Nandia, Pengusaha Anggrek Alumni Pendidikan Biologi UMM Beromzet 100 Juta per Bulan

Malang — Keindahan bunga anggrek tak hanya memikat mata, tetapi juga menjadi jalan kesuksesan bagi Nandia Anindhita, alumnus Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Berawal dari hobi dan pengalaman magang semasa kuliah, kini Nandia menjelma menjadi pengusaha anggrek sukses dengan omzet mencapai Rp 100 juta per bulan. Perjalanan bisnisnya dimulai pada tahun 2016, ketika ia masih duduk di semester enam. Saat itu, Nandia menjalani magang di sebuah kebun anggrek dan mulai menyadari bahwa di balik kecantikan bunga tersebut tersimpan peluang ekonomi yang besar. “Awalnya tidak pernah terpikir untuk terjun ke bisnis anggrek. Tapi setelah magang, saya melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan,” kenangnya. Dari situ, ia mulai menanam dan memelihara anggrek sendiri. Berbekal ilmu botani dan ekologi yang diperoleh dari bangku kuliah di Pendidikan Biologi UMM, Nandia menekuni budi daya dengan penuh kesungguhan. “Ilmu yang saya peroleh di kampus sangat berguna, terutama dalam memahami karakter tanaman dan bagaimana menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal,” ungkapnya. Awalnya, Nandia memasarkan hasil budi dayanya melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Respons publik sangat positif, bahkan ia sempat kewalahan melayani pesanan. Seiring waktu, usahanya berkembang pesat hingga kini memiliki tiga greenhouse yang tersebar di Tulungagung, Malang, dan Batu. “Dengan beberapa greenhouse, saya bisa menjaga kontinuitas produksi dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,” ujarnya bangga. Kini, koleksi anggreknya telah mencapai ratusan ribu tanaman dari berbagai varietas. Ia bahkan telah memiliki petani mitra, meskipun baru satu orang, namun menjadi langkah penting menuju ekspansi usaha yang lebih besar. Menariknya, nama Nandia juga diabadikan dalam salah satu varietas anggrek yang terdaftar di Royal Horticultural Society (RHS), yakni Dendrobium Nandia Anindhita (D.S. Santoso, 2018). Varietas tersebut merupakan hasil persilangan Dendrobium Otto I. Leidin × Dendrobium lineale, dengan pengaruh genetik kuat dari spesies Dendrobium lineale dan Dendrobium helix. “Tentu saya bangga ada varietas yang menyandang nama saya. Ini menambah semangat untuk terus berkontribusi di dunia florikultura Indonesia,” tuturnya dengan senyum. Kini, jangkauan pemasaran anggrek milik Nandia telah mencakup seluruh Indonesia, dengan banyak pesanan datang dari berbagai kota besar. Ia bahkan melayani penjualan grosir untuk para reseller dan penjual anggrek di berbagai daerah. Meski begitu, ia masih menghadapi tantangan dalam menembus pasar luar negeri. “Pemasaran masih Indonesia saja, karena pengiriman ke luar negeri cukup sulit. Tapi alhamdulillah, sekarang sudah melayani seller-seller anggrek se-Indonesia,” ungkapnya. Kesuksesan tersebut tidak diraih secara instan. Nandia menuturkan, tantangan terbesar di awal adalah membangun kepercayaan pelanggan dan menjaga kualitas produk. Ia mengandalkan pendekatan personal, pelayanan responsif, serta kualitas tanaman yang terjaga untuk membangun reputasinya. “Kerja sama dengan petani mitra juga sangat membantu menjaga kualitas dan kuantitas produksi,” tambahnya. Kini, omzet bisnis anggrek Nandia mencapai sekitar Rp 100 juta per bulan. Ia terus berinovasi dalam perbanyakan bibit dan pengembangan varietas baru, serta berencana menambah mitra petani di beberapa daerah lain. Sebagai pengusaha muda sekaligus alumnus UMM, Nandia mengakui bahwa semangat dan nilai-nilai yang ia pelajari di kampus sangat membekas. “Di UMM saya tidak hanya belajar ilmu biologi, tapi juga belajar menjadi pribadi mandiri dan berjiwa wirausaha,” ujarnya. Ia pun memberikan pesan inspiratif bagi mahasiswa dan alumni UMM lainnya: “Jangan pernah takut mencoba hal baru. Ilmu yang kita pelajari bisa menjadi bekal untuk banyak hal, termasuk membuka lapangan kerja. Yang penting terus belajar, berinovasi, dan percaya pada proses.” Dari seorang mahasiswa yang mencintai tanaman, Nandia kini menjadi inspirasi nyata bahwa ilmu biologi tak hanya melahirkan guru atau peneliti, tetapi juga pengusaha sukses yang mampu memberi dampak luas bagi masyarakat. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2025/11/07/nandia-pengusaha-anggrek-alumni-pendidikan-biologi-umm-beromzet-100-juta-per-bulan/
Jadwal UTS Semester Ganjil Tahun Akademik 2025-2026

