Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat 1 Nasional Versi SINTA

Alhamdulillah, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang kembali meraih capaian membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kemendikbudristek pada klaster Departments – Affiliations rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM mencatat SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini menegaskan konsistensi produktivitas riset dosen dan mahasiswa dalam tiga tahun terakhir. Peringkat pertama nasional versi SINTA bukan hadiah, tetapi hasil kerja nyata dosen dan mahasiswa yang konsisten meneliti, menulis, dan berkarya. Prestasi ini menunjukkan bahwa budaya riset yang dibangun selama ini memang bekerja, bukan sekadar slogan. Terima kasih kepada seluruh sivitas yang sudah menjaga mutu dan marwah Pendidikan Biologi UMM. Tugas berikutnya jelas: mempertahankan kualitas dan meningkatkan kontribusi pada ilmu pengetahuan serta pendidikan biologi di Indonesia.

Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat Pertama Nasional Versi SINTA

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada klaster Departments – Affiliations untuk rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM meraih SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi lain di Indonesia. Dalam daftar tersebut, “Pendidikan Biologi – Universitas Muhammadiyah Malang (071024)” berada di posisi teratas jenjang S1, disusul Universitas Mataram, Universitas Negeri Makassar, Universitas Tanjungpura, Universitas Negeri Padang, dan sejumlah kampus lainnya. Capaian ini mengonfirmasi konsistensi produktivitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa Pendidikan Biologi UMM dalam tiga tahun terakhir. Ketua Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Rr. Eko Susetyarini, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas raihan tersebut. “Alhamdulillah, capaian sebagai peringkat pertama nasional SINTA bidang Pendidikan Biologi ini adalah amanah sekaligus buah kerja kolektif. Ini hasil sinergi dosen, mahasiswa, alumni, serta dukungan penuh dari fakultas dan universitas. Kami menekankan budaya riset berkelanjutan, bukan hanya mengejar angka, tetapi memastikan setiap publikasi bermanfaat bagi pengembangan pendidikan biologi dan pemecahan persoalan nyata di lapangan,” ujarnya. Prof. Eko menambahkan, ekosistem akademik UMM yang kondusif berperan besar dalam keberhasilan tersebut. “Kami membangun tradisi bimbingan riset intensif, kolaborasi dosen–mahasiswa, serta jejaring luas dengan sekolah, komunitas, dan industri. Ke depan, kami akan memperkuat kolaborasi internasional dan publikasi di jurnal bereputasi global agar kontribusi UMM semakin diakui dunia,” imbuhnya. Sementara, Dekan FKIP UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, turut memberikan apresiasi kepada Prodi Pendidikan Biologi. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FKIP UMM, khususnya Pendidikan Biologi, menjadi motor penggerak mutu riset di lingkungan UMM. Ini selaras dengan komitmen kami untuk menjadi fakultas keguruan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Ia menegaskan, FKIP UMM akan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan, fasilitas, dan insentif penelitian. “Capaian ini bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk lompatan berikutnya. Kami berharap model penguatan riset di Pendidikan Biologi UMM dapat menjadi rujukan bagi prodi lain di FKIP dan kampus Muhammadiyah–’Aisyiyah se-Indonesia,” tambahnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/prodi-pendidikan-biologi-fkip-umm-raih-peringkat-pertama-nasional-versi-sinta/

