Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Siap Terapkan Pembelajaran Transformatif

Malang, 8 Juni 2026 — Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran transformatif di lingkungan perguruan tinggi. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan partisipasi aktif dosen Pendidikan Biologi dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Penerapan Pembelajaran Transformatif bagi Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang diselenggarakan pada 8–9 Juni 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lembaga Inovasi Pembelajaran UMM bersama Biro Pendidikan dan Pembelajaran UMM tersebut menjadi langkah strategis UMM dalam memperkuat transformasi pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan berpusat pada mahasiswa. Pelatihan ini diikuti oleh dosen dari berbagai fakultas di lingkungan UMM dengan tujuan membangun ekosistem pembelajaran yang lebih reflektif, kolaboratif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21. Salah satu peserta dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. yang juga merupakan dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM. Kehadirannya menjadi representasi keseriusan FKIP UMM dalam mengembangkan budaya pembelajaran yang tidak hanya menekankan transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi cara berpikir, karakter, dan kemampuan problem solving mahasiswa. Dalam keterangannya, Husamah menyampaikan bahwa pembelajaran transformatif menjadi kebutuhan penting di era pendidikan modern. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga harus memiliki keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang sangat cepat. “Pembelajaran transformatif mendorong dosen untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan kontekstual. Mahasiswa tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi subjek aktif yang terlibat dalam proses refleksi, eksplorasi, dan pemecahan masalah nyata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsep pembelajaran transformatif sangat relevan diterapkan di Program Studi Pendidikan Biologi karena bidang biologi memiliki keterkaitan erat dengan persoalan lingkungan, kesehatan, keberlanjutan, dan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, proses pembelajaran perlu dirancang agar mampu membangun kesadaran ekologis sekaligus kemampuan berpikir ilmiah mahasiswa. Menurut Husamah, hasil dari kegiatan ToT tersebut akan menjadi modal penting dalam pengembangan inovasi pembelajaran di FKIP UMM, khususnya di Prodi Pendidikan Biologi. Ia menjelaskan bahwa pendekatan transformatif dapat diintegrasikan dengan berbagai model pembelajaran inovatif seperti *project-based learning*, *problem-based learning*, *deep learning*, hingga pendekatan berbasis STEM. “Ke depan, kami ingin menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, reflektif, dan berdampak. Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk mengeksplorasi ide, melakukan riset sederhana, membangun proyek, dan menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan nyata di masyarakat,” katanya. Kegiatan ToT tersebut juga menghadirkan berbagai materi terkait desain pembelajaran transformatif, asesmen autentik, strategi pembelajaran reflektif, hingga penguatan kompetensi dosen dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan. Para peserta diajak memahami bagaimana perubahan paradigma pendidikan saat ini menuntut dosen untuk lebih fleksibel dan inovatif dalam merancang pengalaman belajar mahasiswa. Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi kelompok, praktik penyusunan rancangan pembelajaran, serta refleksi bersama terkait tantangan implementasi pembelajaran transformatif di perguruan tinggi. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang dapat langsung diterapkan dalam proses pembelajaran. Husamah menyampaikan bahwa transformasi pembelajaran memerlukan kolaborasi dan komitmen bersama dari seluruh sivitas akademika. Ia menilai bahwa perubahan budaya belajar tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses yang berkelanjutan melalui penguatan kapasitas dosen dan dukungan institusi. Ia juga mengungkapkan bahwa FKIP UMM selama ini terus berupaya memperkuat inovasi pembelajaran yang selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Berbagai program peningkatan kompetensi dosen, pengembangan kurikulum, serta integrasi teknologi pembelajaran terus dilakukan untuk mendukung kualitas pendidikan yang unggul. “UMM memiliki visi besar untuk menghasilkan lulusan yang adaptif dan berdaya saing global. Karena itu, pembelajaran transformatif menjadi salah satu pendekatan penting agar mahasiswa mampu menghadapi tantangan masa depan dengan lebih siap,” tuturnya. Partisipasi dosen Pendidikan Biologi FKIP UMM