PENGUMUMAN Jadwal Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang. Kepada seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, berikut kami sampaikan informasi penting terkait pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026: Tanggal Pelaksanaan: 3 November 2025 s/d 08 November 2025 Waktu Ujian: Pukul 07.30 – 15.45 Tempat: Ruang-ruang kelas di GKB 1 Kampus III UMM Adapun jadwal detail UTS untuk setiap mata kuliah dapat diunduh pada link ini. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Mahasiswa wajib membawa Kartu Studi Mahasiswa (KSM) yang sudah ditandatangi oleh dosen wali/dosen PA dan disahkan dengan stempel Program Studi Pendidikan Biologi. Pastikan telah melakukan konfirmasi pembayaran SPP dan validasi keuangan sebelum ujian dimulai. Hadir 15 menit sebelum jadwal ujian dimulai. Mengenakan pakaian sopan sesuai kode etik mahasiswa UMM. Mari persiapkan diri dengan maksimal untuk mencapai hasil yang terbaik! Jika ada pertanyaan atau kendala, silakan hubungi Sekretariat Program Studi di GKB 1 Lantai 5 Ruang 539. Good luck and give it your best! Salam hangat dari Prodi Pendidikan Biologi UMM 🌿✨
Penguatan Kapasitas Dosen Biologi UMM Menuju Kolaborasi Internasional

Malang, 20 September 2025 – Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Kapasitas Dosen melalui Pelatihan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bertaraf Internasional”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada Sabtu, 20 September 2025, pukul 12.00–15.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan untuk menjawab tantangan globalisasi, di mana dosen dituntut tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga mampu bersaing dalam skema penelitian dan pengabdian masyarakat tingkat internasional. Penguatan kapasitas ini diharapkan meningkatkan daya saing, kualitas, serta reputasi program studi, fakultas, dan universitas di kancah global. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya, yang memiliki pengalaman luas dalam memperoleh dan mengelola hibah internasional. Kedua narasumber bergabung melalui Zoom dan memberikan materi terkait tips dan trik untuk mendapatkan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui hibah internasional. Pemateri pertama, Rachmat Adhi Wibowo, menekankan bahwa impact dari penelitian jauh lebih penting dibandingkan sekadar latar belakang penelitian. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam riset adalah memperoleh pendanaan, sehingga penyusunan proposal yang solid menjadi faktor kunci. “Setelah dana diperoleh, fleksibilitas penelitian akan lebih terbuka, termasuk kesempatan berkonsultasi dengan project manager sebagai pihak pengambil keputusan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya networking dan ide yang inovatif untuk dapat bersaing di tingkat global. Pemateri kedua, Septi Panca Sakti, berbagi pengalaman dalam melaksanakan program pengabdian bertaraf internasional. Salah satunya adalah Pelatihan Inisiasi Hizbul Wathan Bahari (IHWB) yang didanai oleh The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 peserta dari seluruh Indonesia, dengan mekanisme lima hari pelatihan daring dan enam hari praktik lapangan di Jakarta serta Kepulauan Seribu (5–10 Februari 2023). Menurutnya, keberhasilan pengabdian sangat ditentukan oleh kemitraan yang kuat. “Partner kerjasama yang baik akan memudahkan pelaksanaan kegiatan. Goal kegiatan harus SMART dan terukur, dengan penggunaan tools yang akurat,” jelasnya. Lebih lanjut, Septi menambahkan bahwa GIZ Indonesia memiliki beberapa skema pendanaan (funding) yang dapat diakses melalui https://www.giz.de/en/regions/asia/indonesia. Ia juga menegaskan bahwa social impact merupakan salah satu ide proyek yang disukai oleh penyandang dana di Jerman karena erat kaitannya dengan isu sustainability. Pak Adhi juga menambahkan bahwa proyek internasional seperti GIZ dapat berjalan optimal berkat dukungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), misalnya UM Sukabumi yang menyusun modul distance learning serta UM Jakarta yang menyediakan asrama bagi peserta luar kota. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergi PTM dengan lembaga internasional untuk mengembangkan ide-ide inovatif, termasuk dalam bidang kepanduan laut yang belum banyak dieksplorasi. Di akhir sesi, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kedua pemateri atas ilmu yang telah dibagikan. Beliau juga menyatakan harapan agar ke depan dapat terjalin kerja sama (Perjanjian Kerja Sama/PKS) antara Prodi Pendidikan Biologi UMM dengan para pemateri untuk melaksanakan penelitian maupun pengabdian secara bersama.