Guru Berhati Besar: Refleksi Hari Guru

Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd._Dosen_UMM

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Selamat hari guru, 25 November 2025. Jadilah guru yang berhati besar. Kami hanya dapat memberi kado berupa tulisan ini. Wujud cinta dan hormat pada guru Indonesia. Untuk itu, mari sedikit berbicara tentang itu. Di dunia akademik perguruan tinggi, kita terbiasa mendengar istilah Guru Besar—gelar tertinggi bagi para dosen, simbol puncak karier dan kapabilitas akademik. Tapi, bagaimana kalau kita memperkenalkan sesuatu yang tak kalah penting, meskipun tak tercetak di ijazah: “Guru Berhati Besar”? Mengapa “Berhati Besar” penting? Kadang kita berfokus pada gelar, publikasi, dan jabatan. Ya, semua itu sangat penting dalam dunia akademik. Namun, esensi mendidik bukan hanya soal mengajar materi, melainkan juga merawat hati—baik hati guru maupun hati siswa. Seorang guru yang besar hatinya bisa merespons bukan hanya pertanyaan ilmiah, tapi juga kegelisahan siswa: stres, keraguan, kegagalan — semua itu bagian dari kehidupan sekolah. Dalam artikel “The Heart of a Teacher” oleh Geraldine, ia menggambarkan bagaimana seorang guru (dalam konteksnya sebagai guru untuk anak kecil) memiliki hati yang “cukup besar untuk mendengar detak-detak hati kecil di sekelilingnya. Cukup besar untuk membuka pelukan di pagi hari. Dan cukup kuat untuk mengirim doa setiap malam. Meski Geraldine bicara tentang guru sekolah dasar, semangat itu bisa diaplikasikan ke guru secara umum: bukan cuma mengajar, tetapi menjadi pendengar dan pemberi harapan. Guru dan panggilan nurani Terkadang guru juga butuh muhasabah. Menurut artikel dari Ikatan Guru Indonesia (IGI), ada pertanyaan besar: apakah sebagai guru (atau pendidik) kita masih memiliki hati nurani? Penulis artikel tersebut mengajak para guru untuk melihat ke dalam diri: apakah kita mendorong siswa agar terus belajar, tapi kita sendiri sudah berhenti berkembang? Apakah kita memberi contoh integritas, atau sekadar meminta siswa mengerjakan tugas sambil kita “tunggu saja”? Hasrat untuk menjadi pendidik sejati kerap diuji — apakah ini semata profesi atau panggilan hati. Bila guru punya hati nurani, maka pembimbingan akademik tidak cuma soal buku, tugas, pekerjaan rumah, dan proyek. Ada aspek kemanusiaan: merangkul siswa yang kewalahan, memberi dukungan moral, bahkan mendorong mereka menjaga kesehatan mental. Guru berhati besar adalah sosok yang bisa menjadi panutan personal, tidak hanya intelektual. Kisah nyata: guru berhati besar di dunia nyata Ada cerita inspiratif tentang guru yang berjiwa besar dan penuh pengabdian. Meski tidak persis dosen, kisah guru-guru seperti yang diliput Palm Beach Post tentang “big-hearted teacher” menunjukkan betapa pengaruh manusiawi dari seorang pengajar dapat mengubah hidup murid. Narasi semacam itu menggarisbawahi bahwa kepedulian, kehangatan, dan empati guru bisa berdampak besar bagi siswanya. Begitu juga, di banyak tulisan Indonesia kita menemukan ungkapan “guru tangguh