Ratusan Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM Praktikum di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi

BERGURU DARI ALAM – Sudah menjadi kewajiban mahasiwa untuk belajar dengan sungguh-sungguh baik berupa teori di kelas maupun belajar aplikasi untuk diterapkan didalam kehidupan sehari-hari. Hari Rabu sampai Sabtu (09-11/05/2018) Mahasiswa Pendidikan Biologi semester  empat melaksanakan PKL (Praktikum Kerja Lapang) matakuliah Ekologi di Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, Jawa Timur. Di dampingi oleh Bapak Husamah, M.Pd., Bapak Fuad Jaya Miharja, M.Pd., Bapak Dwi Setyawan, M.Pd., Bapak Ahmad Fauzi, M.Pd., Ibu Diani Fatmawati, M.Pd., dan Ibu Tutut Indria Permana, M.Pd. Kegiatan yang sudah di rencanakan dari bulan Februari ini memiliki tujuan untuk menerapkan hasil teori yang didapatkan mahasiswa saat memperoleh materi d idalam kelas sebagai keterampilan dasar. Enies selaku asisten juga mengungkapkan “kegiatan praktikum lapang ini terdiri dari 2 matakuliah (Ekologi Hewan dan Ekologi Tumbuhan). Praktikum Ekologi Hewan terdiri dari kegiatan pit fall trap dan Pengamatan Pola Aktivitas, sedangkan Ekologi Tumbuhan terdapat 4 Materi yaitu;  1) Validitas, Perioditas, Stratifikasi, 2) Metode Garis , 3) Jumlah minimum dan Luas Minimum,  dan 4) REDD. Hal lain yang didapatkan mahasiswa adalahmendekatkan diri dengan alam. PERJALANAN – Pemberangkatan di malam hari tidak menyurutkan semangat mahasiswa, titik kumpul yang berada di Halaman Laboratorium Biologi. Tim Ekologi yang diwakili Bapak Husamah, M.Pd  menyampaikan ” Kegiatan ini langsung terjun ke alam sehingga mahasiswa harus menjaga perilaku dan perkataan, kegiatan ini mengajak kita untuk Tadabbur Alam(Mengenal Alam) bagi Mahasiswa Pendidikan Biologi” kemudian dilanjutkan dengan berdo’a bersama yang dipimpin oleh Bapak Dwi Setyawan, M.Pd berlangsung dengan khidmat untuk memohon kemudahan dan kelancaran dari keberangkatan hingga pulang nanti. Perjalanan kami sangat menyenangkan walau tidak sedikit dari kami juga terlelap dalam mimpi. Pemandu perjalan kami sangat ramah. Perjalanan kami menghabiskan waktu kurang lebih  10 jam. Tidak sabar kami menanti fajar pagi, kami mengawalinya dengan sholat shubuh berjamaah, sebelum memasuki Pos Alas Purwo dan melapor sebagai pengunjung yang baik dan harus wajib lapor. Sampailah kami di lokasi. RIMBUNNYA HUTAN – Alas Purwo (10/05/2018) Pukul  06.00 WIB kami sampai dilokasi, takjub kami melihat rimbunnya hutan, udara sejuk, dan suara hewan khas hutan tropis dan habitus pantai menyambut kedatangan kami, antusias kami  menjadi-jadi. Tidak sabar, penagalaman baru apa yang akan kami dapatkan di tempat ini. Sarapan kami sangat lahap, setelah semalaman energi kami terkuras dalam perjalanan. Suasana kebersamaan terbangun antara mahasiswa dan dosen terjalin hangat dalam suasana makan pagi walaupun dengan menu sederhana “Nasi Pecel”. Energi sudah terisi penuh, setelah bersih-bersih diri. Kami siap menjelajah Hutan, dengan berbagai materi praktikum. Alat dan bahan sudah siap, pengarahan instruktur, dosen, dan asisten praktikan juga sudah kami pahami dengan seksama. Melangkang kami ke dalam hutan lebatalas purwo, masing-masing kelompok di dampingi oleh asisten untuk memasang Pit Fall trap dan REDD, sungguh menyenangkan dan penuh tantangan setelah satu jam kurang lebih kita menyiapkan perangkap, kami lanjutkan jenis praktikum lainnya; 1) Validitas, Perioditas, Stratifikasi, 2) Metode Garis , 3) Jumlah minimum dan Luas Minimum. Semua sudah kita lakukan dengan standar keamana dan prosedur yang benar, kegiatan yang langsung didamping oleh dosen menjadikan kami penuh percaya diri, mandiri, dan penuh tanggjawab. Siang hari terik mulai terasa, panas dan