FKIP UMM Perkuat Implementasi Pembelajaran Mendalam bagi Guru Muhammadiyah Kabupaten Malang

Malang — Guru memegang peran kunci dalam mencerdaskan umat sekaligus membangun peradaban yang berkemajuan. Kesadaran tersebut menjadi landasan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Forum Guru Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang. Kegiatan ini berlangsung di SMK Muhammadiyah 8 Pakis, Minggu (25/01/2026). Mengusung tema Pembelajaran Mendalam, kegiatan ini bertujuan mendorong proses belajar yang tidak hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, serta penghayatan nilai dalam pembelajaran. Dalam sesi pemaparan, Gigit Mujianto menegaskan bahwa pembelajaran mendalam menuntut perubahan cara pandang guru dalam mengajar. Guru diharapkan tidak lagi berperan sebagai penyampai materi semata, melainkan sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk aktif memahami konsep, mengaitkannya dengan konteks kehidupan nyata, dan merefleksikannya secara kritis. “Pembelajaran yang bermakna akan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan karakter yang kuat,” jelasnya. Sejalan dengan itu, Arif Setiawan menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang terstruktur, jelas, dan berorientasi pada keterlibatan aktif siswa. Menurutnya, guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan, membebaskan, dan relevan dengan tantangan zaman. “Pembelajaran mendalam dapat diwujudkan melalui desain aktivitas belajar yang kontekstual, serta asesmen yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menghargai proses belajar peserta didik,” ujarnya. Sementara itu, Zukhrufurrohmah mengajak para guru untuk terus melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran di kelas. Ia menekankan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan dapat diintegrasikan secara alami dalam setiap mata pelajaran. “Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter serta kesadaran nilai peserta didik,” tuturnya. Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta. Diskusi berlangsung aktif dan reflektif, ditandai dengan berbagi pengalaman praktik pembelajaran di sekolah masing-masing serta pembahasan tantangan dalam mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/fkip-umm-dorong-pembelajaran-mendalam-bagi-guru-muhammadiyah-di-kabupaten-malang/
Tim Dosen PBIO UMM Dipercaya Perusahaan Migas untuk Membina Guru di Area Kerjanya

Malang — Kepercayaan dunia industri terhadap perguruan tinggi kembali ditunjukkan melalui kolaborasi strategis antara Tim Dosen Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan perusahaan migas nasional di bawah koordinasi SKK Migas dan Kangean Energy Indonesia (KEI). Untuk tahun kedua berturut-turut, Tim Dosen PBIO UMM dipercaya terlibat aktif dalam kegiatan pembinaan guru di wilayah kerja perusahaan migas, khususnya di kawasan kepulauan. Kegiatan bertajuk Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru untuk Mendukung Implementasi Deep Learning Berbantuan Kecerdasan Buatan (AI) ini berlangsung selama empat hari, 17–20 Januari 2026, dan menyasar para guru di area operasional Kangean Energy Indonesia. Program ini menjadi bagian dari komitmen Community Development (COMDEV) perusahaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal, terutama sektor pendidikan. Koordinator COMDEV Kangean Energy Indonesia, H. Ahmad Baidowi, menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi penting bagi pembangunan berkelanjutan di wilayah kepulauan. “Kami tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan energi, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat, khususnya guru sebagai agen perubahan. Kolaborasi dengan UMM ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan pendidikan di daerah kepulauan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pelibatan dosen perguruan tinggi dengan rekam jejak pengabdian yang kuat menjadi kunci keberhasilan program. Menurutnya, Tim Dosen PBIO UMM tidak hanya membawa konsep akademik, tetapi juga pengalaman lapangan yang relevan dengan konteks lokal. “Ini sudah tahun kedua kami bekerja sama, dan kami melihat dampak yang nyata bagi guru-guru,” katanya. Tim Dosen PBIO UMM yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, Dr. Husamah, dan Fuad Jaya Miharja, M.Pd. Ketiganya dikenal aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, khususnya pada isu pendidikan berkelanjutan dan pengembangan masyarakat berbasis potensi lokal. Ketua tim, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, menyampaikan bahwa kepercayaan dari perusahaan migas merupakan bentuk pengakuan terhadap peran perguruan tinggi dalam menjembatani dunia akademik dan kebutuhan nyata masyarakat. “Kami hadir tidak sekadar memberi pelatihan, tetapi membangun kesadaran baru tentang pembelajaran bermakna yang relevan dengan konteks kepulauan,” ungkapnya. Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif dan kontekstual. Pada hari pertama, peserta diajak memahami paradigma baru guru kepulauan serta tantangan pendidikan yang khas, mulai dari keterbatasan sarana hingga akses teknologi. Diskusi dilakukan secara terbuka agar guru dapat berbagi pengalaman sekaligus memetakan persoalan yang mereka hadapi di kelas. Dr. Husamah menjelaskan bahwa konsep deep learning dalam pelatihan ini tidak dimaknai semata-mata sebagai teknologi, melainkan sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan makna, kesadaran, dan kegembiraan belajar. “Deep learning itu tentang pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful. AI hanyalah alat bantu, sementara guru tetap menjadi aktor utama,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan harus disikapi secara kritis dan etis. Oleh karena itu, dalam sesi pengenalan AI, peserta tidak hanya diperkenalkan pada contoh aplikasi, tetapi juga diajak memahami peluang dan risikonya. “Guru perlu melek AI, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai pedagogik dan kemanusiaan,” tegasnya. Sementara itu, Fuad Jaya Miharja, M.Pd. menyoroti pentingnya pemetaan kebutuhan guru sebagai dasar perencanaan program lanjutan. Menurutnya, sesi focus group discussion (FGD) menjadi ruang strategis untuk menggali kebutuhan riil guru kepulauan. “Dari sini kita bisa melihat kebutuhan keterampilan, sarana, hingga dukungan kebijakan yang diperlukan agar inovasi pembelajaran berbasis AI dapat diterapkan secara realistis,” ujarnya. Selain fokus pada peningkatan kompetensi guru, kolaborasi antara Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia juga tidak terlepas dari rekam jejak pengabdian masyarakat berbasis rumput laut yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Program tersebut menyasar masyarakat pesisir dengan mengembangkan potensi lokal rumput laut sebagai sumber ekonomi sekaligus media edukasi lingkungan. Menurut Prof. Abdulkadir, keterlibatan UMM dalam berbagai program pengembangan masyarakat menunjukkan konsistensi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Baik pendidikan guru maupun pengembangan masyarakat pesisir berbasis rumput laut, keduanya berangkat dari semangat yang sama: memberdayakan masyarakat dari akar rumput,” jelasnya. Para peserta pelatihan menyambut positif kegiatan ini. Salah satu guru peserta, Ustadz Bahri menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang peran guru di era digital. Ia menilai pendekatan yang digunakan sangat relevan dengan kondisi sekolah di kepulauan. “Kami tidak hanya diajari teknologi, tetapi juga diajak memahami bagaimana menjadi guru yang adaptif dan reflektif,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, Kangean Energy Indonesia berharap tercipta ekosistem pendidikan yang lebih kuat di wilayah kerjanya. H. Ahmad Baidowi menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung program-program pengembangan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. “Kami ingin keberadaan industri membawa manfaat nyata, salah satunya melalui peningkatan kualitas pendidikan,” katanya. Kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi ini menjadi contoh praktik baik sinergi multipihak dalam membangun pendidikan Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan. Dengan menggabungkan keahlian akademik, pengalaman lapangan, dan dukungan industri, program ini diharapkan mampu melahirkan guru-guru yang inovatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Ke depan, Tim Dosen PBIO UMM dan Kangean Energy Indonesia berencana melanjutkan kerja sama dalam berbagai program pengabdian dan pengembangan masyarakat. Tidak hanya pada aspek pendidikan formal, tetapi juga penguatan literasi lingkungan dan ekonomi berbasis potensi lokal. “Kami optimistis, kolaborasi ini akan terus berkembang dan memberi dampak yang lebih luas,” pungkas Prof. Abdulkadir.
Dosen dan Mahasiswa UMM Kolaborasi Bersama PKK Dusun Jetis Kembangkan Akuaponik, Optimalisasi Lahan Sempit untuk Ketahanan Pangan

Malang — Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi warga Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, untuk tetap produktif di sektor pertanian dan perikanan. Melalui inovasi sistem akuaponik, lahan sempit di lingkungan Jalan Margojoyo RT.01/RW.02 kini mampu dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya ikan dan sayuran secara terpadu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melibatkan dosen lintas disiplin dari Pendidikan Biologi, Perikanan, serta Ekonomi dan Bisnis, bersama lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi, Teknik Informatika, dan Psikologi. Kegiatan dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2025 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Akuaponik dipilih sebagai solusi karena mampu mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang efisien dan ramah lingkungan. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi hasil panen. Sayuran hasil akuaponik, misalnya, diolah menjadi produk bernilai tambah seperti keripik sayur, sementara ikan lele dikembangkan menjadi produk olahan. Pelatihan teknis budidaya akuaponik dikoordinasikan oleh Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Peternakan UMM. Peserta diajak terlibat langsung dalam perancangan sistem akuaponik, pemilihan komoditas, pembibitan, hingga perakitan instalasi. Jenis tanaman yang dibudidayakan meliputi sawi pakcoy, kangkung, bayam, dan seledri, sedangkan ikan yang digunakan adalah lele (Clarias sp.). Tahap lanjutan kegiatan difokuskan pada pengolahan hasil panen dan pemasaran produk berbasis digital. Pendampingan dilakukan oleh Dr. Erna Retno Rahadjeng, M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Melalui kegiatan ini, anggota PKK Dusun Jetis diarahkan untuk mengembangkan produk lokal seperti keripik sayur dan abon lele sebagai peluang usaha keluarga. Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Anggota PKK menilai sistem akuaponik memberi solusi nyata atas keterbatasan lahan, sekaligus memungkinkan dua aktivitas produktif—bertanam dan budidaya ikan—dalam satu wadah yang saling menguntungkan. Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Secara lebih luas, kegiatan pengabdian ini menjadi wujud kontribusi UMM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, serta pengurangan kemiskinan dan kelaparan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan dan produktivitas berkelanjutan di tingkat komunitas. Berita ini telah tayang pada: https://www.kompasiana.com/pkkmargojoyomalang7301/69367ed7c925c4044e1089d2/dosen-umm-bersama-mahasiswa-gandeng-pkk-dusun-jetis-kembangkan-akuaponik-dari-lahan-sempit-menjadi-sumber-produktivitas
SEMNAS PBIO FKIP UMM Jadi Ruang Kolaborasi Ilmiah, Ratusan Pemakalah Bahas Keberlanjutan Kehidupan

Malang — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pusat diskursus ilmiah melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Pendidikan Biologi X (SEMNAS PBIO/SEMBIO X 2025) yang mengusung tema Biologi, Pendidikan, dan Teknologi: Mengawal Keberlanjutan Kehidupan. Kegiatan ini menghadirkan ratusan pemakalah dan peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari dosen, peneliti, guru, mahasiswa, hingga praktisi (16/12/2025). Foto peserta di SEMBIO X yang dilaksakan hari Selasa (16 Desember 2025) Forum ilmiah tahunan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, hasil riset, dan praktik terbaik dalam pendidikan biologi, khususnya dalam merespons tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks. Pemanfaatan teknologi, penguatan literasi lingkungan, serta integrasi nilai-nilai lokal menjadi isu yang banyak disoroti dalam berbagai sesi seminar. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menegaskan bahwa isu keberlanjutan menuntut pendekatan yang utuh. Pendidikan biologi, menurutnya, perlu melampaui penguasaan konsep menuju pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti literasi sains dan lingkungan, berpikir kritis, kolaborasi, serta etika akademik. Ia juga menekankan bahwa SEMNAS PBIO dirancang sebagai ruang penguatan jejaring akademik dan kolaborasi riset yang berdampak nyata. Sejalan dengan itu, Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., menyampaikan bahwa tema seminar dirancang untuk menjawab tantangan zaman. Perkembangan teknologi yang pesat dan meningkatnya ancaman ekologis menuntut karya ilmiah yang tidak berhenti pada laporan penelitian, tetapi bermuara pada inovasi pembelajaran, produk edukatif, serta rekomendasi aplikatif bagi sekolah dan masyarakat. Atmosfer ilmiah SEMNAS PBIO diperkuat dengan terbitnya buku kumpulan abstrak yang memuat beragam topik, mulai dari biologi murni dan terapan, pendidikan biologi, pembelajaran berbasis teknologi, literasi lingkungan, konservasi biodiversitas, hingga penguatan karakter dan keterampilan abad ke-21. Publikasi ini diharapkan menjadi rujukan awal bagi pengembangan riset dan praktik pendidikan biologi. Dua pembicara utama turut memperkaya perspektif keberlanjutan. Assoc. Prof. Ts. Dr. Rovina Kobun (Universiti Malaysia Sabah) menekankan pentingnya literasi pangan, gizi, dan lingkungan melalui pendekatan bio-inovasi. Ia menggarisbawahi peran strategis pendidikan biologi dalam membentuk pemahaman sistem pangan berkelanjutan, termasuk melalui inovasi berbasis rumput laut sebagai solusi ramah lingkungan. Sementara itu, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si. (UMM) menyoroti peran kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan lingkungan. Melalui contoh praktik Reresik Kali, ia menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan ekologi tradisional dengan pendidikan dapat mendukung pencapaian SDGs, sekaligus menumbuhkan partisipasi dan tanggung jawab ekologis di tingkat komunitas. Keseluruhan rangkaian SEMNAS PBIO FKIP UMM menegaskan bahwa keberlanjutan membutuhkan sinergi antara inovasi berbasis sains dan teknologi dengan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. Melalui forum ini, pendidikan biologi diharapkan terus menjadi penggerak perubahan—dari ruang kelas dan laboratorium hingga masyarakat luas. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2025/12/16/perkuat-semangat-berkelanjutan-ratusan-pemakalah-ramaikan-semnas-pbio-fkip-umm/
Munas IKAHIMBI di UMM Teguhkan Peran Mahasiswa Biologi dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Malang — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Himpunan Mahasiswa Biologi Indonesia (IKAHIMBI) yang mengusung tema “Hamemayu Bawana: Merawat Biodiversitas Nusantara”, Senin (08/12/2025). Forum nasional ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa Biologi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat konsolidasi organisasi, merumuskan arah gerak ke depan, sekaligus meneguhkan komitmen generasi muda dalam menjaga kelestarian biodiversitas Nusantara. Ratusan delegasi mahasiswa Biologi dari berbagai daerah hadir dan terlibat aktif dalam rangkaian agenda Munas. Keberagaman latar belakang institusi dan pengalaman peserta menciptakan diskusi yang dinamis dan konstruktif, baik dalam sidang organisasi, seminar lingkungan, maupun forum ilmiah yang diselenggarakan. Sebagai tuan rumah, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi (HIMABIO) UMM yang berada di bawah naungan Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM berperan aktif dalam menyukseskan kegiatan ini. Selama ini, HIMABIO UMM dikenal konsisten mendorong penguatan kapasitas akademik mahasiswa, kepedulian ekologis, serta pengabdian berbasis keilmuan. Rangkaian Munas meliputi pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), perumusan arah strategis organisasi, seminar lingkungan, hingga presentasi karya ilmiah mahasiswa. Selain itu, aksi lingkungan turut digelar sebagai bentuk refleksi bersama terhadap tantangan ekologis yang dihadapi Indonesia saat ini. Pendamping HMPS Biologi UMM, Dwi Setyawan, M.Pd., menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa Biologi dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat. “Ilmu biologi harus hadir dan memberi solusi. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi perlu terjun langsung ke masyarakat untuk menunjukkan relevansi dan manfaat keilmuan biologi dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Senada dengan itu, Muhammad Rifki Raenaldi, Sekretaris Jenderal IKAHIMBI, menyampaikan bahwa Munas menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan organisasi. “Munas ini bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, tetapi juga sarana memperkuat jejaring, solidaritas, dan sinergi antaranggota IKAHIMBI dari berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Pelaksana Munas, Hildan Haikal Fikri, menegaskan bahwa tema yang diangkat mencerminkan tanggung jawab moral dan ilmiah mahasiswa Biologi terhadap lingkungan. “Melalui semangat Hamemayu Bawana, kami ingin menegaskan komitmen bersama untuk merawat dan menjaga keberlanjutan biodiversitas Nusantara. Dukungan UMM menjadi energi besar bagi terselenggaranya Munas ini,” tuturnya. Pelaksanaan Munas IKAHIMBI di UMM diharapkan dapat memperkuat peran mahasiswa Biologi sebagai agen perubahan yang berkontribusi nyata dalam pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/ikahimbi-gelar-munas-di-umm-gaungkan-komitmen-merawat-biodiversitas-nusantara/
Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat Pertama Nasional Versi SINTA

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada klaster Departments – Affiliations untuk rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM meraih SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi lain di Indonesia. Dalam daftar tersebut, “Pendidikan Biologi – Universitas Muhammadiyah Malang (071024)” berada di posisi teratas jenjang S1, disusul Universitas Mataram, Universitas Negeri Makassar, Universitas Tanjungpura, Universitas Negeri Padang, dan sejumlah kampus lainnya. Capaian ini mengonfirmasi konsistensi produktivitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa Pendidikan Biologi UMM dalam tiga tahun terakhir. Ketua Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Rr. Eko Susetyarini, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas raihan tersebut. “Alhamdulillah, capaian sebagai peringkat pertama nasional SINTA bidang Pendidikan Biologi ini adalah amanah sekaligus buah kerja kolektif. Ini hasil sinergi dosen, mahasiswa, alumni, serta dukungan penuh dari fakultas dan universitas. Kami menekankan budaya riset berkelanjutan, bukan hanya mengejar angka, tetapi memastikan setiap publikasi bermanfaat bagi pengembangan pendidikan biologi dan pemecahan persoalan nyata di lapangan,” ujarnya. Prof. Eko menambahkan, ekosistem akademik UMM yang kondusif berperan besar dalam keberhasilan tersebut. “Kami membangun tradisi bimbingan riset intensif, kolaborasi dosen–mahasiswa, serta jejaring luas dengan sekolah, komunitas, dan industri. Ke depan, kami akan memperkuat kolaborasi internasional dan publikasi di jurnal bereputasi global agar kontribusi UMM semakin diakui dunia,” imbuhnya. Sementara, Dekan FKIP UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, turut memberikan apresiasi kepada Prodi Pendidikan Biologi. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FKIP UMM, khususnya Pendidikan Biologi, menjadi motor penggerak mutu riset di lingkungan UMM. Ini selaras dengan komitmen kami untuk menjadi fakultas keguruan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Ia menegaskan, FKIP UMM akan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan, fasilitas, dan insentif penelitian. “Capaian ini bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk lompatan berikutnya. Kami berharap model penguatan riset di Pendidikan Biologi UMM dapat menjadi rujukan bagi prodi lain di FKIP dan kampus Muhammadiyah–’Aisyiyah se-Indonesia,” tambahnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/prodi-pendidikan-biologi-fkip-umm-raih-peringkat-pertama-nasional-versi-sinta/
Guru Berhati Besar: Refleksi Hari Guru

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Selamat hari guru, 25 November 2025. Jadilah guru yang berhati besar. Kami hanya dapat memberi kado berupa tulisan ini. Wujud cinta dan hormat pada guru Indonesia. Untuk itu, mari sedikit berbicara tentang itu. Di dunia akademik perguruan tinggi, kita terbiasa mendengar istilah Guru Besar—gelar tertinggi bagi para dosen, simbol puncak karier dan kapabilitas akademik. Tapi, bagaimana kalau kita memperkenalkan sesuatu yang tak kalah penting, meskipun tak tercetak di ijazah: “Guru Berhati Besar”? Mengapa “Berhati Besar” penting? Kadang kita berfokus pada gelar, publikasi, dan jabatan. Ya, semua itu sangat penting dalam dunia akademik. Namun, esensi mendidik bukan hanya soal mengajar materi, melainkan juga merawat hati—baik hati guru maupun hati siswa. Seorang guru yang besar hatinya bisa merespons bukan hanya pertanyaan ilmiah, tapi juga kegelisahan siswa: stres, keraguan, kegagalan — semua itu bagian dari kehidupan sekolah. Dalam artikel “The Heart of a Teacher” oleh Geraldine, ia menggambarkan bagaimana seorang guru (dalam konteksnya sebagai guru untuk anak kecil) memiliki hati yang “cukup besar untuk mendengar detak-detak hati kecil di sekelilingnya. Cukup besar untuk membuka pelukan di pagi hari. Dan cukup kuat untuk mengirim doa setiap malam. Meski Geraldine bicara tentang guru sekolah dasar, semangat itu bisa diaplikasikan ke guru secara umum: bukan cuma mengajar, tetapi menjadi pendengar dan pemberi harapan. Guru dan panggilan nurani Terkadang guru juga butuh muhasabah. Menurut artikel dari Ikatan Guru Indonesia (IGI), ada pertanyaan besar: apakah sebagai guru (atau pendidik) kita masih memiliki hati nurani? Penulis artikel tersebut mengajak para guru untuk melihat ke dalam diri: apakah kita mendorong siswa agar terus belajar, tapi kita sendiri sudah berhenti berkembang? Apakah kita memberi contoh integritas, atau sekadar meminta siswa mengerjakan tugas sambil kita “tunggu saja”? Hasrat untuk menjadi pendidik sejati kerap diuji — apakah ini semata profesi atau panggilan hati. Bila guru punya hati nurani, maka pembimbingan akademik tidak cuma soal buku, tugas, pekerjaan rumah, dan proyek. Ada aspek kemanusiaan: merangkul siswa yang kewalahan, memberi dukungan moral, bahkan mendorong mereka menjaga kesehatan mental. Guru berhati besar adalah sosok yang bisa menjadi panutan personal, tidak hanya intelektual. Kisah nyata: guru berhati besar di dunia nyata Ada cerita inspiratif tentang guru yang berjiwa besar dan penuh pengabdian. Meski tidak persis dosen, kisah guru-guru seperti yang diliput Palm Beach Post tentang “big-hearted teacher” menunjukkan betapa pengaruh manusiawi dari seorang pengajar dapat mengubah hidup murid. Narasi semacam itu menggarisbawahi bahwa kepedulian, kehangatan, dan empati guru bisa berdampak besar bagi siswanya. Begitu juga, di banyak tulisan Indonesia kita menemukan ungkapan “guru tangguh berhati cahaya.” Dalam artikel tentang guru, “tangguh berhati cahaya” dipakai untuk menggambarkan guru yang tidak hanya kuat menghadapi tantangan, tetapi juga memberi “cahaya”: penerangan ilmu dan akhlak, dan kehadiran yang menenangkan siswa. Dampak positif “Guru Berhati Besar” Membangun kepercayaan. Siswa, apalagi yang baru memasuki dunia sekolah, sering kali merasa ragu, tersisih, atau bingung. Guru yang punya hati besar bisa menjadi figur andalan: tempat curhat, berdebat gagasan, bahkan berbagi kegelisahan hidup. Pertama, meningkatkan pengalaman belajar emosional. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu: juga pembentukan karakter. Guru yang peduli ke aspek emosional siswa membantu menciptakan iklim kelas yang lebih sehat dan produktif. Kedua, memotivasi siswa agar lebih resilient. Siswa yang tahu bahwa gurunya peduli akan lebih berani mengejar ide, mencoba tugas yang sulit, dan menghadapi kegagalan dengan kepala tegak. Dukungan emosional bisa membuat perbedaan besar. Ketiga, membangun komunitas akademik yang inklusif. Dengan “hati besar”, guru bisa merawat inklusivitas: menerima latar belakang beragam siswa, membuka ruang diskusi, dan memfasilitasi kolaborasi. Hal ini memperkaya akademia. Bagaimana mewujudkan “Guru Berhati Besar”? Beberapa langkah konkret bisa dipertimbangkan: Pertama, Pelatihan empati dan kecerdasan emosional. Lembaga akademik bisa menyelenggarakan workshop untuk guru mengenai mentoring, komunikasi empatik, dan coaching kehidupan (life coaching) untuk siswa. Kedua, Meningkatkan kesejahteraan dan dukungan mental untuk guru. Sekilas perlu memahami bahwa guru yang sehat mental lebih mampu menjadi pendidik yang peduli. Program dukungan seperti konseling, beban kerja yang seimbang, dan pengakuan atas kerja peduli sangat penting. Ketiga, Mekanisme mentoring formal. Selain menjadi pengajar materi, guru bisa diberi peran resmi sebagai mentor, dengan beban jam mentoring dan penghargaan atas kontribusi non-akademik kepada siswa. Keempat, Kebijakan penghargaan kepedulian. Sekolah bisa memberi pengakuan (misalnya “Guru Inspiratif”) tidak hanya berdasar jumlah publikasi, tetapi juga berdasarkan testimoni siswa, mentoring, dan kontribusi sosial. Kelima, Memupuk budaya cerita. Membagikan kisah “Guru berhati besar” di media kampus (majalah, blog, seminar) dapat menginspirasi kolega lain untuk menumbuhkan kepedulian. Kesimpulan Kalau guru Besar adalah penghargaan atas puncak akademik, maka Guru Berhati Besar adalah penghargaan atas kemanusiaan. Gelar boleh tinggi, tapi hubungan manusia-lah yang membuat pendidikan bermakna. Di era di mana teknologi, publikasi, dan persaingan akademik sangat kencang, kita butuh sosok guru yang tidak hanya menguak teori, tetapi juga merajut harapan — guru dengan hati besar. Semoga kita bisa memperluas wacana ini di sekolah-sekolah kita: mendorong agar “besar hati” menjadi bagian dari identitas akademik yang dihormati, dihargai, dan dihidupi. Opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-berhati-besar-refleksi-hari-guru/
Keren, 3 Guru Besar Baru UMM Diarak Pakai Moge saat Pengukuhan

Malang — Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge. 3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin. Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” ujar Nazar. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Muhadjir Effendy, memberikan apresiasi tinggi atas capaian UMM. Sebagai mantan rektor dia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Dia menilai tiga profesor baru tersebut memiliki titik temu dalam menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” kata Muhadjir. Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Fauzan menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. “Pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas,” kata Fauzan. Berita ini telah tayang pada: https://jatim.viva.co.id/amp/cangkrukan/22967-gaul-3-guru-besar-baru-umm-diarak-pakai-moge-saat-pengukuhan
Tiga Guru Besar FKIP UMM Dikukuhkan, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah tiga jumlah Guru Besar baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pengukuhan Guru Besar ini digelar di Basement Dome UMM, Sabtu (22/11/2025). Meski berasal dari Fakultas yang sama, namun penelitian dan kepakaran bidang dari ketiga guru besar ini berbeda. Ada yang fokus pada ilmu pembelajaran bioetika, mikrobiologi lingkungan, hingga pengembangan kurikulum. Ketiga guru besar baru FKIP UMM tersebut, yakni: – Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha M.Pd., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika. – Prof. Dr. Lud Waluyo M.Kes., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan. – Prof. Dr. Moh Mahfud Effendi M.M., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum. Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika, sekaligus gubes ke-69 di UMM. Prof Atok mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Integrasi Model Pembelajaran OIDDE dalam Pendidikan Bioetika di Abad Global: Membangun Pengetahuan, Keputusan Etis dan Sikap Etis Peserta Didik.” Prof Atok menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah, karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. “Pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah,” ujar Prof Atok. Menurutnya, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, Prof Atok mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan, model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen. Serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains, karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan. Tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” tandasnya. Prof