Begadang Melemahkan Otak dan Tidur Sehat Menurut Islam

OPINI — Oleh: Tutut Indria Permana, S.Pd., M.Pd. (Mahasiswa Doktoral Pendidikan Biologi UM & Dosen Pendidikan Biologi UMM) Di banyak kampus, begadang sudah dianggap budaya. Mahasiswa terbiasa mengerjakan tugas hingga larut malam, dosen menuntaskan artikel di jam sepi, dan para akademisi menjadikan kopi sebagai penyelamat abadi. Kita sering merasa bangga karena “produktif di malam hari”, padahal sesungguhnya kita sedang menyabotase kemampuan otak sendiri. Neurosains menemukan bahwa begadang bukan sekadar membuat tubuh lelah. Ia merusak mekanisme kerja otak pada tingkat paling mendasar—mengganggu memori, melemahkan perhatian, dan akhirnya menurunkan kualitas belajar serta ketajaman berpikir. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bahkan dapat mengubah struktur jaringan otak. Fenomena ini semakin relevan ketika kita membahas pendidikan. Bagaimana mungkin mahasiswa diharapkan memahami konsep yang kompleks jika otaknya sendiri tidak berada dalam kondisi siap menerima informasi? Neurosains Memberikan Bukti Kuat 1. Memori Kerja Menurun: Otak Tidak Lagi Mampu Menahan Informasi Memori kerja (Working memory/WM)—kemampuan otak menahan informasi dalam durasi sangat pendek—adalah fondasi dari hampir semua aktivitas akademik: membaca, menalar, mengerjakan tugas, hingga memahami konsep baru. Sayangnya, ini juga salah satu fungsi kognitif yang paling cepat tumbang ketika seseorang kurang tidur. Pada kondisi terjaga yang panjang, area otak seperti lobus prefrontal dan parietal tidak mampu mempertahankan aktivitas optimalnya. Akibatnya, mahasiswa yang mencoba belajar sambil menahan kantuk sebenarnya sedang memaksa sistem yang sudah “kehabisan baterai”. Mereka membaca, tetapi tidak menangkap. Mendengar penjelasan, tetapi tidak memproses. Kondisi ini ibarat berusaha menimba air dari sumur kering—tidak peduli seberapa keras usaha dilakukan, hasilnya tetap minim. 2. Kemampuan Verbal dan Akademik Turun Drastis Pada siswa sekolah dasar, remaja, bahkan mahasiswa, rasa kantuk kronis memiliki efek domino yang serius. Keterampilan berbasis bahasa—seperti memahami bacaan, menginterpretasi kalimat, atau mengolah informasi verbal—turun signifikan ketika jam tidur tidak terpenuhi. Tidak mengherankan bila anak yang kurang tidur tampak kesulitan mengikuti pelajaran, tidak fokus saat membaca, atau lambat merespons instruksi guru. Yang menarik, kemampuan non-verbal seperti keterampilan visuospasial sering kali tetap stabil. Ini memberi satu pelajaran penting: kurang tidur bukan sekadar masalah energi, melainkan masalah kualitas kerja jaringan otak yang mendukung fungsi akademik inti. 3. Fungsi Eksekutif Terganggu: Mirip Kondisi Orang Mabuk Fungsi eksekutif adalah sistem “pengatur lalu lintas” di otak: ia menentukan kapan kita harus berhenti, kapan fokus, kapan mengalihkan perhatian, dan kapan menahan impuls. Kurang tidur mengganggu sistem pengendalian diri dan pengambilan keputusan. Tugas-tugas yang menuntut konsentrasi tinggi menjadi berantakan. Dalam banyak eksperimen, performa orang yang begadang setara dengan seseorang yang mencapai batas legal keracunan alkohol—lambat, kurang akurat, dan mudah salah mengambil keputusan. Dengan kata lain, kurang tidur membuat otak “bocor”, membiarkan informasi yang seharusnya tidak penting ikut mengganggu proses berpikir. Bukan gambaran ideal untuk mahasiswa, pendidik, atau siapa pun yang butuh berpikir jernih. Apa yang Terjadi di Dalam Otak Saat Kita Begadang? Penurunan fungsi kognitif hanyalah permukaan dari masalah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang terjadi di balik layar—di dalam jaringan saraf dan mekanisme elektrofisiologis otak. 1. Sinaps Menjadi “Tersumbat” Setiap hari, otak memperkuat ribuan koneksi sinaptik baru. Ini bagus, tetapi hanya sampai titik tertentu. Jika kita terus memaksa diri tidak tidur, sinaps mencapai kondisi “penuh”—disebut saturasi sinaptik. Saat tidur, sinaps yang tidak penting “dirapikan” agar kapasitas belajar kembali longgar.  Ketika begadang, proses ini tidak terjadi, sehingga sinaps menjadi penuh, jenuh, dan kehilangan fleksibilitasnya. Keadaan ini membuat otak tidak mampu membuat penguatan baru. Jadi ketika mahasiswa bergadang untuk belajar, hal yang sebenarnya terjadi adalah: otak sedang berada pada kapasitas maksimalnya dan tidak lagi mampu membuka ruang bagi informasi baru. Seperti spons yang terlalu basah, ia tidak bisa lagi menyerap apa pun. 2. Gas dan Rem Otak Tidak Seimbang Saat kurang tidur, otak tidak sekadar lelah. Ia justru terlalu aktif dalam cara yang salah. Sistem neurotransmiter kehilangan keseimbangan: Glutamat—sang “gas”—meningkat, sementara GABA—rem alami otak—melemah. Bayangkan sebuah mobil yang pedal gasnya tersangkut, sementara remnya aus. Akibatnya, otak terlalu aktif tetapi tidak efisien—berlari tanpa arah. Kondisi ini membuat pikiran sulit fokus, mudah terdistraksi, dan cepat kelelahan. Energi habis, tetapi tugas tetap terbengkalai. 3. Mekanisme Pembelajaran Otak Rusak Neuroplastisitas adalah kemampuan otak membentuk koneksi baru. Namun saat kurang tidur, seluruh proses ini runtuh. Gelombang LTP (Long-Term Potentiation/LTP-like plasticity)—mekanisme biologis di balik pembentukan memori jangka panjang—tidak mampu bekerja.  Sebaliknya, mekanisme penurunan sinaps (Long-Term Depression/LTD-like plasticity) ikut terganggu dan berubah menjadi reaksi yang justru memicu eksitasi tambahan. Hasilnya? Otak tidak lagi mampu menanam memori baru maupun merapikan koneksi lama. Inilah sebabnya materi yang dipelajari saat begadang jarang menempel lama. 4. Jaringan Perhatian dan Fokus Tidak Sinkron Pada kondisi normal, jaringan perhatian dan memori bekerja selaras. Deprivasi tidur menghancurkan harmoni ini. Jaringan Default Mode Network (DMN)—yang aktif saat otak melamun—tetap menyala bahkan ketika kita mencoba fokus. Sementara jaringan Dorsal Attention Network (DAN) gagal mengalihkan perhatian ke tugas penting. Saat begadang, DMN sering aktif pada waktu yang salah—itulah momen ketika seseorang tampak “kosong”, melamun, tatapan jauh, dan tidak mampu berkonsentrasi. Tubuhnya ada di kelas, tapi pikirannya di tempat lain. 5. Gelombang Theta Meningkat: Tanda Tekanan Otak Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) menunjukkan lonjakan gelombang Theta (4–7 Hz) ketika seseorang kekurangan tidur. Ini pertanda bahwa otak berada dalam mode darurat. Semakin sering begadang, semakin sering otak berada dalam tekanan kronis ini. Ini bukan sekadar “ngantuk”, tetapi reaksi fisiologis karena sistem saraf tidak mampu mempertahankan kewaspadaan. 6. Struktur Materi Putih (White Matter) Mulai Berubah Struktur materi putih (white matter)—jalur komunikasi antarbagian otak—juga terdampak. Kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan turunnya Fractional Anisotropy (FA) dan meningkatnya Mean Diffusivity (MD). Dua indikator ini menunjukkan kerusakan mikrostruktur materi putih (white matter) di otak. Perubahan kecil pada jaringan ini dapat menyebabkan kesulitan fokus, lambat merespons, dan mudah terdistraksi. Dalam jangka panjang, kualitas jalur saraf menurun. Ini bukan lagi sekadar masalah kinerja akademik, tetapi masalah kesehatan otak. Ini yang menjelaskan mengapa kebiasaan kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental. Islam Sejak Lama Mengingatkan Kita tentang Pentingnya Tidur Yang menarik, apa yang hari ini dibuktikan neurosains sebenarnya telah menjadi perhatian Islam sejak awal. 1.     Al-Qur’an Menggambarkan Tidur sebagai Tanda Kekuasaan Allah “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu

PMB UMM untuk Alumni Sekolah Muhammadiyah

Merapat Untuk Alumni Sekolah Muhammadiyah🤩 Bagi Teman-Teman Lulusan SMA/SMK/MA Sederajat Muhammadiyah, UMM Ada Beasiswa GRATIS BSS 1 Untuk Semua Program Studi. Periode I Dibuka Hingga 30 Juni 2026 Periode II Dibuka Mulai 1 Juli – 30 Agustus 2026 Jangan Lewatkan Kesempatannya Guys🥳✨ Segara daftarkan dirimu jadi Gen 26 UMM di pmb.umm.ac.id atau di online.umm.ac.id.

Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas Kembali Hadir

Monitor Untuk Maba Gen 26 🚀🤩 Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas Kembali Hadir✨ Yuk Buruan Gercepin Daftar Beasiswa Pendidikan Indonesia Emas UMM Yang Dibuka Hingga 30 Januari 2026. “Wujudkan Mimpi Emasmu Bersama Beasiswa Pendidikan Emas Indonesia” Untuk Informasi Lebih Lanjut, Bisa Klik Pada Link Website Di Bawah Ini: https://pmb.umm.ac.id/informasi-beasiswa/beasiswa-indonesia-emas/

Mau Jadi Gen 25 UMM? Pendaftaran Sudah Dibuka Guys!

PMB Gen 26 UMM

Saatnya Wujudkan Mimpi, Bersama Kampus Putih!! Langkah besar menuju masa depan dimulai dari keputusan hari ini. Di UMM, kamu tidak hanya belajar namun kamu tumbuh, menginspirasi, dan menjadi bagian dari perubahan. 📢 Penerimaan Mahasiswa Baru UMM Telah Dibuka! 📍 Jalur Reguler Gelombang I: 1 November 2025 – 30 Juni 2026 📍 Jalur Prestasi Gelombang I: 1 November 2025 – 25 Februari 2026 📍 Jalur Reguler FK dan Farmasi Gelombang I: 1 November 2025 – 19 Mei 2026. Yuk, mulai perjalananmu menuju masa depan gemilang bersama Kampus Putih! Langsung aja di pmb.umm.ac.id atau di online.umm.ac.id

Mengembalikan Esensi Pelajar: Refleksi Hari Pelajar Internasional

Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd.

