Guru yang Tidak Dilindungi

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Guru adalah pilar penting dalam masyarakat, seorang pencerah yang berperan sentral dalam membangun peradaban. Mereka adalah individu yang mencurahkan waktunya untuk mendidik, membentuk karakter, serta mempersiapkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan cakap dalam menjalani tugas mereka di masa depan. Tanpa dedikasi guru, sulit membayangkan kemajuan suatu bangsa. Profesi guru, yang begitu mulia dan penuh jasa, seharusnya mendapat perlindungan dan penghargaan dari semua pihak. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya: guru sering kali menjadi korban kekerasan, baik dari siswa maupun orang tua maupun pihak lain, dengan dalih melindungi hak anak. Kejadian kekerasan terhadap guru kian marak terdengar di media. Pada September 2023, seorang siswa di Demak, Jawa Tengah, menganiaya gurunya. Lalu, ada kasus kriminalisasi guru di Kabupaten Sumbawa Barat yang melibatkan Akbar Soerasa, seorang guru yang dijadikan tersangka dalam sebuah konflik. Baru-baru ini, kasus kekerasan terhadap guru kembali mencuat, kali ini melibatkan Supriyani, seorang guru honorer di Konawe Selatan, Sulawesi Selatan. Supriyani dituduh melakukan pemukulan terhadap seorang siswa dan bahkan ditahan karena ketidakmampuannya membayar uang damai. Peristiwa-peristiwa ini menjadi potret suram dunia pendidikan kita, di mana guru, pencerah peradaban, justru tak terlindungi. Guru sejatinya merupakan sosok yang mengemban tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tugas ini tidaklah mudah, karena mereka harus berhadapan dengan berbagai karakter dan latar belakang siswa yang berbeda. Dalam proses pembelajaran, sering kali guru perlu memberikan peringatan atau teguran untuk mendisiplinkan siswa. Sayangnya, tindakan yang bertujuan untuk mendidik ini sering kali disalahartikan sebagai bentuk kekerasan oleh siswa atau orang tua, tanpa mempertimbangkan konteks pendidikan yang diemban oleh guru tersebut. Beberapa kasus yang mencuat menunjukkan bahwa kekerasan terhadap guru bukanlah hal yang sepele dan perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Para guru, yang telah berdedikasi mendidik dan mengarahkan generasi penerus bangsa, menjadi korban kekerasan fisik maupun psikologis. Tak jarang mereka merasa tidak aman saat berada di lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi mereka. Hal ini tentu berdampak pada kualitas pendidikan yang diberikan. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mengajar dengan optimal jika mereka berada dalam ancaman dan tekanan? Ketiadaan perlindungan hukum yang komprehensif bagi guru menjadi salah satu akar masalah ini. Hingga kini, belum ada undang-undang khusus yang melindungi guru dari tindak kekerasan dan kriminalisasi. Guru masih sangat rentan terhadap tuntutan hukum ketika mereka mengambil tindakan untuk mendisiplinkan siswa. Di sinilah urgensi pembentukan Undang-Undang Perlindungan Guru sangat terasa. Kehadiran undang-undang ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi guru dalam menjalankan tugas mereka, serta menjamin penghargaan yang layak bagi profesi guru. Dengan adanya perlindungan hukum yang jelas, guru dapat lebih fokus menjalankan tugas mereka tanpa takut diancam atau dikriminalisasi. Namun, perlindungan hukum saja tentu tidak cukup. Guru juga perlu berusaha menciptakan lingkungan kelas yang positif dan aman melalui praktik manajemen kelas yang efektif. Dalam sebuah dokumen yang diterbitkan oleh American Psychological Association berjudul Understanding and Preventing Violence Directed Against Teachers: Recommendations for National Research, Practice and Policy Agenda (2016), terdapat berbagai rekomendasi untuk mengelola kelas dengan baik. Guru disarankan untuk menetapkan peraturan kelas dengan jelas, konsisten terhadap aturan yang sudah disepakati, memberikan penghargaan kepada siswa yang berperilaku positif, serta menunjukkan kepedulian terhadap siswa. Selain itu, guru juga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat pilihan yang bermakna dalam pembelajaran. Semua ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang positif antara guru dan siswa, yang pada akhirnya dapat meminimalisasi konflik di dalam kelas. Di sisi lain, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung tugas guru. Banyaknya kasus kekerasan terhadap guru yang melibatkan orang tua menunjukkan adanya ketidakpahaman mereka terhadap tugas dan tanggung jawab guru. Orang tua seharusnya bijak dalam menanggapi tindakan guru dalam mendidik siswa. Mereka perlu memahami bahwa dalam proses pendidikan, disiplin merupakan hal yang penting. Orang tua harus mampu membedakan antara tindakan mendidik yang bertujuan untuk kebaikan siswa dan tindakan kekerasan yang memang merugikan siswa. Dengan cara ini, perselisihan antara guru dan orang tua dapat diminimalisasi. Untuk mencapai pemahaman yang baik antara guru, siswa, dan orang tua, komunikasi yang efektif antara sekolah dan keluarga sangat penting. Sekolah perlu menjalin hubungan yang erat dengan para orang tua agar mereka memahami proses pendidikan yang diterapkan. Komite sekolah bisa menjadi sarana untuk menjembatani komunikasi antara orang tua dan pihak sekolah. Dengan adanya forum komunikasi ini, diharapkan orang tua dapat menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka secara langsung dan terbuka, sehingga konflik dapat diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan tindakan kekerasan atau kriminalisasi. Akhirnya, adanya perlindungan hukum yang komprehensif bagi guru merupakan sebuah keharusan, agar mereka merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas mereka. Pun demikian, guru juga perlu mengembangkan manajemen kelas yang baik untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Orang tua pun harus menjadi mitra yang baik bagi guru dengan mendukung dan memahami tugas yang mereka emban. Dengan sinergi dari semua pihak, kita bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, nyaman, dan harmonis. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Guru yang Tak Dilindungi, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/guru-yang-tak-dilindungi
