penelitian biologi. Di akhir acara, Prof Dr Trisakti Handayani mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, termasuk penyunting dan redaksi pelaksana yang telah bekerja keras hingga buku kumpulan abstrak ini diterbitkan dan makalah dapat dipublikasikan. “Semoga kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan yang berlimpah,” harapnya. Seminar ini menjadi tonggak penting dalam mendorong kolaborasi lintas sektor untuk masa depan yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran biologi dan pendidikan dalam mewujudkan SDGs.   Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/pbio-umm-undang-pakar-bahas-deep-learning-dan-sdgs/ PBIO UMM Undang Pakar Bahas Deep Learning dan SDGs Diakses pada 2 Desember 2024

Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru

Muslimah teacher

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Guru dan Pendidik calon guru di Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional (HGN), sebuah momen penting untuk mengapresiasi jasa para pahlawan tanpa tanda jasa yang terus mencurahkan dedikasinya bagi pendidikan bangsa. Tahun ini, dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, peringatan HGN 2024 memberikan pengingat bahwa guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga pencerah peradaban yang membentuk masa depan bangsa. Namun, di tengah semangat ini, berbagai tantangan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diatasi bersama. Berikut adalah tiga refleksi untuk menghayati peran guru dan komitmen kita sebagai bangsa dalam mendukung mereka. Guru adalah tonggak peradaban yang mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik. Dalam konteks Indonesia, jumlah guru yang mencapai 3,39 juta orang, termasuk 845 tenaga pengajar di luar negeri, adalah potensi besar bagi bangsa ini. Namun, menjadi pencerah tidaklah mudah. Guru harus menghadapi tantangan besar, mulai dari persoalan kompetensi hingga perubahan zaman yang menuntut adaptasi terhadap teknologi. Seiring perkembangan dunia, peran guru sebagai pencerah peradaban semakin krusial. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membentuk kepribadian, dan membangun pola pikir kritis siswa. Dalam era teknologi, peran ini semakin diperluas dengan kebutuhan untuk mencetak generasi yang melek digital tanpa kehilangan nilai-nilai kebangsaan. Disadari, menjadi pencerah di tengah berbagai keterbatasan tentu tidak sederhana. Kompetensi yang belum merata dan minimnya inovasi dalam pembelajaran masih menjadi kendala. Kemendikbudristek sendiri mencatat bahwa skor kompetensi guru di Indonesia perlu ditingkatkan agar pola pembelajaran yang inovatif dan relevan dapat diterapkan. Meski demikian, guru tetaplah pilar utama yang mampu membawa harapan baru. Dengan bimbingan, dukungan, dan apresiasi yang memadai, mereka mampu menjadi pelita yang menerangi generasi mendatang. Tantangan dalam dunia pendidikan di Indonesia memang kompleks. Masalah sertifikasi, distribusi guru yang tidak merata, hingga persoalan kesejahteraan menjadi isu yang membutuhkan perhatian serius. Sebagai contoh, masih banyak guru honorer yang menerima gaji di bawah standar UMR, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesejahteraan yang minim tidak hanya berdampak pada kualitas hidup mereka, tetapi juga pada semangat dan kinerja dalam mendidik siswa. Tak hanya itu, perkembangan teknologi juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang besar bagi inovasi pembelajaran. Namun, di sisi lain, masih banyak guru yang kesulitan beradaptasi dengan perubahan ini. Hambatan seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan akses terhadap perangkat digital, hingga minimnya pendampingan menjadi kendala utama. Di tengah segala tantangan ini, komitmen untuk menjadi pendidik yang hebat tetaplah menjadi harapan yang harus diwujudkan. Guru harus terus beradaptasi, berinovasi, dan membangun kolaborasi untuk mencetak generasi yang cerdas secara holistik. Namun, upaya ini tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para guru. Kebijakan Nyata Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk memperbarui komitmen kita terhadap pendidikan. Pemerintah sebagai regulator memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar mendukung guru sebagai pencerah peradaban. Mulai dari penyelesaian persoalan pendataan guru, pemerataan distribusi, peningkatan kompetensi, hingga perlindungan hukum bagi guru harus menjadi prioritas utama. Kebijakan saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan eksekusi nyata. Contohnya, pemberian pelatihan berbasis teknologi yang merata dan berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan kompetensi. Selain itu, penguatan sistem pendataan yang akurat akan membantu dalam menentukan kebutuhan supply dan demand guru secara tepat. Tak kalah penting, peningkatan kesejahteraan harus diwujudkan melalui alokasi anggaran yang memadai, sehingga guru dapat menjalankan tugasnya tanpa dibebani oleh kekhawatiran akan kebutuhan hidup. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran besar dalam mendukung profesi guru. Menghormati dan menghargai guru bukan hanya soal memberikan penghormatan secara formal, tetapi juga mendukung upaya mereka dalam mendidik generasi muda. Sebagai orang tua, kita perlu menjadi mitra yang mendukung, bukan menjadi pihak yang melemahkan melalui kritik destruktif atau tekanan berlebihan. Hari Guru Nasional 2024 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” adalah pengingat bahwa guru adalah pilar utama dalam membangun bangsa yang lebih maju. Meski berbagai tantangan masih dihadapi, peran guru sebagai pencerah peradaban tidak akan tergantikan. Dengan semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi, para guru akan mampu mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Tentu, perjalanan ini membutuhkan dukungan yang nyata. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada guru, sementara masyarakat harus memberikan penghargaan yang layak atas peran mereka. Pada akhirnya, kebanggaan sebagai guru bukanlah soal profesi semata, tetapi soal panggilan hati untuk menjadi pencerah peradaban yang membawa harapan bagi masa depan Indonesia. Sebagai anak bangsa, mari kita bersama-sama menghormati dan mendukung guru, tidak hanya pada Hari Guru, tetapi setiap hari. Karena melalui mereka, cahaya peradaban akan terus menyala, mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/banggalah-menjadi-pencerah-refleksi-hari-guru

