Ponpes Azmania Ponorogo Gandeng UMM Perkuat Personal Development

PONOROGO, 14 Januari 2025 — Dalam upaya mewujudkan diri sebagai salah satu pondok pesantren terkemuka di Ponorogo dan Jawa Timur, Pondok Pesantren (Ponpes) Azmania menggelar Workshop Personal Development bagi para ustadz dan ustadzah. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Azmania untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pengajar, dan lulusan, serta menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai mitra strategis. Workshop ini menghadirkan empat pakar terkemuka dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM. Mereka adalah Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, Dr. Husamah, M.Pd, Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd, dan Fuad Jaya Miharja, M.Pd, yang masing-masing menyampaikan materi berbobot dalam bidang pengembangan diri, pembelajaran, dan pendidikan. Dalam pemaparannya, Prof. Abdulkadir menekankan pentingnya pengembangan akademik bagi para pendidik. Ia menginspirasi para peserta untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai upaya meningkatkan kapasitas profesional. “Pendidik yang berkualitas lahir dari kemauan untuk terus belajar dan berkembang. UMM siap mendukung studi lanjut para ustadz dan ustadzah Azmania agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi dunia pendidikan,” ujarnya. Dr. Husamah membahas peran penting menulis sebagai salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh para pendidik. Ia mendorong peserta untuk memulai kebiasaan menulis, baik itu artikel ilmiah, karya sastra, maupun jurnal akademik. “Menulis bukan hanya tentang berbagi ilmu, tetapi juga meningkatkan kredibilitas dan reputasi seorang pendidik. Guru yang menulis adalah guru yang berpikir jauh ke depan,” jelasnya. Dr. Atok menyampaikan materi tentang pentingnya membangun budaya kebiasaan baik melalui pendekatan *Seven Habits*. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan-kebiasaan produktif seperti tidur cepat, bangun pagi, beribadah, bersosialisasi, olahraga dan lainnya. Selain itu perlu juga mengajarkan jiwa proaktif, berorientasi pada tujuan, dan menjaga keseimbangan hidup, merupakan kunci untuk menjadi pendidik yang inspiratif. “Seven Habits ini tidak hanya diterapkan oleh guru, tetapi juga menjadi nilai-nilai yang ditanamkan kepada para santri,” tuturnya. Fuad Jaya Miharja mengupas tentang strategi pembelajaran modern dan manajemen kelas yang efektif. Menurutnya, guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menerapkan metode pembelajaran yang interaktif. “Santri akan lebih mudah memahami materi jika guru mampu mengelola kelas dengan baik dan menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkapnya. Dalam sambutannya, KH Ahmad Baedowi, ST selaku Pengasuh Ponpes Azmania menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan kualitas pengajar dan lulusan pesantren. Ia menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah awal dari kerjasama jangka panjang dengan UMM. “Kami percaya, kolaborasi ini akan memperkuat visi Azmania untuk menjadi pesantren terkemuka, tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional,” kata KH Ahmad Baedowi. Ia juga mengungkapkan bahwa Azmania akan menindaklanjuti *Memorandum of Understanding* (MoU) dan *Memorandum of Action* (MoA) dengan FKIP UMM. “Kami bersyukur UMM, sebagai perguruan tinggi unggulan, memiliki komitmen yang sama untuk mendampingi Azmania dalam mencapai target-target strategis,” tambahnya. Sementara itu, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, mewakili UMM, menyatakan kesiapan UMM untuk terus mendukung dan mendampingi Azmania. “Kami melihat potensi besar di Azmania. Ke depan, kerjasama ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, tetapi juga menjadi wujud nyata dari Catur Dharma UMM, yaitu pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan dakwah Islamiyah,” jelas Prof. Abdulkadir. Sebagai bagian dari visi Azmania untuk go international, UMM juga akan membantu pesantren ini memperluas jangkauan program-program pendidikannya. Berbagai program pelatihan, studi banding dan kerjasama dengan Sister School di Thailand, dan pendampingan strategis akan dilakukan secara bertahap untuk mendukung penguatan kapabilitas para pendidik dan santri di Azmania. Workshop Personal Development ini pun menjadi bukti nyata dari sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan pesantren dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas. Dengan kolaborasi ini, Ponpes Azmania Ponorogo optimis dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam mencetak generasi muda berdaya saing global. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2025/01/14/ponpes-azmania-ponorogo-gandeng-umm-perkuat-personal-development/
Bekali Keterampilan Karya Tulis Ilmiah, Dosen-Mahasiswa UMM Lakukan Pengabdian di PPI AMF

