Dosen dan Mahasiswa UMM Kolaborasi Bersama PKK Dusun Jetis Kembangkan Akuaponik, Optimalisasi Lahan Sempit untuk Ketahanan Pangan

Malang — Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi warga Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, untuk tetap produktif di sektor pertanian dan perikanan. Melalui inovasi sistem akuaponik, lahan sempit di lingkungan Jalan Margojoyo RT.01/RW.02 kini mampu dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya ikan dan sayuran secara terpadu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melibatkan dosen lintas disiplin dari Pendidikan Biologi, Perikanan, serta Ekonomi dan Bisnis, bersama lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi, Teknik Informatika, dan Psikologi. Kegiatan dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2025 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Akuaponik dipilih sebagai solusi karena mampu mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang efisien dan ramah lingkungan. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada teknik budidaya, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi hasil panen. Sayuran hasil akuaponik, misalnya, diolah menjadi produk bernilai tambah seperti keripik sayur, sementara ikan lele dikembangkan menjadi produk olahan. Pelatihan teknis budidaya akuaponik dikoordinasikan oleh Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Peternakan UMM. Peserta diajak terlibat langsung dalam perancangan sistem akuaponik, pemilihan komoditas, pembibitan, hingga perakitan instalasi. Jenis tanaman yang dibudidayakan meliputi sawi pakcoy, kangkung, bayam, dan seledri, sedangkan ikan yang digunakan adalah lele (Clarias sp.). Tahap lanjutan kegiatan difokuskan pada pengolahan hasil panen dan pemasaran produk berbasis digital. Pendampingan dilakukan oleh Dr. Erna Retno Rahadjeng, M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Melalui kegiatan ini, anggota PKK Dusun Jetis diarahkan untuk mengembangkan produk lokal seperti keripik sayur dan abon lele sebagai peluang usaha keluarga. Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Anggota PKK menilai sistem akuaponik memberi solusi nyata atas keterbatasan lahan, sekaligus memungkinkan dua aktivitas produktif—bertanam dan budidaya ikan—dalam satu wadah yang saling menguntungkan. Hasil panen tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga, tetapi juga dikembangkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Secara lebih luas, kegiatan pengabdian ini menjadi wujud kontribusi UMM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya penguatan ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga, serta pengurangan kemiskinan dan kelaparan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu mendorong kemandirian pangan dan produktivitas berkelanjutan di tingkat komunitas. Berita ini telah tayang pada: https://www.kompasiana.com/pkkmargojoyomalang7301/69367ed7c925c4044e1089d2/dosen-umm-bersama-mahasiswa-gandeng-pkk-dusun-jetis-kembangkan-akuaponik-dari-lahan-sempit-menjadi-sumber-produktivitas
Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat 1 Nasional Versi SINTA

Alhamdulillah, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang kembali meraih capaian membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kemendikbudristek pada klaster Departments – Affiliations rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM mencatat SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi di Indonesia. Capaian ini menegaskan konsistensi produktivitas riset dosen dan mahasiswa dalam tiga tahun terakhir. Peringkat pertama nasional versi SINTA bukan hadiah, tetapi hasil kerja nyata dosen dan mahasiswa yang konsisten meneliti, menulis, dan berkarya. Prestasi ini menunjukkan bahwa budaya riset yang dibangun selama ini memang bekerja, bukan sekadar slogan. Terima kasih kepada seluruh sivitas yang sudah menjaga mutu dan marwah Pendidikan Biologi UMM. Tugas berikutnya jelas: mempertahankan kualitas dan meningkatkan kontribusi pada ilmu pengetahuan serta pendidikan biologi di Indonesia.
Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM Raih Peringkat Pertama Nasional Versi SINTA

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatatkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Berdasarkan pemeringkatan Science and Technology Index (SINTA) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada klaster Departments – Affiliations untuk rumpun Pendidikan Biologi (kode 84205), Prodi Pendidikan Biologi UMM menempati peringkat pertama nasional. UMM meraih SINTA Score Overall 19,536 dan SINTA Score 3-year 7,280, unggul dari lebih dari 150 afiliasi perguruan tinggi lain di Indonesia. Dalam daftar tersebut, “Pendidikan Biologi – Universitas Muhammadiyah Malang (071024)” berada di posisi teratas jenjang S1, disusul Universitas Mataram, Universitas Negeri Makassar, Universitas Tanjungpura, Universitas Negeri Padang, dan sejumlah kampus lainnya. Capaian ini mengonfirmasi konsistensi produktivitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa Pendidikan Biologi UMM dalam tiga tahun terakhir. Ketua Prodi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Rr. Eko Susetyarini, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas raihan tersebut. “Alhamdulillah, capaian sebagai peringkat pertama nasional SINTA bidang Pendidikan Biologi ini adalah amanah sekaligus buah kerja kolektif. Ini hasil sinergi dosen, mahasiswa, alumni, serta dukungan penuh dari fakultas dan universitas. Kami menekankan budaya riset berkelanjutan, bukan hanya mengejar angka, tetapi memastikan setiap publikasi bermanfaat bagi pengembangan pendidikan biologi dan pemecahan persoalan nyata di lapangan,” ujarnya. Prof. Eko menambahkan, ekosistem akademik UMM yang kondusif berperan besar dalam keberhasilan tersebut. “Kami membangun tradisi bimbingan riset intensif, kolaborasi dosen–mahasiswa, serta jejaring luas dengan sekolah, komunitas, dan industri. Ke depan, kami akan memperkuat kolaborasi internasional dan publikasi di jurnal bereputasi global agar kontribusi UMM semakin diakui dunia,” imbuhnya. Sementara, Dekan FKIP UMM, Prof. Moh. Mahfud Effendi, turut memberikan apresiasi kepada Prodi Pendidikan Biologi. “Prestasi ini menunjukkan bahwa FKIP UMM, khususnya Pendidikan Biologi, menjadi motor penggerak mutu riset di lingkungan UMM. Ini selaras dengan komitmen kami untuk menjadi fakultas keguruan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya. Ia menegaskan, FKIP UMM akan terus memperkuat dukungan melalui kebijakan, fasilitas, dan insentif penelitian. “Capaian ini bukan garis akhir, tetapi titik awal untuk lompatan berikutnya. Kami berharap model penguatan riset di Pendidikan Biologi UMM dapat menjadi rujukan bagi prodi lain di FKIP dan kampus Muhammadiyah–’Aisyiyah se-Indonesia,” tambahnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/prodi-pendidikan-biologi-fkip-umm-raih-peringkat-pertama-nasional-versi-sinta/
Guru Berhati Besar: Refleksi Hari Guru

OPINI — Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd. (Wakil Dekan I FKIP Universitas Muhammadiyah Malang) Selamat hari guru, 25 November 2025. Jadilah guru yang berhati besar. Kami hanya dapat memberi kado berupa tulisan ini. Wujud cinta dan hormat pada guru Indonesia. Untuk itu, mari sedikit berbicara tentang itu. Di dunia akademik perguruan tinggi, kita terbiasa mendengar istilah Guru Besar—gelar tertinggi bagi para dosen, simbol puncak karier dan kapabilitas akademik. Tapi, bagaimana kalau kita memperkenalkan sesuatu yang tak kalah penting, meskipun tak tercetak di ijazah: “Guru Berhati Besar”? Mengapa “Berhati Besar” penting? Kadang kita berfokus pada gelar, publikasi, dan jabatan. Ya, semua itu sangat penting dalam dunia akademik. Namun, esensi mendidik bukan hanya soal mengajar materi, melainkan juga merawat hati—baik hati guru maupun hati siswa. Seorang guru yang besar hatinya bisa merespons bukan hanya pertanyaan ilmiah, tapi juga kegelisahan siswa: stres, keraguan, kegagalan — semua itu bagian dari kehidupan sekolah. Dalam artikel “The Heart of a Teacher” oleh Geraldine, ia menggambarkan bagaimana seorang guru (dalam konteksnya sebagai guru untuk anak kecil) memiliki hati yang “cukup besar untuk mendengar detak-detak hati kecil di sekelilingnya. Cukup besar untuk membuka pelukan di pagi hari. Dan cukup kuat untuk mengirim doa setiap malam. Meski Geraldine bicara tentang guru sekolah dasar, semangat itu bisa diaplikasikan ke guru secara umum: bukan cuma mengajar, tetapi menjadi pendengar dan pemberi harapan. Guru dan panggilan nurani Terkadang guru juga butuh muhasabah. Menurut