Dosen Pendidikan Biologi FPSH UMM Perkuat Implementasi Kurikulum STEM di Sekolah Muhammadiyah Kota Batu

Batu — Program Studi S1 Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang (FPSH UMM), terus memperkuat peran akademiknya dalam pengembangan mutu pendidikan sekolah. Salah satu kontribusi tersebut tampak melalui keterlibatan Dr. Dr. Nur Widodo, M.Kes., dosen Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM, dalam penguatan implementasi kurikulum berbasis STEM di sekolah-sekolah Muhammadiyah Kota Batu. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi antara FPSH UMM dan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Daerah Muhammadiyah (Dikdasmen PNF PDM) Kota Batu. Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Senin, 13 Juli 2026, sebagai komitmen bersama dalam membangun ekosistem pendidikan yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., bersama Ketua Majelis Dikdasmen PNF PDM Kota Batu, Dr. Dr. Nur Widodo, M.Kes. Kegiatan ini juga disaksikan oleh Ketua PDM Kota Batu, H. Tsalis Rifai, serta dihadiri oleh kepala sekolah Muhammadiyah se-Kota Batu. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penguatan kurikulum STEM tidak hanya menjadi agenda akademik, tetapi juga agenda strategis persyarikatan dalam meningkatkan kualitas pendidikan Muhammadiyah. Dari perspektif Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM, keterlibatan Pak Nurwidodo memiliki makna penting. Sebagai dosen Pendidikan Biologi, beliau tidak hanya berperan dalam pengembangan keilmuan biologi dan pendidikan sains di perguruan tinggi, tetapi juga mengambil bagian dalam menjembatani kebutuhan sekolah terhadap pembelajaran abad ke-21. Hal ini selaras dengan orientasi Pendidikan Biologi yang menekankan integrasi konsep sains, pembelajaran inovatif, penguatan keterampilan berpikir kritis, dan pemecahan masalah berbasis kehidupan nyata. Kurikulum STEM menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk memperkuat pembelajaran sains di sekolah. STEM tidak hanya menggabungkan unsur science, technology, engineering, dan mathematics, tetapi juga mengajak peserta didik melihat persoalan nyata secara terpadu. Melalui pendekatan ini, siswa tidak sekadar memahami teori, tetapi juga dilatih mengamati masalah, mengumpulkan data, merancang solusi, menguji gagasan, serta mengomunikasikan hasilnya secara ilmiah. Dalam konteks sekolah Muhammadiyah, implementasi kurikulum STEM dapat menjadi ruang strategis untuk mengembangkan generasi yang unggul secara akademik, kreatif, berkarakter, dan siap menghadapi perkembangan teknologi. Pendekatan ini juga sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa kini yang menuntut siswa mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, berinovasi, serta memiliki kesadaran terhadap kebermanfaatan ilmu bagi masyarakat. Kerja sama FPSH UMM dan Dikdasmen PNF PDM Kota Batu mencakup empat program utama. Program tersebut meliputi pelatihan dan pendampingan guru dalam penerapan pembelajaran berbasis STEM, pengembangan modul ajar dan media pembelajaran digital, pembinaan kompetensi siswa di bidang riset dan sains, serta pemanfaatan laboratorium modern UMM sebagai sarana praktik dan eksperimen bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Batu. Bagi Program Studi S1 Pendidikan Biologi, empat program tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan penguatan ekosistem pembelajaran sains. Pelatihan guru dapat membantu sekolah menyusun pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis proyek. Pengembangan modul ajar dan media digital mendorong guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna. Pembinaan siswa di bidang riset dan sains memberi ruang bagi peserta didik untuk berlatih berpikir ilmiah. Sementara itu, pemanfaatan laboratorium UMM dapat memperluas akses sekolah terhadap fasilitas eksperimen yang mendukung pembelajaran STEM. Pak Nurwidodo menyampaikan optimisme bahwa sinergi antara sekolah dan perguruan tinggi dapat memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan. Kolaborasi tersebut menjadi penting karena sekolah membutuhkan dukungan akademik, sedangkan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kontribusi keilmuan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pendidikan. Melalui