dalam kegiatan ToT ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Dengan pendekatan yang lebih partisipatif dan reflektif, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga memiliki pengalaman belajar yang mampu membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Di sisi lain, kegiatan ini menunjukkan keseriusan UMM dalam membangun budaya akademik yang inovatif dan progresif. Melalui sinergi antara lembaga pengembangan pembelajaran dan fakultas, UMM terus mendorong lahirnya praktik-praktik pembelajaran unggul yang sesuai dengan dinamika dunia pendidikan global. Dengan mengikuti ToT Penerapan Pembelajaran Transformatif tersebut, Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM semakin optimistis untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, humanis, dan berdampak nyata bagi mahasiswa maupun masyarakat luas. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya UMM dalam memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi unggul yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Dosen UMM Dampingi Guru SMPAM 3 Malang Terapkan Model OIDDE untuk Penguatan Pembelajaran Mendalam

Malang — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sejak 5 Februari 2026 memulai program pendampingan bagi guru-guru SMP Aisyiyah Muhammadiyah (SMPAM) 3 Kota Malang guna meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di sekolah tersebut. Program ini mengintegrasikan penerapan model pembelajaran OIDDE dengan pendekatan lesson study dan konsep deep learning, sehingga diharapkan mampu memperkuat proses belajar mengajar secara lebih bermakna dan berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa. Kegiatan pendampingan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) UMM tahun pelaksanaan 2025–2026 yang memperoleh pendanaan internal universitas. Seluruh unsur pimpinan sekolah beserta para guru mengikuti kegiatan dengan antusias sejak sesi awal berlangsung. Atok, salah satu pengembang model pembelajaran OIDDE, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan strategi pembelajaran yang mampu mendorong peserta didik berpikir kritis, meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi, sekaligus menumbuhkan kesadaran etika serta nilai moral dalam proses belajar. Ia menambahkan bahwa ilmu dan pengalaman yang dibagikan diharapkan dapat langsung diterapkan oleh para guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Semula, kegiatan dirancang hanya berupa pelatihan penerapan model OIDDE. Namun, atas usulan pihak sekolah, khususnya Kepala Sekolah Husnul Khotimah bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Akhmad Fakhrur Rouzi, materi lesson study turut dimasukkan sehingga program berkembang menjadi pelatihan terpadu yang mengombinasikan OIDDE, lesson study, dan prinsip deep learning. Dalam sesi pembuka, para peserta menunjukkan ketertarikan tinggi ketika pemateri menjelaskan konsep dasar, tahapan implementasi, hingga dampak akademik maupun pembentukan karakter siswa melalui model tersebut. Sejumlah guru menilai pendekatan ini berpotensi membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Fakhrur yang juga mengikuti kegiatan sebagai peserta menilai keunggulan model ini terletak pada tahap pengambilan keputusan dan keterlibatan perilaku siswa, aspek yang menurutnya jarang ditemukan pada model pembelajaran lain dan sangat relevan untuk mendukung penguatan karakter, termasuk pada pembelajaran keagamaan. Program pendampingan direncanakan berlangsung hingga April 2026. Tahapan berikutnya meliputi pelatihan lanjutan mengenai lesson study, pendalaman konsep deep learning, serta penyusunan perangkat pembelajaran yang akan langsung diimplementasikan guru di kelas masing-masing. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-smpam-3-malang-dibekali-model-pembelajaran-oidde-untuk-dukung-deep-learning/
Dosen UMM Tingkatkan Kompetensi Guru IPA SMP Muhammadiyah Batu melalui Pelatihan Pembuatan Preparat Histologi

Batu — Guru-guru IPA SMP Muhammadiyah Kota Wisata Batu (KWB) mengikuti pelatihan pembuatan preparat histologi yang diselenggarakan pada Senin (2/2/2026) di Laboratorium Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini dipandu oleh tim dosen Program Studi Biologi UMM sebagai upaya memperkuat keterampilan praktikum guru di sekolah. Pelatihan bertujuan membekali para guru dengan kemampuan menyusun preparat awetan jaringan tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam pembelajaran dan praktikum IPA tingkat SMP. Selama ini, ketersediaan preparat di sekolah masih terbatas karena proses pembuatannya relatif kompleks dan belum banyak dikuasai oleh tenaga pendidik. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemandirian sekolah dalam menyediakan media praktikum berkualitas. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti setiap tahapan pelatihan. Sri Wahyuni, pakar histologi anatomi dari Program Studi Biologi UMM sekaligus narasumber utama, menjelaskan bahwa pembuatan preparat dilakukan melalui beberapa tahapan penting, mulai dari penyiapan bahan sesuai metode yang digunakan. Tahapan tersebut mencakup proses fiksasi, dehidrasi, penjernihan, infiltrasi, pengeblokan, pemotongan jaringan pada metode section, pewarnaan, hingga proses mounting dan pelabelan preparat sebelum digunakan sebagai media pembelajaran. Pada pelatihan ini, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan bahan pewarna alami yang diperoleh dari tanaman morning glory yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Metode praktikum awal yang dilatihkan meliputi teknik apus darah aves serta metode whole mount pada jaringan tumbuhan. Nurwidodo menambahkan bahwa pemanfaatan bahan alami dalam pelatihan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan potensi lingkungan sekitar yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPA. Pelatihan mendapat tanggapan positif dari para peserta. Cantia, guru SMP Muhammadiyah 8 KWB, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantu meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan dalam penyediaan preparat, terutama untuk mendukung pengelolaan laboratorium IPA di sekolahnya. Pendapat serupa disampaikan oleh Iin Hindun yang menilai keterampilan membuat preparat awetan sangat penting karena objek tersebut menjadi sumber utama dalam mempelajari struktur jaringan tumbuhan dan hewan secara faktual dalam pembelajaran IPA. Kepala SMP Muhammadiyah 8 Batu, Windra Rizkiana, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menilai kemampuan guru dalam menghasilkan preparat secara mandiri akan membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien. Ia juga menilai hasil preparat yang dihasilkan selama pelatihan memiliki kualitas baik dengan warna kontras sehingga struktur jaringan mudah diamati. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen dosen Program Studi Pendidikan Biologi UMM dalam mendukung peningkatan kualitas layanan laboratorium pendidikan di sekolah. Melalui pelatihan ini, sekolah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan media pembelajaran secara mandiri dan memperkuat kualitas pembelajaran IPA di kelas. Berita ini telah tayang pada: https://pwmu.co/dosen-prodi-biologi-fkip-umm-latih-guru-ipa-smp-muhammadiyah-kwb-membuat-preparat-histologi/
FKIP UMM Perkuat Implementasi Pembelajaran Mendalam bagi Guru Muhammadiyah Kabupaten Malang

Malang — Guru memegang peran kunci dalam mencerdaskan umat sekaligus membangun peradaban yang berkemajuan. Kesadaran tersebut menjadi landasan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh Tim Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan Forum Guru Muhammadiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang. Kegiatan ini berlangsung di SMK Muhammadiyah 8 Pakis, Minggu (25/01/2026). Mengusung tema Pembelajaran Mendalam, kegiatan ini bertujuan mendorong proses belajar yang tidak hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, reflektif, serta penghayatan nilai dalam pembelajaran. Dalam sesi pemaparan, Gigit Mujianto menegaskan bahwa pembelajaran mendalam menuntut perubahan cara pandang guru dalam mengajar. Guru diharapkan tidak lagi berperan sebagai penyampai materi semata, melainkan sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk aktif memahami konsep, mengaitkannya dengan konteks kehidupan nyata, dan merefleksikannya secara kritis. “Pembelajaran yang bermakna akan menghasilkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan karakter yang kuat,” jelasnya. Sejalan dengan itu, Arif Setiawan menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran yang terstruktur, jelas, dan berorientasi pada keterlibatan aktif siswa. Menurutnya, guru Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan, membebaskan, dan relevan dengan tantangan zaman. “Pembelajaran mendalam dapat diwujudkan melalui desain aktivitas belajar yang kontekstual, serta asesmen yang tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga menghargai proses belajar peserta didik,” ujarnya. Sementara itu, Zukhrufurrohmah mengajak para guru untuk terus melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran di kelas. Ia menekankan bahwa nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan dapat diintegrasikan secara alami dalam setiap mata pelajaran. “Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter serta kesadaran nilai peserta didik,” tuturnya. Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta. Diskusi berlangsung aktif dan reflektif, ditandai dengan berbagi pengalaman praktik pembelajaran di sekolah masing-masing serta pembahasan tantangan dalam mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/fkip-umm-dorong-pembelajaran-mendalam-bagi-guru-muhammadiyah-di-kabupaten-malang/