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Setiap 17 November, dunia merayakan Hari Pelajar Internasional. Di berbagai tempat, peringatan ini dikemas dalam seminar, bincang akademik, hingga unggahan kreatif di media sosial. Namun di balik itu semua, ada satu undangan untuk merenung: apa makna sesungguhnya menjadi seorang pelajar? Pertanyaan ini penting, sebab dalam derasnya tuntutan nilai, sertifikasi, dan kompetisi, esensi pelajar sering menyempit menjadi sekadar “pencari skor”. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menulis dalam bukunya “Experience and Education” (1938) bahwa pendidikan bukan proses menuangkan fakta ke kepala anak, melainkan pengalaman hidup yang membentuk cara berpikir dan bertindak. Dewey melihat pelajar sebagai agen aktif yang tumbuh melalui interaksi dengan lingkungan. Refleksi ini mengajak kita bertanya ulang: apakah sistem pendidikan kini memberi ruang bagi pelajar untuk mengalami proses belajar secara utuh, atau justru mengurung mereka dalam pola hafalan dan ketergesa-gesaan? Paulo Freire, dalam karyanya yang sangat berpengaruh “Pedagogy of the Oppressed” (1970), mengkritik pendekatan pendidikan yang ia sebut sebagai “banking model of education”, di mana guru dianggap sebagai pihak yang “mengisi” dan pelajar sebagai “wadah kosong”. Freire menegaskan pelajar seharusnya menjadi subjek yang kritis dan sadar. Dalam konteks Hari Pelajar Internasional, gagasan Freire mengingatkan bahwa menghargai pelajar berarti menghargai kesadaran, pertanyaan, dan keberanian berpikir—bukan hanya hasil akhir. Sir Ken Robinson, seorang tokoh pendidikan dunia, dalam bukunya “Creative Schools” (2015), menyoroti bagaimana sistem pendidikan sering kali beroperasi layaknya pabrik: seragam, linear, dan mengandalkan standar tunggal. Padahal, kata Robinson, pelajar lebih mirip tanaman di kebun—masing-masing tumbuh dengan ritme dan potensi yang berbeda. Dunia pendidikan yang terlalu menstandarkan indikator keberhasilan berisiko mengabaikan keragaman potensi tersebut. Pelajar akhirnya merasa harus memenuhi “template”, bukan menemukan dirinya. Kesamaan gagasan dari Dewey, Freire, dan Robinson mengarah pada satu pesan: pelajar bukan objek pendidikan, tetapi subjek yang sedang menjalani proses pertumbuhan intelektual, emosional, dan sosial. Pelajar bukan produk jadi; mereka adalah perjalanan itu sendiri. Namun dalam kenyataannya, banyak pelajar hari ini hidup dalam tekanan: cepat lulus, cepat sukses, cepat dapat pekerjaan. Jarang kita memberi ruang bagi mereka untuk bertanya, merenung, atau mencari jati diri. Psikolog Carol Dweck, melalui bukunya “Mindset: The New Psychology of Success” (2006), menekankan pentingnya growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan proses. Pelajar seharusnya tak dinilai hanya pada pencapaian akhir, tetapi juga pada kemauan berproses, berusaha, dan bangkit dari kegagalan. Sayangnya, sistem yang terlalu menuntut hasil membuat pelajar takut mencoba hal baru. Mereka takut salah, takut berbeda. Padahal, Albert Einstein—dalam esainya On Education yang kemudian dimuat dalam kumpulan tulisan Out of My Later Years (1950)—mengkritik pendidikan yang mengagungkan kecerdasan di atas rasa ingin tahu. Bagi Einstein, rasa ingin tahu adalah bahan bakar utama manusia untuk belajar. Maka, tugas kita adalah memastikan pelajar tidak kehilangan hasrat eksploratif yang menjadi hakikat belajar itu sendiri. Di Indonesia, pelajar memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan perubahan sosial. Pergerakan nasional banyak dipelopori pemuda, dan gerakan mahasiswa kerap menjadi titik balik berbagai fase bangsa. Namun identitas itu hanya bisa tumbuh jika pelajar dibentuk dalam budaya berpikir kritis, dialogis, dan peduli. Pelajar yang hanya mengejar nilai cenderung apatis; tetapi pelajar yang menemukan makna dalam belajarnya akan mampu berpikir lebih luas tentang dunia dan bangsanya. Dalam momentum Hari Pelajar Internasional ini, mungkin sudah saatnya kita membalik perspektif. Masalahnya bukan pada pelajar yang “kurang rajin”, “kurang disiplin”, atau “kurang cerdas”. Barangkali yang perlu berubah adalah ekosistem pendidikan: pola pengajaran, ekspektasi orang dewasa, ruang dialog, dan cara kita mendefinisikan keberhasilan. Kita terlalu sering melihat pelajar melalui kacamata orang dewasa yang penuh standar, padahal dunia mereka sedang tumbuh dan mencari arah. Mengembalikan esensi pelajar berarti mengembalikan hak-hak mereka untuk: (1) Bertanya tanpa takut dinilai. (2) Salah tanpa merasa gagal. (3) Tumbuh tanpa diseragamkan. (4) Belajar karena ingin, bukan karena tekanan. (5) Bermimpi tanpa batasan angka. Akhirnya, Hari Pelajar Internasional bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan moral untuk memastikan bahwa pelajar tetap menjadi manusia yang utuh—bukan mesin nilai, bukan objek penilaian, bukan produk yang dituntut “jadi siap pakai”. Pelajar adalah individu dengan potensi, kecemasan, kreativitas, dan harapan. Dan tugas pendidikan yang paling mulia adalah memastikan semua itu tumbuh, bukan hilang. Mengembalikan esensi pelajar berarti mengembalikan kemanusiaan dalam belajar. Dan di situlah masa depan dibangun. Artikel opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/mengembalikan-esensi-pelajar-refleksi-hari-pelajar-internasional/

Anakku, Hormatilah Gurumu

Dr. Husamah. S.Pd., M.Pd.