kerja sama ini, sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kota Batu diharapkan semakin siap menghadapi tantangan pendidikan global dan melahirkan lulusan yang kompetitif, inovatif, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Dekan FPSH UMM, Prof. Mahfud Effendi, juga menegaskan pentingnya kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi pembelajaran abad ke-21. FPSH UMM berupaya memperkuat pendekatan STEM secara komprehensif agar lulusan sekolah memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan menguasai teknologi terapan. Dukungan tersebut menunjukkan bahwa fakultas tidak hanya bergerak dalam ruang akademik kampus, tetapi juga aktif membangun kemitraan dengan sekolah sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan dosen Pendidikan Biologi dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa bidang biologi pendidikan memiliki kontribusi luas dalam transformasi pembelajaran. Pendidikan Biologi tidak hanya berfokus pada penguasaan materi makhluk hidup dan lingkungan, tetapi juga berperan dalam membangun pembelajaran sains yang integratif, aplikatif, berbasis riset, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui sinergi ini, Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan sains di sekolah. Kolaborasi dengan Dikdasmen PNF PDM Kota Batu diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkuat kapasitas guru, memperluas pengalaman belajar siswa, serta menghadirkan pembelajaran STEM yang lebih bermakna di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pada akhirnya, kerja sama ini tidak hanya menjadi agenda kelembagaan, tetapi juga wujud nyata kontribusi akademisi Pendidikan Biologi FPSH UMM dalam membangun generasi pembelajar yang kritis, kreatif, adaptif, dan berdaya saing. Melalui kurikulum STEM, sekolah dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan nyata, sedangkan perguruan tinggi dapat terus menjalankan perannya sebagai mitra strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Berita ini telah tayang pada: https://pwmu.co/sinergi-fpsh-umm-dan-dikdasmen-pdm-kota-batu-perkuat-implementasi-kurikulum-stem-di-sekolah-muhammadiyah/
SMAN 2 Kraksaan Gelar IHT Penguatan Pembelajaran Mendalam bersama Dosen Pendidikan Biologi UMM

Probolinggo — SMA Negeri 2 Kraksaan menyelenggarakan kegiatan In House Training (IHT) bertema penguatan pembelajaran mendalam bagi guru-guru sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang (FPSH UMM), yaitu Diani Fatmawati, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dan Tutut Indria Permana, S.Pd., M.Pd pada Rabu (8/7). Materi yang disampaikan berfokus pada penguatan pembelajaran mendalam melalui pengembangan modul ajar, bahan ajar, media kontekstual, dan asesmen bermakna. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian IHT SMAN 2 Kraksaan yang diarahkan untuk memperkuat kompetensi guru dalam menyusun, menelaah, dan mengimplementasikan perangkat pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, guru tidak hanya diajak memahami konsep pembelajaran mendalam secara teoretis, tetapi juga diarahkan untuk melihat kembali kesesuaian antara modul ajar yang telah dirancang dengan praktik pembelajaran yang benar-benar berlangsung di kelas. Kepala SMAN 2 Kraksaan, Maya Siswindari, menyampaikan bahwa kegiatan IHT ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil refleksi dan supervisi pembelajaran di sekolah. Menurutnya, modul ajar yang telah disusun guru perlu benar-benar menjadi panduan nyata dalam proses pembelajaran, bukan sekadar dokumen administrasi. “Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian in house training untuk guru-guru di SMAN 2 Kraksaan agar modul ajar Pembelajaran Mendalam yang disusun benar-benar dilaksanakan dalam pembelajaran. Dari pengalaman yang sudah dilakukan ketika supervisi pelaksanaan pembelajaran di kelas, masih ditemukan kegiatan yang tidak sesuai dengan modul ajar yang direncanakan. Karena itu, melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kembali pemahaman dan praktik guru agar perencanaan pembelajaran selaras dengan pelaksanaan di kelas,” ungkap Maya. Dalam sesi materi, Tutut Indria Permana menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Pembelajaran