SEMNAS PBIO FKIP UMM Jadi Ruang Kolaborasi Ilmiah, Ratusan Pemakalah Bahas Keberlanjutan Kehidupan

Malang — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjadi pusat diskursus ilmiah melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Pendidikan Biologi X (SEMNAS PBIO/SEMBIO X 2025) yang mengusung tema Biologi, Pendidikan, dan Teknologi: Mengawal Keberlanjutan Kehidupan. Kegiatan ini menghadirkan ratusan pemakalah dan peserta dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari dosen, peneliti, guru, mahasiswa, hingga praktisi (16/12/2025). Foto peserta di SEMBIO X yang dilaksakan hari Selasa (16 Desember 2025) Forum ilmiah tahunan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, hasil riset, dan praktik terbaik dalam pendidikan biologi, khususnya dalam merespons tantangan keberlanjutan yang semakin kompleks. Pemanfaatan teknologi, penguatan literasi lingkungan, serta integrasi nilai-nilai lokal menjadi isu yang banyak disoroti dalam berbagai sesi seminar. Dekan FKIP UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menegaskan bahwa isu keberlanjutan menuntut pendekatan yang utuh. Pendidikan biologi, menurutnya, perlu melampaui penguasaan konsep menuju pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti literasi sains dan lingkungan, berpikir kritis, kolaborasi, serta etika akademik. Ia juga menekankan bahwa SEMNAS PBIO dirancang sebagai ruang penguatan jejaring akademik dan kolaborasi riset yang berdampak nyata. Sejalan dengan itu, Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., menyampaikan bahwa tema seminar dirancang untuk menjawab tantangan zaman. Perkembangan teknologi yang pesat dan meningkatnya ancaman ekologis menuntut karya ilmiah yang tidak berhenti pada laporan penelitian, tetapi bermuara pada inovasi pembelajaran, produk edukatif, serta rekomendasi aplikatif bagi sekolah dan masyarakat. Atmosfer ilmiah SEMNAS PBIO diperkuat dengan terbitnya buku kumpulan abstrak yang memuat beragam topik, mulai dari biologi murni dan terapan, pendidikan biologi, pembelajaran berbasis teknologi, literasi lingkungan, konservasi biodiversitas, hingga penguatan karakter dan keterampilan abad ke-21. Publikasi ini diharapkan menjadi rujukan awal bagi pengembangan riset dan praktik pendidikan biologi. Dua pembicara utama turut memperkaya perspektif keberlanjutan. Assoc. Prof. Ts. Dr. Rovina Kobun (Universiti Malaysia Sabah) menekankan pentingnya literasi pangan, gizi, dan lingkungan melalui pendekatan bio-inovasi. Ia menggarisbawahi peran strategis pendidikan biologi dalam membentuk pemahaman sistem pangan berkelanjutan, termasuk melalui inovasi berbasis rumput laut sebagai solusi ramah lingkungan. Sementara itu, Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si. (UMM) menyoroti peran kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan lingkungan. Melalui contoh praktik Reresik Kali, ia menunjukkan bagaimana integrasi pengetahuan ekologi tradisional dengan pendidikan dapat mendukung pencapaian SDGs, sekaligus menumbuhkan partisipasi dan tanggung jawab ekologis di tingkat komunitas. Keseluruhan rangkaian SEMNAS PBIO FKIP UMM menegaskan bahwa keberlanjutan membutuhkan sinergi antara inovasi berbasis sains dan teknologi dengan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal. Melalui forum ini, pendidikan biologi diharapkan terus menjadi penggerak perubahan—dari ruang kelas dan laboratorium hingga masyarakat luas. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2025/12/16/perkuat-semangat-berkelanjutan-ratusan-pemakalah-ramaikan-semnas-pbio-fkip-umm/
Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat 1 Nasional Versi SINTA

Alhamdulillah, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang kembali meraih capaian membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kemendikbudristek pada klaster Departments – Affiliations rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM mencatat SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini menegaskan konsistensi produktivitas riset dosen dan mahasiswa dalam tiga tahun terakhir. Peringkat pertama nasional versi SINTA bukan hadiah, tetapi hasil kerja nyata dosen dan mahasiswa yang konsisten meneliti, menulis, dan berkarya. Prestasi ini menunjukkan bahwa budaya riset yang dibangun selama ini memang bekerja, bukan sekadar slogan. Terima kasih kepada seluruh sivitas yang sudah menjaga mutu dan marwah Pendidikan Biologi UMM. Tugas berikutnya jelas: mempertahankan kualitas dan meningkatkan kontribusi pada ilmu pengetahuan serta pendidikan biologi di Indonesia.
Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat Pertama Nasional Versi SINTA

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada klaster Departments – Affiliations untuk rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM meraih SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi lain di Indonesia. Dalam daftar tersebut, “Pendidikan Biologi – Universitas Muhammadiyah Malang (071024)” berada di posisi teratas jenjang S1, disusul Universitas Mataram, Universitas Negeri Makassar, Universitas Tanjungpura, Universitas Negeri Padang, dan sejumlah kampus lainnya. Capaian ini mengonfirmasi konsistensi produktivitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa Pendidikan Biologi UMM dalam tiga tahun terakhir. Ketua Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Rr. Eko Susetyarini, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas raihan tersebut. “Alhamdulillah, capaian sebagai peringkat pertama nasional SINTA bidang Pendidikan Biologi ini adalah amanah sekaligus buah kerja kolektif. Ini hasil sinergi dosen, mahasiswa, alumni, serta dukungan penuh dari fakultas dan universitas. Kami menekankan budaya riset berkelanjutan, bukan hanya mengejar angka, tetapi memastikan setiap publikasi bermanfaat bagi pengembangan pendidikan biologi dan pemecahan persoalan nyata di lapangan,” ujarnya. Prof. Eko menambahkan, ekosistem akademik UMM yang kondusif berperan besar dalam keberhasilan tersebut. “Kami membangun tradisi bimbingan riset intensif, kolaborasi dosen–mahasiswa, serta jejaring luas dengan sekolah, komunitas, dan industri. Ke depan, kami akan memperkuat kolaborasi internasional dan publikasi di jurnal bereputasi global agar kontribusi UMM semakin diakui dunia,” imbuhnya. Sementara, Dekan FKIP UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, turut memberikan apresiasi kepada Prodi Pendidikan Biologi. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FKIP UMM, khususnya Pendidikan Biologi, menjadi motor penggerak mutu riset di lingkungan UMM. Ini selaras dengan komitmen kami untuk menjadi fakultas keguruan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Ia menegaskan, FKIP UMM akan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan, fasilitas, dan insentif penelitian. “Capaian ini bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk lompatan berikutnya. Kami berharap model penguatan riset di Pendidikan Biologi UMM dapat menjadi rujukan bagi prodi lain di FKIP dan kampus Muhammadiyah–’Aisyiyah se-Indonesia,” tambahnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/prodi-pendidikan-biologi-fkip-umm-raih-peringkat-pertama-nasional-versi-sinta/
Profesi Guru Takkan Pernah Mati

OPINI — Oleh: Dr. Husamah Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang Di mata sebagian orang, profesi guru mungkin tampak sederhana. Nyatanya, di negeri ini-dengan lebih dari 287 juta penduduk sebagaimana yang dirilis BPS (2025) dan jutaan anak didik yang menanti edukasi-guru tetaplah menjadi fondasi utama peradaban. Dalam setiap fase pembangunan bangsa, sosok guru selalu hadir: menyalakan akal, menumbuhkan karakter, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan guru menjadi profesi yang menjadi titik kebangkitan peradaban sebuah bangsa. Mari kita belajar dari semangat bangsa Jepang. Sejarah mencatat vitalnya peran guru dalam kebangkitan Jepang setelah tragedi Hiroshima dan Nagasaki. Saat itu, Kaisar Hirohito justru menanyakan berapa jumlah guru yang tersisa saat pertama kali mendengar negaranya telah luluh lantak oleh bom nuklir yang dijatuhkan tentara Amerika Serikat.Lihatlah bagaiman Jepang saat ini. Indonesia Membutuhkan Jutaan Guru Menurut data yang pernah disampaikan Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen, Indonesia memerlukan lebih dari 1,3 juta guru pada tahun 2024 dan akan terus bertambah di tahun-tahun berikutnya. Lonjakan kebutuhan ini bukan semata akibat bertambahnya sekolah atau peserta didik, tetapi juga karena banyaknya guru yang memasuki masa pensiun dan belum seimbangnya persebaran tenaga pendidik di berbagai wilayah, terutama di daerah 3T-tertinggal, terdepan, dan terluar. Di sisi lain, guru non-ASN yang masih aktif mengajar di sekolah negeri tercatat lebih dari 1,2 juta orang. Data ini menunjukkan dua hal sekaligus: kebutuhan guru masih terbuka lebar, dan profesi ini tetap menjadi salah satu profesi dengan kontribusi sosial paling tinggi. Profesi Abadi Guru adalah profesi tertua di dunia. Sejak manusia mengenal tradisi lisan, pembelajaran, dan nilai, peran guru telah ada dalam berbagai bentuk: dari pandita, ulama, resi, hingga dosen. Di era modern, guru menjadi penggerak utama lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsuf pendidikan Paulo Freire pernah mengatakan bahwa mengajar bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi membebaskan manusia dari kebodohan dan ketidakadilan. Itulah mengapa, dalam tulisan Milind Watve berjudul “A Teacher Never Dies” (2019), ia menegaskan bahwa seorang guru sejati tidak pernah mati, karena nilai-nilainya hidup dalam diri setiap murid yang ia ajar. Demikian pula artikel “Teachers Who Never Die” yang ditulis oleh José Matias Alves, seorang professor di Faculty of Education and Psychology, Universidade Católica Portuguesa, Porto menyebut guru sebagai agen transformasi sosial yang pengaruhnya melampaui ruang kelas dan masa hidupnya. Ia mengutip sebuah aktivitas yang meminta beberapa profesional (manajer, ahli hukum, mahasiswa, dan lainnya) untuk menuliskan kenangan tak terlupakan tentang seorang guru yang pernah mereka miliki. Permintaan ini menghasilkan 40 narasi yang dikumpulkan dan diterbitkan pada tahun 2022 dalam sebuah buku digital yang mendukung gagasan bahwa betapa besarnya jasa guru, dan profesi guru yang tidak akan pernah mati. Dr. Chawanna Bethany Chambers, seorang guru peraih penghargaan nasional dan bersertifikat di Amerika, dalam esainya “Passion Never Dies” (2017) menegaskan bahwa gairah seorang guru adalah energi abadi yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia senada dengan catatan Rubem Alves (2006) bahwa mengajar adalah latihan menuju keabadian. Entah bagaimana, kita terus hidup dalam diri mereka yang matanya belajar melihat dunia melalui keajaiban kata-kata kita. Oleh karena itu, guru tidak pernah mati. Bukan Guru Biasa Nikolaus Bönke, Profesor di Department of Educational Science, University of Freiburg, Germany, bersama koleganya dalam artikel yang terbit di Jurnal Teaching and Teacher Education (2024) menegaskan guru bukan sekadar pengajar statis, melainkan pembelajar sepanjang hayat yang terus berevolusi, memperkaya kompetensinya (misalnya dalam bidang digital, sains, maupun globalisasi), dan menjaga semangatnya agar tetap relevan. Guru memiliki kapasitas dinamis untuk beradaptasi, berefleksi, dan memperbarui motivasinya dalam menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan pendidikan. Namun, tentu menjadi guru di era digital bukan lagi sekadar perkara mengajar di depan kelas. Dunia pendidikan telah berubah.Mahasiswa yang menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tidak cukup hanya menjadi “guru biasa”. Mereka harus menjadi guru dengan kompetensi tambahan yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Calon guru Matematika, misalnya, harus mampu menjadi ahli cyber education, memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan dalam analisis dan pemecahan masalah. Calon guru Bahasa Inggris dituntut menjadi pebisnis internasional-mampu menjembatani komunikasi lintas budaya dan membuka jejaring global. Calon guru Biologi ditantang menjadi pengusaha sekaligus peneliti dan ilmuwan yang membawa riset bioteknologi ke ruang kelas. Calon guru Bahasa Indonesia seharusnya tidak hanya mengajarkan ejaan dan sastra, tetapi menjadi diplomat bahasa yang mampu mempromosikan identitas Indonesia di dunia. Guru PPKn perlu memahami tata negara dan dinamika kebijakan publik agar mampu melahirkan warga negara yang kritis dan berintegritas. Sedangkan calon guru SD (PGSD) harus tampil sebagai guru multitalenta-menguasai berbagai bidang, peka terhadap psikologi anak, dan kreatif memadukan teknologi dengan pembelajaran karakter. Pandangan para pakar pendidikan di berbagai belahan dunia menunjukkan satu benang merah: profesi guru tidak akan tergantikan. Bönke et al (2024) menyoroti bahwa teknologi, termasuk kecerdasan buatan, belum mampu menggantikan peran afektif, sosial, dan moral guru dalam membentuk kepribadian siswa. Guru tidak sekadar pengajar, tetapi juga pembimbing, fasilitator, dan teladan moral yang menumbuhkan empati dan kebijaksanaan-nilai-nilai yang tak bisa diprogram dalam algoritma. Dengan