Malang — Dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam Program Pengabdian Masyarakat (PMM Mitra Dosen) melaksanakan kegiatan pengabdian di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) yang dimulai Jumat (10/1/2025). Program ini dipimpin oleh Dwi Setyawan SPd MPd dengan anggota tim: Fendy Hardian Permana SPd MPd (dosen), serta Alfianti Fadilah, Grastika Rivana Mokodompit, dan Margareta Megi Balur (mahasiswa). Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama 3–4 bulan dengan tema “Pendampingan Keterampilan Penulisan Artikel Publikasi Ilmiah bagi Guru di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF).” Tema tersebut diangkat untuk menjawab kebutuhan peningkatan kompetensi guru dalam menulis dan mempublikasikan hasil penelitian maupun program sekolah. Saat ini, banyak guru menghadapi stagnasi dalam pengembangan karya ilmiah mereka, meskipun keterampilan tersebut penting untuk profesionalisme dan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Program ini bertujuan untuk mendampingi guru dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas karya ilmiah. Selain itu, meningkatkan indikator profesionalisme guru melalui hasil penelitian yang berkualitas, didukung oleh fasilitas dan program sekolah. Ketua tim pengabdian Dwi Setyawan menjelaskan bahwa pendampingan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas guru dalam menulis artikel ilmiah yang sesuai dengan standar jurnal nasional terakreditasi (SINTA) maupun internasional (Scopus). Program ini juga berfokus pada pengembangan budaya literasi dan penelitian di lingkungan pesantren, sehingga mampu mengintegrasikan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan modern. “Kami berharap program ini memberikan manfaat jangka panjang bagi pesantren dan guru, serta berdampak positif untuk pengembangan pendidikan secara keseluruhan,” ujar Dwi. Kepala Sekolah sekaligus pengasuh PPI AMF KH Pahri SAg MM menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif UMM. “Kami sangat bersyukur atas dukungan dari dosen dan mahasiswa UMM. Program ini sangat bermanfaat dalam memperkuat keterampilan akademik para guru. Kami juga terbuka untuk kolaborasi serupa di masa depan, baik untuk pengabdian maupun penelitian,” ungkap Pahri. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan di masyarakat. Program pengabdian ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih besar di masa depan, mendukung mutu pendidikan melalui karya ilmiah. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/bekali-keterampilan-karya-tulis-ilmiah-dosen-mahasiswa-umm-lakukan-pengabdian-di-ppi-amf/
Dosen UMM Latih Keterampilan Abad ke-21 Siswa melalui Karya Ilmiah

Malang — Tim Pengabdian Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memberikan pelatihan keterampilan abad ke-21, kepada siswa SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA) melalui program pendampingan karya ilmiah. Kegiatan ini dipimpin oleh Tutut Indria Permana, M.Pd., dan Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc., dengan pendanaan melalui skema Pengabdian Berbasis IPTEKS (PBI). Dalam acara pendampingan yang berlangsung Rabu (8/1/2025), Tutut Indria Permana, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan 4C—Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication. “Keterampilan ini sangat penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan,” katanya. Program ini, dirancang untuk membimbing siswa dalam menyusun dan mempresentasikan karya ilmiah yang berkualitas. Melalui serangkaian workshop, sesi mentoring, dan evaluasi berkelanjutan, siswa dilatih untuk berpikir kritis dalam menganalisis masalah, berkreasi mencari solusi, bekerja sama dalam tim, serta mengomunikasikan hasil penelitian dengan efektif. Salah satu pemateri, Ahmad Fauzi, menyampaikan, teknik analisis data dan penggunaan alat digital yang relevan untuk mempermudah proses penelitian. “Karya ilmiah memberikan peluang bagi siswa untuk mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 dengan kemampuan akademik. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat menghasilkan penelitian yang inovatif,” ungkapnya. Sementara, Dr. Husamah, juga menekankan pentingnya menulis karya ilmiah dalam membangun pola pikir yang kritis dan sistematis. “Karya ilmiah bukan sekadar tugas, tetapi juga sarana untuk mengembangkan minat penelitian siswa,” ujarnya. Diketahui, bahwa proses pendampingan ini mencakup tahapan intensif, mulai dari pemilihan topik penelitian hingga penyusunan laporan akhir. Workshop yang diselenggarakan meliputi pengenalan teknik penelitian, penulisan akademik, hingga presentasi ilmiah. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat peningkatan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Kepala SMANETA, Fadilah Umi Maisyaroh, mengapresiasi program ini. “Kami sangat berterima kasih kepada tim pengabdian UMM atas dedikasinya. Program ini sejalan dengan misi sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi tantangan global,” paparnya. Program pendampingan karya ilmiah ini, dinilai, tidak hanya memperkuat kemampuan akademik siswa, tetapi juga menumbuhkan semangat penelitian yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. Dengan kolaborasi erat antara akademisi dan sekolah, diharapkan generasi muda mampu menghadapi era globalisasi dengan percaya diri dan kompetensi yang lebih baik. Berita ini telah tayang di: https://mediapribumi.id/dosen-umm-latih-keterampilan-abad-ke-21-siswa-melalui-karya-ilmiah/