lelah menjadi tantangan namun kami sudah menyiapkan diri untuk kondisi ini dan melanjutkan tugas hingga akhir serta tidak menyia-nyiakan pengalaman berharga ini. PENANGKARAN PENYU – ISHOMA tidak kita sia-siakan sama-sekali, karena kegiatan praktikum masih berlanjut, medan yang cukup menantang harus kami lalui menggunakan Truk kurang lebih 20 km, rute yang tidak bisa, jalan berbatu, ranting pohon yang menerpa, angin yang membawa debu, menambah keseruan kami menuju lokasi penangkaran penyu. Pantai Cungur menjadi tempat belajar selanjutnya, merupakan tempat penetasan telur penyu semi alami. Terdapat beberapa jenis penyu yang  ada dalam penangkaran yaitu jenis penyu hijau (Chelonia mydas, L), penyu abu-abu (Lepidochelys olivaceae, L), penyu belimbing (Dhermochelys coreacea, L),  dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata, L). “Lama penetasan kurang lebih 30 sampai 50 hari, dengan tingkat keberhasilan penetasan penyu 80%, setelah menetas penyu dipindah dalam bak kontrol untuk di data dan di identifikasi.  yang paling baik adalah ketika penyu menetas langsung di kembalikan ke laut lepas agar dapat beradaptasi dengan alam yang sesungguhnya” ujar Supomo petugas TPHL yang bertugas sejak 20 tahun yang lalu. Melihat langsung sarang penyu semi alami di ruang penetasan dan tukik yang sudah menetas di bak kontrol yang siap di lepas kembali ke lautan, menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. MALAM DI ALAS PURWO – Tenda-tenda sudah didirikan. Pada malam hari setelah sholat isya’ berlangsung mahasiswa dan Tim Ekologi dikumpulkan untuk mengenal alam lebih dekat. Bapak Husamah, M.Pd melakukan evaluasi yang bertujuan untuk memberikan penguatan dan memberikan penjelasan atas keseluruhan kegiatan yang kami lakukan, interaksi, tanya jawab, dan pemberian feed back untuk memperjelas pemahaman kami, beliau menyampaikanpula  bahwa  Alas Purwo merupakan salah satu taman nasional memiliki area yang lebih dari 2 kecamatan disamping itu terdapat salah satu alumni dari UMM yaitu Bapak Cipto tahun lulus 1999 dari Jurusan Ilmu Pemerintahan yang sekarang menjadi salah satu petugas yang diamanahi menjadi ketua divisi polisi hutan taman nasional ini. Ternyata alumni UMM tersebar di berbagai daerah negeri ini, semakin bangga kami menjadi bagian dari prodi pendidikan biologi UMM. Alas Purwo termasuk plasma nutfah kekayaan yang dimiliki Indonesia dan sepatutnya kita bangga akan alam yang indah ini danmenjaga kelestariannya. Sebagai mahasiswa kami tidak lupa akan tugas kami yaitu belajar dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Kami sangat bersyukur, karena kegiatan sangat lancar, semua itu berkat kedisiplinan yang kami lakukan, semua instuksi dosen, tim instruktur, dan asisten kami lakukan dengan penuh tanggung jawab. LIARNYA SEDENGAN – Perjalanan pagi tak terlupakan (11/05/2018), setelah sholat subuh dan sarapan memberikan energi tambahan. Masing-masing kelompok praktikan berkumpul untuk persiapan menuju lokasi praktikum berikutnya. perjalanan kami kali ini lumayan nyaman, karena tidak lagi menggunakan truk seperti hari pertama, tapi menggunakan Bus 5 km dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 2 km. Satwa liar; banteng, kijang, Biawak, kera, burung elang, burung merak, dll menjadi objek Pengamatan materi Ekologi Hewan, mulai dari Pola Aktivitas dan prilaku, jumlah spesies, dan staus perlindungannya. Adanya menara pantau memudahkan kami untuk mengamati hewan-hewan liah ini. Hamparan rerumputan yang menghijau menjadi pemandangan yang indah bagi mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini tak lupa kami abadikan dengan berselfy “maklum mahasiswa kota, jarang ke hutan”. Di kesempatan ini kami melihat langsung satwa di alam

