Workshop 10 JP Tata Kelola Jurnal dan Penulisan Artikel Internasional Hadir di UMM

Malang, Juni 2026 – Dalam rangka memperingati satu dekade perjalanan Perkumpulan Relawan Jurnal Indonesia (RJI), RJI bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan menyelenggarakan Workshop 10 JP Tata Kelola Jurnal dan Penulisan Artikel Internasional dengan tema: “Eksistensi 10 Tahun Perkumpulan Relawan Jurnal Indonesia dalam Memperkuat Tata Kelola Jurnal di Indonesia.” Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kompetensi bagi dosen, mahasiswa, pengelola jurnal, peneliti, serta praktisi pendidikan untuk memperdalam pemahaman tentang tata kelola jurnal ilmiah yang berkualitas dan strategi publikasi artikel pada jurnal internasional. Workshop menghadirkan narasumber yang berpengalaman di bidang publikasi ilmiah dan pengelolaan jurnal, yaitu: Yulingga Nanda Hanief, S.Pd., M.Or. Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. Dr. Khoirul Fathoni, M.E. Kehadiran Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang yang aktif sebagai penulis, editor, reviewer, serta pengelola berbagai jurnal ilmiah nasional dan internasional, menjadi salah satu nilai tambah dalam kegiatan ini. Pengalamannya dalam publikasi ilmiah dan tata kelola jurnal diharapkan dapat memberikan wawasan praktis dan inspiratif bagi para peserta, khususnya mahasiswa dan akademisi yang sedang mengembangkan kapasitas riset dan publikasinya. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal: Sabtu, 13 Juni 2026Waktu: 08.00 WIB – selesaiTempat: Universitas Muhammadiyah Malang Fasilitas Peserta Peserta akan memperoleh berbagai manfaat, antara lain: Snack E-Sertifikat 10 JP Materi dan wawasan yang aplikatif Kesempatan membangun jejaring akademik yang luas Berbagi pengalaman dengan pengelola jurnal dan akademisi dari berbagai institusi Biaya Pendaftaran Gratis bagi anggota DOI yang tergabung dalam Relawan Jurnal Indonesia (RJI) Peserta umum: Rp100.000/orang Pendaftaran Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut: bit.ly/LiterasiJurnal-RJIJATIM Informasi dan Konfirmasi Yusuf Adam HilmanWhatsApp: 081296125801 Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mengenai tata kelola jurnal yang profesional, proses publikasi ilmiah yang efektif, serta strategi meningkatkan kualitas artikel agar mampu bersaing pada tingkat nasional maupun internasional. Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang mengajak dosen, mahasiswa, peneliti, dan pengelola jurnal untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana pengembangan kapasitas akademik dan penguatan budaya publikasi ilmiah yang berkualitas. Mari bersama meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan memperkuat ekosistem jurnal Indonesia.
Tiongkok dan Gerakan Berkelanjutan

Oleh: Dr. Husamah, M.Pd. (Catatan perjalanan ke Shanghai dan Guangzhou) Ada satu hal yang langsung terasa ketika menjejakkan kaki di kota-kota besar di Tiongkok seperti Shanghai dan Guangzhou: kota ini hidup, ramai, modern, tetapi tetap terasa bersih dan tertata. Jalanannya padat, manusianya bergerak cepat, gedung-gedung menjulang tinggi, namun polusi yang biasa kita bayangkan dari kota megapolitan justru tidak terlalu terasa. Di situlah saya mulai memahami bahwa China tampaknya tidak sekadar berbicara tentang pembangunan, tetapi juga tentang keberlanjutan. Di Shanghai, hampir di setiap sudut kota kita bisa menemukan taman-taman cantik, pepohonan yang tertata rapi, dan ruang hijau yang membuat kota terasa lebih “bernapas”. Bahkan di kawasan bisnis yang dipenuhi gedung pencakar langit, unsur alam tetap mendapat tempat terhormat. Kota modern tidak harus kehilangan sentuhan hijau. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dapat berjalan berdampingan dengan kepedulian lingkungan. Hal serupa juga terlihat di Guangzhou. Kota ini ramai luar biasa, tetapi tetap nyaman dipandang. Sungai-sungai tertata, trotoar bersih, dan transportasi publiknya sangat memudahkan masyarakat. Yang paling mengesankan tentu moda transportasinya. Metro atau kereta listrik menghubungkan hampir seluruh sudut kota. Mau pergi jauh atau dekat, masyarakat cukup berjalan sedikit menuju stasiun, lalu berpindah dengan cepat dan efisien. Bus listrik juga menjadi pemandangan biasa. Kendaraan umum bergerak nyaris tanpa suara bising mesin dan tanpa asap hitam yang mengganggu. Bahkan mobil listrik dan motor listrik tampak sangat dominan di jalan raya. Di beberapa titik, suara kendaraan yang terdengar justru lebih banyak berasal dari gesekan ban dengan jalan daripada suara mesin. Inilah yang menarik. Jalanan di kota-kota besar China sebenarnya sangat sibuk. Kendaraan begitu banyak. Aktivitas ekonomi berlangsung hampir tanpa jeda. Namun karena transisi menuju energi listrik dilakukan secara masif, kualitas udara terasa jauh lebih baik dibanding banyak kota besar lain di dunia. Kita seperti melihat bagaimana sebuah negara benar-benar serius mengurangi emisi dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Tentu saja, China bukan negara tanpa masalah lingkungan. Mereka juga pernah menghadapi krisis polusi yang berat. Tetapi yang tampak hari ini adalah upaya besar untuk berubah. Dan perubahan itu terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Apa yang dilakukan Tiongkok ini menjadi contoh bahwa isu keberlanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) bukan sekadar slogan di ruang seminar atau dokumen internasional. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sangat konkret: transportasi publik yang nyaman, kendaraan listrik yang terjangkau, kota hijau, dan ruang hidup yang lebih sehat bagi masyarakat. Mungkin di situlah letak pelajaran pentingnya. Masa depan kota bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi tentang bagaimana manusia tetap bisa hidup nyaman tanpa terus-menerus melukai bumi yang ditinggalinya.