Siswa SMANETA Berinovasi: Plastik Ramah Lingkungan dari Buah Sukun

Malang — Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Tumpang (SMANETA), Malang, berhasil menciptakan plastik ramah lingkungan berbahan dasar buah sukun. Inovasi ini dikembangkan oleh tiga siswa, yakni Revanda Vanina Irman, Muhammad Arkan Pandya, dan Agastya Putri Jossiella, dengan bimbingan guru pembimbing, Fadlilatul Annisa, STP. “Penelitian ini berangkat dari keprihatinan kami terhadap dampak buruk plastik konvensional yang sulit terurai dan mencemari lingkungan dengan mikroplastik. Kami ingin menghadirkan solusi,” kata Revanda dalam konferensi pers di SMANETA, Rabu (8/1/2025). Tim KIR tersebut mengolah pati buah sukun yang dikombinasikan dengan gliserol untuk menghasilkan produk inovatif bernama ‘Suecoplast’, plastik ramah lingkungan yang diharapkan mampu mengurangi limbah plastik. Pihaknya menjelaskan, pembuatan Suecoplast dimulai dengan menyiapkan buah sukun matang, menggilingnya menjadi serabut, dan memerasnya untuk mendapatkan ekstrak pati. Ekstrak tersebut diendapkan selama 2-3 hari sebelum ditambahkan gliserol dengan konsentrasi tertentu. Campuran itu kemudian dipanaskan, dicetak, dan dikeringkan hingga menjadi kantong plastik. “Kami menguji berbagai konsentrasi gliserol, mulai dari 5% hingga 20%, menggunakan metode kuantitatif ANOVA untuk mengetahui kekuatan dan sifat organoleptik kantong plastik yang dihasilkan,” jelas Agastya. Ia meyakini, bahwa hasilnya, Suecoplast memiliki keunggulan utama: lebih cepat terurai dibandingkan plastik konvensional, tetapi tetap mendukung kebutuhan masyarakat sehari-hari. Kepala SMANETA, Fadilah Umi Maisyaroh, mengapresiasi karya siswa ini. “Inovasi ini menunjukkan penguasaan keterampilan abad ke-21, yaitu Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication (4C), yang sangat penting untuk masa depan bangsa,” katanya. Dukungan juga datang dari akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM, Tutut Indria Permana, menilai inovasi Suecoplast tidak hanya relevan secara ilmiah tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap keberlanjutan lingkungan. “Kami siap mendampingi penelitian ini agar hasilnya lebih matang dan dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” paparnya, saat sesi pendampingan di SMANETA. Keberhasilan ini, menjadi bukti nyata bahwa inovasi generasi muda Indonesia dapat menjawab tantangan global dengan solusi kreatif. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/siswa-smaneta-berinovasi-plastik-ramah-lingkungan-dari-buah-sukun/
Menyerap Inspirasi dari Pendidikan “Berani” Ala Turki

Dr. Husamah, M.Pd. Dosen Prodi Pendidikan Biologi UMM — Perjalanan ke Turki, tanah kelahiran Salahuddin Al-Ayyubi, bukan sekadar wisata. Pengalaman mendalam bersama tim Journal of Community Service and Empowerment UMM, 11-18 Desember 2024, telah membuka mata dan cakrawala pandang saya akan begitu banyak hal, terutama sistem pendidikannya yang inovatif. Sebuah refleksi dan hal berharga yang seharusnya juga terjadi di negeri kita tercinta, Indonesia. Momen ini tepat, saat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang dikomandoi Prof. Abdul Mu’ti sedang berbenah dan mencari bentuk yang sesuai. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Hagia Sophia, Blue Mosque Sultan Ahmet, dan Topkapi kekaguman saya tak terbendung. Bukan hanya karena bangunan megah yang menyimpan sejarah panjang peradaban Islam, tetapi juga karena peristiwa yang terjadi di sana. Di tengah kunjungan kami, sekelompok anak-anak sekolah dasar dengan percaya diri menghampiri kami untuk berlatih berbicara bahasa Inggris. Mereka dengan lancar mengajukan pertanyaan dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa. Agak susah menemukan anak-anak SD di Indonesia yang berani berbaur, mengasah kemampuan secara nyata, tapi hanya diajarkan teori bahasa di kelas. Pendidikan “Berani”: Kunci Sukses Generasi Kejadian ini membuat saya merenung. Anak-anak Turki diajarkan untuk berani berkomunikasi, bahkan dengan orang asing. Mereka tidak canggung dan justru terlihat antusias. Pendidikan “berani” inilah yang sesungguhnya menarik. Generasi muda perlu didorong untuk keluar dari zona nyaman, berani berinteraksi, dan tidak takut untuk mengungkapkan pendapat. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata Turki telah melakukan reformasi besar-besaran dalam sistem pendidikannya. Kurikulum baru yang diterapkan lebih relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan perkembangan teknologi. Fokus utama dari kurikulum ini adalah pengembangan keterampilan abad 21, seperti: (1) Pemecahan masalah: Siswa dilatih untuk berpikir kritis dan mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi. (2) Berpikir kritis: Kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan yang tepat sangatlah penting. (3) Kolaborasi: Kerja sama tim menjadi kunci sukses dalam dunia yang semakin kompleks. Siswa diajarkan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. (4) Komunikasi efektif: Kemampuan menyampaikan ide dan pikiran dengan jelas dan persuasif sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang. Apa yang Bisa Kita Pelajari? Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari sistem pendidikan Turki. Pertama, pentingnya membangun kepercayaan diri pada anak sejak dini. Kedua, relevansi kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Ketiga, pentingnya keterampilan abad 21 dalam mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan. Sebagai dosen dan praktisi pendidikan, saya tertantang untuk menerapkan pembelajaran dari Turki di Indonesia. Menurut hemat saya, beberapa hal yang dapat kita lakukan. Saatnya memperkuat program bahasa asing: Mulai dari tingkat sekolah dasar, siswa perlu dibekali dengan kemampuan berbahasa asing yang baik. Selanjutnya, mengadakan program pertukaran pelajar: Dengan berinteraksi dengan siswa dari negara lain, siswa Indonesia dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi. Selain itu, mengembangkan kurikulum yang lebih relevan: Kurikulum perlu terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Tak lupa pula, meningkatkan kualitas guru: Guru sebagai ujung tombak pendidikan perlu diberikan pelatihan yang memadai agar dapat menerapkan metode pembelajaran yang inovatif. Saat para siswa mereka mewawancarai turis, para guru pun tampak antusias. Berinteraksi dengan murid dan sekaligus para turis. Mereka juga bersikap terbuka dan ikut belajar. Mereka menunjukkan keramahan orang-orang Turki. Bukankah awal sukses pembelajaran dan secara umum pendidikan terletak pada aktor utama, yakni para guru? Perjalanan ke Turki telah memberikan inspirasi yang luar biasa. Pendidikan “berani” yang diterapkan di sana dapat menjadi contoh bagi kita semua. Dengan menerapkan pembelajaran dari Turki, kita dapat mencetak generasi muda yang cerdas, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Semoga kita bisa menerapkannya. Catatan ini, dibuat sambil berdoa di Masjid Cappadocia, Goreme, Turki. Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM) Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/belajar-dari-pendidikan-berani-ala-turki/ Belajar dari Pendidikan “Berani” Ala Turki Diakses pada 23 Desember 2024
SKK Migas-KEI dan Dosen UMM Tingkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan dan Penyusunan Buku

Pulau Kangean — Sebanyak 80 guru Non – ASN dan honorer dari tingkat SD/MI, SMP/MTS, serta SMA/MA yang berasal dari Desa Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi di bidang literasi dan numerasi, yang digagas oleh SKK Migas – Kangean Energy Indonesia (KEI). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru honorer terutama mengenai penulisan bahan ajar, di daerah kepulauan yang masih minim pelatihan profesional. Pelatihan dan pendampingan yang dilaksanakan di Desa Pagerungan Besar ini, fokus pada dua kompetensi utama, yaitu literasi dan numerasi. Dalam kegiatan ini, SKK Migas-Kangean Energy Indonesia (KEI) menggandeng perguruan tinggi, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan, dan Kemenag Kabupaten Sumenep. Manager Humas Kangean Energy Indonesia (KEI), Kampoi Naibaho, berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar dan mendidik siswa. Selain itu, KEI juga menargetkan, agar para peserta menghasilkan karya, sebagai produk akhir dari kegiatan ini. Untuk produk akhir berupa modul bahan ajar bagi Guru SD/MI, sedangkan Guru SMP/MTs, SMA/MA, membuat buku inspirasi di daerah tersebut. “Pelatihan ini sangat penting bagi para guru di kepulauan, karena mereka sering kali kesulitan mengakses pelatihan serupa. Dengan adanya pelatihan ini, kami harap, mereka bisa mendapatkan ilmu baru yang akan memperkaya metode pengajaran mereka,” kata Kampoi. Rabu (4/12/2024). Melalui program ini, diharapkan kualitas pendidikan di kedua desa tersebut dapat meningkat, dan para guru dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan di dunia pendidikan yang terus berkembang. “Intinya, output pelatihan terbit buku kisah inspirasi guru kepulauan dan modul bahan ajar berbasis potensi lokal,” paparnya. Sebelumnya, kegiatan yang telah berlangsung, diantaranya: Pelatihan peningkatan kompentensi guru melalui pembelajaran berbasis literasi dan numerasi, pada tanggal 28-29 November 2024. Selanjutnya, pada tanggal 30 November 2024, Pelatihan penulisan dalam rangka peningkatan kompetensi guru Non ASN atau Honorer, serta Pendampingan penulisan dan penyusunan buku bahan ajar dalam rangka peningkatan kompetensi guru, pada tanggal 4 Desember 2024. Merespon hal