artikel dari Ikatan Guru Indonesia (IGI), ada pertanyaan besar: apakah sebagai guru (atau pendidik) kita masih memiliki hati nurani? Penulis artikel tersebut mengajak para guru untuk melihat ke dalam diri: apakah kita mendorong siswa agar terus belajar, tapi kita sendiri sudah berhenti berkembang? Apakah kita memberi contoh integritas, atau sekadar meminta siswa mengerjakan tugas sambil kita “tunggu saja”? Hasrat untuk menjadi pendidik sejati kerap diuji — apakah ini semata profesi atau panggilan hati. Bila guru punya hati nurani, maka pembimbingan akademik tidak cuma soal buku, tugas, pekerjaan rumah, dan proyek. Ada aspek kemanusiaan: merangkul siswa yang kewalahan, memberi dukungan moral, bahkan mendorong mereka menjaga kesehatan mental. Guru berhati besar adalah sosok yang bisa menjadi panutan personal, tidak hanya intelektual. Kisah nyata: guru berhati besar di dunia nyata Ada cerita inspiratif tentang guru yang berjiwa besar dan penuh pengabdian. Meski tidak persis dosen, kisah guru-guru seperti yang diliput Palm Beach Post tentang “big-hearted teacher” menunjukkan betapa pengaruh manusiawi dari seorang pengajar dapat mengubah hidup murid. Narasi semacam itu menggarisbawahi bahwa kepedulian, kehangatan, dan empati guru bisa berdampak besar bagi siswanya. Begitu juga, di banyak tulisan Indonesia kita menemukan ungkapan “guru tangguh berhati cahaya.” Dalam artikel tentang guru, “tangguh berhati cahaya” dipakai untuk menggambarkan guru yang tidak hanya kuat menghadapi tantangan, tetapi juga memberi “cahaya”: penerangan ilmu dan akhlak, dan kehadiran yang menenangkan siswa. Dampak positif “Guru Berhati Besar” Membangun kepercayaan. Siswa, apalagi yang baru memasuki dunia sekolah, sering kali merasa ragu, tersisih, atau bingung. Guru yang punya hati besar bisa menjadi figur andalan: tempat curhat, berdebat gagasan, bahkan berbagi kegelisahan hidup. Pertama, meningkatkan pengalaman belajar emosional. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu: juga pembentukan karakter. Guru yang peduli ke aspek emosional siswa membantu menciptakan iklim kelas yang lebih sehat dan produktif. Kedua, memotivasi siswa agar lebih resilient. Siswa yang tahu bahwa gurunya peduli akan lebih berani mengejar ide, mencoba tugas yang sulit, dan menghadapi kegagalan dengan kepala tegak. Dukungan emosional bisa membuat perbedaan besar. Ketiga, membangun komunitas akademik yang inklusif. Dengan “hati besar”, guru bisa merawat inklusivitas: menerima latar belakang beragam siswa, membuka ruang diskusi, dan memfasilitasi kolaborasi. Hal ini memperkaya akademia. Bagaimana mewujudkan “Guru Berhati Besar”? Beberapa langkah konkret bisa dipertimbangkan: Pertama, Pelatihan empati dan kecerdasan emosional. Lembaga akademik bisa menyelenggarakan workshop untuk guru mengenai mentoring, komunikasi empatik, dan coaching kehidupan (life coaching) untuk siswa. Kedua, Meningkatkan kesejahteraan dan dukungan mental untuk guru. Sekilas perlu memahami bahwa guru yang sehat mental lebih mampu menjadi pendidik yang peduli. Program dukungan seperti konseling, beban kerja yang seimbang, dan pengakuan atas kerja peduli sangat penting. Ketiga, Mekanisme mentoring formal. Selain menjadi pengajar materi, guru bisa diberi peran resmi sebagai mentor, dengan beban jam mentoring dan penghargaan atas kontribusi non-akademik kepada siswa. Keempat, Kebijakan penghargaan kepedulian. Sekolah bisa memberi pengakuan (misalnya “Guru Inspiratif”) tidak hanya berdasar jumlah publikasi, tetapi juga berdasarkan testimoni siswa, mentoring, dan kontribusi sosial. Kelima, Memupuk budaya cerita. Membagikan kisah “Guru berhati besar” di media kampus (majalah, blog, seminar) dapat menginspirasi kolega lain untuk menumbuhkan kepedulian. Kesimpulan Kalau guru Besar adalah penghargaan atas puncak akademik, maka Guru Berhati Besar adalah penghargaan atas kemanusiaan. Gelar boleh tinggi, tapi hubungan manusia-lah yang membuat pendidikan bermakna. Di era di mana teknologi, publikasi, dan persaingan akademik sangat kencang, kita butuh sosok guru yang tidak hanya menguak teori, tetapi juga merajut harapan — guru dengan hati besar. Semoga kita bisa memperluas wacana ini di sekolah-sekolah kita: mendorong agar “besar hati” menjadi bagian dari identitas akademik yang dihormati, dihargai, dan dihidupi. Opini ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/guru-berhati-besar-refleksi-hari-guru/
Keren, 3 Guru Besar Baru UMM Diarak Pakai Moge saat Pengukuhan

