Penguatan Komunitas Belajar Guru di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu: Kolaborasi Nyata Kampus dan Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Mitra Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah dilaksanakan di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu selama bulan Oktober hingga November 2024. Kegiatan ini merupakan wujud konkret kolaborasi antara kampus dan sekolah dalam mendukung peningkatan mutu pembelajaran melalui penguatan komunitas belajar guru. SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu merupakan salah satu sekolah penggerak yang sejak 2021 telah mulai mengembangkan komunitas belajar. Namun, implementasinya belum merata. Dari total 34 guru yang mengajar, baru sekitar 17,65% yang aktif terlibat dalam proses kolaboratif perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi pembelajaran—terutama pada mata pelajaran IPA dan Matematika. Sementara itu, guru dari bidang Bahasa, IPS, dan Bahasa Inggris masih membutuhkan penguatan pemahaman serta pendampingan dalam menerapkan konsep komunitas belajar dan menyusun modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka. Menjawab kebutuhan tersebut, empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi UMM—Aprilia Putri Kusumaningtyas Ashary, Alfin Khusnul Inayah, Farida Indirahma, dan Amylia Ayunda Firdausi—dengan bimbingan Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si, Dra. Roimil Latifa, MM., M.Si, dan Endrik Nurrohman, S.Pd., M.Pd., menyelenggarakan program pendampingan bertajuk “Optimalisasi Komunitas Belajar Guru untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran.” Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis mengenai konsep komunitas belajar sekaligus melatih guru dalam menyusun dan menerapkan modul ajar yang kontekstual, mandiri, dan reflektif. Program PMM ini juga menjadi bagian dari strategi hilirisasi hasil penelitian pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Inovasi dan temuan akademik tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi diterapkan langsung dalam konteks nyata di sekolah mitra. Workshop dan Pendampingan Modul Ajar di My Dormy UMM Rangkaian kegiatan dimulai dengan koordinasi awal bersama kepala sekolah dan guru pada 15 Oktober 2024. Selanjutnya, workshop komunitas belajar dilaksanakan pada 23 Oktober 2024 bertempat di My Dormy UMM. Dalam kegiatan ini, guru memperoleh penguatan konsep mengenai pembelajaran kolaboratif, pentingnya refleksi, dan praktik penyusunan modul ajar berbasis Problem Based Learning (PBL). Workshop Pendampingan Optimalisasi Komunitas Belajar Guru-Guru Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di My Dormy UMM Pendampingan penyusunan modul ajar dilaksanakan secara daring pada 24 Oktober–7 November 2024. Guru-guru secara aktif menyusun modul ajar berdasarkan materi di bidang masing-masing, yang kemudian diuji coba melalui kegiatan open class pada tanggal 8 dan 15 November 2024. Dalam kegiatan ini, guru dari mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS berperan sebagai guru model, sedangkan dosen dan mahasiswa UMM hadir sebagai observer yang memberikan umpan balik dan memfasilitasi refleksi pembelajaran. Refleksi sebagai Penguat Budaya Belajar Kolaboratif Refleksi menjadi bagian kunci dalam seluruh proses pendampingan. Guru dan observer bersama-sama mengevaluasi keterlibatan siswa, efektivitas strategi pembelajaran, serta penggunaan media dan modul ajar. Diskusi pasca open class dilakukan secara terbuka dan membangun, mendorong guru untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dalam proses mengajar mereka. Melalui pendekatan ini, guru tidak hanya memahami pentingnya kolaborasi, tetapi juga mulai terbiasa menerapkan praktik reflektif dalam kegiatan komunitas belajar. Dampak dan Kontribusi bagi Sekolah, Mahasiswa, dan Kampus Program ini memberikan manfaat nyata bagi seluruh pihak. Bagi guru, kegiatan ini memperkuat kapasitas mereka dalam mengelola komunitas belajar serta menyusun dan mengimplementasikan modul ajar yang sesuai dengan konteks pembelajaran. Bagi mahasiswa, program ini menjadi wadah untuk mengasah kemampuan pendampingan dan keterlibatan langsung dalam dunia pendidikan, sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Bagi UMM, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) kampus, khususnya IKU 2 (pengalaman mahasiswa di luar kampus) dan IKU 3 (keterlibatan dosen bersama mitra di luar kampus). Melalui kegiatan PMM ini, kampus tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membangun jembatan antara riset, pengabdian, dan praktik pendidikan di lapangan. Konsep komunitas belajar tidak lagi sekadar jargon, melainkan telah hidup dan berkembang secara nyata dalam kolaborasi antara guru, mahasiswa, dan dosen. Inilah bentuk nyata dari hilirisasi hasil riset pendidikan yang memberikan dampak langsung bagi sekolah mitra—menuju pendidikan yang lebih kontekstual, reflektif, dan berkelanjutan.

Menyerap Inspirasi dari Pendidikan “Berani” Ala Turki

Dosen UMM Studi Banding di Turki

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM — Perjalanan ke Turki, tanah kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi, bukan sekadar wisata. Pengalaman mendalam bersama tim Journal of Community Service and Empowerment UMM, 11-18 Desember 2024, telah membuka mata dan cakrawala pandang saya akan begitu banyak hal, terutama sistem pendidikannya yang inovatif. Sebuah refleksi dan hal berharga yang seharusnya juga terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia. Momen ini tepat, saat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikomandoi Prof. Abdul Mu’ti sedang berbenah dan mencari bentuk yang sesuai. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Hagia Sophia, Blue Mosque Sultan Ahmet, dan Topkapi kekaguman saya tak terbendung. Bukan hanya karena bangunan megah yang menyimpan sejarah panjang peradaban Islam, tetapi juga karena peristiwa yang terjadi di sana. Di tengah kunjungan kami, sekelompok anak-anak sekolah dasar dengan percaya diri menghampiri kami untuk berlatih berbicara bahasa Inggris. Mereka dengan lancar mengajukan pertanyaan dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Agak susah menemukan anak-anak SD di Indonesia yang berani berbaur, mengasah kemampuan secara nyata, tapi hanya diajarkan teori bahasa di kelas. Pendidikan “Berani”: Kunci Sukses Generasi Kejadian ini membuat saya merenung. Anak-anak Turki diajarkan untuk berani berkomunikasi, bahkan dengan orang asing. Mereka tidak canggung dan justru terlihat antusias. Pendidikan “berani” inilah yang sesungguhnya menarik. Generasi muda perlu didorong untuk keluar dari zona nyaman, berani berinteraksi, dan tidak takut untuk mengungkapkan pendapat. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Turki telah melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikannya. Kurikulum baru yang diterapkan lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi. Fokus utama dari kurikulum ini adalah pengembangan keterampilan abad 21, seperti: (1) Pemecahan masalah: Siswa dilatih untuk berpikir kritis dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi. (2) Berpikir kritis: Kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan yang tepat sangatlah penting. (3) Kolaborasi: Kerja sama tim menjadi kunci sukses dalam dunia yang semakin kompleks. Siswa diajarkan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. (4) Komunikasi efektif: Kemampuan menyampaikan ide dan pikiran dengan jelas dan persuasif sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang. Apa yang Bisa Kita Pelajari? Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari sistem pendidikan Turki. Pertama, pentingnya membangun kepercayaan diri pada anak sejak dini. Kedua, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Ketiga, pentingnya keterampilan abad 21 dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan. Sebagai dosen dan praktisi pendidikan, saya tertantang untuk menerapkan pembelajaran dari Turki di Indonesia. Menurut hemat saya, beberapa hal yang dapat kita lakukan. Saatnya memperkuat program bahasa asing: Mulai dari tingkat sekolah dasar, siswa perlu dibekali dengan kemampuan berbahasa asing yang baik. Selanjutnya, mengadakan program pertukaran pelajar: Dengan berinteraksi dengan siswa dari negara lain, siswa Indonesia dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi. Selain itu, mengembangkan kurikulum yang lebih relevan: Kurikulum perlu terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Tak lupa pula, meningkatkan kualitas guru: Guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu diberikan pelatihan yang memadai agar dapat menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Saat para siswa mereka mewawancarai turis, para guru pun tampak antusias. Berinteraksi dengan murid dan sekaligus para turis. Mereka juga bersikap terbuka dan ikut belajar. Mereka menunjukkan keramahan orang-orang Turki. Bukankah awal sukses pembelajaran dan secara umum pendidikan terletak pada aktor utama, yakni para guru? Perjalanan ke Turki telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Pendidikan “berani” yang diterapkan di sana dapat menjadi contoh bagi kita semua. Dengan menerapkan pembelajaran dari Turki, kita dapat mencetak generasi muda yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Semoga kita bisa menerapkannya. Catatan ini, dibuat sambil berdoa di Masjid Cappadocia, Goreme, Turki. Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM)   Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/belajar-dari-pendidikan-berani-ala-turki/   Belajar dari Pendidikan “Berani” Ala Turki Diakses pada 23 Desember 2024

Tatkala Prabowo Mengembalikan Pendidikan ke Rumahnya

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM

Oleh: Dr Husamah Dosen di Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Presiden Prabowo Subianto, dalam kabinetnya, menunjuk beberapa tokoh Muhammadiyah untuk memimpin sektor pendidikan. Di antaranya adalah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang dilantik sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen). Abdul Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, adalah sosok yang telah lama dikenal sebagai akademisi dan pendidik yang berkompeten serta memiliki visi luas tentang pendidikan nasional. Selain Prof. Abdul Mu’ti, Presiden Prabowo juga menunjuk Dr. Fajar Riza Ulhaq, M.Si., sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dr. Fajar Riza Ulhaq sebelumnya aktif di Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah sebagai ketua dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah pada periode 2015-2020. Pengalamannya di bidang pendidikan dan hukum membuatnya menjadi sosok yang tepat untuk memimpin dan mengembangkan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Untuk jabatan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Presiden Prabowo mempercayakan Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada periode 2016-2024. Prof Fauzan dikenal sebagai akademisi yang memiliki segudang pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Di bawah kepemimpinannya, UMM berkembang pesat dan dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Kiprah Muhammadiyah dalam Pendidikan Pendidikan adalah pilar penting dalam pembangunan suatu bangsa. Di Indonesia, peran pendidikan menjadi semakin krusial seiring dengan tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat. Presiden Prabowo Subianto, dalam upayanya membangun sistem pendidikan yang lebih baik dan merakyat, mengambil langkah berani dengan mempercayakan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan. Langkah ini bukan hanya tentang menunjuk orang-orang kompeten, tetapi juga sebuah simbolisme, mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” yang sejatinya sudah lama menjadi bagian dari perjuangan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, telah lama berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan sektor pendidikan. Didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad lalu, organisasi ini tidak hanya fokus pada aspek keagamaan tetapi juga berupaya membentuk generasi cerdas melalui pendirian lembaga pendidikan. Dari tingkat TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah membuktikan diri sebagai pelopor dalam penyediaan pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Hingga saat ini, Muhammadiyah telah mendirikan lebih dari 4.600 TK dan TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran), serta lebih dari 3.300 sekolah dasar dan menengah di seluruh penjuru tanah air. Rinciannya mencakup 1.094 sekolah dasar (SD), 1.128 sekolah menengah pertama (SMP), 558 sekolah menengah atas (SMA), dan 554 sekolah menengah kejuruan (SMK). Tidak hanya di dalam negeri, Muhammadiyah juga memperluas kiprahnya ke luar negeri dengan mendirikan lembaga pendidikan seperti Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia College (MAC), hingga sekolah-sekolah darurat untuk pengungsi Palestina di Lebanon. Dengan jumlah perguruan tinggi yang mencapai 122, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik. Tidak heran, jutaan siswa dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di sekolah dan kampus Muhammadiyah tidak hanya berasal dari kalangan simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama dan ormas Islam lainnya. Mengembalikan Pendidikan ke “Rumahnya” Kepercayaan Presiden Prabowo kepada para tokoh Muhammadiyah ini tidak hanya sekadar penunjukan jabatan, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam. Muhammadiyah, sebagai organisasi yang sejak awal berfokus pada pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu “rumah” bagi pendidikan di Indonesia. Melalui sejarah panjangnya, Muhammadiyah telah membuktikan dedikasinya dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merakyat. Dengan menempatkan para tokoh Muhammadiyah di posisi penting di bidang pendidikan, Presiden Prabowo sejatinya “mengembalikan” pendidikan Indonesia ke entitas yang telah lama berkontribusi dan berperan signifikan dalam membentuk generasi bangsa. Keputusan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kontribusi Muhammadiyah, yang selama lebih dari 112 tahun telah mendirikan ribuan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Langkah Presiden Prabowo menunjuk tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan adalah sebuah ikhtiar untuk memastikan pendidikan Indonesia dikelola oleh orang-orang yang memang memiliki rekam jejak dan dedikasi di bidang tersebut. Sosok-sosok seperti Prof Abdul Mu’ti, Dr Fajar Riza Ulhaq, dan Prof Fauzan adalah contoh tokoh yang telah lama berkecimpung dan memiliki pemahaman mendalam tentang sistem pendidikan di Indonesia. Dengan pengalaman yang mereka miliki, diharapkan mereka mampu membawa perubahan positif dan inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Inklusif, Berdaya Saing, Menghadapi Globalisasi Langkah ini juga menunjukkan visi Presiden Prabowo untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing. Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi yang terbuka terhadap semua golongan, agama, dan latar belakang. Para siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berasal dari simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama lain, menunjukkan bahwa pendidikan yang ditawarkan bersifat inklusif dan universal. Dengan menempatkan tokoh Muhammadiyah di posisi strategis, Prabowo menunjukkan komitmennya untuk mempertahankan inklusivitas ini dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan tidak boleh menjadi alat segregasi atau eksklusivitas, tetapi harus menjadi ruang di mana semua anak bangsa bisa belajar dan berkembang bersama tanpa melihat latar belakang agama, ras, atau status sosial. Namun, tugas para tokoh Muhammadiyah ini tidaklah mudah. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, sistem pendidikan Indonesia harus mampu beradaptasi dan berkembang dengan cepat. Tantangan yang dihadapi sangat kompleks, mulai dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, hingga pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Muhammadiyah, dengan pengalaman panjangnya di bidang pendidikan, diharapkan mampu memberikan solusi dan inovasi untuk menghadapi tantangan ini. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah adalah kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang tangguh, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Akhirnya, tatkala Presiden Prabowo mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” melalui penunjukan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan, ia sejatinya menunjukkan penghormatan terhadap sejarah panjang dan kontribusi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Langkah ini adalah sebuah ikhtiar menugaskan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat, dengan harapan membawa pendidikan Indonesia menuju arah yang lebih baik, inklusif, dan berdaya saing. Muhammadiyah, dengan rekam jejak dan dedikasinya, memiliki potensi besar untuk mewujudkan visi tersebut, menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan bermoral tinggi. Dari Muhammadiyah untuk bangsa! Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/tatkala-prabowo-mengembalikan-pendidikan-ke-rumahnya/

Saatnya Mengembalikan Marwah Pendidikan Tinggi

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan. Permasalahan runyam berjalin berkelindan. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Isu-isu komersialisasi pendidikan tinggi khususnya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), biaya kuliah yang terus melambung tinggi tak terjangkau, rendahnya rekognisi internasional, hingga kualitas lulusan yang sering dipertanyakan daya saingnya. Terlebih lagi, kasus-kasus etika akademis seperti perjokian, plagiasi, fabrikasi, dan publikasi di jurnal predator yang melibatkan dosen dan bahkan guru besar, kian meresahkan. Akhir-akhir ini publikasi ramai akibat kasus yang melibatkan puluhan guru besar di sebuah PTN di Kalimantan, bahkan konon kabarnya pemantauan sempat dilakukan pada ratusan guru besar lainnya di Indonesia. Bak oase di padang gurun yang gersang, di tengah dinamika yang kurang menggembirakan ini, harapan baru muncul dengan dilantiknya tiga figur penting di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Pada tanggal 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Prof. Satryo tidak bekerja sendiri. Ia didampingi oleh dua wakil menteri, yakni Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang, dan Prof. Stella Christie, PhD., yang menempuh pendidikan di Amerika dan kini menjadi profesor terkemuka di China. Figur Tepat Ketiga figur ini membawa optimisme yang besar di kalangan masyarakat dan akademisi, terutama terkait harapan mereka untuk mengembalikan marwah pendidikan tinggi di Indonesia. Ketiganya dipercaya dapat membawa perubahan signifikan dalam pendidikan tinggi Indonesia. Prof. Satryo Soemantri bukanlah sosok asing di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Ia memiliki pengalaman panjang sebagai Dirjen Pendidikan Tinggi dan dikenal sebagai salah satu profesor yang sangat dihormati di perguruan tinggi negeri terkemuka. Pengalamannya dalam mengelola kebijakan pendidikan di tingkat nasional membuatnya dipandang sebagai pilihan tepat untuk memimpin sektor ini. Di sisi lain, Prof. Fauzan membawa perspektif dari perguruan tinggi swasta, yang selama ini sering dipandang sebelah mata meskipun telah menunjukkan kualitas yang tidak kalah dibandingkan perguruan tinggi negeri. Universitas Muhammadiyah Malang, di bawah kepemimpinan Fauzan, berhasil menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Bahkan, di tahun 2021 Universitas Muhammadiyah Malang mencatatkan tinta emas sebagai kampus Islam terbaik dunia. Tahun 2024 ini kampus ini juga masuk sebagai lima perguruan tinggi dengan kinerja dan kualitas riset terbaik di Indonesia. Tentu prestasi ini mengalahkan 4000an PTN/PTS lain di seantero negeri. Sementara itu, Prof. Stella Christie hadir dengan wawasan global berkat pendidikannya di Amerika dan karier akademiknya di China. Pengalaman lintas benua ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru dalam perbaikan mutu dan internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia. Belanja Masalah Salah satu persoalan paling mendasar yang dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan. Perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, semakin sulit dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Mahalnya biaya kuliah kerap kali menimbulkan polemik terkait aksesibilitas pendidikan. Dalam situasi ini, pendidikan tinggi sering kali dianggap sebagai barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu membayar. Hal ini tentu bertentangan dengan cita-cita pendidikan nasional yang seharusnya inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, salah satu tantangan utama yang harus dihadapi oleh trio pimpinan baru ini adalah bagaimana menekan biaya pendidikan tanpa mengorbankan kualitas. Perlu ada terobosan kebijakan yang mampu menyeimbangkan antara biaya operasional perguruan tinggi dengan kemampuan finansial calon mahasiswa. Beruntung Prof Satryo sejak awal ketika selesai dilantik menyadari itu, dengan tegas di hadapan wartawan ia berjanji akan menyelesaikan persoalan uang kuliah tunggal (UKT) yang menjadi beban mahasiswa. Ia pun akan mengusahakan agar semua mahasiswa tak putus kuliah karena masalah UKT (DISWAY.ID, 22/10/2024). Tidak hanya masalah biaya, komersialisasi pendidikan juga menjadi masalah besar yang memudarkan esensi pendidikan itu sendiri. Banyak perguruan tinggi yang lebih fokus pada keuntungan finansial dibandingkan dengan mencetak lulusan yang berkualitas. Perguruan tinggi seharusnya menjadi lembaga yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan. Namun, dengan semakin menguatnya komersialisasi, pendidikan berubah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi Prof. Satryo dan timnya. Mereka diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang mampu menekan praktik-praktik komersialisasi yang merugikan masyarakat, serta mengembalikan perguruan tinggi ke jalur yang seharusnya. Permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah rendahnya rekognisi internasional terhadap perguruan tinggi Indonesia. Data menunjukkan bahwa hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang masuk ke dalam peringkat dunia. Hal ini tentu menjadi tantangan besar di era globalisasi, di mana persaingan tidak lagi hanya terjadi di tingkat nasional, melainkan juga di tingkat internasional. Lulusan perguruan tinggi Indonesia sering kali kesulitan bersaing di pasar kerja global. Ini bukan semata-mata karena kualitas lulusan yang rendah, tetapi juga karena kurikulum yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan industri global, minimnya akses terhadap riset berkualitas, dan keterbatasan kolaborasi internasional. Dalam hal ini, Prof. Stella dengan pengalamannya di luar negeri dan Prof Fauzan dengan langkah visionernya diharapkan mampu membersamai Prof Satryo sehingga membawa perspektif baru untuk mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia, baik dalam hal riset maupun kolaborasi akademik. Namun, masalah yang lebih fundamental adalah hilangnya integritas akademis. Kasus-kasus perjokian, plagiasi, hingga publikasi di jurnal predator yang melibatkan dosen dan bahkan guru besar telah mencoreng nama baik pendidikan tinggi Indonesia. Wajar bila dikatakan etika akademis di perguruan tinggi Indonesia sedang berada di titik nadir. Kepercayaan masyarakat terhadap dunia akademik mulai luntur, dan ini menjadi tantangan besar bagi Prof. Satryo dan kedua wakilnya. Mereka harus mampu menegakkan kembali integritas akademis dan menegaskan bahwa dunia pendidikan adalah tempat untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Tentu, penegakan aturan yang adil dan tegas terhadap pelaku plagiasi dan praktik-praktik akademis tidak etis nanti culas lainnya menjadi hal yang sangat penting. Tak kalah penting, kualitas riset juga harus ditingkatkan. Kondisi kekinian menunjukkan bahwa dosen terjebak dalam keharusan untuk mempublikasikan karya ilmiah demi memenuhi persyaratan administratif, tanpa memperhatikan kualitas dari riset itu sendiri. Akibatnya, banyak karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal predator, yang sebenarnya tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Trisula baru kementerian ini diharapkan dapat membuat regulasi yang lebih ketat terkait publikasi ilmiah, serta mendorong dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kombinasi pengalaman dan latar belakang yang kuat dari ketiga Profesor ini,