OPINI — Oleh: Dr Husamah, SPd, MPd, Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Sekolah sejatinya bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah kedua tempat karakter, etika, dan budi pekerti ditempa. Di sanalah anak belajar tentang kehidupan, tentang hormat, sopan santun, dan adab. Tapi, mari kita jujur sejenak. Ada sesuatu yang terasa hilang dari ruang-ruang kelas kita hari ini: adab terhadap guru. Fenomena ini bukan isapan jempol. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai media memberitakan hal yang membuat kita terenyuh. Seorang guru di Gresik ditampar muridnya karena menegur soal tugas. Di Sampang, seorang guru agama ditantang duel oleh siswanya karena ditegur merokok di sekolah. Ada juga siswa di Bekasi yang mencaci maki gurunya di media sosial hingga video itu viral. Ironisnya, bukan hanya siswa, tapi kadang orang tua ikut “menghakimi” guru di ruang publik, seolah guru adalah pelayan, bukan pendidik. Padahal, dalam tradisi pendidikan Islam dan budaya Timur kita, guru bukan sekadar profesi, tapi peran suci. Rasulullah ﷺ bersabda: “Innama bu’itstu mu’alliman”. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang pendidik.” (HR. Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan bahwa mengajar bukan pekerjaan biasa. Guru adalah pewaris tugas kenabian. Mereka mengajarkan ilmu, menuntun jiwa, dan menanamkan adab. Maka, kehilangan rasa hormat kepada guru bukan hanya masalah perilaku, tapi krisis spiritual dan moral. Ketika Adab Ditinggalkan Fenomena siswa yang berbicara dengan nada tinggi kepada guru kini jadi hal yang sering terdengar. “Ah, cerewet amat, Bu!”, ucapan seperti ini yang dulu tabu, kini meluncur ringan dari bibir remaja. Saat guru menegur karena tidak mengerjakan tugas, sebagian malah merasa harga dirinya diserang. Ada yang menunduk, tapi bukan karena malu, melainkan sibuk dengan ponsel. Lebih parah lagi, media sosial menjadi panggung baru untuk melawan guru. Caption bernada sindiran, meme mengejek, hingga video guru dijadikan bahan lelucon. Seketika, wibawa guru runtuh di mata publik. Dunia digital yang semestinya jadi sarana belajar justru berubah menjadi arena cibiran. Dampaknya? Proses belajar pun kehilangan ruh. Tidak ada keberkahan dalam ilmu yang diajarkan dengan hati yang tersakiti. Guru mungkin tetap mengajar, tapi doanya tidak lagi penuh harap. Dan anak-anak yang belajar tanpa adab akan kehilangan cahaya ilmu: karena sebagaimana dikatakan ulama, “ilmu tanpa adab adalah petaka”. Akar Masalah: Dari Rumah dan Lingkungan Rusaknya adab tidak muncul tiba-tiba. Ada akar yang dalam: dari rumah, lingkungan, dan media. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah, seolah tanggung jawab moral hanya milik guru. Padahal, rumah adalah madrasah pertama. Orang tua yang di rumah sering membicarakan kekurangan guru di depan anaknya, tanpa sadar menanamkan benih tidak hormat. “Ah, gurumu itu salah kok!” Kalimat sederhana seperti itu bisa menghapus kepercayaan anak terhadap otoritas moral guru. Media sosial pun memperparah. Konten yang menormalisasi perilaku kasar, sikap sarkastik terhadap orang tua dan pendidik, menjelma panutan baru bagi remaja. Lingkungan yang lebih menghargai popularitas ketimbang kesantunan melahirkan generasi yang pandai bicara, tapi miskin sopan santun. Guru Adalah Pewaris Nabi Guru dalam Islam memiliki derajat tinggi karena perannya sebagai penerus risalah ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: “Laisa minna man lam yuwaqqir kabīranā wa yarham ṣaghīranā wa ya’rif li ‘āliminā ḥaqqah”. “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak ulama.” (HR. Ahmad) Hadis ini menegaskan bahwa menghormati orang berilmu adalah bagian dari iman. Guru, terutama yang mengajarkan ilmu agama, adalah pewaris para nabi. Maka wajar jika para salaf terdahulu begitu menjunjung tinggi adab terhadap guru. Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Saat Rasulullah duduk bersama kami di masjid, kami terdiam seolah ada burung di atas kepala kami.” (HR. Bukhari) Itulah bentuk adab, tenang, fokus, penuh hormat. Ibnu Abbas bahkan pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit, gurunya, seraya berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami.” Umar bin Khattab pun berpesan: “Tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.” Bayangkan, para sahabat yang mulia saja begitu tunduk kepada gurunya. Maka bagaimana mungkin kita yang hanya tahu sebagian kecil dari ilmu mereka justru berani bersikap sombong? Hilangkan Ilmu, Hilanglah Berkah Dr. Umar As-Sufyani, pernah berkata: “Jika murid berakhlak buruk kepada gurunya, maka akan hilang keberkahan dari ilmu yang ia pelajari.” Ilmu yang tanpa adab akan sulit menembus hati. Mungkin pengetahuan melekat di kepala, tapi tak pernah menjadi cahaya yang menerangi hidup. Itulah mengapa Imam Burhanuddin az-Zarnuji, dalam kitab Ta’limul Muta’allim, berkata: “Seorang pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaatnya kecuali dengan menghormati ilmu, orang yang berilmu, dan guru-gurunya. Tidak sukses orang yang sukses kecuali karena hormat, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena tidak hormat.” Demikian pula Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam Kifayatul Atqiya menulis: “Jadilah orang yang memuliakan gurumu, karena memuliakannya adalah bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan orang yang berilmu.” Itulah kunci keberkahan ilmu, bukan sekadar pandai, tapi juga beradab. Sebab ilmu sejati bukan hanya soal hafalan, tapi tentang perubahan hati. Teladan Ulama dalam Menghormati Guru Para ulama klasik memberikan contoh luar biasa tentang bagaimana seorang murid memuliakan gurunya. Al-Imam Asy-Syafi’i pernah berkata: “Aku membalik lembaran kitab di depan Imam Malik dengan lembut agar beliau tidak mendengar suaranya, karena segan padanya.” Abdurrahman bin Harmalah berkata: “Tidak ada seorang pun yang berani bertanya kepada Said bin Musayyib tanpa izin, seperti meminta izin kepada seorang raja.” Bahkan Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata: “Demi Allah, aku tidak berani minum air di hadapan Imam Syafi’i karena segan padanya.” Sungguh, karena adab yang luhur itulah ilmu mereka diberkahi, nama mereka harum sepanjang masa. Dan lihatlah buahnya—keilmuan mereka tak hanya dihafal, tapi dijadikan pedoman hingga berabad-abad. Kembali pada Akar: Adab Sebagai Pondasi Kita hidup di zaman yang serba cepat dan instan. Semua ingin hasil tanpa proses, nilai tanpa usaha, ilmu tanpa guru. Padahal, sebagaimana pepatah Arab berkata, “Man lam yadzuq dzulla ta’allum sa’atan lam yadzuq ‘izzal jahli abadan”. “Barang siapa tidak pernah merasakan rendah hati saat belajar, ia akan selamanya hidup dalam kehinaan kebodohan.” Adab adalah jembatan antara ilmu dan keberkahan. Tanpa adab, ilmu akan kering dan tak bernilai. Maka, wahai anak-anakku, hormatilah gurumu. Jangan hanya karena ia menegurmu, lalu engkau benci padanya. Ketahuilah, setiap teguran guru adalah tanda cinta, bukan kebencian. Sayyidina Ali RA bahkan berkata: “Aku adalah hamba