Malang — Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge. 3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal. Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika. Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar. Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin. Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” ujar Nazar. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Muhadjir Effendy, memberikan apresiasi tinggi atas capaian UMM. Sebagai mantan rektor dia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus. Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Dia menilai tiga profesor baru tersebut memiliki titik temu dalam menciptakan masa depan Indonesia yang lebih hijau, baik, dan berkelanjutan. “Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” kata Muhadjir. Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Fauzan menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya. “Pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas,” kata Fauzan. Berita ini telah tayang pada: https://jatim.viva.co.id/amp/cangkrukan/22967-gaul-3-guru-besar-baru-umm-diarak-pakai-moge-saat-pengukuhan
Tiga Guru Besar FKIP UMM Dikukuhkan, Kaji Mikrobiologi, Kurikulum, hingga Bioetika

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah tiga jumlah Guru Besar baru dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Pengukuhan Guru Besar ini digelar di Basement Dome UMM, Sabtu (22/11/2025). Meski berasal dari Fakultas yang sama, namun penelitian dan kepakaran bidang dari ketiga guru besar ini berbeda. Ada yang fokus pada ilmu pembelajaran bioetika, mikrobiologi lingkungan, hingga pengembangan kurikulum. Ketiga guru besar baru FKIP UMM tersebut, yakni: – Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha M.Pd., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika. – Prof. Dr. Lud Waluyo M.Kes., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan. – Prof. Dr. Moh Mahfud Effendi M.M., sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum. Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Atok Miftachul Hudha MPd Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pembelajaran Bioetika, sekaligus gubes ke-69 di UMM. Prof Atok mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Integrasi Model Pembelajaran OIDDE dalam Pendidikan Bioetika di Abad Global: Membangun Pengetahuan, Keputusan Etis dan Sikap Etis Peserta Didik.” Prof Atok menilai, pendidikan sains di Indonesia masih lemah, karena peserta didik tidak dibiasakan menimbang aspek moral dari setiap praktik laboratorium yang dilakukan. Perkembangan bioteknologi yang cepat menghadirkan dilema etis baru tidak tertampung dalam kurikulum konvensional, sehingga pendidikan bioetika menjadi kebutuhan mendesak. Agar keputusan ilmiah tidak hanya benar secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab terhadap makhluk hidup dan lingkungan. “Pembelajaran biologi tidak boleh berhenti pada hafalan konsep, melainkan harus menumbuhkan kesadaran tentang konsekuensi moral dari setiap tindakan ilmiah,” ujar Prof Atok. Menurutnya, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa mengerjakan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berpotensi melahirkan praktik berisiko serta mengabaikan keselamatan dan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab persoalan ini, Prof Atok mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Hasil penelitiannya menunjukkan, model OIDDE secara konsisten meningkatkan kemampuan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral ketika menghadapi dilema eksperimen. Serta memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains, karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan. Tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” tandasnya. Prof Dr Lud Waluyo MKes menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Lud Waluyo MKes Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Mikrobiologi Lingkungan, sekaligus gubes ke-73 di UMM. Prof Lud mengangkat pidato pengukuhan berjudul “Biofitoremediator: Salah Satu Solusi Penanganan Polusi Limbah Cair. Prof Lud menjelaskan, persoalan limbah cair semakin kompleks akibat pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Selain itu, hadirnya senyawa rekalsitran serta xenobiotik yang sulit diurai mikroorganisme alami. Prof Lud menegaskan, pendekatan kimia tak lagi memadai, karena berpotensi menciptakan residu baru berbahaya, sehingga solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Menurutnya, krisis ekologis modern hanya dapat diatasi melalui teknologi hijau memanfaatkan kemampuan biologis organisme hidup secara lebih aman dan berkelanjutan. “Penelitian saya sejak 1998 hingga 2025 menunjukkan solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri. Riset panjang ini berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik yang toleran deterjen dan LAS efektif mematikan patogen. Kemudian saya rumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil dengan kemampuan tinggi menurunkan BOD, COD, TSS dan residu deterjen,” terang Prof Lud. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, yakni teknologi hibrid menggabungkan konsorsium bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air. Seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. “Sistem ini terbukti mempercepat penurunan polutan, meningkatkan jangkauan remediasi, serta memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan. Termasuk logam berat hingga 100 ppm,” ujarnya Ia menandaskan, keberhasilan paten biofitoremediator dan penerapannya pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan dan tapioka. Menjadi bukti bahwa pendekatan bioremediasi tidak hanya solusi teknis. “Tetapi juga bentuk tanggung jawab moral manusia untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” tandasnya. Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM menyampaikan pidato pengukuhannya Prof Dr Moh Mahfud Effendi MM Dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum, sekaligus gubes ke-72 di UMM. Prof Mahfud menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kurikulum Indonesia Satu (KIS)”, dirancang sebagai kurikulum pemersatu tanpa menghilangkan keberagaman. Ia menilai, pendidikan nasional kerap terjebak pada keseragaman, padahal Indonesia dibangun atas ribuan budaya, bahasa dan tradisi yang harus tetap hidup dalam proses belajar. Karena itu, KIS memberi ruang bagi identitas lokal, menempatkan budaya daerah sebagai akar pembelajaran sekaligus pijakan melangkah ke arah global. “Kurikulum ini diharapkan tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi juga menuntun arah peradaban bangsa menuju tujuan pendidikan humanis dan berkeadaban,” ucapnya Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus digunakan sebagai alat untuk memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” tegasnya. Lebih jauh, Mahfud menjelaskan, KIS mesti terintegratif, memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai, budaya dan kehidupan nyata, sehingga pembelajaran lebih bermakna. Pentingnya kurikulum menghubungkan mata pelajaran dengan kearifan lokal dan realitas sosial, sehingga anak tidak belajar untuk ujian, tetapi memahami dunia dan dirinya. “Kurikulum berjiwa humanis, inklusif dan berbasis teknologi yang berkeadilan adalah syarat mutlak untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045,” tandasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik MSi menegaskan bahwa bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, melainkan energi baru bagi kemajuan bangsa. Dia menekankan pentingnya sinergi lintas disiplin sebagai kunci pengembangan peradaban. “Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” ucapnya. Lebih lanjut, Nazar juga menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus. “Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” pungkasnya. Berita ini telah tayang pada: https://reportasemalang.com/tiga-guru-besar-fkip-umm-dikukuhkan-kaji-mikrobiologi-kurikulum-hingga-bioetika/
Penguatan Kapasitas Dosen Biologi UMM Menuju Kolaborasi Internasional

Malang, 20 September 2025 – Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Kapasitas Dosen melalui Pelatihan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bertaraf Internasional”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom pada Sabtu, 20 September 2025, pukul 12.00–15.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan untuk menjawab tantangan globalisasi, di mana dosen dituntut tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga mampu bersaing dalam skema penelitian dan pengabdian masyarakat tingkat internasional. Penguatan kapasitas ini diharapkan meningkatkan daya saing, kualitas, serta reputasi program studi, fakultas, dan universitas di kancah global. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jerman Raya, yang memiliki pengalaman luas dalam memperoleh dan mengelola hibah internasional. Kedua narasumber bergabung melalui Zoom dan memberikan materi terkait tips dan trik untuk mendapatkan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui hibah internasional. Pemateri pertama, Rachmat Adhi Wibowo, menekankan bahwa impact dari penelitian jauh lebih penting dibandingkan sekadar latar belakang penelitian. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam riset adalah memperoleh pendanaan, sehingga penyusunan proposal yang solid menjadi faktor kunci. “Setelah dana diperoleh, fleksibilitas penelitian akan lebih terbuka, termasuk kesempatan berkonsultasi dengan project manager sebagai pihak pengambil keputusan,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya networking dan ide yang inovatif untuk dapat bersaing di tingkat global. Pemateri kedua, Septi Panca Sakti, berbagi pengalaman dalam melaksanakan program pengabdian bertaraf internasional. Salah satunya adalah Pelatihan Inisiasi Hizbul Wathan Bahari (IHWB) yang didanai oleh The Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Kegiatan tersebut diikuti oleh 42 peserta dari seluruh Indonesia, dengan mekanisme lima hari pelatihan daring dan enam hari praktik lapangan di Jakarta serta Kepulauan Seribu (5–10 Februari 2023). Menurutnya, keberhasilan pengabdian sangat ditentukan oleh kemitraan yang kuat. “Partner kerjasama yang baik akan memudahkan pelaksanaan kegiatan. Goal kegiatan harus SMART dan terukur, dengan penggunaan tools yang akurat,” jelasnya. Lebih lanjut, Septi menambahkan bahwa GIZ Indonesia memiliki beberapa skema pendanaan (funding) yang dapat diakses melalui https://www.giz.de/en/regions/asia/indonesia. Ia juga menegaskan bahwa social impact merupakan salah satu ide proyek yang disukai oleh penyandang dana di Jerman karena erat kaitannya dengan isu sustainability. Pak Adhi juga menambahkan bahwa proyek internasional seperti GIZ dapat berjalan optimal berkat dukungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), misalnya UM Sukabumi yang menyusun modul distance learning serta UM Jakarta yang menyediakan asrama bagi peserta luar kota. Kolaborasi ini menjadi contoh nyata sinergi PTM dengan lembaga internasional untuk mengembangkan ide-ide inovatif, termasuk dalam bidang kepanduan laut yang belum banyak dieksplorasi. Di akhir sesi, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kedua pemateri atas ilmu yang telah dibagikan. Beliau juga menyatakan harapan agar ke depan dapat terjalin kerja sama (Perjanjian Kerja Sama/PKS) antara Prodi Pendidikan Biologi UMM dengan para pemateri untuk melaksanakan penelitian maupun pengabdian secara bersama.
Tim Peneliti Pendidikan Biologi UMM Gali Kearifan Pengelolaan Sungai Chao Phraya Thailand

Malang, 30 Agustus 2025 – Tim peneliti Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan penelitian internasional bertajuk “Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sungai: Studi Komparasi Jawa Timur dan Thailand”. Kegiatan ini berlangsung pada 22–30 Agustus 2025 dengan fokus menggali budaya masyarakat dalam konservasi sungai serta pemanfaatan biomonitoring. Penelitian ini melibatkan tiga dosen senior sekaligus peneliti utama, yaitu Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si., Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Riset tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Fundamental–BIMA tahun 2025. Meneliti Kearifan Lokal di Sungai Chao Phraya Prof. Abdulkadir Rahardjanto menjelaskan bahwa tim memilih Sungai Chao Phraya, Thailand, sebagai lokasi penelitian karena sungai ini bukan hanya berperan vital secara ekologis dan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai budaya tinggi. “Sungai Chao Phraya adalah urat nadi Thailand. Masyarakat setempat sangat menghormati sungai ini. Mereka punya cara-cara unik untuk menjaga kebersihan dan keberlanjutannya. Di situlah kami ingin belajar dan mengkomparasikan dengan kondisi di Jawa Timur,” ujarnya. Ia menambahkan, penelitian tidak hanya mengamati kondisi fisik dan kualitas air, tetapi juga mendalami budaya masyarakat Thailand yang erat kaitannya dengan sungai. Beberapa tradisi yang menjadi perhatian utama adalah Loi Khratong, yaitu ritual penghormatan air dengan menghanyutkan lampion atau perahu kecil, serta Songkran, perayaan tahun baru yang menggunakan air sebagai simbol penyucian diri. “Dua budaya ini mencerminkan betapa sungai dan air sangat dihargai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Thailand,” katanya. Biomonitoring dan Budaya Konservasi Dr. Husamah menegaskan bahwa penelitian ini tidak hanya mengkaji budaya, melainkan juga mengintegrasikannya dengan metode ilmiah. Salah satunya adalah biomonitoring, yaitu pemantauan kondisi sungai melalui organisme indikator. “Kami ingin melihat bagaimana masyarakat Thailand menjaga kesehatan sungai, kemudian memadukannya dengan