Dr Lud Waluyo MKes menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Lud Waluyo MKes Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan, sekaligus gubes ke-73 di UMM. Prof Lud mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Biofitoremediator: Salah Satu Solusi Penanganan Polusi Limbah Cair. Prof Lud menjelaskan, persoalan limbah cair semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu, hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Prof Lud menegaskan, pendekatan kimia tak lagi memadai, karena berpotensi menciptakan residu baru berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS efektif mematikan patogen. Kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS dan residu deterjen,” terang Prof Lud. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. “Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan. Termasuk logam berat hingga 100 ppm,” ujarnya Ia menandaskan, keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan dan tapioka. Menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis. “Tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” tandasnya. Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum, sekaligus gubes ke-72 di UMM. Prof Mahfud menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kurikulum Indonesia Satu (KIS)”, dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai, pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan melangkah ke arah global. “Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan humanis dan berkeadaban,” ucapnya Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” tegasnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan, KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Pentingnya kurikulum menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi memahami dunia dan dirinya. “Kurikulum berjiwa humanis, inklusif dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045,” tandasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ucapnya. Lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” pungkasnya. Berita ini telah tayang pada: https://reportasemalang.com/tiga-guru-besar-fkip-umm-dikukuhkan-kaji-mikrobiologi-kurikulum-hingga-bioetika/
Begadang Melemahkan Otak dan Tidur Sehat Menurut Islam

OPINI — Oleh: Tutut Indria Permana, S.Pd., M.Pd. (Mahasiswa Doktoral Pendidikan Biologi UM & Dosen Pendidikan Biologi UMM) Di banyak kampus, begadang sudah dianggap budaya. Mahasiswa terbiasa mengerjakan tugas hingga larut malam, dosen menuntaskan artikel di jam sepi, dan para akademisi menjadikan kopi sebagai penyelamat abadi. Kita sering merasa bangga karena “produktif di malam hari”, padahal sesungguhnya kita sedang menyabotase kemampuan otak sendiri. Neurosains menemukan bahwa begadang bukan sekadar membuat tubuh lelah. Ia merusak mekanisme kerja otak pada tingkat paling mendasar—mengganggu memori, melemahkan perhatian, dan akhirnya menurunkan kualitas belajar serta ketajaman berpikir. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bahkan dapat mengubah struktur jaringan otak. Fenomena ini semakin relevan ketika kita membahas pendidikan. Bagaimana mungkin mahasiswa diharapkan memahami konsep yang kompleks jika otaknya sendiri tidak berada dalam kondisi siap menerima informasi? Neurosains Memberikan Bukti Kuat 1. Memori Kerja Menurun: Otak Tidak Lagi Mampu Menahan Informasi Memori kerja (Working memory/WM)—kemampuan otak menahan informasi dalam durasi sangat pendek—adalah fondasi dari hampir semua aktivitas akademik: membaca, menalar, mengerjakan tugas, hingga memahami konsep baru. Sayangnya, ini juga salah satu fungsi kognitif yang paling cepat tumbang ketika seseorang kurang tidur. Pada kondisi terjaga yang panjang, area otak seperti lobus prefrontal dan parietal tidak mampu mempertahankan aktivitas optimalnya. Akibatnya, mahasiswa yang mencoba belajar sambil menahan kantuk sebenarnya sedang memaksa sistem yang sudah “kehabisan baterai”. Mereka membaca, tetapi tidak menangkap. Mendengar penjelasan, tetapi tidak memproses. Kondisi ini ibarat berusaha menimba air dari sumur kering—tidak peduli seberapa keras usaha dilakukan, hasilnya tetap minim. 2. Kemampuan Verbal dan Akademik Turun Drastis Pada siswa sekolah dasar, remaja, bahkan mahasiswa, rasa kantuk kronis memiliki efek domino yang serius. Keterampilan berbasis bahasa—seperti memahami bacaan, menginterpretasi kalimat, atau mengolah informasi verbal—turun signifikan ketika jam tidur tidak terpenuhi. Tidak mengherankan bila anak yang kurang tidur tampak kesulitan mengikuti pelajaran, tidak fokus saat membaca, atau lambat merespons instruksi guru. Yang menarik, kemampuan non-verbal seperti keterampilan visuospasial sering kali tetap stabil. Ini memberi satu pelajaran penting: kurang tidur bukan sekadar masalah energi, melainkan masalah kualitas kerja jaringan otak yang mendukung fungsi akademik inti. 3. Fungsi