Probolinggo — Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Malang (FPSH UMM) terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis sekolah dalam pengembangan kompetensi pendidik. Melalui kegiatan “FPSH UMM Goes to SMKN 2 Probolinggo: Menjembatani Teknologi dan Humanisme dalam Kelas Masa Kini”, FPSH UMM hadir di SMK Negeri 2 Probolinggo untuk mendampingi guru-guru dalam merespons dinamika disrupsi teknologi yang semakin kuat memengaruhi dunia pendidikan (Kamis, 25/7).
Kegiatan ini menjadi sangat relevan bagi Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM karena salah satu narasumber utama yang hadir adalah Fuad Jaya Miharja, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM. Kehadiran Pak Fuad menunjukkan kontribusi nyata Prodi Pendidikan Biologi dalam memperluas dampak akademik di luar kampus, khususnya dalam penguatan pembelajaran inovatif, transformatif, berbasis proyek, dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik. Dalam materi yang disampaikan, Pak Fuad mengangkat tema “Transformasi Sosial-Emosional: Menghadapi Karakteristik Siswa Gen Z dan Gen Alpha” serta “STEM Terintegrasi: Mengasah Soft Skills dan Kecerdasan Sosial-Emosional Lewat Pembelajaran Berbasis Proyek.”

Selain Pak Fuad, kegiatan ini juga menghadirkan Dr. Octavina Rizky Utami Putri, M.Pd. yang membawakan materi “Guru Adaptif untuk Generasi Digital: Menghadirkan Pembelajaran Kolaboratif melalui Gamifikasi AR-VR.” Dengan demikian, kegiatan ini memadukan dua perspektif penting dalam pendidikan masa kini, yaitu penguatan sisi humanisme melalui pembelajaran sosial-emosional dan penguatan literasi digital melalui pemanfaatan teknologi interaktif.
Dalam paparannya, Pak Fuad mengajak guru-guru SMKN 2 Probolinggo untuk memahami kembali karakteristik siswa Gen Z dan Gen Alpha. Kedua generasi ini tumbuh dalam lanskap digital yang sangat cepat, visual, instan, interaktif, dan kritis. Mereka terbiasa memperoleh informasi dari berbagai platform digital, termasuk media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan. Kondisi ini membuat peran guru mengalami pergeseran. Guru tidak lagi cukup hanya menjadi sumber informasi utama, tetapi perlu menjadi navigator informasi yang membantu siswa memilah data, memvalidasi kebenaran informasi, membedakan fakta dan hoaks, serta menyintesis informasi untuk memecahkan masalah nyata.
Sebagai dosen Pendidikan Biologi, Pak Fuad menekankan bahwa pembelajaran sains, khususnya STEM, memiliki potensi besar untuk membangun cara berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan bertanggung jawab. STEM tidak hanya dipahami sebagai pendekatan yang berorientasi pada teknologi tinggi, tetapi juga sebagai cara belajar yang mengajak siswa mengidentifikasi masalah, mengembangkan pemahaman, merancang solusi, dan mendiseminasikan hasil. Dalam konteks sekolah kejuruan, pendekatan ini sangat dekat dengan kebutuhan siswa karena berhubungan langsung dengan keterampilan kerja, inovasi produk, dan pemecahan masalah berbasis kehidupan nyata.
Salah satu gagasan penting yang disampaikan adalah integrasi antara STEM, Project Based Learning (PjBL), dan Social Emotional Learning (SEL). Menurut materi yang dipaparkan, proyek STEM tidak hanya melatih siswa menghasilkan produk atau solusi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan regulasi diri, resiliensi, hubungan interpersonal, kesadaran sosial, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Melalui kerja kelompok, siswa belajar mendengarkan pendapat orang lain, membagi peran, menghadapi tantangan, mengelola emosi saat proyek tidak berjalan lancar, serta menghargai kontribusi teman.
Pak Fuad juga memberikan contoh bahwa pembelajaran STEM tidak harus selalu mahal atau bergantung pada fasilitas canggih. Guru dapat mengembangkan low-cost STEM dengan memanfaatkan bahan daur ulang, sumber daya sekolah, dan masalah kontekstual di lingkungan sekitar. Beberapa contoh proyek yang dapat dikembangkan antara lain pembuatan sabun dari limbah minyak goreng, bioplastik dari bahan lokal, biopestisida, solar powerbank, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini menjadi penting karena guru dapat tetap menghadirkan pembelajaran inovatif meskipun dengan sarana sederhana.
Sementara itu, Dr. Octavina Rizky Utami Putri menguatkan aspek adaptasi digital guru melalui pemanfaatan gamifikasi, AR-VR, live worksheet, dan media pembelajaran interaktif. Guru diajak merefleksikan kesiapan diri dalam menghadapi generasi digital melalui pertanyaan pemantik, “Apakah saya siap menjadi guru adaptif untuk generasi digital?” Materi ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu presentasi, tetapi juga dapat menjadi ekosistem belajar yang mendorong partisipasi, kolaborasi, dan pengalaman belajar yang lebih menarik.
Melalui kombinasi materi dari kedua narasumber, kegiatan ini menegaskan bahwa pendidikan masa kini membutuhkan keseimbangan antara teknologi dan humanisme. Di satu sisi, guru perlu adaptif terhadap perkembangan digital, gamifikasi, AR-VR, media interaktif, dan kecerdasan buatan. Namun di sisi lain, guru juga tetap perlu memastikan bahwa pembelajaran memanusiakan siswa, membangun relasi positif, menguatkan karakter, serta memberi ruang bagi siswa untuk tumbuh secara sosial dan emosional.

Dari sudut pandang Program Studi S1 Pendidikan Biologi FPSH UMM, kegiatan ini menjadi bukti bahwa keilmuan biologi pendidikan tidak hanya terbatas pada pembelajaran konsep biologi di kelas, tetapi juga meluas pada pengembangan pedagogi inovatif, STEM terintegrasi, pembelajaran berbasis proyek, dan penguatan kompetensi sosial-emosional siswa. Kontribusi dosen Pendidikan Biologi dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa Prodi turut mengambil peran dalam menjawab kebutuhan sekolah terhadap pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Kegiatan FPSH UMM Goes to SMKN 2 Probolinggo sekaligus memperkuat posisi FPSH UMM sebagai fakultas yang memiliki komitmen terhadap peningkatan mutu pendidikan melalui kolaborasi dengan sekolah. Melalui sinergi antara Prodi Pendidikan Biologi, Prodi Pendidikan Matematika, dan unit-unit akademik di lingkungan FPSH UMM, kegiatan ini diharapkan mampu menginspirasi guru-guru SMKN 2 Probolinggo untuk menghadirkan kelas yang lebih adaptif, kolaboratif, humanis, dan berbasis teknologi.
Pada akhirnya, kelas masa kini bukan hanya ruang transfer pengetahuan. Kelas perlu menjadi ruang tumbuh bagi siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, mengelola diri, memecahkan masalah, dan berani berinovasi. Melalui kegiatan ini, FPSH UMM bersama SMKN 2 Probolinggo berupaya menjembatani kebutuhan pendidikan abad ke-21: teknologi yang maju, guru yang adaptif, dan pembelajaran yang tetap berpihak pada kemanusiaan siswa.