pendekatan sains seperti biomonitoring. Dengan begitu, hasilnya bisa lebih komprehensif,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa biomonitoring dapat menjadi sarana edukasi masyarakat sekaligus media untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. “Jika masyarakat memahami bahwa keberadaan serangga air, ikan, atau tumbuhan tertentu adalah penanda sungai sehat, maka mereka akan lebih peduli. Nah, kombinasi antara budaya dan sains ini yang sedang kami dorong,” tutur Husamah. Belajar dari Thailand untuk Jawa Timur Menurut Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, penelitian ini bukan sekadar studi banding, melainkan upaya untuk menemukan pola pengelolaan sungai yang lebih relevan bagi Jawa Timur. “Di Jawa Timur, masyarakat juga memiliki budaya lokal terkait sungai. Namun, praktik itu sering tergerus oleh modernisasi dan kurang mendapat perhatian. Dengan melihat praktik baik di Thailand, kita bisa memperkaya cara pandang sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal kita sendiri,” jelasnya. Ia mencontohkan beberapa budaya masyarakat Jawa Timur yang berkaitan dengan sungai, seperti tradisi larung sesaji atau selamatan desa di tepi sungai. “Budaya-budaya ini menunjukkan bahwa masyarakat kita pun sebenarnya punya rasa hormat terhadap sungai. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari upaya konservasi modern,” lanjutnya. Peran UMM dalam Penelitian Internasional Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasi terhadap tim peneliti yang berhasil memperluas jejaring riset hingga Thailand. “UMM terus mendorong dosen untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya berskala nasional, tetapi juga internasional. Penelitian di Sungai Chao Phraya ini adalah contoh nyata bahwa akademisi UMM mampu berkontribusi dalam isu global seperti konservasi air dan sungai,” ujarnya. Rektor juga menekankan bahwa penelitian semacam ini sangat penting untuk memberikan masukan kebijakan, baik bagi pemerintah daerah di Jawa Timur maupun lembaga internasional. “Air dan sungai adalah sumber kehidupan. Kita harus belajar dari mana saja, termasuk dari negara sahabat seperti Thailand,” tegasnya. Harapan dan Dampak Penelitian Prof. Abdulkadir menyampaikan bahwa penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan publikasi internasional bereputasi sekaligus rekomendasi praktis untuk pengelolaan sungai. “Kami ingin hasil riset ini tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi juga bisa diterapkan di lapangan. Misalnya, bagaimana pemerintah daerah bisa mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kebijakan konservasi sungai,” ungkapnya. Dr. Husamah menambahkan bahwa penelitian ini juga akan memperkuat jejaring akademik antara Indonesia dan Thailand. “Kami membuka ruang kolaborasi dengan universitas di Thailand. Harapannya, penelitian bersama bisa terus dilakukan, baik tentang sungai maupun isu-isu lingkungan lainnya,” katanya. Sementara itu, Prof. Atok menegaskan pentingnya penelitian ini untuk pendidikan. “Sebagai dosen Pendidikan Biologi, kami ingin membawa hasil riset ini ke ruang kelas. Mahasiswa tidak hanya belajar teori ekologi, tetapi juga memahami praktik nyata di masyarakat. Dengan begitu, mereka akan lebih siap menjadi guru yang mampu menanamkan kepedulian lingkungan pada generasi muda,” jelasnya. Inspirasi dari Sungai untuk Kehidupan Dalam refleksinya, tim peneliti sepakat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan pusat kehidupan dan budaya. “Sungai mengajarkan kita tentang keseimbangan. Jika kita menjaga sungai, maka sungai akan menjaga kita. Itulah pesan yang kami temukan di Chao Phraya dan ingin kami bawa pulang ke Jawa Timur,” ujar Prof. Abdulkadir. Dengan semangat itu, tim peneliti Pendidikan Biologi UMM bertekad untuk terus mengembangkan riset lintas budaya dan lintas negara. Mereka yakin bahwa kearifan lokal, ketika dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern, akan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Prodi Pendidikan Biologi UMM Dalami Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di TPA BLE Banyumas

Banyumas — Pengelolaan sampah tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang bermakna. Dalam rangkaian kegiatan Studi Lapang Terintegrasi (SLT) 2025 bertema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”, Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kunjungan edukatif ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Berbasis Lingkungan dan Edukasi (BLE) yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (23/07/2025). Kunjungan ini menjadi momen penting karena merupakan kunjungan pertama dari program studi berlatar pendidikan ke TPA BLE. Kepala UPT TPA BLE, Edi Nugroho, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme mahasiswa. Ia menekankan bahwa keberhasilan Banyumas dalam pengelolaan sampah tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat, baik secara individu maupun komunal melalui Kelompok Sadar Masyarakat (KSM). Menurut Edi, pendekatan terstruktur mulai dari sumber (rumah tangga) hingga pengolahan lanjutan di TPA BLE menjadikan Kabupaten Banyumas sebagai percontohan nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Tidak semua sampah berakhir di TPA; sebagian besar telah terpilah dan diproses secara mandiri di tingkat masyarakat. Fuad Jaya Miharja, M.Pd, dosen Prodi Pendidikan Biologi, menilai kunjungan ini sangat bernilai. “Ini bukan sekadar observasi lapangan. Mahasiswa belajar bagaimana perspektif terhadap sampah dapat diubah — dari limbah menjadi sumber daya ekonomi dan edukasi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran di Prodi Pendidikan Biologi sudah selaras dengan praktik ini: tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga membumikan konsep melalui praktik nyata. Fuad juga mengungkapkan bahwa salah satu mahasiswanya telah mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis proyek untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block, terinspirasi dari praktik yang dilakukan di TPA BLE. Citra Lesmana, salah satu mahasiswa peserta SLT, mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem pengelolaan di TPA BLE. “Saya terkejut, tidak seperti TPA biasa yang identik dengan bau menyengat. Di sini, bau hampir tidak terasa,” ujarnya. Ia juga belajar mengenai ekonomi sirkular, dari pemanfaatan sampah anorganik menjadi Refused Derived Fuel (RDF), hingga limbah organik yang diolah menjadi pakan maggot, pupuk kasgot, bahkan pakan ternak unggas. “Dari kunjungan ini saya bisa melihat rantai pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, dan yang paling penting, saya punya banyak ide bagaimana membelajarkan isu sampah secara kreatif kepada siswa,” tutup Citra dengan penuh semangat.
Eksplorasi Biodiversitas di Kaki Gunung Ciremai: Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM Kunjungi Kebun Raya Kuningan

Kuningan — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan kegiatan eksplorasi biodiversitas di Kebun Raya Kuningan (KRK), Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung di kaki Gunung Ciremai ini mengusung tema “Biodiversitas: Edukasi Lingkungan dan Keanekaragaman Hayati untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.” Kebun Raya Kuningan, yang dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui UPTD setempat, merupakan kawasan konservasi dengan luas 155 hektar dan memiliki lebih dari 23.000 spesimen tanaman yang telah teregistrasi, termasuk jenis-jenis endemik khas Jawa Barat. Kepala UPTD KRK, Dedi Kurniawan, menyambut baik kunjungan ini dan menyebutnya sebagai bentuk nyata kolaborasi antara lembaga pendidikan dan lembaga konservasi. Ia juga menyatakan bahwa UMM adalah perguruan tinggi terjauh yang pernah berkunjung ke KRK. “Kehadiran teman-teman dari UMM sejalan dengan empat fungsi utama KRK: konservasi, penelitian, pendidikan, dan wisata,” ujarnya. Dalam sesi eksplorasi, mahasiswa mendalami studi tanaman endemik seperti ambit (Elaeocarpus grandiflorus)—yang oleh masyarakat Sunda dikenal juga dengan nama rejasa, raja sor, atau kemaitan. Tanaman ini memiliki cita rasa pahit dan diyakini memiliki khasiat farmakologis sebagai antiinflamasi dan penurun panas. Selain menjelajah area konservasi, peserta juga mengunjungi rumah kaca (greenhouse) yang menyimpan berbagai koleksi anggrek, termasuk Dendrobium sp., serta laboratorium kultur jaringan yang mendukung fungsi penelitian dan pelestarian tanaman langka. Drs. Samsun Hadi, M.S., dosen pendamping kegiatan ini, menyampaikan bahwa potensi edukatif KRK sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar di semua jenjang pendidikan. “Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga merangsang mahasiswa agar mampu mengembangkan pembelajaran inovatif berbasis potensi lokal,” tuturnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat langsung peran nyata konservasi dalam mendukung pendidikan berkelanjutan. Pengalaman lapangan seperti ini diharapkan memperkuat kesadaran ekologis dan kemampuan pedagogis calon guru biologi dalam menyusun pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif.