Probolinggo — SMA Negeri 2 Kraksaan menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) bertema penguatan pembelajaran mendalam bagi guru-guru sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang (FPSH UMM), yaitu Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Tutut Indria Permana, S.Pd., M.Pd pada Rabu (8/7). Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan pembelajaran mendalam melalui pengembangan modul ajar, bahan ajar, media kontekstual, dan asesmen bermakna.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian IHT SMAN 2 Kraksaan yang diarahkan untuk memperkuat kompetensi guru dalam menyusun, menelaah, dan mengimplementasikan perangkat pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, guru tidak hanya diajak memahami konsep pembelajaran mendalam secara teoretis, tetapi juga diarahkan untuk melihat kembali kesesuaian antara modul ajar yang telah dirancang dengan praktik pembelajaran yang benar-benar berlangsung di kelas.

Kepala SMAN 2 Kraksaan, Maya Siswindari, menyampaikan bahwa kegiatan IHT ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil refleksi dan supervisi pembelajaran di sekolah. Menurutnya, modul ajar yang telah disusun guru perlu benar-benar menjadi panduan nyata dalam proses pembelajaran, bukan sekadar dokumen administrasi.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian in house training untuk guru-guru di SMAN 2 Kraksaan agar modul ajar Pembelajaran Mendalam yang disusun benar-benar dilaksanakan dalam pembelajaran. Dari pengalaman yang sudah dilakukan ketika supervisi pelaksanaan pembelajaran di kelas, masih ditemukan kegiatan yang tidak sesuai dengan modul ajar yang direncanakan. Karena itu, melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kembali pemahaman dan praktik guru agar perencanaan pembelajaran selaras dengan pelaksanaan di kelas,” ungkap Maya.

Dalam sesi materi, Tutut Indria Permana menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Pembelajaran mendalam diarahkan agar siswa tidak hanya aktif secara fisik melalui kegiatan LKPD, diskusi, presentasi, atau proyek, tetapi juga benar-benar memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, menerapkan konsep dalam konteks berbeda, serta merefleksikan makna dari proses belajarnya.

Guru-guru diajak memahami bahwa kelas yang tampak aktif belum tentu menghasilkan pembelajaran yang mendalam. Aktivitas belajar perlu dirancang agar tidak berhenti pada penyelesaian tugas, tetapi mampu membangun pemahaman yang utuh. Oleh karena itu, narasumber mengajak peserta membedakan antara aktivitas yang sekadar membuat kelas ramai dengan aktivitas yang mampu menumbuhkan pemahaman, penalaran, aplikasi, dan refleksi siswa.

Materi juga menekankan tiga prinsip utama pembelajaran mendalam, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Pada prinsip mindful learning, siswa didorong untuk sadar terhadap tujuan belajar, strategi berpikir, serta perkembangan pemahamannya sendiri. Pada prinsip meaningful learning, materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, masalah lokal, lintas konsep, dan pengalaman siswa. Sementara itu, joyful learning dipahami bukan sekadar pembelajaran yang menyenangkan, tetapi pembelajaran yang membuat siswa merasa aman, tertantang, terlibat, dan berani menunjukkan hasil belajarnya.

Salah satu contoh aplikatif yang dibahas adalah materi perubahan lingkungan. Melalui contoh tersebut, guru diajak melihat bagaimana topik pencemaran atau ekosistem lokal dapat dirancang menjadi pembelajaran yang kontekstual. Misalnya, siswa tidak hanya diminta menjelaskan definisi pencemaran, tetapi menganalisis kondisi lingkungan sekolah, mengamati sampah, drainase, kebersihan kelas, ruang hijau, serta menyusun solusi berbasis data sederhana.

Contoh revisi tujuan pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Tujuan yang semula berbunyi “siswa menjelaskan pencemaran” dapat diperkuat menjadi “siswa menganalisis pencemaran di lingkungan sekitar dan menyusun solusi berbasis data sederhana”. Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam menuntut guru untuk merancang tujuan yang lebih esensial, analitis, kontekstual, dan berdampak pada pengalaman belajar siswa.

Selain modul ajar, peserta juga mendapatkan penguatan terkait bahan ajar kontekstual. Bahan ajar tidak lagi dipahami sebatas ringkasan materi, tetapi sebagai sumber belajar yang memuat fenomena, kasus, gambar, data sederhana, berita lokal, infografis, dan pertanyaan analitis. Dalam konteks SMAN 2 Kraksaan, guru dapat memanfaatkan isu lingkungan sekolah, pengelolaan sampah di sekitar Kraksaan, kawasan Paiton, serta potensi lokal Probolinggo sebagai bahan ajar lintas disiplin.

Diani Fatmawati, pada bagian media pembelajaran, guru diajak memahami bahwa media tidak harus selalu canggih. Media yang baik adalah media yang mampu memantik siswa untuk mengamati, bertanya, berdiskusi, membandingkan, menganalisis, mengambil keputusan, dan menyusun solusi. Foto lingkungan sekolah, video pendek, infografis, data observasi siswa, Google Form, Canva, Kahoot, maupun media sederhana lain dapat digunakan sepanjang mendukung tercapainya pemahaman yang bermakna.

Asesmen juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini. Narasumber menekankan bahwa asesmen dalam pembelajaran mendalam tidak cukup hanya menilai benar atau salah, tetapi perlu melihat alasan siswa, koneksi konsep, transfer pengetahuan, produk, kolaborasi, dan refleksi. Dengan demikian, bukti belajar siswa menjadi lebih utuh karena mencakup pemahaman, proses, hasil, serta perubahan cara pandang siswa setelah mengikuti pembelajaran.

Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 2 Kraksaan berharap guru-guru semakin mampu menyusun perangkat pembelajaran yang aplikatif dan selaras dengan kebutuhan kelas. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi dalam memperkuat mutu pembelajaran. Dengan modul ajar yang lebih kontekstual, media yang tepat, bahan ajar yang dekat dengan kehidupan siswa, serta asesmen yang bermakna, pembelajaran diharapkan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga benar-benar memberi pengalaman belajar yang mendalam bagi peserta didik.

Foto bersama peserta kegiatan IHT SMAN 2 Kraksaan Probolinggo bersama dosen UMM
Foto bersama peserta kegiatan IHT SMAN 2 Kraksaan Probolinggo bersama dosen UMM