Islam Membelai Dingin di Shanghai

Oleh: Dr. Husamah, M.Pd. (Catatan ringan perjalanan ke China) Shanghai sering dibayangkan sebagai kota modern yang dingin, penuh gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan hiruk-pikuk manusia yang bergerak cepat. Namun di balik gemerlap itu, saya justru menemukan sentuhan hangat Islam yang membelai hati. Bukan di Timur Tengah, bukan pula di negeri mayoritas Muslim, tetapi di jantung kota metropolitan China. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah betapa mudahnya menemukan makanan halal di Shanghai. Awalnya saya sempat khawatir. Sebagai muslim yang cukup menjaga urusan makanan, tentu ada rasa waswas ketika bepergian ke negara dengan kultur yang berbeda. Tetapi kekhawatiran itu perlahan hilang ketika saya berjalan di sekitar Zhejiang Road, kawasan yang dekat dengan pusat perbelanjaan terkenal Nanjing Road. Di sana, saya menemukan banyak gerai makanan halal yang dikelola Muslim lokal maupun Muslim asal Xinjiang. Aroma sate kambing khas Xinjiang, mi tarik halal Lanzhou, hingga roti naan hangat terasa begitu akrab bagi lidah dan hati seorang muslim dari Indonesia. Tulisan “清真” (qingzhen/halal) tampak di banyak sudut. Saya merasa seperti sedang diingatkan bahwa Islam memang hadir dengan cara yang lembut: memberi rasa tenang di tempat yang asing. Banyak restoran halal di kawasan Zhejiang Road dan Guangdong Road memang dikenal dikelola komunitas Muslim Hui dan Xinjiang. Tidak hanya itu, di sekitar Fuzhou Road—kawasan yang terkenal sebagai pusat budaya dan pasar oleh-oleh—saya menemukan sebuah masjid dengan ornamen oriental yang sangat khas, yaitu Fuyou Road Mosque. Masjid itu tidak megah menjulang seperti di Dubai atau Turki, tetapi justru menghadirkan keteduhan yang berbeda. Arsitekturnya memadukan nuansa China klasik dengan ruh Islam yang kuat. Saat masuk ke dalamnya, hati terasa khusyuk dengan cara yang sulit dijelaskan. Seolah Islam sedang berkata bahwa ia bisa tumbuh di mana saja, tanpa kehilangan cahaya dan identitasnya. Perjalanan ini semakin memperkaya pengalaman saya sebagai dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang. Sebelumnya saya telah berkesempatan menikmati jejak-jejak peradaban Islam di Turki, Asia Tenggara, Dubai, hingga Arab Saudi. Namun Shanghai memberi pelajaran yang berbeda. Di kota yang identik dengan modernitas dan kapitalisme itu, saya justru menemukan wajah Islam yang teduh, sederhana, dan membumi. Saya belajar bahwa Islam tidak selalu tampil dalam simbol-simbol besar. Kadang ia hadir dalam semangkuk mi halal yang menghangatkan musafir. Kadang ia hadir dalam senyum pedagang Xinjiang yang mempersilakan makan dengan ramah. Kadang pula ia hadir dalam lantunan doa di masjid kecil berornamen oriental di tengah kota metropolitan. Shanghai akhirnya mengajarkan satu hal penting kepada saya: sejauh apa pun kaki melangkah, Islam selalu punya cara untuk membelai hati orang-orang yang merindukan rumah.