Konsisten Berliterasi, SMP Muhasa Malang Rilis Antologi Puisi

SMP Muhammadiyah 1 Malang, yang dikenal luas sebagai SMP Muhasa, terus menunjukkan komitmen dalam mendukung pengembangan budaya literasi. Terbaru, sekolah berprestasi ini meluncurkan antologi puisi bertajuk Bingung Demokrasi, sebuah karya kolektif yang lahir dari kolaborasi antara siswa dan guru. Peluncuran antologi ini, menjadi bukti nyata bahwa SMP Muhasa serius menggarap literasi sebagai bagian dari identitas sekolah. Kepala SMP Muhasa, Yanur Setyaningrum, M.Pd, yang juga turut menyumbang karya dalam antologi ini, menyampaikan kebanggaannya. “Karya ini ditulis dengan penuh ketulusan, kreativitas, dan semangat eksplorasi. Kami berharap buku ini dapat menginspirasi pembaca untuk lebih memahami makna demokrasi dalam kehidupan mereka dan bagaimana puisi bisa menjadi media yang efektif untuk mengekspresikan nilai-nilai tersebut,” ujarnya. Antologi ini, merupakan karya kedua hasil kolaborasi antara siswa dan guru, yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya demokrasi dan nilai-nilai kemanusiaan melalui puisi. “Semoga antologi ini menjadi saksi dari kekuatan kata dalam menggerakkan hati dan pikiran menuju perubahan,” tegasnya. Prof. Dr. Yuni Pantiwati, M.Pd, guru besar Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang selama ini mendampingi penguatan literasi di SMP Muhasa, turut mengungkapkan apresiasinya. “Saya sangat bangga dengan pencapaian ini. Literasi harus terus digalakkan, bukan hanya sebagai semboyan, tetapi diwujudkan melalui karya nyata seperti ini,” tuturnya. Penerbitan Bingung Demokrasi juga didukung oleh PT Nyala Masadepan Indonesia, Surakarta. Lenang Manggala, Founder Nyalanesia, dalam pengantarnya menegaskan pentingnya peran sekolah dalam mendobrak paradigma pendidikan. “Sekolah bukan hanya tempat menggiling buku paket dan ujian, tetapi juga ruang untuk siswa dan guru mencipta ide-ide orisinil dan mengekspresikannya. Buku ini adalah bukti nyata bahwa kita memiliki sekolah-sekolah yang dapat diandalkan untuk memajukan pendidikan di negeri ini,” tandasnya. Peluncuran ini menegaskan, posisi SMP Muhasa sebagai pelopor literasi di Kota Malang, menjadikan sekolah ini tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang kreatif bagi seluruh warganya untuk mencipta dan berbagi gagasan. “Dengan karya-karya seperti Bingung Demokrasi, SMP Muhasa membuktikan bahwa literasi bisa menjadi fondasi kuat dalam membangun generasi yang kritis, kreatif, dan peduli terhadap demokrasi,” tukasnya. Artikel ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/konsisten-berliterasi-smp-muhasa-malang-rilis-antologi-puisi/
UMM dan Kemendikbudristek Gelar Program Pendampingan Pemulihan Pembelajaran di Probolinggo dan Pasuruan

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen), menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam upaya penguatan literasi dan numerasi sebagai bagian dari strategi pemulihan pembelajaran di Indonesia. Program ini dijalankan oleh Direktorat Sekolah Dasar melalui Project Management Office (PMO) PDM 10 di bawah pengawasan Supervisor PDM 10, Dr Muhammad Hasbi, yang sebelumnya pada akhir Agustus 2024 lalu, diadakan penandatanganan kerja sama antara Kemendikbudristek dan UMM yang dihadiri oleh Wakil Rektor 4 UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD. Dengan ditandatangani kerjasama ini, menandai awal kolaborasi yang bertujuan mendampingi 12 satuan pendidikan di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan, yakni terdiri dari 6 Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 6 Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satu anggota tim dosen FKIP UMM, Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi mengungkapkan bahwa, “Program ini berfokus pada penguatan dua siklus kegiatan komunitas belajar antar satuan pendidikan,” katanya pada KLIKMU.CO, Rabu (6/11/2024). Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM tersebut berharap bahwa kegiatan ini dapat memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa, yang selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang humanis, relevan, dan holistik. Senada dengan Prof Dr Ribut Wahyu Eriyanti, anggota tim dosen lainnya, menambahkan, “Dengan pendekatan pendidikan yang memerdekakan, siswa ditempatkan sebagai pusat pembelajaran, yang tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga membangun karakter dan kesadaran sosial mereka,” ujarnya. Dalam pelaksanaan program, UMM juga menyediakan tenaga ahli untuk memberikan pendampingan kepada para guru dan siswa di wilayah tersebut. Program ini didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan yang menyambut baik langkah ini sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya. Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo, mengatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk mencapai transformasi pembelajaran di Indonesia, di mana literasi dan numerasi menjadi dasar penting agar siswa mandiri, berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan dunia nyata. Sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang terjalin, pada 12 Oktober 2024, UMM menerima piagam penghargaan atas kontribusinya dalam penguatan literasi dan numerasi di Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan. Penghargaan tersebut diserahkan dalam sebuah acara yang dihadiri oleh Wakil Dekan (Wadek 1) FKIP UMM, Prof Dr Sugiarti MSi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam aspek literasi dan numerasi, serta menjadi model bagi universitas lain untuk turut berkontribusi dalam pemulihan pendidikan pasca-pandemi. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/umm-bersama-kemendikbudristek-laksanakan-program-pendampingan-pemulihan-pembelajaran-di-probolinggo-dan-pasuruan/
Tatkala Prabowo Mengembalikan Pendidikan ke Rumahnya

Oleh: Dr Husamah Dosen di Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Presiden Prabowo Subianto, dalam kabinetnya, menunjuk beberapa tokoh Muhammadiyah untuk memimpin sektor pendidikan. Di antaranya adalah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., yang dilantik sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen). Abdul Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, adalah sosok yang telah lama dikenal sebagai akademisi dan pendidik yang berkompeten serta memiliki visi luas tentang pendidikan nasional. Selain Prof. Abdul Mu’ti, Presiden Prabowo juga menunjuk Dr. Fajar Riza Ulhaq, M.Si., sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Dr. Fajar Riza Ulhaq sebelumnya aktif di Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis PP Muhammadiyah sebagai ketua dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah pada periode 2015-2020. Pengalamannya di bidang pendidikan dan hukum membuatnya menjadi sosok yang tepat untuk memimpin dan mengembangkan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Untuk jabatan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Presiden Prabowo mempercayakan Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada periode 2016-2024. Prof Fauzan dikenal sebagai akademisi yang memiliki segudang pengalaman dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Di bawah kepemimpinannya, UMM berkembang pesat dan dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, bahkan dunia. Kiprah Muhammadiyah dalam Pendidikan Pendidikan adalah pilar penting dalam pembangunan suatu bangsa. Di Indonesia, peran pendidikan menjadi semakin krusial seiring dengan tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat. Presiden Prabowo Subianto, dalam upayanya membangun sistem pendidikan yang lebih baik dan merakyat, mengambil langkah berani dengan mempercayakan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan. Langkah ini bukan hanya tentang menunjuk orang-orang kompeten, tetapi juga sebuah simbolisme, mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” yang sejatinya sudah lama menjadi bagian dari perjuangan Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, telah lama berkontribusi dalam membangun dan mengembangkan sektor pendidikan. Didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad lalu, organisasi ini tidak hanya fokus pada aspek keagamaan tetapi juga berupaya membentuk generasi cerdas melalui pendirian lembaga pendidikan. Dari tingkat TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi, Muhammadiyah membuktikan diri sebagai pelopor dalam penyediaan pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Hingga saat ini, Muhammadiyah telah mendirikan lebih dari 4.600 TK dan TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran), serta lebih dari 3.300 sekolah dasar dan menengah di seluruh penjuru tanah air. Rinciannya mencakup 1.094 sekolah dasar (SD), 1.128 sekolah menengah pertama (SMP), 558 sekolah menengah atas (SMA), dan 554 sekolah menengah kejuruan (SMK). Tidak hanya di dalam negeri, Muhammadiyah juga memperluas kiprahnya ke luar negeri dengan mendirikan lembaga pendidikan seperti Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia College (MAC), hingga sekolah-sekolah darurat untuk pengungsi Palestina di Lebanon. Dengan jumlah perguruan tinggi yang mencapai 122, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam membangun generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik. Tidak heran, jutaan siswa dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di sekolah dan kampus Muhammadiyah tidak hanya berasal dari kalangan simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama dan ormas Islam lainnya. Mengembalikan Pendidikan ke “Rumahnya” Kepercayaan Presiden Prabowo kepada para tokoh Muhammadiyah ini tidak hanya sekadar penunjukan jabatan, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam. Muhammadiyah, sebagai organisasi yang sejak awal berfokus pada pendidikan, dapat dikatakan sebagai salah satu “rumah” bagi pendidikan di Indonesia. Melalui sejarah panjangnya, Muhammadiyah telah membuktikan dedikasinya dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan merakyat. Dengan menempatkan para tokoh Muhammadiyah di posisi penting di bidang pendidikan, Presiden Prabowo sejatinya “mengembalikan” pendidikan Indonesia ke entitas yang telah lama berkontribusi dan berperan signifikan dalam membentuk generasi bangsa. Keputusan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kontribusi Muhammadiyah, yang selama lebih dari 112 tahun telah mendirikan ribuan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Langkah Presiden Prabowo menunjuk tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan adalah sebuah ikhtiar untuk memastikan pendidikan Indonesia dikelola oleh orang-orang yang memang memiliki rekam jejak dan dedikasi di bidang tersebut. Sosok-sosok seperti Prof Abdul Mu’ti, Dr Fajar Riza Ulhaq, dan Prof Fauzan adalah contoh tokoh yang telah lama berkecimpung dan memiliki pemahaman mendalam tentang sistem pendidikan di Indonesia. Dengan pengalaman yang mereka miliki, diharapkan mereka mampu membawa perubahan positif dan inovasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Inklusif, Berdaya Saing, Menghadapi Globalisasi Langkah ini juga menunjukkan visi Presiden Prabowo untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing. Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi yang terbuka terhadap semua golongan, agama, dan latar belakang. Para siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berasal dari simpatisan Muhammadiyah saja, tetapi juga dari berbagai latar belakang agama lain, menunjukkan bahwa pendidikan yang ditawarkan bersifat inklusif dan universal. Dengan menempatkan tokoh Muhammadiyah di posisi strategis, Prabowo menunjukkan komitmennya untuk mempertahankan inklusivitas ini dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan tidak boleh menjadi alat segregasi atau eksklusivitas, tetapi harus menjadi ruang di mana semua anak bangsa bisa belajar dan berkembang bersama tanpa melihat latar belakang agama, ras, atau status sosial. Namun, tugas para tokoh Muhammadiyah ini tidaklah mudah. Di era globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, sistem pendidikan Indonesia harus mampu beradaptasi dan berkembang dengan cepat. Tantangan yang dihadapi sangat kompleks, mulai dari pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas guru, hingga pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Muhammadiyah, dengan pengalaman panjangnya di bidang pendidikan, diharapkan mampu memberikan solusi dan inovasi untuk menghadapi tantangan ini. Kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah adalah kunci untuk menciptakan sistem pendidikan yang tangguh, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Akhirnya, tatkala Presiden Prabowo mengembalikan pendidikan ke “rumahnya” melalui penunjukan tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai pemimpin di sektor pendidikan, ia sejatinya menunjukkan penghormatan terhadap sejarah panjang dan kontribusi Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Langkah ini adalah sebuah ikhtiar menugaskan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat, dengan harapan membawa pendidikan Indonesia menuju arah yang lebih baik, inklusif, dan berdaya saing. Muhammadiyah, dengan rekam jejak dan dedikasinya, memiliki potensi besar untuk mewujudkan visi tersebut, menciptakan generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan bermoral tinggi. Dari Muhammadiyah untuk bangsa! Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/tatkala-prabowo-mengembalikan-pendidikan-ke-rumahnya/
Dosen UMM Tingkatkan Strategi Branding untuk Industri Rumah Tangga di Sumenep

Tim Dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Produksi Produk Berbasis MOKORBEF II dengan tema Strategi Pemasaran Inovatif untuk Produk Pangan Sehat Berbahan MOKORBEF: Peningkatan Daya Saing Mie Koro dan Cookies Koro sebagai Unggulan Daerah. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 mitra Industri Rumah Tangga (IRT) dari Sumenep. Tujuannya, memperkuat kemampuan para pelaku usaha dalam hal manajemen produksi, pengelolaan rantai pasok, serta strategi pemasaran produk secara lebih luas, baik melalui jalur offline maupun online. Acara yang berlangsung Ahad (3/11/2024) ini menghadirkan pemateri dari praktisi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM Novi Puji Lestari MM. Dia menekankan pentingnya branding produk dan strategi pemasaran yang efektif untuk meningkatkan penjualan. “Pemahaman mengenai teknik pemasaran modern, termasuk penggunaan media sosial sebagai alat yang strategis dalam menjangkau pasar yang lebih luas sangat perlu. Era saat ini menuntut produsen harus kreatif memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi” jelas Novi. Dalam sesi pelatihan, para peserta juga mendapatkan panduan tentang cara memaksimalkan potensi media sosial, seperti Instagram dan TikTok, untuk promosi produk. Eka Novidayanti, salah satu peserta pelatihan, menyatakan bahwa pendampingan ini sangat membantu khususnya dalam aspek pemasaran digital. “Pendampingan ini sangat penting, terutama terkait pemasaran melalui media sosial. Kami diajarkan bagaimana melakukan live di Instagram dan TikTok dengan cara yang efektif agar banyak penonton dan berujung pada peningkatan penjualan, khususnya untuk produk cookies dan mi koro berbasis MOKORBEF,” ujar Eka. Kegiatan yang didanai oleh Kedaireka DRTPM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2024 ini juga fokus pada penguatan praktik terbaik dalam manajemen produksi dan supply chain management. Itu menjadi kunci agar produk-produk unggulan mitra IRT seperti mi koro dan cookies koro dapat bersaing secara kompetitif di pasar lokal maupun nasional. Melalui kegiatan ini, UMM berharap para pelaku usaha IRT dapat mengembangkan produk mereka dengan lebih profesional dan meningkatkan daya saingnya sebagai produk unggulan daerah. Sinergi antara inovasi produk pangan sehat dan strategi pemasaran yang inovatif diharapkan dapat memperluas jangkauan produk MOKORBEF ke pasar yang lebih luas dan beragam. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/dosen-umm-perbaiki-strategi-branding-industri-rumah-tangga-sumenep/
Prodi Biologi UMM Songsong Akreditasi Internasional ASIIN

Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) siap menyongsong akreditasi internasional ASIIN (Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik). Langkah ini merupakan bagian dari upaya UMM dalam meningkatkan mutu pendidikan yang sesuai dengan standar internasional. Pada tahun 2024 ini, UMM berhasil memperoleh dana bantuan skema bimbingan teknis (bimtek) dari Kemendikbudristek bersama 15 perguruan tinggi lainnya. “Salah satu perguruan tinggi yang bermitra dalam program ini adalah Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kolaborasi antara UMM dan Unesa berfokus pada pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) untuk Prodi Pendidikan Biologi UMM. Kerja sama ini dimulai pada Juni 2024 dan telah menghasilkan beberapa pencapaian signifikan dalam mendukung persiapan akreditasi internasional,” terang Ketua Prodi Pendidikan Biologi Prof Dr Eko Susetyarini MSi di kantornya, Sabtu (2/11/2024). Prof Eko juga menjelaskan, sejak awal pelaksanaan program, berbagai kegiatan pendampingan intensif telah dilakukan. Kegiatan pendampingan ini melibatkan beberapa pemateri ahli dari universitas terkemuka seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Materi yang disajikan mencakup penyusunan Program Educational Objectives (PEO) dan Program Learning Objectives (PLO) sebagai landasan dari kurikulum OBE. Pada 17 hingga 19 Oktober 2024 lalu, seminar hasil kerja sama digelar sebagai bentuk presentasi dari rangkaian kegiatan pendampingan. Dalam seminar tersebut, disampaikan summary kurikulum berbasis OBE yang telah dirancang serta penjelasan tentang beban kerja (work load) bagi mahasiswa. Hasil presentasi ini menjadi acuan bagi kedua institusi untuk mengoptimalkan penyusunan kurikulum yang akan diterapkan. Kepala Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi juga menyatakan bahwa komitmennya untuk membawa Prodi Pendidikan Biologi UMM menuju akreditasi internasional ASIIN. Menurut Prof Eko, kerja sama dengan Unesa menjadi salah satu momentum penting dalam upaya mencapai target tersebut. Dia juga menekankan pentingnya dukungan dari seluruh sivitas akademika untuk mewujudkan visi ini. UMM berharap bahwa kolaborasi dengan Unesa tidak hanya berhenti di tahap pengembangan kurikulum. Kedua institusi merencanakan untuk melanjutkan kerja sama ini pada periode berikutnya dengan fokus pada penguatan aspek-aspek lainnya yang mendukung akreditasi internasional. Rencana jangka panjang ini mencakup pendampingan lebih lanjut dalam penyusunan dokumen dan pemenuhan standar mutu internasional. Melalui langkah-langkah strategis ini, UMM berkomitmen untuk membawa Prodi Pendidikan Biologi menjadi program studi unggulan dengan standar internasional. Dengan dukungan dari berbagai pihak dan kerja sama yang berkesinambungan,UMM optimistis dapat mencapai target akreditasi ASIIN dalam waktu dekat sehingga memberikan kontribusi positif bagi kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/prodi-biologi-umm-songsong-akreditasi-internasional-asiin/
Dosen UMM Optimalkan Komunitas Belajar di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) gelar kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Optimalisasi Komunitas Belajar” merupakan program yang didanai oleh blockgrant FKIP UMM, dari bulan September hingga Desember 2024. Kegiatan ini, menghadirkan dosen, mahasiswa, kepala sekolah, dan para guru dalam upaya meningkatkan kualitas komunitas belajar di lingkungan sekolah. Kegiatan pengabdian ini dipimpin oleh Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini sebagai ketua pelaksana, didampingi oleh Dra. Roimil Latifa, M.Si, dan Endrik Nurrohman, M.Pd. Pihaknya menjelaskan, bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman dan penerapan komunitas belajar dalam meningkatkan proses pembelajaran. “Program ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kolaborasi tenaga pendidik di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu,” Prof Eko. Saat kegiatan berlangsung, Prof. Eko menyampaikan berbagai materi yang penting mengenai komunitas belajar, meliputi pengertian komunitas belajar, jenis-jenis komunitas belajar, hingga penggerak dan fokus komunitas tersebut. “Komunitas belajar adalah wadah yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Melalui komunitas belajar, kita dapat saling mendukung, berbagi ilmu, dan memperkuat ikatan dalam lingkungan belajar,” ungkapnya. Disamping itu, ia menekankan pentingnya kesadaran bersama bahwa setiap elemen di sekolah memiliki peran untuk menjadi bagian dari komunitas pembelajaran yang aktif. Sementara, Dra. Roimil Latifa, M.Si, selaku pendamping dalam kegiatan ini, menambahkan, bahwa komunitas belajar dapat menjadi langkah awal dalam membangun iklim pendidikan yang lebih positif dan inklusif. “Kami berharap setiap tenaga pendidik dan siswa dapat merasa terlibat dan saling mendukung dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya komunitas belajar yang kuat, sekolah dapat menjadi tempat yang nyaman dan inspiratif bagi siswa,” paparnya. Ditempat yang sama, Endrik Nurrohman, M.Pd., sebagai salah satu pendamping lainnya, menjelaskan, bahwa kegiatan ini juga mengupayakan sinergi antara guru, mahasiswa, dan dosen sebagai langkah kolaboratif dalam mendukung pengembangan kualitas pendidikan. Menurut Endrik, program ini adalah langkah konkrit dalam menciptakan komunitas belajar yang berbasis kolaborasi, di mana setiap pihak saling melengkapi. Merespon hal itu, Kepala SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu, Windra Rizkiyana, S.Pd., M.Pd., sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian ini dan menilai bahwa kegiatan ini membawa dampak positif bagi sekolah. “Kami sangat berterima kasih atas adanya kegiatan ini. Selain menambah wawasan bagi para guru, program ini juga memperkuat kualitas sekolah kami dalam menjalankan pendidikan yang lebih baik,” tutur Windra. Dia menilai, kehadiran para akademisi dari UMM memberikan perspektif baru dan membantu para tenaga pendidik di sekolah dalam membangun komunitas belajar yang efektif. Dengan begitu, pihaknya berharap, adanya kegiatan ini, diharapkan komunitas belajar di SMP Muhammadiyah 8 Kota Batu dapat berkembang lebih optimal dan terus memberikan manfaat bagi seluruh civitas akademika. “Program pengabdian ini juga diharapkan mampu menjadi contoh untuk sekolah-sekolah lainnya dalam mengembangkan komunitas belajar yang aktif, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan,” tukasnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/dosen-umm-optimalkan-komunitas-belajar-di-smp-muhammadiyah-8-kota-batu/
Saatnya Mengembalikan Marwah Pendidikan Tinggi