Tim Peneliti Pendidikan Biologi UMM Gali Kearifan Pengelolaan Sungai Chao Phraya Thailand

Malang, 30 Agustus 2025 – Tim peneliti Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan penelitian internasional bertajuk “Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sungai: Studi Komparasi Jawa Timur dan Thailand”. Kegiatan ini berlangsung pada 22–30 Agustus 2025 dengan fokus menggali budaya masyarakat dalam konservasi sungai serta pemanfaatan biomonitoring. Penelitian ini melibatkan tiga dosen senior sekaligus peneliti utama, yaitu Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Riset tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Fundamental–BIMA tahun 2025. Meneliti Kearifan Lokal di Sungai Chao Phraya Prof. Abdulkadir Rahardjanto menjelaskan bahwa tim memilih Sungai Chao Phraya, Thailand, sebagai lokasi penelitian karena sungai ini bukan hanya berperan vital secara ekologis dan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya tinggi. “Sungai Chao Phraya adalah urat nadi Thailand. Masyarakat setempat sangat menghormati sungai ini. Mereka punya cara-cara unik untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutannya. Di situlah kami ingin belajar dan mengkomparasikan dengan kondisi di Jawa Timur,” ujarnya. Ia menambahkan, penelitian tidak hanya mengamati kondisi fisik dan kualitas air, tetapi juga mendalami budaya masyarakat Thailand yang erat kaitannya dengan sungai. Beberapa tradisi yang menjadi perhatian utama adalah Loi Khratong, yaitu ritual penghormatan air dengan menghanyutkan lampion atau perahu kecil, serta Songkran, perayaan tahun baru yang menggunakan air sebagai simbol penyucian diri. “Dua budaya ini mencerminkan betapa sungai dan air sangat dihargai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thailand,” katanya. Biomonitoring dan Budaya Konservasi Dr. Husamah menegaskan bahwa penelitian ini tidak hanya mengkaji budaya, melainkan juga mengintegrasikannya dengan metode ilmiah. Salah satunya adalah biomonitoring, yaitu pemantauan kondisi sungai melalui organisme indikator. “Kami ingin melihat bagaimana masyarakat Thailand menjaga kesehatan sungai, kemudian memadukannya dengan pendekatan sains seperti biomonitoring. Dengan begitu, hasilnya bisa lebih komprehensif,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa biomonitoring dapat menjadi sarana edukasi masyarakat sekaligus media untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. “Jika masyarakat memahami bahwa keberadaan serangga air, ikan, atau tumbuhan tertentu adalah penanda sungai sehat, maka mereka akan lebih peduli. Nah, kombinasi antara budaya dan sains ini yang sedang kami dorong,” tutur Husamah. Belajar dari Thailand untuk Jawa Timur Menurut Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, penelitian ini bukan sekadar studi banding, melainkan upaya untuk menemukan pola pengelolaan sungai yang lebih relevan bagi Jawa Timur. “Di Jawa Timur, masyarakat juga memiliki budaya lokal terkait sungai. Namun, praktik itu sering tergerus oleh modernisasi dan kurang mendapat perhatian. Dengan melihat praktik baik di Thailand, kita bisa memperkaya cara pandang sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal kita sendiri,” jelasnya. Ia mencontohkan beberapa budaya masyarakat Jawa Timur yang berkaitan dengan sungai, seperti tradisi larung sesaji atau selamatan desa di tepi sungai. “Budaya-budaya ini menunjukkan bahwa masyarakat kita pun sebenarnya punya rasa hormat terhadap sungai. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari upaya konservasi modern,” lanjutnya. Peran UMM dalam Penelitian Internasional Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasi terhadap tim peneliti yang berhasil memperluas jejaring riset hingga Thailand. “UMM terus mendorong dosen untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional. Penelitian di Sungai Chao Phraya ini adalah contoh nyata bahwa akademisi UMM mampu berkontribusi dalam isu global seperti konservasi air dan sungai,” ujarnya. Rektor juga menekankan bahwa penelitian semacam ini sangat penting untuk memberikan masukan kebijakan, baik bagi pemerintah daerah di Jawa Timur maupun lembaga internasional. “Air dan sungai adalah sumber kehidupan. Kita harus belajar dari mana saja, termasuk dari negara sahabat seperti Thailand,” tegasnya. Harapan dan Dampak Penelitian Prof. Abdulkadir menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi internasional bereputasi sekaligus rekomendasi praktis untuk pengelolaan sungai. “Kami ingin hasil