Guru Berhati Besar: Refleksi Hari Guru

Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd._Dosen_UMM

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Selamat hari guru, 25 November 2025. Jadilah guru yang berhati besar. Kami hanya dapat memberi kado berupa tulisan ini. Wujud cinta dan hormat pada guru Indonesia. Untuk itu, mari sedikit berbicara tentang itu. Di dunia akademik perguruan tinggi, kita terbiasa mendengar istilah Guru Besar—gelar tertinggi bagi para dosen, simbol puncak karier dan kapabilitas akademik. Tapi, bagaimana kalau kita memperkenalkan sesuatu yang tak kalah penting, meskipun tak tercetak di ijazah: “Guru Berhati Besar”? Mengapa “Berhati Besar” penting? Kadang kita berfokus pada gelar, publikasi, dan jabatan. Ya, semua itu sangat penting dalam dunia akademik. Namun, esensi mendidik bukan hanya soal mengajar materi, melainkan juga merawat hati—baik hati guru maupun hati siswa. Seorang guru yang besar hatinya bisa merespons bukan hanya pertanyaan ilmiah, tapi juga kegelisahan siswa: stres, keraguan, kegagalan — semua itu bagian dari kehidupan sekolah. Dalam artikel “The Heart of a Teacher” oleh Geraldine, ia menggambarkan bagaimana seorang guru (dalam konteksnya sebagai guru untuk anak kecil) memiliki hati yang “cukup besar untuk mendengar detak-detak hati kecil di sekelilingnya. Cukup besar untuk membuka pelukan di pagi hari. Dan cukup kuat untuk mengirim doa setiap malam. Meski Geraldine bicara tentang guru sekolah dasar, semangat itu bisa diaplikasikan ke guru secara umum: bukan cuma mengajar, tetapi menjadi pendengar dan pemberi harapan. Guru dan panggilan nurani Terkadang guru juga butuh muhasabah. Menurut artikel dari Ikatan Guru Indonesia (IGI), ada pertanyaan besar: apakah sebagai guru (atau pendidik) kita masih memiliki hati nurani? Penulis artikel tersebut mengajak para guru untuk melihat ke dalam diri: apakah kita mendorong siswa agar terus belajar, tapi kita sendiri sudah berhenti berkembang? Apakah kita memberi contoh integritas, atau sekadar meminta siswa mengerjakan tugas sambil kita “tunggu saja”? Hasrat untuk menjadi pendidik sejati kerap diuji — apakah ini semata profesi atau panggilan hati. Bila guru punya hati nurani, maka pembimbingan akademik tidak cuma soal buku, tugas, pekerjaan rumah, dan proyek. Ada aspek kemanusiaan: merangkul siswa yang kewalahan, memberi dukungan moral, bahkan mendorong mereka menjaga kesehatan mental. Guru berhati besar adalah sosok yang bisa menjadi panutan personal, tidak hanya intelektual. Kisah nyata: guru berhati besar di dunia nyata Ada cerita inspiratif tentang guru yang berjiwa besar dan penuh pengabdian. Meski tidak persis dosen, kisah guru-guru seperti yang diliput Palm Beach Post tentang “big-hearted teacher” menunjukkan betapa pengaruh manusiawi dari seorang pengajar dapat mengubah hidup murid. Narasi semacam itu menggarisbawahi bahwa kepedulian, kehangatan, dan empati guru bisa berdampak besar bagi siswanya. Begitu juga, di banyak tulisan Indonesia kita menemukan ungkapan “guru tangguh