demikian, di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial, guru tetap menjadi profesi yang tak tergantikan. Di Indonesia, di mana pemerataan pendidikan masih menjadi tantangan, keberadaan guru justru semakin vital. Tugas kita bersama adalah memastikan para guru tidak hanya cukup jumlahnya, tetapi juga memiliki kompetensi, kesejahteraan, dan kesempatan yang layak untuk berkembang. Profesi guru bukan hanya tentang mengajar; ia adalah panggilan hidup untuk menyalakan peradaban. Selama manusia masih memerlukan ilmu, nilai, dan arah, profesi guru akan tetap hidup. Guru boleh pensiun, wafat, atau berganti generasi-tetapi semangat dan pengaruhnya akan terus hidup dalam diri murid-muridnya. Sebab benar adanya: “seorang guru tidak pernah mati.” Artikel ini telah tayang pada: https://harianbhirawa.co.id/profesi-guru-takkan-pernah-mati/
Penguatan Kapasitas Dosen Biologi UMM Menuju Kolaborasi Internasional

Malang, 20 September 2025 – Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Kapasitas Dosen melalui Pelatihan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bertaraf Internasional”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada Sabtu, 20 September 2025, pukul 12.00–15.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan untuk menjawab tantangan globalisasi, di mana dosen dituntut tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga mampu bersaing dalam skema penelitian dan pengabdian masyarakat tingkat internasional. Penguatan kapasitas ini diharapkan meningkatkan daya saing, kualitas, serta reputasi program studi, fakultas, dan universitas di kancah global. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya, yang memiliki pengalaman luas dalam memperoleh dan mengelola hibah internasional. Kedua narasumber bergabung melalui Zoom dan memberikan materi terkait tips dan trik untuk mendapatkan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui hibah internasional. Pemateri pertama, Rachmat Adhi Wibowo, menekankan bahwa impact dari penelitian jauh lebih penting dibandingkan sekadar latar belakang penelitian. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam riset adalah memperoleh pendanaan, sehingga penyusunan proposal yang solid menjadi faktor kunci. “Setelah dana diperoleh, fleksibilitas penelitian akan lebih terbuka, termasuk kesempatan berkonsultasi dengan project manager sebagai pihak pengambil keputusan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya networking dan ide yang inovatif untuk dapat bersaing di tingkat global. Pemateri kedua, Septi Panca Sakti, berbagi pengalaman dalam melaksanakan program pengabdian bertaraf internasional. Salah satunya adalah Pelatihan Inisiasi Hizbul Wathan Bahari (IHWB) yang didanai oleh The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 peserta dari seluruh Indonesia, dengan mekanisme lima hari pelatihan daring dan enam hari praktik lapangan di Jakarta serta Kepulauan Seribu (5–10 Februari 2023). Menurutnya, keberhasilan pengabdian sangat ditentukan oleh kemitraan yang kuat. “Partner kerjasama yang baik akan memudahkan pelaksanaan kegiatan. Goal kegiatan harus SMART dan terukur, dengan penggunaan tools yang akurat,” jelasnya. Lebih lanjut, Septi menambahkan bahwa GIZ Indonesia memiliki beberapa skema pendanaan (funding) yang dapat diakses melalui https://www.giz.de/en/regions/asia/indonesia. Ia juga menegaskan bahwa social impact merupakan salah satu ide proyek yang disukai oleh penyandang dana di Jerman karena erat kaitannya dengan isu sustainability. Pak Adhi juga menambahkan bahwa proyek internasional seperti GIZ dapat berjalan optimal berkat dukungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), misalnya UM Sukabumi yang menyusun modul distance learning serta UM Jakarta yang menyediakan asrama bagi peserta luar kota. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergi PTM dengan lembaga internasional untuk mengembangkan ide-ide inovatif, termasuk dalam bidang kepanduan laut yang belum banyak dieksplorasi. Di akhir sesi, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kedua pemateri atas ilmu yang telah dibagikan. Beliau juga menyatakan harapan agar ke depan dapat terjalin kerja sama (Perjanjian Kerja Sama/PKS) antara Prodi Pendidikan Biologi UMM dengan para pemateri untuk melaksanakan penelitian maupun pengabdian secara bersama.