riset ini tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi juga bisa diterapkan di lapangan. Misalnya, bagaimana pemerintah daerah bisa mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kebijakan konservasi sungai,” ungkapnya. Dr. Husamah menambahkan bahwa penelitian ini juga akan memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Thailand. “Kami membuka ruang kolaborasi dengan universitas di Thailand. Harapannya, penelitian bersama bisa terus dilakukan, baik tentang sungai maupun isu-isu lingkungan lainnya,” katanya. Sementara itu, Prof. Atok menegaskan pentingnya penelitian ini untuk pendidikan. “Sebagai dosen Pendidikan Biologi, kami ingin membawa hasil riset ini ke ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya belajar teori ekologi, tetapi juga memahami praktik nyata di masyarakat. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menjadi guru yang mampu menanamkan kepedulian lingkungan pada generasi muda,” jelasnya. Inspirasi dari Sungai untuk Kehidupan Dalam refleksinya, tim peneliti sepakat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan pusat kehidupan dan budaya. “Sungai mengajarkan kita tentang keseimbangan. Jika kita menjaga sungai, maka sungai akan menjaga kita. Itulah pesan yang kami temukan di Chao Phraya dan ingin kami bawa pulang ke Jawa Timur,” ujar Prof. Abdulkadir. Dengan semangat itu, tim peneliti Pendidikan Biologi UMM bertekad untuk terus mengembangkan riset lintas budaya dan lintas negara. Mereka yakin bahwa kearifan lokal, ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern, akan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
KRS ONLINE Semester Ganjil 2025/2026

📢 Sudah Siap Menyusun Rencana Studi Semester Ganjil 2025/2026?Jangan lewatkan informasi penting terkait KRS Daring (Online)!Klik dan simak flyer selengkapnya untuk mengetahui jadwal, alur, dan ketentuan terbaru ini Sobi! ⬇️ KRS Daring (Online) Semester Ganjil 2025-2026 UMM
Prodi Pendidikan Biologi UMM Dalami Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di TPA BLE Banyumas

Banyumas — Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang bermakna. Dalam rangkaian kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT) 2025 bertema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kunjungan edukatif ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (23/07/2025). Kunjungan ini menjadi momen penting karena merupakan kunjungan pertama dari program studi berlatar pendidikan ke TPA BLE. Kepala UPT TPA BLE, Edi Nugroho, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme mahasiswa. Ia menekankan bahwa keberhasilan Banyumas dalam pengelolaan sampah tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat, baik secara individu maupun komunal melalui Kelompok Sadar Masyarakat (KSM). Menurut Edi, pendekatan terstruktur mulai dari sumber (rumah tangga) hingga pengolahan lanjutan di TPA BLE menjadikan Kabupaten Banyumas sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Tidak semua sampah berakhir di TPA; sebagian besar telah terpilah dan diproses secara mandiri di tingkat masyarakat. Fuad Jaya Miharja, M.Pd, dosen Prodi Pendidikan Biologi, menilai kunjungan ini sangat bernilai. “Ini bukan sekadar observasi lapangan. Mahasiswa belajar bagaimana perspektif terhadap sampah dapat diubah — dari limbah menjadi sumber daya ekonomi dan edukasi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran di Prodi Pendidikan Biologi sudah selaras dengan praktik ini: tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga membumikan konsep melalui praktik nyata. Fuad juga mengungkapkan bahwa salah satu mahasiswanya telah mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis proyek untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block, terinspirasi dari praktik yang dilakukan di TPA BLE. Citra Lesmana, salah satu mahasiswa peserta SLT, mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem pengelolaan di TPA BLE. “Saya terkejut, tidak seperti TPA biasa yang identik dengan bau menyengat. Di sini, bau hampir tidak terasa,” ujarnya. Ia juga belajar mengenai ekonomi sirkular, dari pemanfaatan sampah anorganik menjadi Refused Derived Fuel (RDF), hingga limbah organik yang diolah menjadi pakan maggot, pupuk kasgot, bahkan pakan ternak unggas. “Dari kunjungan ini saya bisa melihat rantai pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, dan yang paling penting, saya punya banyak ide bagaimana membelajarkan isu sampah secara kreatif kepada siswa,” tutup Citra dengan penuh semangat.