berhati cahaya.” Dalam artikel tentang guru, “tangguh berhati cahaya” dipakai untuk menggambarkan guru yang tidak hanya kuat menghadapi tantangan, tetapi juga memberi “cahaya”: penerangan ilmu dan akhlak, dan kehadiran yang menenangkan siswa. Dampak positif “Guru Berhati Besar” Membangun kepercayaan. Siswa, apalagi yang baru memasuki dunia sekolah, sering kali merasa ragu, tersisih, atau bingung. Guru yang punya hati besar bisa menjadi figur andalan: tempat curhat, berdebat gagasan, bahkan berbagi kegelisahan hidup. Pertama, meningkatkan pengalaman belajar emosional. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu: juga pembentukan karakter. Guru yang peduli ke aspek emosional siswa membantu menciptakan iklim kelas yang lebih sehat dan produktif. Kedua, memotivasi siswa agar lebih resilient. Siswa yang tahu bahwa gurunya peduli akan lebih berani mengejar ide, mencoba tugas yang sulit, dan menghadapi kegagalan dengan kepala tegak. Dukungan emosional bisa membuat perbedaan besar. Ketiga, membangun komunitas akademik yang inklusif. Dengan “hati besar”, guru bisa merawat inklusivitas: menerima latar belakang beragam siswa, membuka ruang diskusi, dan memfasilitasi kolaborasi. Hal ini memperkaya akademia. Bagaimana mewujudkan “Guru Berhati Besar”? Beberapa langkah konkret bisa dipertimbangkan: Pertama, Pelatihan empati dan kecerdasan emosional. Lembaga akademik bisa menyelenggarakan workshop untuk guru mengenai mentoring, komunikasi empatik, dan coaching kehidupan (life coaching) untuk siswa. Kedua, Meningkatkan kesejahteraan dan dukungan mental untuk guru. Sekilas perlu memahami bahwa guru yang sehat mental lebih mampu menjadi pendidik yang peduli. Program dukungan seperti konseling, beban kerja yang seimbang, dan pengakuan atas kerja peduli sangat penting. Ketiga, Mekanisme mentoring formal. Selain menjadi pengajar materi, guru bisa diberi peran resmi sebagai mentor, dengan beban jam mentoring dan penghargaan atas kontribusi non-akademik kepada siswa. Keempat, Kebijakan penghargaan kepedulian. Sekolah bisa memberi pengakuan (misalnya “Guru Inspiratif”) tidak hanya berdasar jumlah publikasi, tetapi juga berdasarkan testimoni siswa, mentoring, dan kontribusi sosial. Kelima, Memupuk budaya cerita. Membagikan kisah “Guru berhati besar” di media kampus (majalah, blog, seminar) dapat menginspirasi kolega lain untuk menumbuhkan kepedulian. Kesimpulan Kalau guru Besar adalah penghargaan atas puncak akademik, maka Guru Berhati Besar adalah penghargaan atas kemanusiaan. Gelar boleh tinggi, tapi hu­bungan manusia-lah yang membuat pendidikan bermakna. Di era di mana teknologi, publikasi, dan persaingan akademik sangat kencang, kita butuh sosok guru yang tidak hanya menguak teori, tetapi juga merajut harapan — guru dengan hati besar. Semoga kita bisa memperluas wacana ini di sekolah-sekolah kita: mendorong agar “besar hati” menjadi bagian dari identitas akademik yang dihormati, dihargai, dan dihidupi. Opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-berhati-besar-refleksi-hari-guru/

Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru

Muslimah teacher

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Guru dan Pendidik calon guru di Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional (HGN), sebuah momen penting untuk mengapresiasi jasa para pahlawan tanpa tanda jasa yang terus mencurahkan dedikasinya bagi pendidikan bangsa. Tahun ini, dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, peringatan HGN 2024 memberikan pengingat bahwa guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga pencerah peradaban yang membentuk masa depan bangsa. Namun, di tengah semangat ini, berbagai tantangan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diatasi bersama. Berikut adalah tiga refleksi untuk menghayati peran guru dan komitmen kita sebagai bangsa dalam mendukung mereka. Guru adalah tonggak peradaban yang mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik. Dalam konteks Indonesia, jumlah guru yang mencapai 3,39 juta orang, termasuk 845 tenaga pengajar di luar negeri, adalah potensi besar bagi bangsa ini. Namun, menjadi pencerah tidaklah mudah. Guru harus menghadapi tantangan besar, mulai dari persoalan kompetensi hingga perubahan zaman yang menuntut adaptasi terhadap teknologi. Seiring perkembangan dunia, peran guru sebagai pencerah peradaban semakin krusial. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membentuk kepribadian, dan membangun pola pikir kritis siswa. Dalam era teknologi, peran ini semakin diperluas dengan kebutuhan untuk mencetak generasi yang melek digital tanpa kehilangan nilai-nilai kebangsaan. Disadari, menjadi pencerah di tengah berbagai keterbatasan tentu tidak sederhana. Kompetensi yang belum merata dan minimnya inovasi dalam pembelajaran masih menjadi kendala. Kemendikbudristek sendiri mencatat bahwa skor kompetensi guru di Indonesia perlu ditingkatkan agar pola pembelajaran yang inovatif dan relevan dapat diterapkan. Meski demikian, guru tetaplah pilar utama yang mampu membawa harapan baru. Dengan bimbingan, dukungan, dan apresiasi yang memadai, mereka mampu menjadi pelita yang menerangi generasi mendatang. Tantangan dalam dunia pendidikan di Indonesia memang kompleks. Masalah sertifikasi, distribusi guru yang tidak merata, hingga persoalan kesejahteraan menjadi isu yang membutuhkan perhatian serius. Sebagai contoh, masih banyak guru honorer yang menerima gaji di bawah standar UMR, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesejahteraan yang minim tidak hanya berdampak pada kualitas hidup mereka, tetapi juga pada semangat dan kinerja dalam mendidik siswa. Tak hanya itu, perkembangan teknologi juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang besar bagi inovasi pembelajaran. Namun, di sisi lain, masih banyak guru yang kesulitan beradaptasi dengan perubahan ini. Hambatan seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan akses terhadap perangkat digital, hingga minimnya pendampingan menjadi kendala utama. Di tengah segala tantangan ini, komitmen untuk menjadi pendidik yang hebat tetaplah menjadi harapan yang harus diwujudkan. Guru harus terus beradaptasi, berinovasi, dan membangun kolaborasi untuk mencetak generasi yang cerdas secara holistik. Namun, upaya ini tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para guru. Kebijakan Nyata Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk memperbarui komitmen kita terhadap pendidikan. Pemerintah sebagai regulator memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar mendukung guru sebagai pencerah peradaban. Mulai dari penyelesaian persoalan pendataan guru, pemerataan distribusi, peningkatan kompetensi, hingga perlindungan hukum bagi guru harus menjadi prioritas utama. Kebijakan saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan eksekusi nyata. Contohnya, pemberian pelatihan berbasis teknologi yang merata dan berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan kompetensi. Selain itu, penguatan sistem pendataan yang akurat akan membantu dalam menentukan kebutuhan supply dan demand guru secara tepat. Tak kalah penting, peningkatan kesejahteraan harus diwujudkan melalui alokasi anggaran yang memadai, sehingga guru dapat menjalankan tugasnya tanpa dibebani oleh kekhawatiran akan kebutuhan hidup. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran besar dalam mendukung profesi guru. Menghormati dan menghargai guru bukan hanya soal memberikan penghormatan secara formal, tetapi juga mendukung upaya mereka dalam mendidik generasi muda. Sebagai orang tua, kita perlu menjadi mitra yang mendukung, bukan menjadi pihak yang melemahkan melalui kritik destruktif atau tekanan berlebihan. Hari Guru Nasional 2024 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” adalah pengingat bahwa guru adalah pilar utama dalam membangun bangsa yang lebih maju. Meski berbagai tantangan masih dihadapi, peran guru sebagai pencerah peradaban tidak akan tergantikan. Dengan semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi, para guru akan mampu mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Tentu, perjalanan ini membutuhkan dukungan yang nyata. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada guru, sementara masyarakat harus memberikan penghargaan yang layak atas peran mereka. Pada akhirnya, kebanggaan sebagai guru bukanlah soal profesi semata, tetapi soal panggilan hati untuk menjadi pencerah peradaban yang membawa harapan bagi masa depan Indonesia. Sebagai anak bangsa, mari kita bersama-sama menghormati dan mendukung guru, tidak hanya pada Hari Guru, tetapi setiap hari. Karena melalui mereka, cahaya peradaban akan terus menyala, mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/banggalah-menjadi-pencerah-refleksi-hari-guru