Profesi Guru Takkan Pernah Mati

Dr. Husamah, M.Pd

OPINI — Oleh: Dr. Husamah Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Di mata sebagian orang, profesi guru mungkin tampak sederhana. Nyatanya, di negeri ini-dengan lebih dari 287 juta penduduk sebagaimana yang dirilis BPS (2025) dan jutaan anak didik yang menanti edukasi-guru tetaplah menjadi fondasi utama peradaban. Dalam setiap fase pembangunan bangsa, sosok guru selalu hadir: menyalakan akal, menumbuhkan karakter, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan guru menjadi profesi yang menjadi titik kebangkitan peradaban sebuah bangsa. Mari kita belajar dari semangat bangsa Jepang. Sejarah mencatat vitalnya peran guru dalam kebangkitan Jepang setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu, Kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya telah luluh lantak oleh bom nuklir yang dijatuhkan tentara Amerika Serikat.Lihatlah bagaiman Jepang saat ini. Indonesia Membutuhkan Jutaan Guru Menurut data yang pernah disampaikan Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Indonesia memerlukan lebih dari 1,3 juta guru pada tahun 2024 dan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya. Lonjakan kebutuhan ini bukan semata akibat bertambahnya sekolah atau peserta didik, tetapi juga karena banyaknya guru yang memasuki masa pensiun dan belum seimbangnya persebaran tenaga pendidik di berbagai wilayah, terutama di daerah 3T-tertinggal, terdepan, dan terluar. Di sisi lain, guru non-ASN yang masih aktif mengajar di sekolah negeri tercatat lebih dari 1,2 juta orang. Data ini menunjukkan dua hal sekaligus: kebutuhan guru masih terbuka lebar, dan profesi ini tetap menjadi salah satu profesi dengan kontribusi sosial paling tinggi. Profesi Abadi Guru adalah profesi tertua di dunia. Sejak manusia mengenal tradisi lisan, pembelajaran, dan nilai, peran guru telah ada dalam berbagai bentuk: dari pandita, ulama, resi, hingga dosen. Di era modern, guru menjadi penggerak utama lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsuf pendidikan Paulo Freire pernah mengatakan bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan. Itulah mengapa, dalam tulisan Milind Watve berjudul “A Teacher Never Dies” (2019), ia menegaskan bahwa seorang guru sejati tidak pernah mati, karena nilai-nilainya hidup dalam diri setiap murid yang ia ajar. Demikian pula artikel “Teachers Who Never Die” yang ditulis oleh José Matias Alves, seorang professor di Faculty of Education and Psychology, Universidade Católica Portuguesa, Porto menyebut guru sebagai agen transformasi sosial yang pengaruhnya melampaui ruang kelas dan masa hidupnya. Ia mengutip sebuah aktivitas yang meminta beberapa profesional (manajer, ahli hukum, mahasiswa, dan lainnya) untuk menuliskan kenangan tak terlupakan tentang seorang guru yang pernah mereka miliki. Permintaan ini menghasilkan 40 narasi yang dikumpulkan dan diterbitkan pada tahun 2022 dalam sebuah buku digital yang mendukung gagasan bahwa betapa besarnya jasa guru, dan profesi guru yang tidak akan pernah mati. Dr. Chawanna Bethany Chambers, seorang guru peraih penghargaan nasional dan bersertifikat di Amerika, dalam esainya “Passion Never Dies” (2017) menegaskan bahwa gairah seorang guru adalah energi abadi yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia senada dengan catatan Rubem Alves (2006) bahwa mengajar adalah latihan menuju keabadian. Entah bagaimana, kita terus hidup dalam diri mereka yang matanya belajar melihat dunia melalui keajaiban kata-kata kita. Oleh karena itu, guru tidak pernah mati. Bukan Guru Biasa Nikolaus Bönke, Profesor di Department of Educational Science, University of Freiburg, Germany, bersama koleganya dalam artikel yang terbit di Jurnal Teaching and Teacher Education (2024) menegaskan guru bukan sekadar pengajar statis, melainkan pembelajar sepanjang hayat yang terus berevolusi, memperkaya kompetensinya (misalnya dalam bidang digital, sains, maupun globalisasi), dan menjaga semangatnya agar tetap relevan. Guru memiliki kapasitas dinamis untuk beradaptasi, berefleksi, dan memperbarui motivasinya dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan pendidikan. Namun, tentu menjadi guru di era digital bukan lagi sekadar perkara mengajar di depan kelas. Dunia pendidikan telah berubah.Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tidak cukup hanya menjadi “guru biasa”. Mereka harus menjadi guru dengan kompetensi tambahan yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Calon guru Matematika, misalnya, harus mampu menjadi ahli cyber education, memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan dalam analisis dan pemecahan masalah. Calon guru Bahasa Inggris dituntut menjadi pebisnis internasional-mampu menjembatani komunikasi lintas budaya dan membuka jejaring global. Calon guru Biologi ditantang menjadi pengusaha sekaligus peneliti dan ilmuwan yang membawa riset bioteknologi ke ruang kelas. Calon guru Bahasa Indonesia seharusnya tidak hanya mengajarkan ejaan dan sastra, tetapi menjadi diplomat bahasa yang mampu mempromosikan identitas Indonesia di dunia. Guru PPKn perlu memahami tata negara dan dinamika kebijakan publik agar mampu melahirkan warga negara yang kritis dan berintegritas. Sedangkan calon guru SD (PGSD) harus tampil sebagai guru multitalenta-menguasai berbagai bidang, peka terhadap psikologi anak, dan kreatif memadukan teknologi dengan pembelajaran karakter. Pandangan para pakar pendidikan di berbagai belahan dunia menunjukkan satu benang merah: profesi guru tidak akan tergantikan. Bönke et al (2024) menyoroti bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan, belum mampu menggantikan peran afektif, sosial, dan moral guru dalam membentuk kepribadian siswa. Guru tidak sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, fasilitator, dan teladan moral yang menumbuhkan empati dan kebijaksanaan-nilai-nilai yang tak bisa diprogram dalam algoritma. Dengan demikian, di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial, guru tetap menjadi profesi yang tak tergantikan. Di Indonesia, di mana pemerataan pendidikan masih menjadi tantangan, keberadaan guru justru semakin vital. Tugas kita bersama adalah memastikan para guru tidak hanya cukup jumlahnya, tetapi juga memiliki kompetensi, kesejahteraan, dan kesempatan yang layak untuk berkembang. Profesi guru bukan hanya tentang mengajar; ia adalah panggilan hidup untuk menyalakan peradaban. Selama manusia masih memerlukan ilmu, nilai, dan arah, profesi guru akan tetap hidup. Guru boleh pensiun, wafat, atau berganti generasi-tetapi semangat dan pengaruhnya akan terus hidup dalam diri murid-muridnya. Sebab benar adanya: “seorang guru tidak pernah mati.”   Artikel ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/profesi-guru-takkan-pernah-mati/

