Oleh: Dr. Husamah, M.Pd.
(Catatan ringan perjalanan ke China)
Shanghai sering dibayangkan sebagai kota modern yang dingin, penuh gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan hiruk-pikuk manusia yang bergerak cepat. Namun di balik gemerlap itu, saya justru menemukan sentuhan hangat Islam yang membelai hati. Bukan di Timur Tengah, bukan pula di negeri mayoritas Muslim, tetapi di jantung kota metropolitan China.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah betapa mudahnya menemukan makanan halal di Shanghai. Awalnya saya sempat khawatir. Sebagai muslim yang cukup menjaga urusan makanan, tentu ada rasa waswas ketika bepergian ke negara dengan kultur yang berbeda. Tetapi kekhawatiran itu perlahan hilang ketika saya berjalan di sekitar Zhejiang Road, kawasan yang dekat dengan pusat perbelanjaan terkenal Nanjing Road. Di sana, saya menemukan banyak gerai makanan halal yang dikelola Muslim lokal maupun Muslim asal Xinjiang.
Aroma sate kambing khas Xinjiang, mi tarik halal Lanzhou, hingga roti naan hangat terasa begitu akrab bagi lidah dan hati seorang muslim dari Indonesia. Tulisan “清真” (qingzhen/halal) tampak di banyak sudut. Saya merasa seperti sedang diingatkan bahwa Islam memang hadir dengan cara yang lembut: memberi rasa tenang di tempat yang asing. Banyak restoran halal di kawasan Zhejiang Road dan Guangdong Road memang dikenal dikelola komunitas Muslim Hui dan Xinjiang.
Tidak hanya itu, di sekitar Fuzhou Road—kawasan yang terkenal sebagai pusat budaya dan pasar oleh-oleh—saya menemukan sebuah masjid dengan ornamen oriental yang sangat khas, yaitu Fuyou Road Mosque. Masjid itu tidak megah menjulang seperti di Dubai atau Turki, tetapi justru menghadirkan keteduhan yang berbeda. Arsitekturnya memadukan nuansa China klasik dengan ruh Islam yang kuat. Saat masuk ke dalamnya, hati terasa khusyuk dengan cara yang sulit dijelaskan. Seolah Islam sedang berkata bahwa ia bisa tumbuh di mana saja, tanpa kehilangan cahaya dan identitasnya.

Perjalanan ini semakin memperkaya pengalaman saya sebagai dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang. Sebelumnya saya telah berkesempatan menikmati jejak-jejak peradaban Islam di Turki, Asia Tenggara, Dubai, hingga Arab Saudi. Namun Shanghai memberi pelajaran yang berbeda. Di kota yang identik dengan modernitas dan kapitalisme itu, saya justru menemukan wajah Islam yang teduh, sederhana, dan membumi.
Saya belajar bahwa Islam tidak selalu tampil dalam simbol-simbol besar. Kadang ia hadir dalam semangkuk mi halal yang menghangatkan musafir. Kadang ia hadir dalam senyum pedagang Xinjiang yang mempersilakan makan dengan ramah. Kadang pula ia hadir dalam lantunan doa di masjid kecil berornamen oriental di tengah kota metropolitan.
Shanghai akhirnya mengajarkan satu hal penting kepada saya: sejauh apa pun kaki melangkah, Islam selalu punya cara untuk membelai hati orang-orang yang merindukan rumah.