Terus Berdampak, Dosen PBIO UMM Perkuat Budaya Publikasi di UIN Jurai Siwo Lampung

Metro, Lampung – Upaya memperkuat budaya publikasi ilmiah terus digalakkan oleh Program Studi Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Jurai Siwo Lampung. Salah satu langkah nyata diwujudkan melalui kegiatan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah: Strategi Publikasi di Jurnal Bereputasi yang menghadirkan narasumber dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Husamah, M.Pd. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 24–25 April 2026 ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa Tadris Biologi. Workshop ini dirancang tidak hanya sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pendampingan intensif dalam meningkatkan kualitas karya ilmiah peserta. Dekan Fakultas Tadris dan Ilmu Pendidikan, Dr. Siti Anisah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam meningkatkan kualitas akademik. Ia menjelaskan bahwa publikasi ilmiah saat ini menjadi indikator penting dalam pengembangan keilmuan dan reputasi akademik. “Aspek publikasi tidak bisa lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, tetapi harus menjadi budaya akademik yang kuat,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa kehadiran narasumber yang berpengalaman diharapkan mampu memberikan wawasan strategis bagi peserta. Workshop ini menghadirkan Dr. Husamah, seorang akademisi sekaligus praktisi publikasi ilmiah yang telah menghasilkan ratusan karya dan aktif sebagai reviewer di berbagai penerbit internasional. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa publikasi ilmiah bukanlah proses instan, melainkan harus dirancang sejak awal penelitian. Ia menyampaikan secara langsung, “Publikasi bukan sekadar menulis di akhir, tetapi harus dirancang sejak awal proses penelitian agar memiliki arah yang jelas.” Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu kunci keberhasilan publikasi adalah kesesuaian antara topik penelitian, jurnal tujuan, dan kebutuhan pembaca. Ia menilai banyak peneliti gagal menembus jurnal bereputasi karena tidak memperhatikan aspek tersebut. Dalam sesi yang sama, Dr. Husamah juga menguraikan tren publikasi ilmiah tahun 2026 yang semakin kompetitif. Ia menyebutkan bahwa kualitas metodologi, kebaruan penelitian, serta transparansi menjadi faktor utama yang menentukan diterima tidaknya sebuah artikel di jurnal bereputasi. Ia juga menyinggung perkembangan open access yang semakin luas, namun tetap perlu diwaspadai, terutama terkait biaya publikasi dan kredibilitas jurnal. Menurutnya, penulis harus lebih selektif dalam memilih jurnal agar tidak terjebak pada jurnal predator. Selain itu, dalam penjelasannya secara tidak langsung, ia menekankan pentingnya etika ilmiah sebagai fondasi utama dalam publikasi. Etika tersebut meliputi kejujuran data, transparansi, serta keadilan dalam penulisan nama penulis. Tidak hanya teori, workshop ini juga dilengkapi dengan sesi coaching clinic yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendiskusikan dan membedah artikel mereka secara langsung bersama narasumber. Kegiatan ini berlangsung pada hari kedua dan menjadi salah satu bagian paling diminati peserta. Peserta diberikan kesempatan untuk mendapatkan masukan langsung terkait struktur artikel, kesesuaian metode, hingga strategi memilih jurnal yang tepat. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam karya ilmiah mereka. Dalam sesi pendampingan tersebut, Dr. Husamah menyampaikan bahwa banyak kesalahan dalam penulisan artikel terjadi pada bagian dasar seperti pendahuluan dan metode. Ia menegaskan bahwa sebuah artikel yang baik harus memiliki gap analysis yang jelas serta metode yang dapat direplikasi. Ia juga menyampaikan, “Editor jurnal mencari pesan utama yang jelas dari sebuah artikel, mulai dari pertanyaan penelitian hingga kontribusi yang dihasilkan.” Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penulis harus mampu menyajikan hasil penelitian secara ringkas dan objektif, serta membahasnya secara mendalam dengan mengaitkan pada literatur yang relevan. Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta. Banyak di antara mereka mengaku mendapatkan wawasan baru terkait strategi publikasi ilmiah, khususnya dalam menghadapi tantangan publikasi di jurnal internasional. Secara keseluruhan, workshop ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga membangun kepercayaan diri peserta dalam menulis dan mempublikasikan karya ilmiah. Hal ini sejalan dengan tujuan kegiatan, yaitu meningkatkan kemampuan peserta dalam membaca tren publikasi, memahami etika ilmiah, serta menyiapkan artikel yang siap dipublikasikan. Melalui kegiatan ini, UIN Jurai Siwo Lampung menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya akademik berbasis riset dan publikasi. Kolaborasi dengan dosen dari UMM menjadi bukti nyata sinergi antar perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di Indonesia. Dengan terselenggaranya workshop ini, diharapkan lahir lebih banyak karya ilmiah berkualitas dari dosen dan mahasiswa yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Upaya ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam meningkatkan reputasi institusi melalui publikasi ilmiah yang berdampak luas.
