Tim Dosen UMM Dampingi Warga Tulungrejo Kembangkan Keterampilan Batik Shibori Kreatif

Pelatihan Batik Shibori oleh Tim Dosen UMM

Batu — Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan pembuatan batik Shibori berlangsung meriah di Aula Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada Selasa 27 Januari 2026. Program ini diselenggarakan oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat melalui penguatan keterampilan praktis yang berpotensi meningkatkan ekonomi kreatif desa. Tim pengabdian yang terlibat terdiri dari Dra. Siti Zaenab, M.Kes., Dra. Sri Wahyuni, M.Kes., Muhammad Rifky Ardiansyah, serta Mochamad Iffan. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa keilmuan biologi dapat diimplementasikan secara luas, termasuk dalam inovasi produk berbasis teknik pewarnaan dan tekstil yang ramah lingkungan serta memiliki nilai jual. Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia menilai kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa. Menurutnya, kegiatan pelatihan seperti ini memberi manfaat nyata bagi warga sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah desa siap membuka peluang kerja sama lanjutan dengan perguruan tinggi guna menghadirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kegiatan pelatihan mampu memotivasi warga untuk berinovasi serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam membangun usaha mandiri berbasis potensi lokal. Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang hadir melebihi target awal. Jika semula pelatihan dirancang untuk 18 peserta, jumlah warga yang mengikuti kegiatan hingga selesai mencapai 23 orang. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan minat masyarakat Tulungrejo terhadap pengembangan keterampilan baru, khususnya di bidang kerajinan tekstil kreatif. Dalam sesi penyampaian materi, Dra. Siti Zaenab menjelaskan bahwa teknik Shibori merupakan metode pewarnaan kain yang dilakukan melalui proses pelipatan, pengikatan, atau penjepitan kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Ia menuturkan bahwa teknik tersebut relatif mudah dipelajari, namun mampu menghasilkan motif yang unik dan memiliki nilai estetika tinggi. Ia menjelaskan bahwa tujuan pelatihan ini adalah memberikan keterampilan yang dapat langsung dipraktikkan oleh masyarakat serta berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan. Dengan teknik yang sederhana, masyarakat dapat menghasilkan produk kreatif yang memiliki peluang pasar. Sementara itu, Dra. Sri Wahyuni menerangkan bahwa metode pelatihan dirancang berbasis praktik langsung dengan pendekatan partisipatif. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mencoba berbagai teknik lipatan dan ikatan agar mampu menciptakan motif berbeda. Ia menilai kreativitas peserta menjadi faktor utama dalam menghasilkan produk Shibori yang menarik dan bernilai jual. Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Aula desa dipenuhi aktivitas peserta yang melipat kain, mengikat menggunakan karet maupun tali, hingga melakukan proses pencelupan warna. Tim dosen secara intensif memberikan pendampingan pada setiap tahapan, mulai dari persiapan bahan, teknik pewarnaan, hingga proses akhir atau finishing produk. Hasil pelatihan menunjukkan capaian menggembirakan. Seluruh peserta berhasil menghasilkan karya batik Shibori dengan karakter motif yang beragam. Ada motif lingkaran simetris, garis-garis dinamis, hingga pola abstrak yang artistik. Variasi ini menunjukkan bahwa meskipun menggunakan teknik dasar yang sama, setiap peserta mampu mengekspresikan kreativitasnya secara berbeda. Muhammad Rifky Ardiansyah menilai hasil produk awal peserta sudah cukup baik dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Ia menjelaskan bahwa dengan latihan berkelanjutan serta peningkatan kualitas pengemasan dan strategi pemasaran, produk Shibori dari Tulungrejo dapat bersaing di pasar lokal maupun kawasan wisata Kota Batu. Mochamad Iffan juga mendorong peserta untuk terus mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan usaha kreatif tidak hanya bergantung pada pelatihan awal, tetapi pada konsistensi serta inovasi produk yang terus dilakukan. Ia menyampaikan secara langsung bahwa apabila pelatihan terus diikuti dengan praktik dan pengembangan produk, bukan tidak mungkin Desa Tulungrejo memiliki produk Shibori unggulan yang dikenal luas oleh masyarakat maupun wisatawan. Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan. Sejumlah warga bahkan mengusulkan agar pelatihan serupa kembali diadakan dengan materi lanjutan maupun teknik pewarnaan lain. Permintaan tersebut menjadi indikator bahwa program ini mampu membangkitkan semangat belajar sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Menanggapi hal tersebut, tim pengabdian Pendidikan Biologi FKIP UMM menyatakan komitmennya untuk melakukan pendampingan berkelanjutan. Program lanjutan direncanakan dilakukan melalui skema daring dan luring. Pendampingan daring akan memanfaatkan media komunikasi digital untuk konsultasi dan monitoring perkembangan produk, sementara kunjungan langsung ke desa akan dilakukan secara berkala untuk evaluasi dan penguatan keterampilan warga. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan puluhan produk batik Shibori, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa. Keterlibatan aktif tim dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat merupakan bagian penting dari kontribusi akademisi dalam mendukung kemandirian desa. Dengan sinergi yang terus terjalin, Desa Tulungrejo diharapkan mampu mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya secara berkelanjutan. Batik Shibori yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan, tetapi menjadi simbol kreativitas, kolaborasi, serta harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.