Guru yang Tidak Dilindungi

Pendidikan Muhammadiyah Animasi

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Guru adalah pilar penting dalam masyarakat, seorang pencerah yang berperan sentral dalam membangun peradaban. Mereka adalah individu yang mencurahkan waktunya untuk mendidik, membentuk karakter, serta mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan cakap dalam menjalani tugas mereka di masa depan. Tanpa dedikasi guru, sulit membayangkan kemajuan suatu bangsa. Profesi guru, yang begitu mulia dan penuh jasa, seharusnya mendapat perlindungan dan penghargaan dari semua pihak. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: guru sering kali menjadi korban kekerasan, baik dari siswa maupun orang tua maupun pihak lain, dengan dalih melindungi hak anak. Kejadian kekerasan terhadap guru kian marak terdengar di media. Pada September 2023, seorang siswa di Demak, Jawa Tengah, menganiaya gurunya. Lalu, ada kasus kriminalisasi guru di Kabupaten Sumbawa Barat yang melibatkan Akbar Soerasa, seorang guru yang dijadikan tersangka dalam sebuah konflik. Baru-baru ini, kasus kekerasan terhadap guru kembali mencuat, kali ini melibatkan Supriyani, seorang guru honorer di Konawe Selatan, Sulawesi Selatan. Supriyani dituduh melakukan pemukulan terhadap seorang siswa dan bahkan ditahan karena ketidakmampuannya membayar uang damai. Peristiwa-peristiwa ini menjadi potret suram dunia pendidikan kita, di mana guru, pencerah peradaban, justru tak terlindungi. Guru sejatinya merupakan sosok yang mengemban tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tugas ini tidaklah mudah, karena mereka harus berhadapan dengan berbagai karakter dan latar belakang siswa yang berbeda. Dalam proses pembelajaran, sering kali guru perlu memberikan peringatan atau teguran untuk mendisiplinkan siswa. Sayangnya, tindakan yang bertujuan untuk mendidik ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk kekerasan oleh siswa atau orang tua, tanpa mempertimbangkan konteks pendidikan yang diemban oleh guru tersebut. Beberapa kasus yang mencuat menunjukkan bahwa kekerasan terhadap guru bukanlah hal yang sepele dan perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Para guru, yang telah berdedikasi mendidik dan mengarahkan generasi penerus bangsa, menjadi korban kekerasan fisik maupun psikologis. Tak jarang mereka merasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka. Hal ini tentu berdampak pada kualitas pendidikan yang diberikan. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mengajar dengan optimal jika mereka berada dalam ancaman dan tekanan? Ketiadaan perlindungan hukum yang komprehensif bagi guru menjadi salah satu akar masalah ini. Hingga kini, belum ada undang-undang khusus yang melindungi guru dari tindak kekerasan dan kriminalisasi. Guru masih sangat rentan terhadap tuntutan hukum ketika mereka mengambil tindakan untuk mendisiplinkan siswa. Di sinilah urgensi pembentukan Undang-Undang Perlindungan Guru sangat terasa. Kehadiran undang-undang ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi guru dalam menjalankan tugas mereka, serta menjamin penghargaan yang layak bagi profesi guru. Dengan adanya perlindungan hukum yang jelas, guru dapat lebih fokus menjalankan tugas mereka tanpa takut diancam atau dikriminalisasi. Namun, perlindungan hukum saja tentu tidak cukup. Guru juga perlu berusaha menciptakan lingkungan kelas yang positif dan aman melalui praktik manajemen kelas yang efektif. Dalam sebuah dokumen yang diterbitkan oleh American Psychological Association berjudul Understanding and Preventing Violence Directed Against Teachers: Recommendations for National Research, Practice and Policy Agenda (2016), terdapat berbagai rekomendasi untuk mengelola kelas dengan baik. Guru disarankan untuk menetapkan peraturan kelas dengan jelas, konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati, memberikan penghargaan kepada siswa yang berperilaku positif, serta menunjukkan kepedulian terhadap siswa. Selain itu, guru juga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat pilihan yang bermakna dalam pembelajaran. Semua ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang positif antara guru dan siswa, yang pada akhirnya dapat meminimalisasi konflik di dalam kelas. Di sisi lain, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung tugas guru. Banyaknya kasus kekerasan terhadap guru yang melibatkan orang tua menunjukkan adanya ketidakpahaman mereka terhadap tugas dan tanggung jawab guru. Orang tua seharusnya bijak dalam menanggapi tindakan guru dalam mendidik siswa. Mereka perlu memahami bahwa dalam proses pendidikan, disiplin merupakan hal yang penting. Orang tua harus mampu membedakan antara tindakan mendidik yang bertujuan untuk kebaikan siswa dan tindakan kekerasan yang memang merugikan siswa. Dengan cara ini, perselisihan antara guru dan orang tua dapat diminimalisasi. Untuk mencapai pemahaman yang baik antara guru, siswa, dan orang tua, komunikasi yang efektif antara sekolah dan keluarga sangat penting. Sekolah perlu menjalin hubungan yang erat dengan para orang tua agar mereka memahami proses pendidikan yang diterapkan. Komite sekolah bisa menjadi sarana untuk menjembatani komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah. Dengan adanya forum komunikasi ini, diharapkan orang tua dapat menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka secara langsung dan terbuka, sehingga konflik dapat diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan tindakan kekerasan atau kriminalisasi. Akhirnya, adanya perlindungan hukum yang komprehensif bagi guru merupakan sebuah keharusan, agar mereka merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas mereka. Pun demikian, guru juga perlu mengembangkan manajemen kelas yang baik untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Orang tua pun harus menjadi mitra yang baik bagi guru dengan mendukung dan memahami tugas yang mereka emban. Dengan sinergi dari semua pihak, kita bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, nyaman, dan harmonis. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Guru yang Tak Dilindungi, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/guru-yang-tak-dilindungi