Semakin Berdampak, Dosen Pendidikan Biologi UMM Bina Kurikulum OBE UNIRA

Kepanjen, 18 April 2026 — Upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi terus dilakukan melalui penguatan kurikulum berbasis luaran atau Outcome-Based Education (OBE). Hal ini tampak dalam kegiatan Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE yang diselenggarakan oleh Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Kepanjen Malang, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang berlangsung sehari penuh ini menghadirkan dua pemateri dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si, dan Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. Acara ini diikuti oleh seluruh dekan, wakil dekan, dan ketua program studi di lingkungan UNIRA. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Rektor UNIRA bersama Wakil Rektor I, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya transformasi kurikulum sebagai bagian dari peningkatan daya saing lulusan. Dalam sambutan pembukaannya, Rektor UNIRA menyampaikan bahwa revitalisasi kurikulum bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan kebutuhan strategis. Ia menegaskan, “Kurikulum OBE harus mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan dunia kerja. Lulusan tidak hanya dituntut menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kompetensi yang terukur dan relevan.” Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor I menambahkan bahwa keberhasilan implementasi OBE sangat ditentukan oleh komitmen seluruh sivitas akademika. Ia menyampaikan secara tidak langsung bahwa proses ini membutuhkan kerja kolektif, mulai dari perencanaan hingga evaluasi berkelanjutan. Sesi inti kegiatan diisi oleh pemaparan dari Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si, yang mengulas secara komprehensif konsep dasar hingga implementasi OBE dalam kurikulum perguruan tinggi. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya penyelarasan antara capaian pembelajaran lulusan (CPL), bahan kajian, strategi pembelajaran, serta sistem penilaian. “OBE menuntut kita berpikir dari hasil akhir. Apa yang harus dikuasai lulusan, itulah yang menjadi dasar dalam merancang seluruh proses pembelajaran,” ujarnya. Lebih lanjut, Prof. Eko juga menyoroti pentingnya integrasi antara aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam setiap mata kuliah. Ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa kurikulum yang baik adalah kurikulum yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membentuk karakter dan kompetensi nyata mahasiswa. Sementara itu, Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd dalam sesi berikutnya memberikan pendampingan teknis terkait penyusunan dokumen kurikulum OBE. Ia memaparkan langkah-langkah praktis mulai dari perumusan profil lulusan, penentuan CPL, hingga penyusunan matriks keterkaitan antar komponen kurikulum. Dalam penyampaiannya, Dr. Husamah menegaskan bahwa implementasi OBE harus berbasis data dan kebutuhan riil. “Kurikulum tidak boleh disusun secara normatif saja. Harus ada kajian kebutuhan pengguna lulusan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan tantangan global,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan OBE sangat bergantung pada konsistensi dalam pelaksanaan dan evaluasi. Secara tidak langsung, ia mengingatkan bahwa banyak institusi gagal dalam implementasi karena tidak melakukan monitoring dan perbaikan berkelanjutan. Kegiatan ini berlangsung interaktif, dengan banyak peserta yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan terkait kendala yang dihadapi dalam penyusunan dan implementasi kurikulum. Para dekan, wakil dekan, dan kaprodi tampak antusias menggali lebih dalam konsep OBE, terutama dalam konteks penyesuaian dengan karakteristik program studi masing-masing. Salah satu peserta menyampaikan secara langsung bahwa kegiatan ini sangat membuka wawasan dan memberikan kejelasan arah dalam pengembangan kurikulum. Ia mengungkapkan, “Kami jadi lebih memahami bagaimana menyusun kurikulum yang benar-benar berbasis luaran, bukan sekadar memenuhi format.” Selain itu, peserta lain juga menyampaikan secara tidak langsung bahwa kehadiran narasumber yang berpengalaman memberikan nilai tambah tersendiri, terutama dalam menjawab persoalan praktis yang selama ini dihadapi di tingkat program studi. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, UNIRA tidak berhenti pada tahap pelatihan saja. Akan dilakukan pendampingan intensif hingga setiap program studi berhasil menyusun dan mengimplementasikan kurikulum OBE secara utuh. Proses ini juga akan dikawal oleh Lembaga Penjamin Mutu (LPM) Universitas Raden Rahmat Kepanjen Malang guna memastikan kualitas dan konsistensi implementasi. Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa pendampingan ini menjadi bagian penting agar transformasi kurikulum tidak berhenti pada tataran konsep. Secara tidak langsung, mereka menegaskan bahwa perubahan yang diharapkan adalah perubahan nyata yang berdampak pada kualitas pembelajaran dan lulusan. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan UNIRA semakin siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi di era global. Kolaborasi dengan dosen-dosen UMM menjadi bukti bahwa sinergi antar perguruan tinggi dapat mempercepat peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa dosen Pendidikan Biologi UMM terus berkontribusi dan semakin berdampak dalam pengembangan pendidikan tinggi, tidak hanya di lingkungan internal, tetapi juga di berbagai perguruan tinggi mitra. Melalui pendampingan berkelanjutan, diharapkan kurikulum OBE di UNIRA benar-benar terimplementasi secara optimal dan menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, serta berdaya saing tinggi. Foto bersama kegiatan revitalisasi kurikulum OBE bersama dosen UNIRA