mendalam diarahkan agar siswa tidak hanya aktif secara fisik melalui kegiatan LKPD, diskusi, presentasi, atau proyek, tetapi juga benar-benar memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, menerapkan konsep dalam konteks berbeda, serta merefleksikan makna dari proses belajarnya. Guru-guru diajak memahami bahwa kelas yang tampak aktif belum tentu menghasilkan pembelajaran yang mendalam. Aktivitas belajar perlu dirancang agar tidak berhenti pada penyelesaian tugas, tetapi mampu membangun pemahaman yang utuh. Oleh karena itu, narasumber mengajak peserta membedakan antara aktivitas yang sekadar membuat kelas ramai dengan aktivitas yang mampu menumbuhkan pemahaman, penalaran, aplikasi, dan refleksi siswa. Materi juga menekankan tiga prinsip utama pembelajaran mendalam, yaitu mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Pada prinsip mindful learning, siswa didorong untuk sadar terhadap tujuan belajar, strategi berpikir, serta perkembangan pemahamannya sendiri. Pada prinsip meaningful learning, materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, masalah lokal, lintas konsep, dan pengalaman siswa. Sementara itu, joyful learning dipahami bukan sekadar pembelajaran yang menyenangkan, tetapi pembelajaran yang membuat siswa merasa aman, tertantang, terlibat, dan berani menunjukkan hasil belajarnya. Salah satu contoh aplikatif yang dibahas adalah materi perubahan lingkungan. Melalui contoh tersebut, guru diajak melihat bagaimana topik pencemaran atau ekosistem lokal dapat dirancang menjadi pembelajaran yang kontekstual. Misalnya, siswa tidak hanya diminta menjelaskan definisi pencemaran, tetapi menganalisis kondisi lingkungan sekolah, mengamati sampah, drainase, kebersihan kelas, ruang hijau, serta menyusun solusi berbasis data sederhana. Contoh revisi tujuan pembelajaran juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Tujuan yang semula berbunyi “siswa menjelaskan pencemaran” dapat diperkuat menjadi “siswa menganalisis pencemaran di lingkungan sekitar dan menyusun solusi berbasis data sederhana”. Perubahan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam menuntut guru untuk merancang tujuan yang lebih esensial, analitis, kontekstual, dan berdampak pada pengalaman belajar siswa. Selain modul ajar, peserta juga mendapatkan penguatan terkait bahan ajar kontekstual. Bahan ajar tidak lagi dipahami sebatas ringkasan materi, tetapi sebagai sumber belajar yang memuat fenomena, kasus, gambar, data sederhana, berita lokal, infografis, dan pertanyaan analitis. Dalam konteks SMAN 2 Kraksaan, guru dapat memanfaatkan isu lingkungan sekolah, pengelolaan sampah di sekitar Kraksaan, kawasan Paiton, serta potensi lokal Probolinggo sebagai bahan ajar lintas disiplin. Diani Fatmawati, pada bagian media pembelajaran, guru diajak memahami bahwa media tidak harus selalu canggih. Media yang baik adalah media yang mampu memantik siswa untuk mengamati, bertanya, berdiskusi, membandingkan, menganalisis, mengambil keputusan, dan menyusun solusi. Foto lingkungan sekolah, video pendek, infografis, data observasi siswa, Google Form, Canva, Kahoot, maupun media sederhana lain dapat digunakan sepanjang mendukung tercapainya pemahaman yang bermakna. Asesmen juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini. Narasumber menekankan bahwa asesmen dalam pembelajaran mendalam tidak cukup hanya menilai benar atau salah, tetapi perlu melihat alasan siswa, koneksi konsep, transfer pengetahuan, produk, kolaborasi, dan refleksi. Dengan demikian, bukti belajar siswa menjadi lebih utuh karena mencakup pemahaman, proses, hasil, serta perubahan cara pandang siswa setelah mengikuti pembelajaran. Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 2 Kraksaan berharap guru-guru semakin mampu menyusun perangkat pembelajaran yang aplikatif dan selaras dengan kebutuhan kelas. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi dalam memperkuat mutu pembelajaran. Dengan modul ajar yang lebih kontekstual, media yang tepat, bahan ajar yang dekat dengan kehidupan siswa, serta asesmen yang bermakna, pembelajaran diharapkan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga benar-benar memberi pengalaman belajar yang mendalam bagi peserta didik.