tersebut, salah satu guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Khusnul Amin I, Saiful Bahri, merasa termotivasi dengan kegiatan yang digagas oleh SKK Migas – KEI. Ia juga mengaku dapat inspirasi baru, sebagai guru di daerah Kepulauan, yang memiliki keterbatasan yang kompleks untuk mengakses referensi metode pembelajaran. “Alhamdulillah, kami sangat termotivasi dan terinspirasi. Kami selaku guru di kepulauan pagerungan besar yang di laksanakan oleh KEI, Peningkatan kompetensi guru, dengan para mentor, pemateri yang sangat luar biasa bagi kami,” katanya. Dampak lain, pihaknya mengatakan, “Dampak yang kami rasakan terkait dengan kegiatan tersebut, kami sangat senang karena diberikan ruang untuk berkarya dan belajar, berinovasi sebagai guru,” ujarnya. Sedangkan untuk penugasan tentang wajib menghasilkan karya, ia mengaku tertantang, sebab cara tersebut merupakan hal perdana. Meski begitu, Saiful berharap, kegiatan serupa, konsisten dilaksanakan, karena sangat dibutuhkan guru di lembaga pendidikan swasta. “Ini harus di tingkatkan dan dikonsep kembali, sebab, jika semakin digalakkan, maka sangat membantu para guru non – ASN di kepulauan kecamatan Sapeken,” pintanya. Sementara, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS), Mulyadi, turut mengapresiasi kegiatan Peningkatan Kompetensi Berbasis Literasi dan Numerasi itu, menurutnya, kegiatan ini menjadi contoh kongkrit peran KKKS di wilayah operasi. “Karena pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama, jadi pemerintah, orang tua dan masyarakat termasuk KEI harus sama-sama berperan. Penguatan literasi bagi guru non – ASN oleh KEI menjadi contoh konkrit, dari keterlibatan stakeholder. Dan saya atas nama pribadi dan DPKS sangat mengapresiasi kegiatan ini,” ungkap Mulyadi. Setelah ikuti serta melaksanakan pendampingan dalam kegiatan ini, ia berharap, kegiatan tersebut dapat berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Saya harap, tetap berkesinambungan karena kita tahu, kualitas pendidikan akan sangat ditentukan oleh kapasitas mutu pendidiknya. Saran saya luaran dari kegiatan ini, perlu juga pembuatan buku modul ajar berbasis potensi lokal kepulauan ini, harus sampai diterbitkan dan dipublikasikan,” tukasnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/skk-migas-kei-dorong-kompetensi-guru-di-sekitar-wilayah-operasi-dengan-pelatihan-dan-pendampingan-penyusunan-buku/ SKK Migas-KEI Dorong Kompetensi Guru di Sekitar Wilayah Operasi, dengan Pelatihan dan Pendampingan Penyusunan Buku
LPPM UMM Dukung Inovasi Prof. Elly dalam Penguatan Industri Rumah Tangga di Sumenep

Sumenep — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (LPPM UMM) mengapresiasi kinerja Program Kedaireka Industri Rumah Tangga-Usaha Menengah (IRT-UM) yang dipimpin oleh Prof Dr Elly Purwanti MP. bersama timnya. Kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) dilaksanakan pada 1 Desember 2024 di Sumenep, Madura, oleh Prof Dr Ir Aniek Iriany MP dan Ir Alik Ansori Alamsyah MT. Prof Aniek menilai program ini luar biasa, mulai dari sosialisasi hingga pendampingan pemasaran produk dengan pendekatan modern. “Berdasarkan audiensi dan observasi kepada mitra industri rumah tangga (IRT) dari Sumenep, kami melihat bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan para pelaku usaha dalam hal manajemen produksi, pengelolaan rantai pasok, serta strategi pemasaran produk secara lebih luas, baik melalui jalur offline maupun online. Ini tentu sangat bermanfaat bagi mitra,” terang Prof Aniek. Teknologi dan Inovasi untuk Meningkatkan Daya Saing Prof Elly menjelaskan, pemahaman mengenai pemaksimalan sumber daya, produksi, teknik pemasaran modern, termasuk penggunaan media sosial sebagai alat yang strategis dalam menjangkau pasar yang lebih luas sangat perlu. Era saat ini menuntut produsen harus kreatif memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. “Oleh karena itu, dengan basis tepung Mokorbef yang sudah kami teliti dan berbagai pendekatan lain, kami berharap akan meningkat kapasitas mitra” jelas Prof Elly selaku ketua tim. Dukungan Mitra dan Manfaat Program Mas Dewo, salah satu mitra program yang juga pemilik usaha Akancatani, mengungkapkan pendampingan ini sangat bermanfaat. “Kami mendapatkan panduan mengenai bahan baku, produksi, hingga pemasaran digital. Ini sangat membantu dalam mengembangkan usaha kami,” ujarnya. Program yang didanai Kedaireka DRTPM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2024 ini menitikberatkan pada praktik terbaik manajemen produksi dan supply chain management. Langkah ini bertujuan agar produk mitra mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional. Melalui kegiatan ini, UMM berharap para pelaku usaha IRT dapat mengembangkan produk mereka dengan lebih profesional dan meningkatkan daya saingnya sebagai produk unggulan daerah. Sinergi antara inovasi produk pangan sehat dan strategi pemasaran yang inovatif diharapkan dapat memperluas jangkauan produk Mokorbef ke pasar yang lebih luas dan beragam. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/puji-prof-elly-lppm-umm-dukung-inovasi-penguatan-industri-rumah-tangga-di-sumenep/ Puji Prof Elly, LPPM UMM Dukung Inovasi Penguatan Industri Rumah Tangga di Sumenep Diakses pada 05 Desember 2024
Lonceng Kematian Wisata Museum Keraton

Oleh : Dr Husamah Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, asal Sumenep Museum Keraton Sumenep, yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kabupaten Sumenep dan Jawa Timur, kini menghadapi ancaman serius. Museum ini merupakan salah satu destinasi wisata yang memegang peranan penting dalam memelihara dan memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat luas. Sayangnya, keadaannya saat ini jauh dari kata ideal. Jika tidak segera ada tindakan nyata, museum ini mungkin hanya akan menjadi kenangan suram tentang kegagalan kita menjaga warisan budaya. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Museum Keraton Sumenep bersama rombongan dosen dari sebuah universitas. Alih-alih mendapatkan pengalaman edukatif yang menyenangkan, kami malah dikecewakan oleh kondisi museum yang sangat memprihatinkan. Gedung museum, yang seharusnya menjadi tempat nyaman untuk belajar sejarah, justru memperlihatkan tanda-tanda keusangan dan minim perawatan. Banyak koleksi benda-benda bersejarah yang tampak terabaikan; sebagian bahkan sudah basah dan berjamur akibat kebocoran atap. Ruangan-ruangan tertentu terlihat becek dan tidak nyaman untuk dikunjungi. Ragam Masalah Museum yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran sejarah ini juga minim informasi yang relevan dan modern. Dalam era digital seperti sekarang, integrasi teknologi dengan pengelolaan museum adalah suatu keharusan. Sebagai contoh, sistem informasi berbasis QR Code bisa menjadi solusi untuk mempermudah pengunjung mengakses informasi benda-benda bersejarah. Dengan teknologi ini, cukup dengan memindai QR Code, pengunjung dapat memperoleh detail tentang sejarah koleksi secara langsung melalui smartphone. Namun, hal semacam ini belum diadopsi oleh Museum Keraton Sumenep. Sebaliknya, pengunjung harus puas dengan pemandu wisata yang lebih banyak membahas cerita mistis dan “katanya-katanya” dibandingkan fakta sejarah yang mendalam. Masalah lainnya adalah kurangnya kesadaran akan kebersihan dan suasana yang nyaman. Saat pertama kali memasuki area depan museum, pengunjung disambut dengan pemandangan sampah yang berserakan. Tidak jarang, area ini juga dipenuhi oleh orang-orang yang bermain kartu domino atau uno, menciptakan suasana yang tidak sesuai dengan citra sebuah tempat wisata bersejarah. Kesan pertama yang buruk ini tentu saja menjadi pukulan telak bagi daya tarik museum, terutama bagi wisatawan yang datang untuk mencari pengetahuan dan pengalaman budaya. Perlu Berbenah Pengelolaan museum ini berada di bawah tanggung jawab Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Keraton Sumenep. Namun, dari kondisi yang ada, tampak jelas bahwa pengelolaan ini belum berjalan optimal. Museum Keraton Sumenep seharusnya belajar dari pengelolaan museum di daerah lain atau bahkan di luar negeri. Banyak museum modern yang berhasil memadukan pelestarian budaya dengan teknologi untuk menciptakan pengalaman wisata yang menarik dan edukatif. Sebagai contoh, museum-museum di Eropa telah lama menggunakan teknologi interaktif untuk menarik perhatian generasi muda. Mereka memanfaatkan augmented reality, virtual tours, hingga aplikasi berbasis smartphone yang memungkinkan pengunjung untuk mengeksplorasi koleksi museum tanpa bergantung sepenuhnya pada pemandu. Dengan demikian, museum bukan hanya menjadi tempat menyimpan artefak sejarah, tetapi juga ruang belajar yang interaktif dan menyenangkan. Selain itu, penting juga bagi Museum Keraton Sumenep untuk memperbaiki kualitas pemandu wisatanya. Pemandu bukan hanya sekadar narator, tetapi juga mediator antara sejarah dan pengunjung. Mereka perlu dilatih untuk menyampaikan informasi yang faktual, menarik, dan relevan dengan kebutuhan pengunjung, termasuk siswa, mahasiswa, dan wisatawan mancanegara. Saatnya Menyelamatkan Museum Keraton Sumenep juga perlu menggandeng berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan dan pelestarian. Misalnya, kerjasama dengan universitas lokal untuk penelitian sejarah, kerjasama dengan pelaku bisnis untuk sponsorship kegiatan budaya, atau bahkan kolaborasi dengan komunitas digital untuk pengembangan teknologi informasi. Dukungan pemerintah daerah juga sangat diperlukan. Alokasi anggaran yang memadai harus diberikan untuk perbaikan infrastruktur museum, perawatan koleksi, dan pengembangan teknologi informasi. Selain itu, kampanye promosi museum melalui media sosial dan event-event budaya bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan jumlah pengunjung. Museum Keraton Sumenep adalah warisan yang sangat berharga, bukan hanya bagi masyarakat Sumenep, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Ia