Belajar Langsung dari Praktisi: Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM Dalami Budidaya Anggrek di DD Orchid Nursery

Batu — Pembelajaran di kelas sering kali dianggap cukup untuk memahami konsep. Namun, pada kenyataannya, ilmu biologi—terutama yang berkaitan dengan budidaya—tidak akan benar-benar dikuasai tanpa praktik langsung di lapangan. Hal inilah yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM melalui kegiatan kuliah lapangan pada mata kuliah Budidaya Anggrek yang dilaksanakan di DD Orchid Nursery (Rabu/22 April 2026). Kegiatan ini menghadirkan praktisi langsung, Mas Dedek, yang dikenal sebagai pelaku usaha sekaligus pengelola DD Orchid Nursery. Kehadiran praktisi bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi inti dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Mahasiswa tidak hanya mendengar teori, tetapi melihat, menyentuh, dan memahami proses budidaya secara nyata. Sejak awal kegiatan, mahasiswa terlihat mengikuti sesi dengan serius. Dalam sesi pemaparan, Mas Dedek menjelaskan dasar-dasar budidaya anggrek, mulai dari pemilihan bibit, teknik perbanyakan, hingga perawatan tanaman agar memiliki nilai jual tinggi. Penjelasan dilakukan secara langsung dan lugas—ciri khas praktisi yang berbicara dari pengalaman, bukan sekadar teori. Tidak berhenti di situ, mahasiswa kemudian diajak masuk ke area nursery. Di sinilah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi. Mahasiswa mengamati berbagai tahap pertumbuhan anggrek, mulai dari kultur dalam botol hingga tanaman siap jual. Mereka juga diperlihatkan teknik aklimatisasi, yaitu proses penting dalam memindahkan tanaman dari kondisi steril ke lingkungan terbuka. Terlihat dalam kegiatan tersebut, mahasiswa aktif bertanya dan berdiskusi. Ini bukan suasana kelas yang pasif. Justru sebaliknya—interaksi berjalan dua arah. Mahasiswa mencoba mengaitkan konsep yang dipelajari di kampus dengan praktik yang mereka lihat langsung di lapangan. Dosen pengampu, Dr. Iin Hindun, M.Kes., turut hadir mendampingi jalannya kegiatan. Kehadiran beliau bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penguat jembatan antara teori dan praktik. Dalam beberapa kesempatan, beliau memberikan penegasan terhadap konsep-konsep ilmiah yang muncul selama praktik berlangsung, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami “bagaimana”, tetapi juga “mengapa”. Jika diperhatikan dari rangkaian kegiatan, ada pola pembelajaran yang jelas: observasi – praktik – refleksi. Pola ini jauh lebih efektif dibandingkan pembelajaran satu arah di kelas. Mahasiswa tidak hanya menghafal, tetapi membangun pemahaman. Di area greenhouse, mahasiswa diperlihatkan berbagai jenis anggrek dengan karakteristik yang berbeda. Mereka belajar bahwa setiap jenis memiliki kebutuhan lingkungan yang spesifik—mulai dari intensitas cahaya, kelembaban, hingga media tanam. Hal-hal seperti ini sering kali luput jika hanya dipelajari dari buku. Selain aspek teknis, mahasiswa juga mendapatkan wawasan kewirausahaan. Mas Dedek menjelaskan bagaimana budidaya anggrek dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Ini penting, mengingat lulusan Pendidikan Biologi tidak hanya diarahkan menjadi pendidik, tetapi juga memiliki peluang sebagai bioedupreneur. Menariknya, di akhir sesi, setiap mahasiswa diberikan satu tanaman anggrek. Ini bukan sekadar simbolis. Ada pesan yang jelas: pembelajaran tidak berhenti di lokasi praktik. Mahasiswa diharapkan melanjutkan proses belajar secara mandiri melalui perawatan tanaman tersebut. Pendekatan seperti ini patut dipertahankan. Terlalu banyak pembelajaran yang berhenti di ruang kelas tanpa pernah diuji di lapangan. Padahal, dalam bidang biologi, realitas di lapangan sering kali jauh lebih kompleks dibandingkan teori. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi memiliki dampak nyata. Kampus tidak bisa berjalan sendiri jika ingin menghasilkan lulusan yang benar-benar siap menghadapi dunia kerja. Sebaliknya, praktisi juga membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman dan memperkuat jejaring dengan dunia akademik. Melalui kegiatan ini, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Bukan sekadar mencetak lulusan yang tahu teori, tetapi yang mampu bekerja, beradaptasi, dan bahkan menciptakan peluang. Singkatnya, ini bukan hanya kuliah lapangan biasa. Ini adalah bentuk pembelajaran yang mendekati realitas—dan itu yang sebenarnya dibutuhkan mahasiswa hari ini.
Tim Dosen UMM Dampingi Warga Tulungrejo Kembangkan Keterampilan Batik Shibori Kreatif

Batu — Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan pembuatan batik Shibori berlangsung meriah di Aula Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu pada Selasa 27 Januari 2026. Program ini diselenggarakan oleh tim dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat melalui penguatan keterampilan praktis yang berpotensi meningkatkan ekonomi kreatif desa. Tim pengabdian yang terlibat terdiri dari Dra. Siti Zaenab, M.Kes., Dra. Sri Wahyuni, M.Kes., Muhammad Rifky Ardiansyah, serta Mochamad Iffan. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa keilmuan biologi dapat diimplementasikan secara luas, termasuk dalam inovasi produk berbasis teknik pewarnaan dan tekstil yang ramah lingkungan serta memiliki nilai jual. Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Ia menilai kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat menjadi langkah penting dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia desa. Menurutnya, kegiatan pelatihan seperti ini memberi manfaat nyata bagi warga sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah desa siap membuka peluang kerja sama lanjutan dengan perguruan tinggi guna menghadirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, kegiatan pelatihan mampu memotivasi warga untuk berinovasi serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam membangun usaha mandiri berbasis potensi lokal. Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang hadir melebihi target awal. Jika semula pelatihan dirancang untuk 18 peserta, jumlah warga yang mengikuti kegiatan hingga selesai mencapai 23 orang. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan minat masyarakat Tulungrejo terhadap pengembangan keterampilan baru, khususnya di bidang kerajinan tekstil kreatif. Dalam sesi penyampaian materi, Dra. Siti Zaenab menjelaskan bahwa teknik Shibori merupakan metode pewarnaan kain yang dilakukan melalui proses pelipatan, pengikatan, atau penjepitan kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Ia menuturkan bahwa teknik tersebut relatif mudah dipelajari, namun mampu menghasilkan motif yang unik dan memiliki nilai estetika tinggi. Ia menjelaskan bahwa tujuan pelatihan ini adalah memberikan keterampilan yang dapat langsung dipraktikkan oleh masyarakat serta berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan. Dengan teknik yang sederhana, masyarakat dapat menghasilkan produk kreatif yang memiliki peluang pasar. Sementara itu, Dra. Sri Wahyuni menerangkan bahwa metode pelatihan dirancang berbasis praktik langsung dengan pendekatan partisipatif. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mencoba berbagai teknik lipatan dan ikatan agar mampu menciptakan motif berbeda. Ia menilai kreativitas peserta menjadi faktor utama dalam menghasilkan produk Shibori yang menarik dan bernilai jual. Suasana pelatihan berlangsung dinamis. Aula desa dipenuhi aktivitas peserta yang melipat kain, mengikat menggunakan karet maupun tali, hingga melakukan proses pencelupan warna. Tim dosen secara intensif memberikan pendampingan pada setiap tahapan, mulai dari persiapan bahan, teknik pewarnaan, hingga proses akhir atau finishing produk. Hasil pelatihan menunjukkan capaian menggembirakan. Seluruh peserta berhasil menghasilkan karya batik Shibori dengan karakter motif yang beragam. Ada motif lingkaran simetris, garis-garis dinamis, hingga pola abstrak yang artistik. Variasi ini menunjukkan bahwa meskipun menggunakan teknik dasar yang sama, setiap peserta mampu mengekspresikan kreativitasnya secara berbeda. Muhammad Rifky Ardiansyah menilai hasil produk awal peserta sudah cukup baik dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Ia menjelaskan bahwa dengan latihan berkelanjutan serta peningkatan kualitas pengemasan dan strategi pemasaran, produk Shibori dari Tulungrejo dapat bersaing di pasar lokal maupun kawasan wisata Kota Batu. Mochamad Iffan juga mendorong peserta untuk terus mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan usaha kreatif tidak hanya bergantung pada pelatihan awal, tetapi pada konsistensi serta inovasi produk yang terus dilakukan. Ia menyampaikan secara langsung bahwa apabila pelatihan terus diikuti dengan praktik dan pengembangan produk, bukan tidak mungkin Desa Tulungrejo memiliki produk Shibori unggulan yang dikenal luas oleh masyarakat maupun wisatawan. Antusiasme peserta terlihat hingga akhir kegiatan. Sejumlah warga bahkan mengusulkan agar pelatihan serupa kembali diadakan dengan materi lanjutan maupun teknik pewarnaan lain. Permintaan tersebut menjadi indikator bahwa program ini mampu membangkitkan semangat belajar sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Menanggapi hal tersebut, tim pengabdian Pendidikan Biologi FKIP UMM menyatakan komitmennya untuk melakukan pendampingan berkelanjutan. Program lanjutan direncanakan dilakukan melalui skema daring dan luring. Pendampingan daring akan memanfaatkan media komunikasi digital untuk konsultasi dan monitoring perkembangan produk, sementara kunjungan langsung ke desa akan dilakukan secara berkala untuk evaluasi dan penguatan keterampilan warga. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan puluhan produk batik Shibori, tetapi juga menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa. Keterlibatan aktif tim dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat merupakan bagian penting dari kontribusi akademisi dalam mendukung kemandirian desa. Dengan sinergi yang terus terjalin, Desa Tulungrejo diharapkan mampu mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya secara berkelanjutan. Batik Shibori yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan, tetapi menjadi simbol kreativitas, kolaborasi, serta harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Perkuat Publikasi, PBio UMM Jalin Kerjasama dengan HPPBI dan KPBI

Solo — Upaya memperkuat jejaring publikasi ilmiah dan kolaborasi akademik terus dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (PBio UMM). Langkah terbaru diwujudkan melalui pertemuan strategis bersama Himpunan Peneliti dan Pendidik Biologi Indonesia (HPPBI) serta Konsorsium Pendidikan Biologi Indonesia (KPBI) pada Senin, 9 Februari 2026, bertempat di ruang Program Studi Magister (S2) Pendidikan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS). Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membangun sinergi dalam pengelolaan jurnal ilmiah, peningkatan kualitas publikasi, serta perluasan jejaring kolaborasi riset dan pendidikan biologi di tingkat nasional. Delegasi Pendidikan Biologi UMM diwakili oleh Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dan Ahmad Fauzi, S.Pd., M.Pd., yang turut berdiskusi langsung dengan para pengurus organisasi profesi tersebut. Fokus utama kerjasama diarahkan pada penguatan pengelolaan jurnal ilmiah yang selama ini menjadi salah satu pilar kontribusi PBio UMM dalam pengembangan pendidikan dan penelitian biologi. Tiga jurnal yang menjadi perhatian dalam kerjasama ini adalah JPBI (Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia) serta GTLabs (Green and Tropical Laboratory for Sustainability) yang dikelola Program Studi S1 Pendidikan Biologi UMM, serta Jurnal RaDEn (Research and Development in Education) yang dikelola Program Studi Magister Pendidikan Biologi UMM. Ketua HPPBI, Murni Ramli, SP, M.Si., Ed.D., dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi dalam meningkatkan kualitas publikasi ilmiah nasional. Ia menyampaikan bahwa jurnal-jurnal pendidikan biologi Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi rujukan internasional apabila dikelola secara kolaboratif dan konsisten menjaga standar mutu publikasi. “Kolaborasi ini sangat penting karena tantangan publikasi ilmiah sekarang bukan hanya soal kuantitas artikel, tetapi bagaimana memastikan kualitas penelitian dan relevansinya bagi perkembangan pendidikan biologi di Indonesia,” ujar Murni Ramli. Ia juga menambahkan bahwa HPPBI siap menjadi mitra strategis dalam mendukung proses peningkatan kualitas jurnal, mulai dari penguatan jaringan reviewer, peningkatan kapasitas editor, hingga kolaborasi riset lintas institusi. Menurutnya, kerja sama seperti ini dapat mempercepat peningkatan reputasi jurnal-jurnal nasional di kancah internasional. Senada dengan hal tersebut, Ketua KPBI, Dr. Bowo Sugiharto, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa pengelolaan jurnal saat ini harus berorientasi pada kolaborasi nasional, bukan sekadar kerja individual perguruan tinggi. Ia menilai langkah PBio UMM menggandeng organisasi profesi dan konsorsium pendidikan biologi merupakan strategi yang tepat dalam menghadapi tantangan publikasi global. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa konsorsium siap memperluas jejaring kolaborasi penelitian antar perguruan tinggi agar jurnal yang dikelola tidak hanya menerima artikel dari institusi tertentu, tetapi menjadi wadah nasional bagi para akademisi pendidikan biologi. “Kami berharap kerjasama ini dapat menjadi model kolaborasi nasional dalam penguatan jurnal pendidikan biologi sehingga kualitas publikasi Indonesia semakin diakui secara internasional,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Program Studi Pendidikan Biologi UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi penguatan reputasi akademik program studi. Ia menegaskan bahwa pengelolaan jurnal ilmiah bukan hanya soal penerbitan artikel, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab akademik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan bahwa PBio UMM selama ini berkomitmen menjaga kualitas jurnal melalui proses editorial yang ketat serta peningkatan jejaring penulis dan reviewer internasional. Namun demikian, kolaborasi nasional tetap diperlukan agar proses pengembangan jurnal dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Menurutnya, keterlibatan organisasi profesi dan konsorsium akan membantu meningkatkan visibilitas jurnal serta memperluas kontribusi akademisi di berbagai daerah. Ia juga menekankan bahwa sinergi ini menjadi peluang besar bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam publikasi ilmiah berkualitas. Pertemuan berlangsung dalam suasana diskusi yang produktif, di mana berbagai peluang kerjasama lanjutan turut dibahas, termasuk program pelatihan editorial, workshop publikasi internasional, serta peluang riset kolaboratif antar institusi. Dr. Husamah, yang hadir mewakili PBio UMM, menilai pertemuan ini sebagai langkah awal untuk membangun jejaring publikasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa penguatan jurnal tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kolaborasi nasional agar kualitas publikasi ilmiah Indonesia mampu bersaing secara global. Ahmad Fauzi menambahkan bahwa dukungan organisasi profesi akan membantu memperluas jaringan penulis dan reviewer sehingga kualitas artikel yang diterbitkan dapat terus meningkat. Pertemuan ini juga diharapkan menjadi awal kerja sama jangka panjang antara PBio UMM, HPPBI, dan KPBI dalam berbagai program pengembangan pendidikan biologi, termasuk penguatan riset berbasis kebutuhan masyarakat dan pengembangan pembelajaran inovatif di perguruan tinggi maupun sekolah. Dengan terjalinnya kerjasama ini, PBio UMM optimistis bahwa pengelolaan jurnal ilmiah yang dikelola program studi akan semakin kuat, profesional, serta memiliki jangkauan pembaca yang lebih luas. Sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi akademisi dalam pengembangan pendidikan biologi di masa depan. Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen PBio UMM untuk terus berperan aktif dalam pengembangan publikasi ilmiah nasional serta memperkuat posisi pendidikan biologi Indonesia di tingkat global melalui kolaborasi dan inovasi berkelanjutan.