Dosen Pendidikan Biologi FPSH UMM Perkuat Kompetensi Guru SMKN 2 Probolinggo dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Humanisme

Probolinggo — Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang (FPSH UMM) terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis sekolah dalam pengembangan kompetensi pendidik. Melalui kegiatan “FPSH UMM Goes to SMKN 2 Probolinggo: Menjembatani Teknologi dan Humanisme dalam Kelas Masa Kini”, FPSH UMM hadir di SMK Negeri 2 Probolinggo untuk mendampingi guru-guru dalam merespons dinamika disrupsi teknologi yang semakin kuat memengaruhi dunia pendidikan (Kamis, 25/7). Kegiatan ini menjadi sangat relevan bagi Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM karena salah satu narasumber utama yang hadir adalah Fuad Jaya Miharja, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM. Kehadiran Pak Fuad menunjukkan kontribusi nyata Prodi Pendidikan Biologi dalam memperluas dampak akademik di luar kampus, khususnya dalam penguatan pembelajaran inovatif, transformatif, berbasis proyek, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik. Dalam materi yang disampaikan, Pak Fuad mengangkat tema “Transformasi Sosial-Emosional: Menghadapi Karakteristik Siswa Gen Z dan Gen Alpha” serta “STEM Terintegrasi: Mengasah Soft Skills dan Kecerdasan Sosial-Emosional Lewat Pembelajaran Berbasis Proyek.” Selain Pak Fuad, kegiatan ini juga menghadirkan Dr. Octavina Rizky Utami Putri, M.Pd. yang membawakan materi “Guru Adaptif untuk Generasi Digital: Menghadirkan Pembelajaran Kolaboratif melalui Gamifikasi AR-VR.” Dengan demikian, kegiatan ini memadukan dua perspektif penting dalam pendidikan masa kini, yaitu penguatan sisi humanisme melalui pembelajaran sosial-emosional dan penguatan literasi digital melalui pemanfaatan teknologi interaktif. Dalam paparannya, Pak Fuad mengajak guru-guru SMKN 2 Probolinggo untuk memahami kembali karakteristik siswa Gen Z dan Gen Alpha. Kedua generasi ini tumbuh dalam lanskap digital yang sangat cepat, visual, instan, interaktif, dan kritis. Mereka terbiasa memperoleh informasi dari berbagai platform digital, termasuk media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan. Kondisi ini membuat peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi cukup hanya menjadi sumber informasi utama, tetapi perlu menjadi navigator informasi yang membantu siswa memilah data, memvalidasi kebenaran informasi, membedakan fakta dan hoaks, serta menyintesis informasi untuk memecahkan masalah nyata. Sebagai dosen Pendidikan Biologi, Pak Fuad menekankan bahwa pembelajaran sains, khususnya STEM, memiliki potensi besar untuk membangun cara berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan bertanggung jawab. STEM tidak hanya dipahami sebagai pendekatan yang berorientasi pada teknologi tinggi, tetapi juga sebagai cara belajar yang mengajak siswa mengidentifikasi masalah, mengembangkan pemahaman, merancang solusi, dan mendiseminasikan hasil. Dalam konteks sekolah kejuruan, pendekatan ini sangat dekat dengan kebutuhan siswa karena berhubungan langsung dengan keterampilan kerja, inovasi produk, dan pemecahan masalah berbasis kehidupan nyata. Salah satu gagasan penting yang disampaikan adalah integrasi antara STEM, Project Based Learning (PjBL), dan Social Emotional Learning (SEL). Menurut materi yang dipaparkan, proyek STEM tidak hanya melatih siswa menghasilkan produk atau solusi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan regulasi diri, resiliensi, hubungan interpersonal, kesadaran sosial, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Melalui kerja kelompok, siswa belajar mendengarkan pendapat orang lain, membagi peran, menghadapi tantangan, mengelola emosi saat proyek tidak berjalan lancar, serta menghargai kontribusi teman. Pak Fuad juga memberikan contoh bahwa pembelajaran STEM tidak harus selalu mahal atau bergantung pada fasilitas canggih. Guru dapat mengembangkan low-cost STEM dengan memanfaatkan bahan daur ulang, sumber daya sekolah, dan masalah kontekstual di lingkungan sekitar. Beberapa contoh proyek yang dapat dikembangkan antara lain pembuatan sabun dari limbah minyak goreng, bioplastik dari bahan lokal, biopestisida, solar powerbank, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini menjadi penting karena guru dapat tetap menghadirkan pembelajaran inovatif meskipun dengan sarana sederhana. Sementara itu, Dr. Octavina Rizky Utami Putri menguatkan aspek adaptasi digital guru melalui pemanfaatan gamifikasi, AR-VR, live worksheet, dan media pembelajaran interaktif. Guru diajak merefleksikan kesiapan diri dalam menghadapi generasi digital melalui pertanyaan pemantik, “Apakah saya siap menjadi guru adaptif untuk generasi digital?” Materi ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu presentasi, tetapi juga dapat menjadi ekosistem belajar yang mendorong partisipasi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang lebih menarik. Melalui kombinasi materi dari kedua narasumber, kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan masa kini membutuhkan keseimbangan antara teknologi dan humanisme. Di satu sisi, guru perlu adaptif terhadap perkembangan digital, gamifikasi, AR-VR, media interaktif, dan kecerdasan buatan. Namun di sisi lain, guru juga tetap perlu memastikan bahwa pembelajaran memanusiakan siswa, membangun relasi positif, menguatkan karakter, serta memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh secara sosial dan emosional. Dari sudut pandang Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM, kegiatan ini menjadi bukti bahwa keilmuan biologi pendidikan tidak hanya terbatas pada pembelajaran konsep biologi di kelas, tetapi juga meluas pada pengembangan pedagogi inovatif, STEM terintegrasi, pembelajaran berbasis proyek, dan penguatan kompetensi sosial-emosional siswa. Kontribusi dosen Pendidikan Biologi dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa Prodi turut mengambil peran dalam menjawab kebutuhan sekolah terhadap pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Kegiatan FPSH UMM Goes to SMKN 2 Probolinggo sekaligus memperkuat posisi FPSH UMM sebagai fakultas yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan melalui kolaborasi dengan sekolah. Melalui sinergi antara Prodi Pendidikan Biologi, Prodi Pendidikan Matematika, dan unit-unit akademik di lingkungan FPSH UMM, kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi guru-guru SMKN 2 Probolinggo untuk menghadirkan kelas yang lebih adaptif, kolaboratif, humanis, dan berbasis teknologi. Pada akhirnya, kelas masa kini bukan hanya ruang transfer pengetahuan. Kelas perlu menjadi ruang tumbuh bagi siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, mengelola diri, memecahkan masalah, dan berani berinovasi. Melalui kegiatan ini, FPSH UMM bersama SMKN 2 Probolinggo berupaya menjembatani kebutuhan pendidikan abad ke-21: teknologi yang maju, guru yang adaptif, dan pembelajaran yang tetap berpihak pada kemanusiaan siswa.
Pengumuman Penulisan Nama Fakultas dalam Publikasi Ilmiah

Pengumuman Penggunaan Nomenklatur Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora dalam Publikasi Ilmiah Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kepada seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang, berikut kami sampaikan informasi terkait penulisan nama fakultas dalam publikasi ilmiah. Sehubungan dengan perubahan nama fakultas dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH), serta dalam rangka menjaga keseragaman identitas kelembagaan, seluruh sivitas akademika di lingkungan Program Studi S1 Pendidikan Biologi diharapkan menggunakan nomenklatur fakultas secara benar dan konsisten pada setiap publikasi ilmiah. Ketentuan ini berlaku untuk berbagai bentuk publikasi akademik, baik yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, prosiding, buku, book chapter, maupun luaran akademik lainnya. Ketentuan Penulisan Nama Fakultas Penulisan nama fakultas yang benar adalah sebagai berikut: Bahasa Indonesia: Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Bahasa Inggris: Faculty of Education, Science, and Humanities Contoh Penulisan Afiliasi Program Studi Pendidikan Biologi Untuk dosen, mahasiswa, maupun penulis dari Program Studi S1 Pendidikan Biologi UMM, penulisan afiliasi dalam Bahasa Inggris dapat menggunakan format berikut: Department of Biology Education, Faculty of Education, Science, and Humanities, Universitas Muhammadiyah Malang Penulisan afiliasi tersebut diharapkan digunakan secara konsisten dalam setiap naskah publikasi ilmiah agar identitas kelembagaan FPSH UMM tercantum secara tepat. Perhatian Seluruh dosen dan mahasiswa yang sedang menyusun artikel ilmiah, prosiding seminar, buku, book chapter, maupun publikasi lainnya diimbau untuk menyesuaikan penulisan afiliasi sesuai dengan ketentuan terbaru. Bagi naskah yang masih dalam proses submit, review, revisi, atau finalisasi, penulis diharapkan melakukan pengecekan kembali terhadap bagian afiliasi sebelum naskah diterbitkan. Demikian pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kerja sama seluruh sivitas akademika, kami sampaikan terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Program Studi S1 Pendidikan BiologiFakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH)Universitas Muhammadiyah Malang