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan. Permasalahan runyam berjalin berkelindan. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks seiring perkembangan zaman. Isu-isu komersialisasi pendidikan tinggi khususnya di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), biaya kuliah yang terus melambung tinggi tak terjangkau, rendahnya rekognisi internasional, hingga kualitas lulusan yang sering dipertanyakan daya saingnya. Terlebih lagi, kasus-kasus etika akademis seperti perjokian, plagiasi, fabrikasi, dan publikasi di jurnal predator yang melibatkan dosen dan bahkan guru besar, kian meresahkan. Akhir-akhir ini publikasi ramai akibat kasus yang melibatkan puluhan guru besar di sebuah PTN di Kalimantan, bahkan konon kabarnya pemantauan sempat dilakukan pada ratusan guru besar lainnya di Indonesia. Bak oase di padang gurun yang gersang, di tengah dinamika yang kurang menggembirakan ini, harapan baru muncul dengan dilantiknya tiga figur penting di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Pada tanggal 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Prof. Satryo tidak bekerja sendiri. Ia didampingi oleh dua wakil menteri, yakni Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang, dan Prof. Stella Christie, PhD., yang menempuh pendidikan di Amerika dan kini menjadi profesor terkemuka di China. Figur Tepat Ketiga figur ini membawa optimisme yang besar di kalangan masyarakat dan akademisi, terutama terkait harapan mereka untuk mengembalikan marwah pendidikan tinggi di Indonesia. Ketiganya dipercaya dapat membawa perubahan signifikan dalam pendidikan tinggi Indonesia. Prof. Satryo Soemantri bukanlah sosok asing di dunia pendidikan tinggi Indonesia. Ia memiliki pengalaman panjang sebagai Dirjen Pendidikan Tinggi dan dikenal sebagai salah satu profesor yang sangat dihormati di perguruan tinggi negeri terkemuka. Pengalamannya dalam mengelola kebijakan pendidikan di tingkat nasional membuatnya dipandang sebagai pilihan tepat untuk memimpin sektor ini. Di sisi lain, Prof. Fauzan membawa perspektif dari perguruan tinggi swasta, yang selama ini sering dipandang sebelah mata meskipun telah menunjukkan kualitas yang tidak kalah dibandingkan perguruan tinggi negeri. Universitas Muhammadiyah Malang, di bawah kepemimpinan Fauzan, berhasil menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia. Bahkan, di tahun 2021 Universitas Muhammadiyah Malang mencatatkan tinta emas sebagai kampus Islam terbaik dunia. Tahun 2024 ini kampus ini juga masuk sebagai lima perguruan tinggi dengan kinerja dan kualitas riset terbaik di Indonesia. Tentu prestasi ini mengalahkan 4000an PTN/PTS lain di seantero negeri. Sementara itu, Prof. Stella Christie hadir dengan wawasan global berkat pendidikannya di Amerika dan karier akademiknya di China. Pengalaman lintas benua ini diharapkan mampu menghadirkan perspektif baru dalam perbaikan mutu dan internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia. Belanja Masalah Salah satu persoalan paling mendasar yang dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan. Perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, semakin sulit dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Mahalnya biaya kuliah kerap kali menimbulkan polemik terkait aksesibilitas pendidikan. Dalam situasi ini, pendidikan tinggi sering kali dianggap sebagai barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu membayar. Hal ini tentu bertentangan dengan cita-cita pendidikan nasional yang seharusnya inklusif dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, salah satu tantangan utama yang harus dihadapi oleh trio pimpinan baru ini adalah bagaimana menekan biaya pendidikan tanpa mengorbankan kualitas. Perlu ada terobosan kebijakan yang mampu menyeimbangkan antara biaya operasional perguruan tinggi dengan kemampuan finansial calon mahasiswa. Beruntung Prof Satryo sejak awal ketika selesai dilantik menyadari itu, dengan tegas di hadapan wartawan ia berjanji akan menyelesaikan persoalan uang kuliah tunggal (UKT) yang menjadi beban mahasiswa. Ia pun akan mengusahakan agar semua mahasiswa tak putus kuliah karena masalah UKT (DISWAY.ID, 22/10/2024). Tidak hanya masalah biaya, komersialisasi pendidikan juga menjadi masalah besar yang memudarkan esensi pendidikan itu sendiri. Banyak perguruan tinggi yang lebih fokus pada keuntungan finansial dibandingkan dengan mencetak lulusan yang berkualitas. Perguruan tinggi seharusnya menjadi lembaga yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan. Namun, dengan semakin menguatnya komersialisasi, pendidikan berubah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi Prof. Satryo dan timnya. Mereka diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang mampu menekan praktik-praktik komersialisasi yang merugikan masyarakat, serta mengembalikan perguruan tinggi ke jalur yang seharusnya. Permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah rendahnya rekognisi internasional terhadap perguruan tinggi Indonesia. Data menunjukkan bahwa hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang masuk ke dalam peringkat dunia. Hal ini tentu menjadi tantangan besar di era globalisasi, di mana persaingan tidak lagi hanya terjadi di tingkat nasional, melainkan juga di tingkat internasional. Lulusan perguruan tinggi Indonesia sering kali kesulitan bersaing di pasar kerja global. Ini bukan semata-mata karena kualitas lulusan yang rendah, tetapi juga karena kurikulum yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan industri global, minimnya akses terhadap riset berkualitas, dan keterbatasan kolaborasi internasional. Dalam hal ini, Prof. Stella dengan pengalamannya di luar negeri dan Prof Fauzan dengan langkah visionernya diharapkan mampu membersamai Prof Satryo sehingga membawa perspektif baru untuk mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia, baik dalam hal riset maupun kolaborasi akademik. Namun, masalah yang lebih fundamental adalah hilangnya integritas akademis. Kasus-kasus perjokian, plagiasi, hingga publikasi di jurnal predator yang melibatkan dosen dan bahkan guru besar telah mencoreng nama baik pendidikan tinggi Indonesia. Wajar bila dikatakan etika akademis di perguruan tinggi Indonesia sedang berada di titik nadir. Kepercayaan masyarakat terhadap dunia akademik mulai luntur, dan ini menjadi tantangan besar bagi Prof. Satryo dan kedua wakilnya. Mereka harus mampu menegakkan kembali integritas akademis dan menegaskan bahwa dunia pendidikan adalah tempat untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Tentu, penegakan aturan yang adil dan tegas terhadap pelaku plagiasi dan praktik-praktik akademis tidak etis nanti culas lainnya menjadi hal yang sangat penting. Tak kalah penting, kualitas riset juga harus ditingkatkan. Kondisi kekinian menunjukkan bahwa dosen terjebak dalam keharusan untuk mempublikasikan karya ilmiah demi memenuhi persyaratan administratif, tanpa memperhatikan kualitas dari riset itu sendiri. Akibatnya, banyak karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal predator, yang sebenarnya tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Trisula baru kementerian ini diharapkan dapat membuat regulasi yang lebih ketat terkait publikasi ilmiah, serta mendorong dosen dan mahasiswa untuk melakukan riset yang berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan kombinasi pengalaman dan latar belakang yang kuat dari ketiga Profesor ini,
Saatnya Menjadi Pemuda Berpikir Kritis-Kolaboratif

Pada peringatan Sumpah Pemuda ke-96 tahun 2024, tema yang diusung adalah “Maju Bersama Indonesia Raya”. Tema ini tidak hanya menjadi pengingat akan pentingnya persatuan di kalangan pemuda Indonesia, tetapi juga menyerukan pentingnya kolaborasi untuk membangun bangsa. Sebagai generasi penerus, pemuda Indonesia memiliki peran penting dalam memajukan negara, dan ini memerlukan suatu pendekatan yang tidak sekadar bekerja sama, tetapi kolaborasi yang produktif, kritis, dan inovatif. Di era yang semakin kompleks ini, kita tidak dapat lagi berpikir secara konvensional; kita memerlukan pemuda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solusi problematik. Berpikir kritis adalah keterampilan yang menjadi kunci di era modern. Ketika informasi dapat diakses dengan mudah, pemuda dituntut untuk mampu menyaring, menganalisis, dan menyikapi informasi dengan cara yang benar. Berpikir kritis bukan hanya tentang mempertanyakan segalanya, tetapi juga tentang menemukan solusi yang paling efektif bagi permasalahan yang ada. Ini adalah bentuk kontribusi nyata pemuda dalam memajukan bangsa. Pentingnya berpikir kritis juga ditekankan oleh Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), yang baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto. Beliau menyatakan, “Diperlukan suatu metode pembelajaran yang baru, we will transform our educational methodology, tidak bisa lagi memorizing tapi harus membuat anak-anak kita di semua ini itu punya critical thinking.” Ini menegaskan bahwa pendekatan pendidikan konvensional, yang hanya berfokus pada hafalan, sudah tidak relevan lagi. Di masa depan, generasi muda harus dibekali dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan berinovasi, karena hanya dengan cara itulah mereka bisa menjadi problem solver yang efektif. Kolaborasi Produktif di Kalangan Pemuda Tema “Maju Bersama Indonesia Raya” menekankan pentingnya kolaborasi sebagai jalan untuk maju bersama. Kolaborasi yang produktif tidak hanya berarti bekerja sama dalam sebuah tim, tetapi juga mampu mendengarkan, berempati, dan bersama-sama memecahkan permasalahan yang dihadapi. Pemuda Indonesia harus memahami bahwa kekuatan mereka bukan hanya dalam jumlah, tetapi dalam kemampuan untuk bekerja bersama dengan cara yang inovatif dan penuh solusi. Kolaborasi produktif di kalangan pemuda bisa dimulai dari kampus. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Fauzan, MPd, yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek), menekankan bahwa perguruan tinggi harus berperan sebagai problem solver bagi masyarakat. Beliau menyatakan bahwa perguruan tinggi harus memerankan diri sebagai entitas sosial yang bertanggung jawab terhadap permasalahan di masyarakat. Artinya, kampus bukan hanya menjadi tempat pembelajaran akademik, tetapi juga harus menjadi ruang kolaborasi untuk menemukan solusi dari berbagai persoalan masyarakat. Meski penting, mewujudkan kolaborasi dan inovasi di kalangan pemuda bukanlah hal yang mudah. Tantangan utama adalah mengubah pola pikir dari individu yang kompetitif menjadi kolaboratif. Banyak pemuda saat ini masih terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat, perkelahian antar geng, semangat kedaerahn yang buta, yang pada akhirnya melemahkan potensi mereka untuk bekerja sama dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Ini adalah tantangan yang harus diatasi dengan pembelajaran dan budaya yang mendorong kolaborasi, bukan kompetisi semata. Selain itu, pemuda juga perlu berani keluar dari zona nyaman dan menghadapi tantangan dengan penuh semangat. Mengingat tantangan di masa depan yang kian kompleks dan dinamis, kita tidak bisa lagi bergantung pada metode lama. Pemuda harus terus mengembangkan kreativitas mereka, berpikir di luar batas, berpikir out of the box, dan mencari solusi yang tidak konvensional. Sebagai bagian dari kolaborasi produktif, setiap individu harus mampu menghargai perbedaan pendapat dan melihat perbedaan sebagai sumber kekayaan, bukan penghalang. Peran Perguruan Tinggi Sebagai bagian dari usaha menciptakan pemuda yang kritis dan inovatif, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis. Prof. Dr. Fauzan MPd menyatakan bahwa kampus perlu mengambil peran sebagai entitas sosial yang bertanggung jawab terhadap permasalahan masyarakat. Ini bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi panggilan untuk menjadikan kampus sebagai pusat inovasi dan solusi bagi masyarakat. Untuk mencapai hal ini, perguruan tinggi harus menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk berkolaborasi dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Bukan hanya dengan menghadirkan seminar atau kuliah umum, tetapi juga memberikan pengalaman langsung dalam memecahkan masalah nyata di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu memberikan solusi nyata. Selain itu, metodologi pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi harus diubah. Seperti yang disampaikan oleh Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, pembelajaran tidak lagi bisa hanya mengandalkan hafalan. Pemuda perlu diajarkan bagaimana cara berpikir kritis, mengidentifikasi masalah, menganalisis data, dan menghasilkan solusi kreatif. Kampus perlu menjadi wadah yang menyediakan pengalaman-pengalaman yang memacu pemikiran kritis, seperti proyek lapangan, penelitian terapan, dan kolaborasi lintas disiplin. Pemuda sebagai Agen Perubahan dan Penggerak Kemajuan Pada akhirnya, peringatan Sumpah Pemuda tahun ini mengingatkan kita bahwa persatuan dan kolaborasi adalah kunci untuk kemajuan bangsa. Pemuda Indonesia harus mampu melihat diri mereka sebagai agen perubahan, yang tidak hanya mengandalkan pihak lain, tetapi juga mampu memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi bangsa. Dengan berpikir kritis, kreatif, dan berkolaborasi secara produktif, pemuda dapat menghadirkan perubahan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Mereka harus memanfaatkan peluang yang ada di sekitar mereka dan berinovasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Perguruan tinggi, sebagai bagian dari entitas sosial, memiliki peran besar dalam mendukung mereka. Namun, pada akhirnya, pemuda sendiri yang harus mengambil langkah pertama, yaitu berani berpikir kritis dan berkolaborasi demi Indonesia yang lebih maju. Dengan semangat “Maju Bersama Indonesia Raya”, saatnya kita semua, khususnya pemuda, bergerak bersama untuk mewujudkan bangsa yang lebih adil, maju, dan sejahtera. Momentum ini harus menjadi refleksi bagi kita semua untuk tidak hanya memperingati Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadikan semangat tersebut sebagai panduan dalam setiap langkah yang kita ambil demi kemajuan Indonesia. Catatan Refleksi Sumpah Pemuda Tahun 2024: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Pegiat Literasi di Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/saatnya-menjadi-pemuda-berpikir-kritis-kolaboratif/
Dosen UMM Dorong Kualitas dan Kuantitas Produk Tepung Sehat di Sumenep

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pangan sehat berbahan dasar tepung tanaman kacang koro, Tim dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Produksi Produk Berbasis MOKORBEFI. Sebagaimana diketahui, bahwa MOKORBEF adalah Modified Koro Bean Flour, produk tepung koro bermerek yang telah di hak cipta oleh Prof. Dr. Elly Purwanti, MP. Acara ini dihadiri oleh 28 peserta yang merupakan perwakilan dari dua mitra industri rumah tangga (IRT) asal Sumenep, diantaranya CV Akancatani, yang memproduksi cookies berbahan dasar koro, dan UD Bunga Anggrek, yang memproduksi mie koro. “Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada mitra IRT dalam memproses koro menjadi tepung MOKORBEF, serta mengolahnya menjadi produk siap saji seperti cookies dan mie. Proses ini tidak hanya meningkatkan nilai gizi, tetapi juga mengedepankan manfaat kesehatan dari MOKORBEF,” kata Prof. Dr. Elly Purwanti, selaku ketua pelaksana. Pihaknya menjelaskan, bahwa Kegiatan ini dipandu oleh dua pemateri utama, diantaranya Prof. Dr. Warkoyo, ahli food processing, dan Dr. Asmah Hidayati, auditor halal yang memberikan bimbingan terkait sertifikasi halal untuk memastikan produk-produk ini dapat tersertifikasi dengan baik. Prof Elly Purwanti, menekankan komitmen UMM dalam mendukung upaya pengembangan bisnis turunan MOKORBEF secara berkelanjutan. “Kami berkomitmen untuk terus melakukan upaya scale up bisnis produk turunan dari MOKORBEF ini. Dampaknya akan dirasakan luas, tidak hanya bagi mitra IRT tetapi juga bagi peneliti UMM,” tuturnya. Dengan begitu, ia berharap melalui kegiatan ini, masyarakat merasakan dampak baik, dari kegiatan yang telah dilaksanakan. “Kami berharap masyarakat semakin mengenal dan merasakan manfaat dari MOKORBEF, yang sudah terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual atas nama UMM, sehingga akan tercipta sinergi yang saling menguntungkan,” ujarnya. Harapan lain, dengan adanya kegiatan ini, diharapkan produk berbasis MOKORBEF seperti mie koro dan cookies koro dapat diterima lebih luas oleh masyarakat, sekaligus mendorong inovasi produk pangan sehat yang bersertifikat halal. “Kegiatan ini juga merupakan wujud sinergi yang kuat antara pihak akademisi dan pelaku industri rumah tangga dalam rangka memajukan produk lokal yang berkualitas dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat,” tandasnya. Sementara, Haji Budi, Ketua UD Bunga Anggrek, turut menyatakan dukungannya terhadap program ini. Ia menilai kegiatan tersebut dapat memotivasi dan meningkat pengetahuan. “Kami siap untuk memproduksi pangan sehat dan halal berbahan MOKORBEF ini. Saya dan masyarakat akan merasakan manfaat kesehatannya, dan kami merasa terbantu dalam meningkatkan bisnis kami,” kata Haji Budi dengan wajah optimis. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/dosen-umm-dorong-kualitas-dan-kuantitas-produk-tepung-sehat-di-sumenep/