berhati cahaya.” Dalam artikel tentang guru, “tangguh berhati cahaya” dipakai untuk menggambarkan guru yang tidak hanya kuat menghadapi tantangan, tetapi juga memberi “cahaya”: penerangan ilmu dan akhlak, dan kehadiran yang menenangkan siswa. Dampak positif “Guru Berhati Besar” Membangun kepercayaan. Siswa, apalagi yang baru memasuki dunia sekolah, sering kali merasa ragu, tersisih, atau bingung. Guru yang punya hati besar bisa menjadi figur andalan: tempat curhat, berdebat gagasan, bahkan berbagi kegelisahan hidup. Pertama, meningkatkan pengalaman belajar emosional. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu: juga pembentukan karakter. Guru yang peduli ke aspek emosional siswa membantu menciptakan iklim kelas yang lebih sehat dan produktif. Kedua, memotivasi siswa agar lebih resilient. Siswa yang tahu bahwa gurunya peduli akan lebih berani mengejar ide, mencoba tugas yang sulit, dan menghadapi kegagalan dengan kepala tegak. Dukungan emosional bisa membuat perbedaan besar. Ketiga, membangun komunitas akademik yang inklusif. Dengan “hati besar”, guru bisa merawat inklusivitas: menerima latar belakang beragam siswa, membuka ruang diskusi, dan memfasilitasi kolaborasi. Hal ini memperkaya akademia. Bagaimana mewujudkan “Guru Berhati Besar”? Beberapa langkah konkret bisa dipertimbangkan: Pertama, Pelatihan empati dan kecerdasan emosional. Lembaga akademik bisa menyelenggarakan workshop untuk guru mengenai mentoring, komunikasi empatik, dan coaching kehidupan (life coaching) untuk siswa. Kedua, Meningkatkan kesejahteraan dan dukungan mental untuk guru. Sekilas perlu memahami bahwa guru yang sehat mental lebih mampu menjadi pendidik yang peduli. Program dukungan seperti konseling, beban kerja yang seimbang, dan pengakuan atas kerja peduli sangat penting. Ketiga, Mekanisme mentoring formal. Selain menjadi pengajar materi, guru bisa diberi peran resmi sebagai mentor, dengan beban jam mentoring dan penghargaan atas kontribusi non-akademik kepada siswa. Keempat, Kebijakan penghargaan kepedulian. Sekolah bisa memberi pengakuan (misalnya “Guru Inspiratif”) tidak hanya berdasar jumlah publikasi, tetapi juga berdasarkan testimoni siswa, mentoring, dan kontribusi sosial. Kelima, Memupuk budaya cerita. Membagikan kisah “Guru berhati besar” di media kampus (majalah, blog, seminar) dapat menginspirasi kolega lain untuk menumbuhkan kepedulian. Kesimpulan Kalau guru Besar adalah penghargaan atas puncak akademik, maka Guru Berhati Besar adalah penghargaan atas kemanusiaan. Gelar boleh tinggi, tapi hu­bungan manusia-lah yang membuat pendidikan bermakna. Di era di mana teknologi, publikasi, dan persaingan akademik sangat kencang, kita butuh sosok guru yang tidak hanya menguak teori, tetapi juga merajut harapan — guru dengan hati besar. Semoga kita bisa memperluas wacana ini di sekolah-sekolah kita: mendorong agar “besar hati” menjadi bagian dari identitas akademik yang dihormati, dihargai, dan dihidupi. Opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-berhati-besar-refleksi-hari-guru/