adalah bukti nyata keberadaan dan kejayaan masa lalu yang seharusnya dijaga, dihargai, dan diperkenalkan kepada generasi mendatang. Sayangnya, tanpa upaya yang serius, museum ini akan kehilangan daya tariknya dan mungkin akan dilupakan. Sebagai masyarakat, kita juga memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap keberlangsungan museum ini. Edukasi tentang pentingnya menjaga warisan budaya harus menjadi bagian dari pendidikan sejak dini. Mengunjungi museum tidak hanya sekadar wisata, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap sejarah yang telah membentuk identitas kita hari ini. Museum Keraton Sumenep tidak boleh dibiarkan mati perlahan. Ia membutuhkan perhatian, dedikasi, dan inovasi dari semua pihak untuk mengembalikan kejayaannya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah terpenting di Indonesia. Jika tidak, lonceng kematian Museum Keraton Sumenep hanya tinggal menunggu waktu. Oleh : Dr Husamah Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, asal Sumenep Berita ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/lonceng-kematian-wisata-museum-keraton/ Lonceng Kematian Wisata Museum Keraton Diakses pada 30 Desember 2024
Pendidikan Biologi UMM Ajak Pakar Kupas Deep Learning dan SDGs

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) mengadakan Seminar Nasional Pendidikan Biologi IX dengan tema “Inovasi Penelitian Biologi dan Pendidikan untuk Mendukung Pencapaian SDG’s: Sinergis Menuju Masa Depan Hijau dan Inklusif.” Seminar ini mengundang berbagai pakar di bidang biologi dan pendidikan, termasuk dari luar negeri, untuk membahas peran penting biologi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya mengenai respons terhadap isu Deep Learning dalam pendidikan dan biologi. Pembukaan dan Sambutan Sambutan pertama disampaikan oleh Prof Dr Trisakti Handayani MM, Dekan FKIP UMM, yang mengapresiasi seminar ini sebagai langkah penting untuk memperkuat peran biologi dalam pendidikan. “Puji syukur kehadirat Allah SWT, seminar ini dapat terlaksana dengan baik dan menghasilkan buku kumpulan abstrak dan makalah-makalah yang telah didaftarkan terbit di Prosiding dan Jurnal Ilmiah. Makalah terkait deep learning adalah isu yang sedang diperbincangkan saat ini,” ujarnya dalam acara yang berlangsung pada Sabtu (30/11/2024) itu. Harapan untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Rr Eko Susetyarini MSi, Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana biologi dan pendidikan dapat menjadi pilar dalam mencapai SDGs. “Kami berharap seminar ini menjadi ajang berbagi wawasan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan yang berkelanjutan,” katanya. Pembicara Utama Seminar Seminar ini turut menghadirkan beberapa pembicara utama, di antaranya Prof Dr Nazaruddin Malik SE MSi, Rektor UMM; Assoc Prof Nguyen Ngoc Bao Chau PhD, dari Ho Chi Minh City Open University Vietnam; Assoc Prof Dr Bowo Sugiharto MPd, Ketua HPPBI-Indonesia; dan Assoc Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd, dari Universitas Muhammadiyah Malang. Selain itu, seminar ini juga mengundang para akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan untuk berbagi temuan terkini dan berkolaborasi dalam mengembangkan pendekatan baru dalam pengajaran dan penelitian biologi. Di akhir acara, Prof Dr Trisakti Handayani mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, termasuk penyunting dan redaksi pelaksana yang telah bekerja keras hingga buku kumpulan abstrak ini diterbitkan dan makalah dapat dipublikasikan. “Semoga kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan yang berlimpah,” harapnya. Seminar ini menjadi tonggak penting dalam mendorong kolaborasi lintas sektor untuk masa depan yang lebih berkelanjutan, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran biologi dan pendidikan dalam mewujudkan SDGs. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/pbio-umm-undang-pakar-bahas-deep-learning-dan-sdgs/ PBIO UMM Undang Pakar Bahas Deep Learning dan SDGs Diakses pada 2 Desember 2024
Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru

Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Guru dan Pendidik calon guru di Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru Nasional (HGN), sebuah momen penting untuk mengapresiasi jasa para pahlawan tanpa tanda jasa yang terus mencurahkan dedikasinya bagi pendidikan bangsa. Tahun ini, dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, peringatan HGN 2024 memberikan pengingat bahwa guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga pencerah peradaban yang membentuk masa depan bangsa. Namun, di tengah semangat ini, berbagai tantangan masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diatasi bersama. Berikut adalah tiga refleksi untuk menghayati peran guru dan komitmen kita sebagai bangsa dalam mendukung mereka. Guru adalah tonggak peradaban yang mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang lebih baik. Dalam konteks Indonesia, jumlah