UMM dan Kemendikbudristek Gelar Program Pendampingan Pemulihan Pembelajaran di Probolinggo dan Pasuruan

Tim UMMalang bersama mitra kegiatan Program Pendampingan Pemulihan Pembelajaran

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen), menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upaya penguatan literasi dan numerasi sebagai bagian dari strategi pemulihan pembelajaran di Indonesia. Program ini dijalankan oleh Direktorat Sekolah Dasar melalui Project Management Office (PMO) PDM 10 di bawah pengawasan Supervisor PDM 10, Dr Muhammad Hasbi, yang sebelumnya pada akhir Agustus 2024 lalu, diadakan penandatanganan kerja sama antara Kemendikbudristek dan UMM yang dihadiri oleh Wakil Rektor 4 UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD. Dengan ditandatangani kerjasama ini, menandai awal kolaborasi yang bertujuan mendampingi 12 satuan pendidikan di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan, yakni terdiri dari 6 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 6 Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satu anggota tim dosen FKIP UMM, Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi mengungkapkan bahwa, “Program ini berfokus pada penguatan dua siklus kegiatan komunitas belajar antar satuan pendidikan,” katanya pada KLIKMU.CO, Rabu (6/11/2024). Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM tersebut berharap bahwa kegiatan ini dapat memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa, yang selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang humanis, relevan, dan holistik. Senada dengan Prof Dr Ribut Wahyu Eriyanti, anggota tim dosen lainnya, menambahkan, “Dengan pendekatan pendidikan yang memerdekakan, siswa ditempatkan sebagai pusat pembelajaran, yang tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga membangun karakter dan kesadaran sosial mereka,” ujarnya. Dalam pelaksanaan program, UMM juga menyediakan tenaga ahli untuk memberikan pendampingan kepada para guru dan siswa di wilayah tersebut. Program ini didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan yang menyambut baik langkah ini sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya. Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, mengatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk mencapai transformasi pembelajaran di Indonesia, di mana literasi dan numerasi menjadi dasar penting agar siswa mandiri, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan dunia nyata. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang terjalin, pada 12 Oktober 2024, UMM menerima piagam penghargaan atas kontribusinya dalam penguatan literasi dan numerasi di Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Penghargaan tersebut diserahkan dalam sebuah acara yang dihadiri oleh Wakil Dekan (Wadek 1) FKIP UMM, Prof Dr Sugiarti MSi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam aspek literasi dan numerasi, serta menjadi model bagi universitas lain untuk turut berkontribusi dalam pemulihan pendidikan pasca-pandemi. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/umm-bersama-kemendikbudristek-laksanakan-program-pendampingan-pemulihan-pembelajaran-di-probolinggo-dan-pasuruan/  

Tatkala Prabowo Mengembalikan Pendidikan ke Rumahnya

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM

Oleh: Dr Husamah Dosen di Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Presiden Prabowo Subianto, dalam kabinetnya, menunjuk beberapa tokoh Muhammadiyah untuk memimpin sektor pendidikan. Di antaranya adalah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang dilantik sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen). Abdul Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, adalah sosok yang telah lama dikenal sebagai akademisi dan pendidik yang berkompeten serta memiliki visi luas tentang pendidikan nasional. Selain Prof. Abdul Mu’ti, Presiden Prabowo juga menunjuk Dr. Fajar Riza Ulhaq, M.Si., sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dr. Fajar Riza Ulhaq sebelumnya aktif di Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah sebagai ketua dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah pada periode 2015-2020. Pengalamannya di bidang pendidikan dan hukum membuatnya menjadi sosok yang tepat untuk memimpin dan mengembangkan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Untuk jabatan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Presiden Prabowo mempercayakan Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada periode 2016-2024. Prof Fauzan dikenal sebagai akademisi yang memiliki segudang pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Di bawah kepemimpinannya, UMM berkembang pesat dan dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Kiprah Muhammadiyah dalam Pendidikan Pendidikan adalah pilar penting dalam pembangunan suatu bangsa. Di Indonesia, peran pendidikan menjadi semakin krusial seiring dengan tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat. Presiden Prabowo Subianto, dalam upayanya membangun sistem pendidikan yang lebih baik dan merakyat, mengambil langkah berani dengan mempercayakan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan. Langkah ini bukan hanya tentang menunjuk orang-orang kompeten, tetapi juga sebuah simbolisme, mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” yang sejatinya sudah lama menjadi bagian dari perjuangan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, telah lama berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan sektor pendidikan. Didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad lalu, organisasi ini tidak hanya fokus pada aspek keagamaan tetapi juga berupaya membentuk generasi cerdas melalui pendirian lembaga pendidikan. Dari tingkat TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah membuktikan diri sebagai pelopor dalam penyediaan pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Hingga saat ini, Muhammadiyah telah mendirikan lebih dari 4.600 TK dan TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran), serta lebih dari 3.300 sekolah dasar dan menengah di seluruh penjuru tanah air. Rinciannya mencakup 1.094 sekolah dasar (SD), 1.128 sekolah menengah pertama (SMP), 558 sekolah menengah atas (SMA), dan 554 sekolah menengah kejuruan (SMK). Tidak hanya di dalam negeri, Muhammadiyah juga memperluas kiprahnya ke luar negeri dengan mendirikan lembaga pendidikan seperti Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia College (MAC), hingga sekolah-sekolah darurat untuk pengungsi Palestina di Lebanon. Dengan jumlah perguruan tinggi yang mencapai 122, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik. Tidak heran, jutaan siswa dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di sekolah dan kampus Muhammadiyah tidak hanya berasal dari kalangan simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama dan ormas Islam lainnya. Mengembalikan Pendidikan ke “Rumahnya” Kepercayaan Presiden Prabowo kepada para tokoh Muhammadiyah ini tidak hanya