Keren, 3 Guru Besar Baru UMM Diarak Pakai Moge saat Pengukuhan

Malang —  Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge. 3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin. Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” ujar Nazar. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Muhadjir Effendy, memberikan apresiasi tinggi atas capaian UMM. Sebagai mantan rektor dia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Dia menilai tiga profesor baru tersebut memiliki titik temu dalam menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” kata Muhadjir. Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Fauzan menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. “Pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas,” kata Fauzan. Berita ini telah tayang pada: https://jatim.viva.co.id/amp/cangkrukan/22967-gaul-3-guru-besar-baru-umm-diarak-pakai-moge-saat-pengukuhan

Tiga Guru Besar FKIP UMM Dikukuhkan, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah tiga jumlah Guru Besar baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pengukuhan Guru Besar ini digelar di Basement Dome UMM, Sabtu (22/11/2025). Meski berasal dari Fakultas yang sama, namun penelitian dan kepakaran bidang dari ketiga guru besar ini berbeda. Ada yang fokus pada ilmu pembelajaran bioetika, mikrobiologi lingkungan, hingga pengembangan kurikulum. Ketiga guru besar baru FKIP UMM tersebut, yakni: – Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha M.Pd., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika. – Prof. Dr. Lud Waluyo M.Kes., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan. – Prof. Dr. Moh Mahfud Effendi M.M., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum. Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika, sekaligus gubes ke-69 di UMM. Prof Atok mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Integrasi Model Pembelajaran OIDDE dalam Pendidikan Bioetika di Abad Global: Membangun Pengetahuan, Keputusan Etis dan Sikap Etis Peserta Didik.” Prof Atok menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah, karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. “Pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah,” ujar Prof Atok. Menurutnya, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, Prof Atok mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan, model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen. Serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains, karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan. Tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” tandasnya. Prof Dr Lud Waluyo MKes menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Lud Waluyo MKes Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan, sekaligus gubes ke-73 di UMM. Prof Lud mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Biofitoremediator: Salah Satu Solusi Penanganan Polusi Limbah Cair. Prof Lud menjelaskan, persoalan limbah cair semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu, hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Prof Lud menegaskan, pendekatan kimia tak lagi memadai, karena berpotensi menciptakan residu baru berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS efektif mematikan patogen. Kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS dan residu deterjen,” terang Prof Lud. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. “Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan. Termasuk logam berat hingga 100 ppm,” ujarnya Ia menandaskan, keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan dan tapioka. Menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis. “Tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” tandasnya. Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum, sekaligus gubes ke-72 di UMM. Prof Mahfud menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kurikulum Indonesia Satu (KIS)”, dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai, pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan melangkah ke arah global. “Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan humanis dan berkeadaban,” ucapnya Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” tegasnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan, KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Pentingnya kurikulum menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi memahami dunia dan dirinya. “Kurikulum berjiwa humanis, inklusif dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045,” tandasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ucapnya. Lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” pungkasnya. Berita ini telah tayang pada: https://reportasemalang.com/tiga-guru-besar-fkip-umm-dikukuhkan-kaji-mikrobiologi-kurikulum-hingga-bioetika/

Prodi Pendidikan Biologi UMM menjadi Anggota KPBI

🎉 KABAR GEMBIRA! 🎉 Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang menjadi Anggota Konsorsium Pendidikan Biologi Indonesia! 🌿✨ Gabungnya kami dalam konsorsium ini di setiap tahunnya adalah langkah besar untuk menghadirkan peluang yang lebih luas bagi mahasiswa, mulai dari kolaborasi penelitian 🧬, kegiatan nasional 🌏, hingga inovasi pendidikan terbaru. Siap belajar dan berkembang bersama, Sobi? 💡 🔗 Temukan info lengkapnya dan semua program seru yang kami tawarkan di sini: 👉 biologi.umm.ac.id 💚 Yuk, jadi bagian dari generasi masa depan yang mencintai ilmu dan alam! Jangan lupa share kabar baik ini ya! 🦋👩‍🔬 #PendidikanBiologiUMM #BanggaBiologi #KonsorsiumPendidikanBiologiIndonesia #FutureScientists #MahasiswaAktif #TerdepanMenginspirasi

Prodi Pendidikan Biologi Terbaik Di Bidang Pengelolaan dan Pelaporan Keuangan Se-UMM

Malang, 10 Juli 2022. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan hidayah dan Rahmatnya. Solawat serta salam kepada Nabi Muhammad SWA yang telah menunjukkan jalan Islam. Prodi Pendidikan Biologi mendapatkan predikat terbaik dalam pelaporan keuangan se-universitas, capaian ini sangat membanggakan, ini juga membuktikan nbahwa prodi pendidikan biologi sangat baik dalam menejerial keuangannya. Badan Pengendalian Internal (BPI) sebagai penyelanggara audit menyatakan bahwa pengukuran Prodi Pendidikan Biologi telah memenuhi standar akuntansi keuangan entitas tanpa akuntabilitas publik. Dengan demikian Prodi Pendidikan Biologi terbaik di bidang pengelolaan dan pelaporan keuangan. Semoga kami semakin amanah dan sukses dalam mengemban tugas-tugasnya, aamiin ya robbal alaamiin.