Dosen UMM Dampingi Guru SMPAM 3 Malang Terapkan Model OIDDE untuk Penguatan Pembelajaran Mendalam

Malang — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak 5 Februari 2026 memulai program pendampingan bagi guru-guru SMP Aisyiyah Muhammadiyah (SMPAM) 3 Kota Malang guna meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di sekolah tersebut. Program ini mengintegrasikan penerapan model pembelajaran OIDDE dengan pendekatan lesson study dan konsep deep learning, sehingga diharapkan mampu memperkuat proses belajar mengajar secara lebih bermakna dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa. Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UMM tahun pelaksanaan 2025–2026 yang memperoleh pendanaan internal universitas. Seluruh unsur pimpinan sekolah beserta para guru mengikuti kegiatan dengan antusias sejak sesi awal berlangsung. Atok, salah satu pengembang model pembelajaran OIDDE, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan strategi pembelajaran yang mampu mendorong peserta didik berpikir kritis, meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi, sekaligus menumbuhkan kesadaran etika serta nilai moral dalam proses belajar. Ia menambahkan bahwa ilmu dan pengalaman yang dibagikan diharapkan dapat langsung diterapkan oleh para guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Semula, kegiatan dirancang hanya berupa pelatihan penerapan model OIDDE. Namun, atas usulan pihak sekolah, khususnya Kepala Sekolah Husnul Khotimah bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Akhmad Fakhrur Rouzi, materi lesson study turut dimasukkan sehingga program berkembang menjadi pelatihan terpadu yang mengombinasikan OIDDE, lesson study, dan prinsip deep learning. Dalam sesi pembuka, para peserta menunjukkan ketertarikan tinggi ketika pemateri menjelaskan konsep dasar, tahapan implementasi, hingga dampak akademik maupun pembentukan karakter siswa melalui model tersebut. Sejumlah guru menilai pendekatan ini berpotensi membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Fakhrur yang juga mengikuti kegiatan sebagai peserta menilai keunggulan model ini terletak pada tahap pengambilan keputusan dan keterlibatan perilaku siswa, aspek yang menurutnya jarang ditemukan pada model pembelajaran lain dan sangat relevan untuk mendukung penguatan karakter, termasuk pada pembelajaran keagamaan. Program pendampingan direncanakan berlangsung hingga April 2026. Tahapan berikutnya meliputi pelatihan lanjutan mengenai lesson study, pendalaman konsep deep learning, serta penyusunan perangkat pembelajaran yang akan langsung diimplementasikan guru di kelas masing-masing. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-smpam-3-malang-dibekali-model-pembelajaran-oidde-untuk-dukung-deep-learning/
Dosen UMM Tingkatkan Kompetensi Guru IPA SMP Muhammadiyah Batu melalui Pelatihan Pembuatan Preparat Histologi

Batu — Guru-guru IPA SMP Muhammadiyah Kota Wisata Batu (KWB) mengikuti pelatihan pembuatan preparat histologi yang diselenggarakan pada Senin (2/2/2026) di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dipandu oleh tim dosen Program Studi Biologi UMM sebagai upaya memperkuat keterampilan praktikum guru di sekolah. Pelatihan bertujuan membekali para guru dengan kemampuan menyusun preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam pembelajaran dan praktikum IPA tingkat SMP. Selama ini, ketersediaan preparat di sekolah masih terbatas karena proses pembuatannya relatif kompleks dan belum banyak dikuasai oleh tenaga pendidik. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemandirian sekolah dalam menyediakan media praktikum berkualitas. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti setiap tahapan pelatihan. Sri Wahyuni, pakar histologi anatomi dari Program Studi Biologi UMM sekaligus narasumber utama, menjelaskan bahwa pembuatan preparat dilakukan melalui beberapa tahapan penting, mulai dari penyiapan bahan sesuai metode yang digunakan. Tahapan tersebut mencakup proses fiksasi, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi, pengeblokan, pemotongan jaringan pada metode section, pewarnaan, hingga proses mounting dan pelabelan preparat sebelum digunakan sebagai media pembelajaran. Pada pelatihan ini, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan bahan pewarna alami yang diperoleh dari tanaman morning glory yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Metode praktikum awal yang dilatihkan meliputi teknik apus darah aves serta metode whole mount pada jaringan tumbuhan. Nurwidodo menambahkan bahwa pemanfaatan bahan alami dalam pelatihan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan potensi lingkungan sekitar yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPA. Pelatihan mendapat tanggapan positif dari para peserta. Cantia, guru SMP Muhammadiyah 8 KWB, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantu meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan dalam penyediaan preparat, terutama untuk mendukung pengelolaan laboratorium IPA di sekolahnya. Pendapat serupa disampaikan oleh Iin Hindun yang menilai keterampilan membuat preparat awetan sangat penting karena objek tersebut menjadi sumber utama dalam mempelajari struktur jaringan tumbuhan dan hewan secara faktual dalam pembelajaran IPA. Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu, Windra Rizkiana, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menilai kemampuan guru dalam menghasilkan preparat secara mandiri akan membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien. Ia juga menilai hasil preparat yang dihasilkan selama pelatihan memiliki kualitas baik dengan warna kontras sehingga struktur jaringan mudah diamati. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen dosen Program Studi Pendidikan Biologi UMM dalam mendukung peningkatan kualitas layanan laboratorium pendidikan di sekolah. Melalui pelatihan ini, sekolah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan media pembelajaran secara mandiri dan memperkuat kualitas pembelajaran IPA di kelas. Berita ini telah tayang pada: https://pwmu.co/dosen-prodi-biologi-fkip-umm-latih-guru-ipa-smp-muhammadiyah-kwb-membuat-preparat-histologi/