sekadar penunjukan jabatan, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam. Muhammadiyah, sebagai organisasi yang sejak awal berfokus pada pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu “rumah” bagi pendidikan di Indonesia. Melalui sejarah panjangnya, Muhammadiyah telah membuktikan dedikasinya dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merakyat. Dengan menempatkan para tokoh Muhammadiyah di posisi penting di bidang pendidikan, Presiden Prabowo sejatinya “mengembalikan” pendidikan Indonesia ke entitas yang telah lama berkontribusi dan berperan signifikan dalam membentuk generasi bangsa. Keputusan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kontribusi Muhammadiyah, yang selama lebih dari 112 tahun telah mendirikan ribuan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Langkah Presiden Prabowo menunjuk tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan adalah sebuah ikhtiar untuk memastikan pendidikan Indonesia dikelola oleh orang-orang yang memang memiliki rekam jejak dan dedikasi di bidang tersebut. Sosok-sosok seperti Prof Abdul Mu’ti, Dr Fajar Riza Ulhaq, dan Prof Fauzan adalah contoh tokoh yang telah lama berkecimpung dan memiliki pemahaman mendalam tentang sistem pendidikan di Indonesia. Dengan pengalaman yang mereka miliki, diharapkan mereka mampu membawa perubahan positif dan inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Inklusif, Berdaya Saing, Menghadapi Globalisasi Langkah ini juga menunjukkan visi Presiden Prabowo untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing. Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi yang terbuka terhadap semua golongan, agama, dan latar belakang. Para siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berasal dari simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama lain, menunjukkan bahwa pendidikan yang ditawarkan bersifat inklusif dan universal. Dengan menempatkan tokoh Muhammadiyah di posisi strategis, Prabowo menunjukkan komitmennya untuk mempertahankan inklusivitas ini dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan tidak boleh menjadi alat segregasi atau eksklusivitas, tetapi harus menjadi ruang di mana semua anak bangsa bisa belajar dan berkembang bersama tanpa melihat latar belakang agama, ras, atau status sosial. Namun, tugas para tokoh Muhammadiyah ini tidaklah mudah. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, sistem pendidikan Indonesia harus mampu beradaptasi dan berkembang dengan cepat. Tantangan yang dihadapi sangat kompleks, mulai dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, hingga pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Muhammadiyah, dengan pengalaman panjangnya di bidang pendidikan, diharapkan mampu memberikan solusi dan inovasi untuk menghadapi tantangan ini. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah adalah kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang tangguh, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Akhirnya, tatkala Presiden Prabowo mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” melalui penunjukan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan, ia sejatinya menunjukkan penghormatan terhadap sejarah panjang dan kontribusi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Langkah ini adalah sebuah ikhtiar menugaskan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat, dengan harapan membawa pendidikan Indonesia menuju arah yang lebih baik, inklusif, dan berdaya saing. Muhammadiyah, dengan rekam jejak dan dedikasinya, memiliki potensi besar untuk mewujudkan visi tersebut, menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan bermoral tinggi. Dari Muhammadiyah untuk bangsa! Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/tatkala-prabowo-mengembalikan-pendidikan-ke-rumahnya/

Dosen UMM Tingkatkan Strategi Branding untuk Industri Rumah Tangga di Sumenep

Tim Dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Produksi Produk Berbasis MOKORBEF II dengan tema Strategi Pemasaran Inovatif untuk Produk Pangan Sehat Berbahan MOKORBEF: Peningkatan Daya Saing Mie Koro dan Cookies Koro sebagai Unggulan Daerah. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 mitra Industri Rumah Tangga (IRT) dari Sumenep. Tujuannya, memperkuat kemampuan para pelaku usaha dalam hal manajemen produksi, pengelolaan rantai pasok, serta strategi pemasaran produk secara lebih luas, baik melalui jalur offline maupun online. Acara yang berlangsung Ahad (3/11/2024) ini menghadirkan pemateri dari praktisi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM Novi Puji Lestari MM. Dia menekankan pentingnya branding produk dan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan penjualan. “Pemahaman mengenai teknik pemasaran modern, termasuk penggunaan media sosial sebagai alat yang strategis dalam menjangkau pasar yang lebih luas sangat perlu. Era saat ini menuntut produsen harus kreatif memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi” jelas Novi. Dalam sesi pelatihan, para peserta juga mendapatkan panduan tentang cara memaksimalkan potensi media sosial, seperti Instagram dan TikTok, untuk promosi produk. Eka Novidayanti, salah satu peserta pelatihan, menyatakan bahwa pendampingan ini sangat membantu khususnya dalam aspek pemasaran digital. “Pendampingan ini sangat penting, terutama terkait pemasaran melalui media sosial. Kami diajarkan bagaimana melakukan live di Instagram dan TikTok dengan cara yang efektif agar banyak penonton dan berujung pada peningkatan penjualan, khususnya untuk produk cookies dan mi koro berbasis MOKORBEF,” ujar Eka. Kegiatan yang  didanai oleh Kedaireka DRTPM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024 ini juga fokus pada penguatan praktik terbaik dalam manajemen produksi dan supply chain management. Itu menjadi kunci agar produk-produk unggulan mitra IRT seperti mi koro dan cookies koro dapat bersaing secara kompetitif di pasar lokal maupun nasional. Melalui kegiatan ini, UMM berharap para pelaku usaha IRT dapat mengembangkan produk mereka dengan lebih profesional dan meningkatkan daya saingnya sebagai produk unggulan daerah. Sinergi antara inovasi produk pangan sehat dan strategi pemasaran yang inovatif diharapkan dapat memperluas jangkauan produk MOKORBEF ke pasar yang lebih luas dan beragam. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/dosen-umm-perbaiki-strategi-branding-industri-rumah-tangga-sumenep/