Eksekutif Terganggu: Mirip Kondisi Orang Mabuk Fungsi eksekutif adalah sistem “pengatur lalu lintas” di otak: ia menentukan kapan kita harus berhenti, kapan fokus, kapan mengalihkan perhatian, dan kapan menahan impuls. Kurang tidur mengganggu sistem pengendalian diri dan pengambilan keputusan. Tugas-tugas yang menuntut konsentrasi tinggi menjadi berantakan. Dalam banyak eksperimen, performa orang yang begadang setara dengan seseorang yang mencapai batas legal keracunan alkohol—lambat, kurang akurat, dan mudah salah mengambil keputusan. Dengan kata lain, kurang tidur membuat otak “bocor”, membiarkan informasi yang seharusnya tidak penting ikut mengganggu proses berpikir. Bukan gambaran ideal untuk mahasiswa, pendidik, atau siapa pun yang butuh berpikir jernih. Apa yang Terjadi di Dalam Otak Saat Kita Begadang? Penurunan fungsi kognitif hanyalah permukaan dari masalah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang terjadi di balik layar—di dalam jaringan saraf dan mekanisme elektrofisiologis otak. 1. Sinaps Menjadi “Tersumbat” Setiap hari, otak memperkuat ribuan koneksi sinaptik baru. Ini bagus, tetapi hanya sampai titik tertentu. Jika kita terus memaksa diri tidak tidur, sinaps mencapai kondisi “penuh”—disebut saturasi sinaptik. Saat tidur, sinaps yang tidak penting “dirapikan” agar kapasitas belajar kembali longgar. Ketika begadang, proses ini tidak terjadi, sehingga sinaps menjadi penuh, jenuh, dan kehilangan fleksibilitasnya. Keadaan ini membuat otak tidak mampu membuat penguatan baru. Jadi ketika mahasiswa bergadang untuk belajar, hal yang sebenarnya terjadi adalah: otak sedang berada pada kapasitas maksimalnya dan tidak lagi mampu membuka ruang bagi informasi baru. Seperti spons yang terlalu basah, ia tidak bisa lagi menyerap apa pun. 2. Gas dan Rem Otak Tidak Seimbang Saat kurang tidur, otak tidak sekadar lelah. Ia justru terlalu aktif dalam cara yang salah. Sistem neurotransmiter kehilangan keseimbangan: Glutamat—sang “gas”—meningkat, sementara GABA—rem alami otak—melemah. Bayangkan sebuah mobil yang pedal gasnya tersangkut, sementara remnya aus. Akibatnya, otak terlalu aktif tetapi tidak efisien—berlari tanpa arah. Kondisi ini membuat pikiran sulit fokus, mudah terdistraksi, dan cepat kelelahan. Energi habis, tetapi tugas tetap terbengkalai. 3. Mekanisme Pembelajaran Otak Rusak Neuroplastisitas adalah kemampuan otak membentuk koneksi baru. Namun saat kurang tidur, seluruh proses ini runtuh. Gelombang LTP (Long-Term Potentiation/LTP-like plasticity)—mekanisme biologis di balik pembentukan memori jangka panjang—tidak mampu bekerja. Sebaliknya, mekanisme penurunan sinaps (Long-Term Depression/LTD-like plasticity) ikut terganggu dan berubah menjadi reaksi yang justru memicu eksitasi tambahan. Hasilnya? Otak tidak lagi mampu menanam memori baru maupun merapikan koneksi lama. Inilah sebabnya materi yang dipelajari saat begadang jarang menempel lama. 4. Jaringan Perhatian dan Fokus Tidak Sinkron Pada kondisi normal, jaringan perhatian dan memori bekerja selaras. Deprivasi tidur menghancurkan harmoni ini. Jaringan Default Mode Network (DMN)—yang aktif saat otak melamun—tetap menyala bahkan ketika kita mencoba fokus. Sementara jaringan Dorsal Attention Network (DAN) gagal mengalihkan perhatian ke tugas penting. Saat begadang, DMN sering aktif pada waktu yang salah—itulah momen ketika seseorang tampak “kosong”, melamun, tatapan jauh, dan tidak mampu berkonsentrasi. Tubuhnya ada di kelas, tapi pikirannya di tempat lain. 5. Gelombang Theta Meningkat: Tanda Tekanan Otak Pemeriksaan Elektroensefalografi (EEG) menunjukkan lonjakan gelombang Theta (4–7 Hz) ketika seseorang kekurangan tidur. Ini pertanda bahwa otak berada dalam mode darurat. Semakin sering begadang, semakin sering otak berada dalam tekanan kronis ini. Ini bukan sekadar “ngantuk”, tetapi reaksi fisiologis karena sistem saraf tidak mampu mempertahankan kewaspadaan. 6. Struktur Materi Putih (White Matter) Mulai Berubah Struktur materi putih (white matter)—jalur komunikasi antarbagian otak—juga terdampak. Kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan turunnya Fractional Anisotropy (FA) dan meningkatnya Mean Diffusivity (MD). Dua indikator ini menunjukkan kerusakan mikrostruktur materi putih (white matter) di otak. Perubahan kecil pada jaringan ini dapat menyebabkan kesulitan fokus, lambat merespons, dan mudah terdistraksi. Dalam jangka panjang, kualitas jalur saraf menurun. Ini bukan lagi sekadar masalah kinerja akademik, tetapi masalah kesehatan otak. Ini yang menjelaskan mengapa kebiasaan kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental. Islam Sejak Lama Mengingatkan Kita tentang Pentingnya Tidur Yang menarik, apa yang hari ini dibuktikan neurosains sebenarnya telah menjadi perhatian Islam sejak awal. 1. Al-Qur’an Menggambarkan Tidur sebagai Tanda Kekuasaan Allah “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu