Oleh: Dr. Husamah, M.Pd.
(Catatan perjalanan ke Shanghai dan Guangzhou)

Ada satu hal yang langsung terasa ketika menjejakkan kaki di kota-kota besar di Tiongkok seperti Shanghai dan Guangzhou: kota ini hidup, ramai, modern, tetapi tetap terasa bersih dan tertata. Jalanannya padat, manusianya bergerak cepat, gedung-gedung menjulang tinggi, namun polusi yang biasa kita bayangkan dari kota megapolitan justru tidak terlalu terasa. Di situlah saya mulai memahami bahwa China tampaknya tidak sekadar berbicara tentang pembangunan, tetapi juga tentang keberlanjutan.

Di Shanghai, hampir di setiap sudut kota kita bisa menemukan taman-taman cantik, pepohonan yang tertata rapi, dan ruang hijau yang membuat kota terasa lebih “bernapas”. Bahkan di kawasan bisnis yang dipenuhi gedung pencakar langit, unsur alam tetap mendapat tempat terhormat. Kota modern tidak harus kehilangan sentuhan hijau. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian lingkungan.

Hal serupa juga terlihat di Guangzhou. Kota ini ramai luar biasa, tetapi tetap nyaman dipandang. Sungai-sungai tertata, trotoar bersih, dan transportasi publiknya sangat memudahkan masyarakat. Yang paling mengesankan tentu moda transportasinya. Metro atau kereta listrik menghubungkan hampir seluruh sudut kota. Mau pergi jauh atau dekat, masyarakat cukup berjalan sedikit menuju stasiun, lalu berpindah dengan cepat dan efisien.

Bus listrik juga menjadi pemandangan biasa. Kendaraan umum bergerak nyaris tanpa suara bising mesin dan tanpa asap hitam yang mengganggu. Bahkan mobil listrik dan motor listrik tampak sangat dominan di jalan raya. Di beberapa titik, suara kendaraan yang terdengar justru lebih banyak berasal dari gesekan ban dengan jalan daripada suara mesin.

Inilah yang menarik. Jalanan di kota-kota besar China sebenarnya sangat sibuk. Kendaraan begitu banyak. Aktivitas ekonomi berlangsung hampir tanpa jeda. Namun karena transisi menuju energi listrik dilakukan secara masif, kualitas udara terasa jauh lebih baik dibanding banyak kota besar lain di dunia. Kita seperti melihat bagaimana sebuah negara benar-benar serius mengurangi emisi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Tentu saja, China bukan negara tanpa masalah lingkungan. Mereka juga pernah menghadapi krisis polusi yang berat. Tetapi yang tampak hari ini adalah upaya besar untuk berubah. Dan perubahan itu terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Apa yang dilakukan Tiongkok ini menjadi contoh bahwa isu keberlanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) bukan sekadar slogan di ruang seminar atau dokumen internasional. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat konkret: transportasi publik yang nyaman, kendaraan listrik yang terjangkau, kota hijau, dan ruang hidup yang lebih sehat bagi masyarakat.

Mungkin di situlah letak pelajaran pentingnya. Masa depan kota bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi tentang bagaimana manusia tetap bisa hidup nyaman tanpa terus-menerus melukai bumi yang ditinggalinya.