Perkuat Kompetensi Bidang Botani, Mahasiswa Ekplorasi Pronojiwo

Mahasiswa mendengarkan kuliah Botani yang di Bimbing Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes

Seperti sebuah ritual tahunan untuk memaksimalkan kompetensi (calon guru) di bidang Botani,  mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM melakukan KKL di Pronojiwo Lumajang. Kegiatan dilaksanakan tanggal 5-6 Mei 2018, dipandu langsung oleh Dosen Pengampu,  Bapak Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes., dan beberapa asisten. Kegiatan ini diikuti oleh 200an mahasiswa yang tertarik mempelajari Botani Tumbuhan Rendah,  khususnya dunia Paku-pakuan. Pronojiwo Lumajang memang menjadi pilihan utama para mahasiswa dan dosen sebagai laboratorium alam untuk belajar karena memiliki koleksi tumbuhan paku yang beragam,  mudah diakses,  relatif menantang,  dan dosen lebih mengenal medan secara detail. “Kegiatan ini akan memberi wawasan luas kepada mahasiswa, khususnya bagaimana mempelajari dunia pakuan-pakuan secara riil. Tidak hanya teori di kelas saja. Kita membawa mereka untuk belajar secara langsung di habitatat paku-pakuan” ujar Drs. Wahyu Prihanta, M.Kes melalui keterangan tertulis. “Dengan teknik ini, materi perkuliahan akan lebih berkesan dan bahkan akan tertanam kesadaran mencintai alam dan konservasi di diri mereka. Bahkan cukup banyak kemudian  yang menggunakan pengalaman KKL ini untuk dilanjutkan sebagai tugas akhir/skripsi”, imbuhnya.

Sabtu-Minggu Bukan Pantangan Untuk Belajar

Praktikum Rheotaksis di aliran sungai Brantas, kanan praktikum MMM (Menangkap Menandai dan Menangkap kembali)

Semangat Mahasiswa. Sabtu (24/03/2018) dan Minggu (25/03/2018) mahasiswa Progam Studi Pendidikan Biologi memang patut diacungi jempol, jika mahasiswa biasa menjalani hari sabtu dan minggunya dengan bersenang-senang dan berjalan-jalan dengan teman-teman, akan tetapi berbeda dengan mahasiswa pendidikan biologi mereka melaksanakan Praktikum Ekologi Hewan. Muhammad Farid Sidiq selaku asisten menjelaskan kegiatan praktikum ini adalah salah satu kegiatan perkuliahan diluar kelas dengan konsep belajar dan liburan bersama, selain belajar mahasiswa dapat liburan bersama temannya tidak hanya teman sekelas namun dengan kelas yang lain sehingga nampak sekali kebersamaan dan keakraban seluruh mahasiswa pendidikan biologi. Praktikum dilaksanakan di dua lokasi yaitu di sungai brantas yang letaknya didekat gedung rektorat untuk tema praktikum Rheotaksis dan areal sawah dekat komplek rusunawa P2KK UMM untuk tema praktikum MMM (Menangkap Menandai dan Menangkap kembali). Pemilihan tempat ini dikarenakan selain lokasi dekat dengan kampus, tidak membutuhkan biaya, dan menghemat waktu. Herdina istruktur prektikum Ekologi hewan dalam kesempatan itu, menjelaskan bahwa “praktikum rheotaksis bertujuan untuk mengetahui gerakan (respon) ikan yang dipengaruh arus air (rangsangan). “Apa yang terjadi, apakah ikan berenang searah dengan arus air (rheotaksis negatif) atau berlawanan arus air (rheotaksis positif), adanya tingkat stress pada ikan dan bentuk morfologi merupakan salah satu pangaruh pada rheotaksis ikan” tandasnya saat di depan praktikan. Keesokan harinya, minggu yang mempesona. Satu angkatan Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Biologi serentak melaksanakan praktikum yang dimulai pukul 06.00 WIB disambut suka dan keceriaan oleh mahasiswa, pasalnya praktikum ini dilakukan dengan cara menangkap serangga sebanyak mungkin di area yang sudah ditentukan kemudian serangga yang tertangkap ditandai dengan warna yang bervariasi sesuai dengan kelompok. Kemeriahan terpancarkan dari wajah mahasiswa yang berusaha menangkap belalang, jangkrik hingga kupu-kupu dengan susah payah seperti harus berlali, melompat dan memandang rerumputan yang warnanya hampir sama daengan serangga. Masih berlanjut pada hari yang sama mahasiswa kembali lagi ke lapang, praktikum sore hari Pukul 16.00 WIB untuk menangkap kembali serangga yang ditangkap tadi, ditambah hewan yang belum tertangkap. “Seru sekali praktikum ini apalagi saat menangkap beberapa spesies serangga, seperti capung dan kupu-kupu, teman-teman membawa sweep net berlarian kesana-kemari mengejar serangga, bahkan setelah tertangkap serangga lepas kembali dan tertangkap oleh kelompok lain sehingga kehebohanlah yang muncul di raut wajah mereka” ujar Yana salah seorang mahasiswa praktikan. Walaupun capek dan tenaga yang dikeluarkan banyak pasti akan bermanfaat dikemudian hari, tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang didapatkan jangan sampai sia-sia kalau bisa dibagikan ke teman-teman yang lain ataupun adik tingkat” Farid menambahkan.