guru yang mencapai 3,39 juta orang, termasuk 845 tenaga pengajar di luar negeri, adalah potensi besar bagi bangsa ini. Namun, menjadi pencerah tidaklah mudah. Guru harus menghadapi tantangan besar, mulai dari persoalan kompetensi hingga perubahan zaman yang menuntut adaptasi terhadap teknologi. Seiring perkembangan dunia, peran guru sebagai pencerah peradaban semakin krusial. Mereka tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membentuk kepribadian, dan membangun pola pikir kritis siswa. Dalam era teknologi, peran ini semakin diperluas dengan kebutuhan untuk mencetak generasi yang melek digital tanpa kehilangan nilai-nilai kebangsaan. Disadari, menjadi pencerah di tengah berbagai keterbatasan tentu tidak sederhana. Kompetensi yang belum merata dan minimnya inovasi dalam pembelajaran masih menjadi kendala. Kemendikbudristek sendiri mencatat bahwa skor kompetensi guru di Indonesia perlu ditingkatkan agar pola pembelajaran yang inovatif dan relevan dapat diterapkan. Meski demikian, guru tetaplah pilar utama yang mampu membawa harapan baru. Dengan bimbingan, dukungan, dan apresiasi yang memadai, mereka mampu menjadi pelita yang menerangi generasi mendatang. Tantangan dalam dunia pendidikan di Indonesia memang kompleks. Masalah sertifikasi, distribusi guru yang tidak merata, hingga persoalan kesejahteraan menjadi isu yang membutuhkan perhatian serius. Sebagai contoh, masih banyak guru honorer yang menerima gaji di bawah standar UMR, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kesejahteraan yang minim tidak hanya berdampak pada kualitas hidup mereka, tetapi juga pada semangat dan kinerja dalam mendidik siswa. Tak hanya itu, perkembangan teknologi juga menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi memberikan peluang besar bagi inovasi pembelajaran. Namun, di sisi lain, masih banyak guru yang kesulitan beradaptasi dengan perubahan ini. Hambatan seperti kurangnya pelatihan, keterbatasan akses terhadap perangkat digital, hingga minimnya pendampingan menjadi kendala utama. Di tengah segala tantangan ini, komitmen untuk menjadi pendidik yang hebat tetaplah menjadi harapan yang harus diwujudkan. Guru harus terus beradaptasi, berinovasi, dan membangun kolaborasi untuk mencetak generasi yang cerdas secara holistik. Namun, upaya ini tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung bagi para guru. Kebijakan Nyata Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi untuk memperbarui komitmen kita terhadap pendidikan. Pemerintah sebagai regulator memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar mendukung guru sebagai pencerah peradaban. Mulai dari penyelesaian persoalan pendataan guru, pemerataan distribusi, peningkatan kompetensi, hingga perlindungan hukum bagi guru harus menjadi prioritas utama. Kebijakan saja tidak cukup jika tidak diiringi dengan eksekusi nyata. Contohnya, pemberian pelatihan berbasis teknologi yang merata dan berkelanjutan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kesenjangan kompetensi. Selain itu, penguatan sistem pendataan yang akurat akan membantu dalam menentukan kebutuhan supply dan demand guru secara tepat. Tak kalah penting, peningkatan kesejahteraan harus diwujudkan melalui alokasi anggaran yang memadai, sehingga guru dapat menjalankan tugasnya tanpa dibebani oleh kekhawatiran akan kebutuhan hidup. Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran besar dalam mendukung profesi guru. Menghormati dan menghargai guru bukan hanya soal memberikan penghormatan secara formal, tetapi juga mendukung upaya mereka dalam mendidik generasi muda. Sebagai orang tua, kita perlu menjadi mitra yang mendukung, bukan menjadi pihak yang melemahkan melalui kritik destruktif atau tekanan berlebihan. Hari Guru Nasional 2024 dengan tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” adalah pengingat bahwa guru adalah pilar utama dalam membangun bangsa yang lebih maju. Meski berbagai tantangan masih dihadapi, peran guru sebagai pencerah peradaban tidak akan tergantikan. Dengan semangat untuk terus belajar, berinovasi, dan beradaptasi, para guru akan mampu mencetak generasi masa depan yang berkualitas. Tentu, perjalanan ini membutuhkan dukungan yang nyata. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang berpihak pada guru, sementara masyarakat harus memberikan penghargaan yang layak atas peran mereka. Pada akhirnya, kebanggaan sebagai guru bukanlah soal profesi semata, tetapi soal panggilan hati untuk menjadi pencerah peradaban yang membawa harapan bagi masa depan Indonesia. Sebagai anak bangsa, mari kita bersama-sama menghormati dan mendukung guru, tidak hanya pada Hari Guru, tetapi setiap hari. Karena melalui mereka, cahaya peradaban akan terus menyala, mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang. Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Banggalah Menjadi Pencerah: Refleksi Hari Guru, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/banggalah-menjadi-pencerah-refleksi-hari-guru