Teachers are the Real Heroes

Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd._Dosen_UMM

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Setiap kali kita mendengar kata pahlawan, mungkin yang pertama muncul di benak kita adalah sosok yang melakukan aksi besar, menyelamatkan orang di tengah bahaya, atau tampil dalam sorotan publik. Namun, saya ingin mengajak kita untuk melihat kembali bahwa di ruang kelas, di sekolah-sekolah, di tengah tantangan hari-hari biasa, terdapat sosok yang sama-potensinya pahlawan: dialah seorang guru. Ya, guru adalah pahlawan sebenarnya. Kita tentu bertanya, mengapa guru layak disebut pahlawan? Pertama, guru melakukan pekerjaan yang jauh melampaui sekadar menyampaikan materi. Dalam buku My Teacher is My Hero: Tributes to the People Who Gave Us Knowledge, Motivation, and Wisdom, editor Susan Reynolds (2008) mengumpulkan kisah‐kisah nyata dari lebih lima puluh orang yang mengungkap bagaimana guru mereka “lebih dari pengajar; mereka mentransformasi hidup”. Buku ini menyebut: “Great teachers are the unsung heroes of our lives.” Ini menunjukkan bahwa guru bukan hanya fasilitator belajar, tetapi juga pembentuk karakter, pemberi motivasi, dan pemantik inspirasi. Kedua, riset menunjukkan bahwa di tengah perubahan cepat dan tuntutan baru di pendidikan, guru harus menunjukkan sifat‐sifat seperti kelincahan (agility) dan adaptabilitas (adaptability). Dalam artikel “The heroism of teachers: Agility and adaptability through professional education” (2021) dikatakan bahwa “self-efficacy, resilience and optimism are significant predictors of prosocial behaviours, which in turn lead to job satisfaction in teachers” (La Valle, 2021). Dengan kata lain: guru yang percaya diri, gigih, optimis—itu semua mendukung perilaku pro-sosial (membantu siswa, berkolaborasi, peduli) dan akhirnya keberlanjutan profesinya. Sifat‐sifat ini memang sangat mirip dengan konsep “pahlawan”: menghadapi tantangan, bertahan, dan tetap berdampak. Ketiga, konsep guru sebagai pahlawan juga muncul dalam gambaran identitas profesional guru yang terus berkembang. Sebagai contoh, studi “Travelling the Hero’s journey with first year pre‑service teachers” (2023) meneliti pengalaman calon guru tahun pertama melalui lensa “perjalanan pahlawan” (hero’s journey) di mana mereka melalui tantangan, krisis, refleksi, dan akhirnya penguatan identitas sebagai guru (McKay, 2023). Dengan begini, kita bisa melihat bahwa guru memang mengambil peran khas: bukan sekadar “memberi pelajaran”, tetapi menjalani perjalanan transformasi dan kemudian membantu orang lain tumbuh. Peran Tersembunyi Tapi Besar Dalam keseharian, guru menolong kita bangkit ketika kita belum percaya diri; guru membantu kita memahami dunia ketika kita bingung; guru kadang menjadi tempat curhat ketika kita merasa gagal; guru menjadi figur kepercayaan ketika lingkungan kita tak selalu mendukung. Kisah‐kisah dalam My Teacher is My Hero menekankan bahwa efek guru seringkali “terasa lama setelah kelas usai” (Susan Reynolds, 2008). Ini adalah ciri khas pahlawan: dampaknya tidak hanya instan, tetapi berjangka panjang. Lebih jauh, guru di banyak konteks menghadapi kompleksitas: mulai dari kondisi sekolah yang terbatas, jumlah siswa yang banyak, variasi latar belakang siswa yang sangat beragam, perubahan kurikulum yang cepat, hingga tekanan non-akademik seperti kebutuhan sosial dan emosional siswa. Ini juga kita dapatkan di Indonesia. Di sini, kemampuan guru untuk “menjadi pahlawan sehari-hari” sangat dibutuhkan: kepekaan terhadap siswa, kreativitas dalam pembelajaran, dan keberanian untuk terus belajar sendiri. Kita hidup di era yang dinamis: teknologi digital, pandemi, perubahan kurikulum, tuntutan kompetensi masa depan, masalah kesejahteraan siswa, ketimpangan belajar—semuanya memunculkan tantangan baru bagi guru. Dalam konteks ini, artikel “The heroism of teachers…” menegaskan bahwa profesionalisme guru tidak hanya soal kompetensi teknis, tetapi juga soal kesiapan menghadapi perubahan (adaptability) dan mengambil inisiatif dalam pengembangan profesional (la Velle, 2021). Dengan demikian, guru yang mampu menghadapi tantangan itu layak disebut pahlawan, karena mereka berdiri di garis depan perubahan pendidikan. Tak hanya itu: dalam tahap awal profesi, calon guru, atau guru baru, mengalami fase yang seringkali penuh guncangan—termasuk tekanan identitas, tuntutan performa tinggi, kurangnya dukungan. Studi “Navigating a pathway of professional learning: Travelling the Hero’s journey with first year pre-service teachers” menunjukkan bahwa menganggap proses ini sebagai “perjalanan sang pahlawan” membantu calon guru memahami bahwa tantangan adalah bagian dari pertumbuhan profesional (McKay et al., 2023). Jadi, guru tidak hanya pahlawan bagi siswa, tetapi juga bagi dirinya sendiri—mengatasi rintangan, menguatkan jati-dirinya, dan akhirnya memberi dampak. Saatnya Menghargai Guru sebagai Pahlawan Ketika kita menyadari bahwa guru adalah pahlawan, maka beberapa implikasi positif muncul. Pertama, penghormatan yang lebih tulus terhadap profesi guru. Buku My Teacher is My Hero mengajak kita memberi penghargaan nyata kepada guru, bukan sekadar hari guru atau hadiah simbolik, tetapi juga pengakuan akan pengorbanan, kreativitas, dan ketekunan mereka. Kedua, dengan pengakuan ini kita diingatkan bahwa sistem pendidikan harus mendukung guru: pelatihan berkelanjutan, dukungan emosional, fasilitas memadai, kebijakan yang realistis. Karena jika pahlawan kita dibiarkan berjuang sendiri, kita kehilangan potensi besar. Ketiga, bagi siswa dan masyarakat, menyadari bahwa guru adalah pahlawan dapat mengubah cara kita memandang pembelajaran: bukan sebagai rutinitas atau kewajiban, tetapi sebagai interaksi dengan seseorang yang peduli, yang menemani perjalanan kita tumbuh. Ini memberi dimensi humanistik pada pendidikan, yang sangat penting di zaman yang kadang terlalu teknis dan kompetitif. Sebagai pendidik atau pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, kita bisa melakukan beberapa hal agar penghargaan terhadap guru sebagai pahlawan bukan sekadar retorika. Pertama, mendorong budaya sekolah di mana guru berbagi kisah perjuangan, inovasi, dan pembelajaran mereka—mirip dengan kisah dalam My Teacher is My Hero (Susan Reynolds, 2008) —sebagai inspirasi bagi kolega dan generasi baru. Kedua, mendukung guru dalam pengembangan profesional yang menguatkan kapasitas adaptabilitas, kreativitas, dan empati—karena aspek-aspek ini yang dalam riset terbukti mendukung perilaku pro-sosial guru (Linda la Velle, 2021). Ketiga, mengajak stakeholder (orang tua, masyarakat, pembuat kebijakan) untuk melihat guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi sebagai arsitek karakter dan pembentuk masa depan—dan memperlakukan mereka layaknya pahlawan yang layak mendapat penghormatan dan dukungan nyata. Keempat, mengajak siswa untuk menuliskan kisah guru mereka yang menginspirasi—sebagai bagian dari literasi apresiatif—agar siswa menyadari dampak positif yang pernah atau sedang diterima. Mari kita tutup dengan satu analogi: ketika perang dilawan oleh pahlawan bersenjata, maka dalam peperangan melawan buta huruf, ketidakpedulian, ketidaksiapan masa depan, gurulah yang berdiri tegak di garis paling depan. Mereka mungkin tidak memakai jubah atau mendapat sorak­-sorai publik, namun efeknya nyata: anak-anak tumbuh, harapan menggeliat, masyarakat berubah. Seperti yang dikatakan Susan Reynolds dalam My Teacher is My Hero: guru “transform lives … making an impact that lasts long after the classroom”. Jadi, jika kita benar-benar menghargai pendidikan, maka pantaslah kita menyebut: Guru adalah