Eksplorasi Biodiversitas di Kaki Gunung Ciremai: Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM Kunjungi Kebun Raya Kuningan

Kuningan — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan kegiatan eksplorasi biodiversitas di Kebun Raya Kuningan (KRK), Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung di kaki Gunung Ciremai ini mengusung tema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.” Kebun Raya Kuningan, yang dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui UPTD setempat, merupakan kawasan konservasi dengan luas 155 hektar dan memiliki lebih dari 23.000 spesimen tanaman yang telah teregistrasi, termasuk jenis-jenis endemik khas Jawa Barat. Kepala UPTD KRK, Dedi Kurniawan, menyambut baik kunjungan ini dan menyebutnya sebagai bentuk nyata kolaborasi antara lembaga pendidikan dan lembaga konservasi. Ia juga menyatakan bahwa UMM adalah perguruan tinggi terjauh yang pernah berkunjung ke KRK. “Kehadiran teman-teman dari UMM sejalan dengan empat fungsi utama KRK: konservasi, penelitian, pendidikan, dan wisata,” ujarnya. Dalam sesi eksplorasi, mahasiswa mendalami studi tanaman endemik seperti ambit (Elaeocarpus grandiflorus)—yang oleh masyarakat Sunda dikenal juga dengan nama rejasa, raja sor, atau kemaitan. Tanaman ini memiliki cita rasa pahit dan diyakini memiliki khasiat farmakologis sebagai antiinflamasi dan penurun panas. Selain menjelajah area konservasi, peserta juga mengunjungi rumah kaca (greenhouse) yang menyimpan berbagai koleksi anggrek, termasuk Dendrobium sp., serta laboratorium kultur jaringan yang mendukung fungsi penelitian dan pelestarian tanaman langka. Drs. Samsun Hadi, M.S., dosen pendamping kegiatan ini, menyampaikan bahwa potensi edukatif KRK sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar di semua jenjang pendidikan. “Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga merangsang mahasiswa agar mampu mengembangkan pembelajaran inovatif berbasis potensi lokal,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat langsung peran nyata konservasi dalam mendukung pendidikan berkelanjutan. Pengalaman lapangan seperti ini diharapkan memperkuat kesadaran ekologis dan kemampuan pedagogis calon guru biologi dalam menyusun pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif.
Perkuat Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek, Prodi Pendidikan Biologi Kunjungi Bukit Aksara Junior High School

Semarang — Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kunjungan akademik ke SMP Bukit Aksara Semarang, Jawa Tengah dalam rangka kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT). Kunjungan ini bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa mengenai implementasi pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) yang telah diterapkan secara konsisten di sekolah tersebut. SMP Bukit Aksara, yang berada di bawah naungan Yayasan Sanggar Aksara, dikenal sebagai lembaga pendidikan progresif yang mengusung pendekatan pembelajaran abad ke-21. Sekolah ini tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga menyeimbangkannya dengan pengembangan karakter dan kecakapan hidup siswa secara holistik. Kegiatan ini dipandu oleh dosen pendamping SLT, Fuad Jaya Miharja, M.Pd, yang disambut langsung oleh Kepala Sekolah SMP Bukit Aksara, Giovani Widyanti Asriningtyas. Dalam sambutannya, Asri — sapaan akrab beliau — menyampaikan rasa bahagia atas kunjungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran di sekolahnya dirancang dengan pendekatan spiral, di mana konsep-konsep diajarkan berulang dengan kompleksitas yang meningkat seiring waktu, guna mendorong pemahaman mendalam dan retensi jangka panjang. Dosen Pendamping SLT (Bapak Fuad Jaya Miharja) bersama Ibu Kepala Sekolah Bukit Aksara Junior High School Asri juga memperkenalkan konsep Connected Curriculum (Kurikulum KoKu) yang menjadi landasan utama pembelajaran di SMP Bukit Aksara. Kurikulum ini dibangun di atas tiga pilar: pemahaman konsep (concept understanding), penerapan konsep (ways of working), dan keterampilan komunikasi hasil belajar (communicator). Ketiganya dipraktikkan secara konsisten dalam setiap proses pembelajaran di kelas, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata serta mengkomunikasikan temuannya secara efektif. Andika Wahyu Sanjaya, salah satu mahasiswa peserta SLT, mengaku terinspirasi dengan suasana belajar di SMP Bukit Aksara. “Saya kagum melihat desain ruang kelas yang tidak konvensional. Tidak ada susunan meja dan kursi seperti biasanya, melainkan ruang-ruang belajar yang dirancang untuk merangsang rasa ingin tahu dan semangat belajar siswa,” ujarnya. Dosen pendamping, Fuad Jaya Miharja, menekankan pentingnya pengalaman ini dalam melengkapi pembelajaran di kampus. “Kegiatan SLT ini menjadi potongan penting dari proses belajar mahasiswa. Mereka tidak hanya dibekali pemahaman konsep di kelas, tetapi juga belajar bagaimana konsep-konsep tersebut dapat diaktualisasikan dalam pembelajaran nyata di sekolah,” jelasnya. Sebagai penutup kegiatan, Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM menyerahkan cinderamata berupa Modul Ajar IPA terbitan UMM Press—hasil karya mahasiswa semester IV mata kuliah Desain Pembelajaran Inovatif. Sebagai balasan, pihak sekolah menghadiahkan buku antologi puisi karya siswa, yang merupakan produk proyek pembelajaran lintas mata pelajaran di sekolah tersebut. Kunjungan ini menjadi salah satu langkah strategis Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM dalam memperluas wawasan dan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui interaksi langsung dengan sekolah-sekolah yang mengimplementasikan pembelajaran inovatif dan berbasis proyek.
Pencapaian Gemilang! Pendidikan Biologi UMM Kini Diperkuat Enam Profesor dan Komitmen pada Keunggulan Lulusan

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan capaian akademik penting dengan bertambahnya dua guru besar baru. Pengukuhan ini dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, sehingga jumlah total profesor aktif di prodi tersebut kini mencapai enam orang. Dua dosen yang resmi menyandang gelar profesor adalah Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd, di bidang Etika Biologi dan Pembelajarannya, serta Prof. Dr. Lud Waluyo, M.Kes, di bidang Mikrobiologi. Keduanya dikenal luas sebagai akademisi yang produktif dalam riset, aktif dalam pengabdian masyarakat, serta konsisten melakukan inovasi dalam pembelajaran biologi. Sebelum penambahan ini, Pendidikan Biologi UMM telah memiliki empat guru besar aktif, yaitu Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, dan Prof. Dr. Elly Purwanti, M.P. Sementara itu, Prof. Dr. Ainur Rofiq, M.Kes, salah satu guru besar sebelumnya, telah wafat. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si, menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi seluruh elemen sivitas akademika. Ia menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam menghadapi dinamika dan tantangan pendidikan global. “Dengan hadirnya dua guru besar baru, kapasitas keilmuan kami semakin solid. Kami menargetkan jumlah profesor bisa bertambah dua kali lipat dalam tiga hingga empat tahun mendatang, seiring banyaknya dosen muda yang tengah menempuh studi doktoral di dalam dan luar negeri,” ujarnya. Pendidikan Biologi UMM dikenal memiliki cakupan keilmuan yang luas dan terintegrasi, mulai dari biologi molekuler, mikrobiologi, pendidikan biologi, hingga etika keilmuan. Model pembelajaran yang digunakan berbasis Outcome-Based Education (OBE), yang menekankan ketercapaian kompetensi dan penerapan nyata oleh mahasiswa di dunia kerja. “Kami ingin mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga terampil secara praktis dan siap berkontribusi langsung di masyarakat,” ungkap Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd. Secara kelembagaan, Prodi Pendidikan Biologi UMM telah memperoleh akreditasi Unggul dari BAN-PT serta sertifikasi internasional AUN-QA, sebagai bukti pengakuan terhadap kualitas pendidikan yang diselenggarakan. Selain itu, jurnal ilmiah yang dikelola, yakni JPBI, telah terakreditasi SINTA 2 dan menjadi wadah strategis publikasi hasil riset dosen maupun mahasiswa. Dari sisi sarana, UMM menyediakan fasilitas penunjang pembelajaran yang memadai, seperti laboratorium biologi lengkap, ruang kelas digital, greenhouse, serta akses teknologi pendidikan mutakhir. Prodi ini juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai institusi nasional dan internasional, membuka kesempatan untuk magang, penelitian kolaboratif, hingga program pertukaran pelajar. Lulusan Pendidikan Biologi UMM telah banyak berkontribusi di berbagai bidang dan wilayah, mulai dari tenaga pendidik, peneliti, dosen, pelaku industri, hingga pemimpin daerah. Salah satu alumni, Yanur Setyaningrum, M.Pd, saat ini menjabat sebagai kepala sekolah di Kota Malang. “Kami dibekali keterampilan berpikir kritis, etika profesional, dan daya adaptasi tinggi. Para dosen di UMM sangat inspiratif dan membentuk karakter kami dengan kuat,” tutur Yanur. Sebagai bagian dari Universitas Muhammadiyah Malang yang mengusung visi The Real University dan Your Bright Future, Program Studi Pendidikan Biologi juga aktif dalam program pengabdian masyarakat berbasis riset berdampak. Beberapa di antaranya adalah pengembangan biopestisida ramah lingkungan, edukasi konservasi hayati, hingga literasi sains berbasis kecerdasan buatan (AI). Prof. Eko menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti pada capaian ini. Dorongan untuk terus meningkatkan kualitas akademik, memperluas jejaring kemitraan, serta mendorong akselerasi karier dosen ke jenjang guru besar akan terus dilakukan. “Kami berkomitmen mencetak guru-guru profesional dan lulusan yang memiliki daya saing global. Dunia pendidikan terus berubah, dan kami siap menjadi bagian dari perubahan tersebut,” tegasnya. Dengan bertambahnya jumlah guru besar, raihan akreditasi unggul, serta jejaring kemitraan yang terus berkembang, Pendidikan Biologi UMM membuktikan diri sebagai program studi visioner yang memberi dampak nyata bagi dunia pendidikan dan kemajuan bangsa.
Beasiswa Calon Mahasiswa Baru Prodi Pendidikan Biologi Angkatan 2025

Hey Sobi! Ada info menarik banget nih buat para camaba Gen 25 😎 So pasti tentang beasiswaaaa 💸 Berikut beasiswa yang bisa diakses oleh para calon mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Angkatan 2025: 1. Cashback 2.000.000 bagi 10 pendaftar terpilih di prodi Pendidikan biologi. 2. Beasiswa FKIP Berkemajuan 10,9 juta untuk 2 orang mahasiswa selama 7 semester. 3. Beasiswa Bakti Profesor Pendidikan Biologi: a) 1.000.000 untuk 4 mahasiswa berprestasi akademik & non akademik setiap semester; b) 500.000 untuk 5 mahasiswa berprestasi akademik & non akademik setiap semester 4. Beasiswa Jalur Prestasi: Beasiswa berupa Potongan 50 % Biaya Studi Semester I (BSS-I). 5. Beasiswa Anak Yatim Pembebasan BSS 8 semester. 6. Beasiswa PPUT (Program Pendidikan Ulama Tarjih) Pembebasan BSS 8 semester. 7. Beasiswa Saudara Kandung: Potongan 50% BSS Semester 1. 8. Beasiswa Alumni SMA/SMK/MA Muhammadiyah Bebas BSS Semester 1. 9. Beasiswa GOLDEN TICKET untuk siswa fungsionaris organisasi kesiswaan (OSIS, Kegiatan Ekstra dll). 10. Beasiswa KIP (Bidik Misi). 11. Beasiswa Anak Pengurus Persyarikatan Muhammadiyah: Potongan BSS sesuai tingkatan pengurus. 12. Beasiswa Bantuan Khusus Mahasiswa prestasi bagus dan aktif di Muhammadiyah. 13. Beasiswa Kader Muhammadiyah: Potongan BSS sesuai kebijakan Yuk buruan daftar! online.umm.ac.id ✨