UMM Gelar Workshop Inovasi: Perkuat Literasi dan Numerasi Guru Melalui Kecerdasan Buatan AI

Foto bersama peserta workshop inovasi perkuat literasi dan numerasi guru melalui AI

Malang — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali berinovasi dalam memperkuat kompetensi guru melalui kegiatan workshop bertajuk “Optimalisasi Kemampuan Literasi & Numerasi Siswa Melalui Perencanaan Pembelajaran Berbantuan Artificial Intelligence (AI)”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang FKIP – 6.14 UMM ini diikuti puluhan guru dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jakarta. Sabtu (08/11/2025). Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen FKIP untuk berkontribusi aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional. “Workshop ini adalah bukti konkret FKIP dalam membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memperkuat kompetensi guru agar siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21,” ujarnya. Mahfud menambahkan, kegiatan yang dirancang setara 32 jam pelatihan (JP) ini bersifat aplikatif dan berorientasi pada hasil, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan keterampilan literasi dan numerasi siswa di sekolah. AI sebagai Katalisator Pembelajaran Mendalam Workshop ini menghadirkan dua narasumber utama yang merupakan Microcredential Awardee on Literacy & Numeracy dari Deakin University, Australia, yakni Fuad Jaya Miharja, M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi UMM) dan Kharisma Naidi Warnanda S., M.Pd. (Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UMM). Dalam paparannya, Fuad menjelaskan bahwa AI berperan sebagai katalisator pembelajaran mendalam. “AI bukan pengganti guru, melainkan partner super yang membantu guru menghasilkan pembelajaran kontekstual dan personal sesuai kebutuhan siswa,” ungkapnya. Menurut Fuad, AI dapat membantu guru mengotomasi pekerjaan administratif seperti pembuatan soal dan laporan, merancang asesmen yang proporsional antara HOTS dan LOTS, serta memberikan umpan balik formatif yang cepat dan autentik. Merancang Asesmen Pintar dan Adaptif Sementara itu, Kharisma menyoroti pentingnya penerapan Smart Assessment atau asesmen pintar berbasis AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. “Asesmen pintar tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga memperbaikinya. Dengan AI, guru bisa memperoleh umpan balik instan dan data pembelajaran yang bisa langsung digunakan untuk menyesuaikan strategi mengajar,” jelasnya. Ia menambahkan, teknologi AI memungkinkan perancangan asesmen adaptif sesuai kemampuan dan kecepatan belajar tiap siswa, sekaligus membantu guru melakukan learning analytics untuk peningkatan berkelanjutan. Sesi Hands-on: Dari Teori ke Praktik Pada sesi praktik, peserta diajak menyusun Lesson Design dan Asesmen Literasi & Numerasi berbasis AI. Guru-guru yang hadir aktif mengeksplorasi berbagai aplikasi AI untuk pendidikan, seperti perencanaan pembelajaran adaptif dan pembuatan rubrik penilaian otomatis. Salah satu peserta, Nur Aini Yan Meinati, mengaku mendapat wawasan baru tentang integrasi literasi dan numerasi dalam pembelajaran Bahasa. “Workshop ini membuka cara pandang baru tentang bagaimana AI bisa menjadi mitra cerdas guru tanpa menghilangkan esensi pedagogik,” tuturnya. Senada, Priska Sinta Andina, guru Bahasa dari SMA Negeri 9 Malang, menilai penggunaan AI mampu meningkatkan efisiensi guru. “AI bisa menghemat waktu dalam mendesain pembelajaran, tapi tetap perlu analisis mendalam dari guru agar hasilnya tetap berkualitas,” katanya. Para narasumber juga menekankan pentingnya keterampilan dalam membuat prompt yang kuat dan presisi (strong & precise prompt) agar hasil keluaran AI relevan dan bermakna. Artikel ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/umm-gelar-workshop-inovasi-perkuat-literasi-dan-numerasi-guru-melalui-kecerdasan-buatan-ai/

Selami Kearifan Ritual “Reresik Kali”, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto Tembus Publikasi Jurnal Q1

Tim peneliti dari kiri ke kanan, Prof. Abdulkadir, Husamah, dan Prof. Atok

Malang – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satu guru besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., bersama tim peneliti yang terdiri atas Dr. Husamah, M.Pd., Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., dan Turut Indria Permana, M.Pd., berhasil menembus publikasi internasional bereputasi Q1. Artikel mereka yang mengangkat ritual “reresik kali” atau tradisi pembersihan sungai masyarakat Jawa, resmi diterbitkan di Social Sciences and Humanities Open, jurnal internasional yang diterbitkan oleh Elsevier. Penelitian ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI melalui skema penelitian Fundamental BIMA. Penelitian ini mengangkat tema besar tentang kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan, dengan menjadikan ritual “reresik kali” sebagai pintu masuk memahami relasi manusia dan alam di masyarakat Jawa. Dalam riset tersebut, tim peneliti menelusuri makna, nilai, dan implikasi ekologis dari tradisi yang telah diwariskan turun-temurun ini. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik budaya tersebut bukan sekadar ritual simbolik, melainkan juga wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan tata kehidupan yang selaras dengan alam. “Reresik kali” sendiri merupakan tradisi membersihkan sungai yang disertai doa dan upacara adat. Masyarakat melakukan pembersihan bersama, melepaskan sesaji, serta berdoa agar sungai tetap bersih, tidak membawa malapetaka, dan memberikan berkah bagi kehidupan. Dalam konteks ekologis, ritual ini terbukti memiliki fungsi sosial dan konservatif yang kuat—menjadi mekanisme alami dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber daya air dan ekosistemnya. Dalam publikasinya, tim peneliti memadukan pendekatan etnografi, observasi lapangan, dan wawancara mendalam dengan tokoh adat serta warga sekitar sungai. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan perspektif ekologi budaya dan antropologi lingkungan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ritual “reresik kali” dapat dipahami sebagai sistem pengetahuan lokal yang mengatur interaksi manusia dengan lingkungannya secara harmonis, bahkan tanpa perlu intervensi teknologi modern. Menurut Prof. Abdulkadir, riset ini lahir dari keprihatinan terhadap menurunnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan sungai dan pelestarian air. “Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki sistem nilai dan ritual yang telah lama berfungsi sebagai penjaga keseimbangan ekosistem. ‘Reresik kali’ bukan hanya tentang budaya, tetapi juga tentang ekologi dan spiritualitas lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa publikasi di jurnal Q1 Elsevier ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti bahwa kearifan lokal Indonesia dapat menjadi referensi ilmiah global. Temuan penelitian tersebut menegaskan bahwa pelestarian tradisi dan pendekatan ilmiah dapat saling menguatkan. Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai basis, upaya konservasi sungai dapat lebih berkelanjutan karena melibatkan partisipasi masyarakat dan mengakar pada nilai-nilai budaya. Model ini diusulkan oleh tim peneliti sebagai strategi alternatif dalam pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas, yang relevan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada poin tentang lingkungan hidup, air bersih, dan kemitraan sosial. Dr. Husamah, M.Pd., salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa keberhasilan riset ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas bidang. “Kami menggabungkan perspektif pendidikan lingkungan, antropologi sosial, dan ekologi. Pendekatan multidisiplin membuat hasil penelitian lebih komprehensif dan kontekstual,” jelasnya. Ia berharap hasil ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan dosen lain di FKIP untuk terus mengeksplorasi riset-riset yang mengangkat kearifan lokal Indonesia. Senada dengan itu, Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd., menekankan bahwa keberhasilan publikasi ini tidak hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang kontribusi ilmiah UMM dalam isu global. “Kita menunjukkan bahwa lokalitas bisa berbicara di level internasional. Dunia perlu belajar dari praktik masyarakat yang menjaga sungai tidak hanya dengan teknologi, tetapi dengan nilai-nilai spiritual dan sosial,” tuturnya. Sementara itu, Turut Indria Permana, M.Pd., menambahkan bahwa tradisi seperti “reresik kali” menyimpan potensi besar untuk diintegrasikan dalam pendidikan karakter dan pendidikan lingkungan di sekolah. “Anak-anak bisa belajar tentang tanggung jawab ekologis dari praktik nyata masyarakat. Ini cara mendidik yang kontekstual dan menyentuh nilai kemanusiaan,” ujarnya. Apresiasi atas capaian ini datang dari Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. M. Mahfud Effendi. Ia menyampaikan rasa bangganya karena tim dosen UMM kembali mengharumkan nama universitas di level internasional. “Publikasi di jurnal Q1 Elsevier bukanlah hal mudah. Ini membuktikan bahwa dosen-dosen FKIP UMM tidak hanya unggul dalam pengajaran, tetapi juga produktif dan relevan dalam penelitian. Lebih dari itu, mereka mengangkat isu lokal menjadi wacana global,” ujarnya. Prof. Mahfud menegaskan bahwa FKIP UMM akan terus mendorong penelitian yang berpihak pada kemanusiaan dan keberlanjutan. “Kami ingin FKIP menjadi pusat penelitian pendidikan dan budaya yang mampu menjawab tantangan zaman. Riset seperti ini membuktikan bahwa universitas mampu menjadi jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kearifan masyarakat,” lanjutnya. Ke depan, tim peneliti berencana melanjutkan kajian lanjutan untuk mengeksplorasi ritual lingkungan lain di berbagai daerah di Indonesia, serta mengembangkan model pendidikan berbasis kearifan lokal. Mereka juga berharap temuan ini dapat menginspirasi pemerintah dan lembaga lingkungan untuk menjadikan tradisi seperti “reresik kali” sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan air dan konservasi sungai. Dengan keberhasilan publikasi di Social Sciences and Humanities Open (Elsevier), riset ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat berkontribusi besar terhadap ilmu pengetahuan global. Melalui pendekatan yang menghargai budaya dan lingkungan, tim UMM menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis ekologis tidak hanya datang dari laboratorium atau kebijakan besar, tetapi juga dari hati dan tangan masyarakat yang setia merawat alamnya.