PBIO UMM, 41 Tahun Konsisten Lahirkan Lulusan Unggul

Kaprodi PBIO UMM Prof Dr Eko Susetyarini berfoto bersama mahasiswa berprestasi dan para dosen

MALANG – Tepat tahun 2024, Program Studi Pendidikan Biologi (PBIO) FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, berusia 41 Tahun. Refleksi dan perayaan hari ulang tahun (milad) itu dilakukan dengan pemberian penghargaan dan talk show bertema “senantiasa berubah menjadi lebih baik”. Prof. Dr. Eko Susetyarini selaku Kaprodi PBIO UMM memaparkan bahwa prodi ini senantiasa berikhtiar menghasilkan lulus unggul dan profesional, khususnya lulusan menjadi guru, peneliti dan entrepreneur. “Ribuan alumni PBIO UMM telah mengabdi di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai luar negeri. Banyak yang menjadi guru baik ASN maupun swasta, kepala sekolah, direktur, pengusaha, dosen, dan peneliti. Mereka umumnya selalu mewarnai lingkungan dengan keilmuan yang dimiliki, karakter, dan berbagai keunggulan pribadi yang telah dibekali selama kuliah” ungkap Prof Eko dengan rasa bangga. Sementara itu, dalam sesi talk show, Dr. Husamah selaku narasumber menekankan pentingnya perubahan menjadi lebih baik. “Agama kita menuntut setiap manusia untuk selalu lebih baik setiap harinya. Artinya, itu perubahan. Mahasiswa PBIO UMM pun harus terus berubah, jangan cepat berpuas diri, terus kejar prestasi” ujar dosen yang juga alumni PBIO UMM itu. Dr Husamah juga berpesan bahwa mahasiswa harus selalu bangga dengan PBIO UMM. Saat ini tidak ada lagi dikotomi negeri atau swasta. Hal yang harus dilihat adalah akreditasi Program Studi. Dan PBIO UMM telah terakreditasi A dan unggul selama dekade terakhir ini. Bahkan prodi ini juga tersertifikasi internasional dari AUN-QA. Pada acara milad ke-41 yang digelar di Aula Biro Administrasi Umum UMM, tanggal 24 Februari 2024, dan dihadiri oleh mahasiswa seluruh angkatan dan dosen, diberikan pula penghargaan. Penghargaan merupakan bentuk apresiasi pimpinan PBIO UMM kepada para dosen dan mahasiswa yang berprestasi. Nyatanya, banyak mahasiswa PBIO UMM yang memiliki prestasi akademik dan non-akademik dari level lokal hingga internasional. Berita ini telah tayang pada: https://klikmu.co/41-tahun-biologi-umm-konsisten-lahirkan-lulusan-unggul/

Perkuat Kerjasama Internasional Dengan HCMC Open University, Vietnam! Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Biologi UMM Bersiap Melakukan Pertukaran

Malang — Program Studi Pendidikan Biologi UMM berhasil melaksanakan realisasi kerja sama dengan Fakultas Bioteknologi HCMC Open University, Vietnam,  pada Senin, 19 Februari 2024 . Kegiatan yang dilakukan secara daring ini menandai peresmian kemitraan yang akan dimulai pada tahun ini, menampilkan spektrum kolaborasi yang luas mulai dari pertukaran mahasiswa dan dosen hingga penelitian kolaboratif antara para peneliti dari kedua institusi. Tujuan inti dari kerja sama internasional ini ada dua: untuk menyediakan platform pertukaran akademis dan budaya yang kaya bagi mahasiswa dan dosen kedua universitas dan untuk memungkinkan penelitian kolaboratif inovatif yang memanfaatkan beragam keahlian dan sumber daya yang tersedia bagi kedua institusi. Upaya bersama ini akan memfasilitasi pembentukan komunitas akademik dinamis yang mendorong pemahaman lintas budaya dan berbagi pengetahuan lintas batas. Mulai tahun akademik 2023/2024, mahasiswa dan dosen Pendidikan Biologi UMM akan berkesempatan mengikuti program pertukaran di Fakultas Bioteknologi, HCMC Open University, Vietnam, yang akan memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman terhadap ilmu pengetahuan global. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si dalam kesempatan ini memaparkan bahwa “Kerjasama ini merupakan inisiasi yang bagus untuk prodi dalam mempersiapkan akreditasi internasional ASIIN yang sesaat lagi akan dilaksanakan”. Selain pertukaran mahasiswa dan dosen, kerja sama ini akan diperluas ke inisiatif penelitian kolaboratif. Dalam pengaturan ini, para peneliti dari kedua institusi akan berkolaborasi dalam berbagai proyek penelitian ilmiah yang memanfaatkan gabungan keahlian para dosen dan peneliti dari Pendidikan Biologi UMM dan dari HCMC Open University. Upaya penelitian bersama ini bertujuan untuk mengatasi tantangan global yang mendesak di bidang biologi, bioteknologi, dan bidang terkait, memberikan kontribusi wawasan berharga dan solusi inovatif bagi komunitas ilmiah. Dr. Chau Nguyen Ngoc Bao yang merupakan perwakilan Dekanat Fakultas Bioteknologi, HCMC Open University dengan antusias menyampaikan bahwa Kerjasama ini bukan hanya ditaraf akademik, namun juga membawa misi budaya sebagai negara tetangga di ASEAN. Program ini nantinya juga akan dikembangkan lebih lanjut untuk mencakup kegiatan keterlibatan dua instansi ini dalam pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keahlian para dsoen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang berada di Vietnam atau sebaliknya. Fase kolaborasi ini menggarisbawahi komitmen kedua lembaga untuk berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di masyarakat masing-masing dan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka.

Mahasiswa PMM UMM Dukung Guru SMP Muhammadiyah 02 Batu dalam Optimalisasi Kurikulum Merdeka

Batu, 10 Februari 2024 — Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali hadir sebagai wujud nyata kontribusi akademisi dalam dunia pendidikan. Kali ini, mahasiswa PMM turut serta dalam mendampingi guru-guru di SMP Muhammadiyah 02 Batu guna mengembangkan modul ajar dan menerapkan metode pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi sistem pendidikan yang lebih fleksibel, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik saat ini. Pendampingan ini bertujuan untuk membantu para guru dalam menyusun modul ajar berbasis Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL), dua metode yang menekankan pada penyelesaian masalah dan proyek nyata sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan penerapan metode ini, diharapkan peserta didik dapat lebih aktif dalam berpikir kritis, kreatif, serta memiliki keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan wawasan bagi para guru dalam mengimplementasikan pembelajaran yang lebih adaptif dan menyenangkan bagi siswa. Dalam proses pendampingan, mahasiswa PMM UMM mengadakan serangkaian kegiatan yang dirancang secara sistematis. Kegiatan diawali dengan koordinasi dengan pihak sekolah pada 15 September 2023, yang bertujuan untuk mendiskusikan pelaksanaan program. Selanjutnya, pada 22 September 2023, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk merancang strategi pendampingan. Pendampingan pembuatan modul ajar berbasis PBL bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Seni Budaya berlangsung secara daring melalui WhatsApp pada 15-31 Oktober 2023. Setelah itu, pelaksanaan pembelajaran berbasis PBL untuk mata pelajaran tersebut dilakukan pada 11-22 Desember 2023, diikuti oleh implementasi pembelajaran berbasis PjBL pada 8-12 Januari 2024. Pada 13 Januari 2024, mahasiswa PMM UMM bersama para guru melakukan refleksi terhadap efektivitas pembelajaran berbasis PBL dan PjBL dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Selanjutnya, pada Februari 2024, dilakukan pengerjaan laporan serta publikasi jurnal sebagai dokumentasi dan publikasi hasil kegiatan. Salah satu hasil nyata dari pendampingan ini adalah tersusunnya modul ajar yang lebih aplikatif serta didokumentasikan dalam bentuk video pembelajaran. Video ini nantinya dapat menjadi referensi tidak hanya bagi guru di SMP Muhammadiyah 02 Batu, tetapi juga bagi tenaga pendidik lainnya yang ingin menerapkan Kurikulum Merdeka di sekolah mereka. Kepala sekolah SMP Muhammadiyah 02 Batu menyampaikan apresiasi terhadap program PMM ini, yang dianggap sangat membantu dalam meningkatkan kesiapan sekolah dalam menerapkan Kurikulum Merdeka secara lebih luas. “Kami merasa sangat terbantu dengan adanya program ini. Para guru mendapatkan wawasan baru serta bimbingan langsung dalam menyusun modul ajar yang lebih inovatif. Kami berharap kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang ini dapat terus berlanjut demi meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah kami,” ungkapnya. Selain memberikan manfaat bagi para guru dan siswa, program ini juga memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa PMM UMM dalam mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari di bangku kuliah ke dalam dunia nyata. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori pendidikan, tetapi juga menghadapi tantangan di lapangan serta berinteraksi langsung dengan para pendidik dan peserta didik. Hal ini semakin memperkuat keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah yang sangat diperlukan dalam dunia kerja di masa depan. Mahasiswa PMM juga terlibat dalam penyusunan laporan serta dokumentasi kegiatan yang nantinya dapat dijadikan bahan evaluasi dan referensi bagi pelaksanaan program serupa di masa mendatang. Dokumentasi ini tidak hanya berbentuk modul dan video pembelajaran, tetapi juga laporan akademik yang bisa menjadi kontribusi bagi pengembangan riset di bidang pendidikan. Tim mahasiswa PMM UMM yang terlibat dalam program ini terdiri dari Andika Wahyu Bagus Sanjaya (Pendidikan Biologi), Safina Azizah Sukma Putri (Pendidikan Biologi), dan Isna Tazkiyatul Maulidiyah (Pendidikan Biologi). Mereka berkolaborasi dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari perencanaan hingga implementasi di lapangan. Ke depan, mahasiswa PMM berharap program ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan cakupan yang lebih luas. Tidak hanya di SMP Muhammadiyah 02 Batu, tetapi juga di sekolah-sekolah lain yang ingin mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dapat menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Dengan adanya program ini, diharapkan semakin banyak sekolah yang siap menerapkan Kurikulum Merdeka dengan dukungan dari akademisi dan mahasiswa. Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah, proses pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan secara optimal, menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif, menyenangkan, serta mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan zaman. Selain itu, inisiatif seperti ini juga diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dalam program pengabdian masyarakat demi memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.

Cerita Inspiratif dari Dua Mahasiswi Pendidikan Biologi UMM yang teliti Gen Nyamuk hingga berhasil Lulus 3.5 Tahun dengan Predikat Cum Laude

Dua Mahasiswi PBIO-UMM Lulus Tercepat dan Cum Laude

Malang — Sabtu, 26 Januari 2024, dua mahasiswa program studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Malang ini berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dengan 7 semester. Dua mahasiswa ini adalah Najma Husna Hanifah yang kerap disapa Najma berasal dari Kabupaten Banyuwangi dan Shofi Tamala atau yang kerap dipanggil Shofi berasal dari Kabupaten Probolinggo. Keduanya ditetapkan lulus pada kamis, 18 januari lalu oleh para dosen penguji dari Program Studi Pendidikan Biologi UMM dengan IPK yang sangat memuaskan dengan predikat cum laude (IPK Shofita 3.94 dan Najma 3.95). Najma dan Shofita memang bekerja dalam tim penelitian proyek yang sama, dibawah supervisi Dosen yaitu Bapak Moh. Mirza Nuryady, S.Si., M.Sc. Penelitian keduanya berbicara tentang bidang molekuler, yaitu desain primer gen Gen Voltage Gated Sodium Channel (VGSC) dan Acetylcholinesterase (ace-1) sebagai Gen Putatif Resisten Aedes aegypti sebagai sumber belajar biologi. Kami tertarik dalam meneliti tentang topik ini berdasarkan pada data kasus DBD yang di perantarai oleh vector nyamuk Aedes aegypti ini sangat tinggi di kota malang, selain itu untuk alasan dalam bidang pendidikannya karena untuk pembelajaran bioteknologi di SMA masih sebatas tekstual saja, sehingga kami merasa tertantang dan tentu bersyukur dapat menyelesaikan penelitian ini, ungkap dua mahasiswi ini. Saat menceritakan tentang penelitiannya, Najma dan Shofi mengaku tak semuanya berjalan mulus, terdapat beberapa trial and error. Akan tetapi, dengan semangat dan ambisi yang besar, mereka berdua berhasil menyelesaikan penelitian hingga akhir dan lulus 3.5 tahun. Selain disibukkan dengan kegiatan penelitian, kedua mahasiswa ini juga tergolong aktif berorganisasi, tercatat keduanya masih aktif terlibat dalam beberapa kegiatan seperti, najma melakukan kegiatan Magang Pada lembaga sosial kesehatan yang berada di Jakarta, dan shofita aktif menjadi Laison Officer mahasiswa Pertukaran Merdeka oleh KEMENDIKBUD RI. Najma dan Shofi mengaku bahwa pencapaian yang diperoleh tentu tidak lepas dari orang-orang terdekat yang selalu mengasihi dengan cara memberikan dukungan, motivasi, dan semangat. Mereka juga percaya bahwa kolaborasi teman satu tim yang baik dan saling memotivasi serta menguatkan akan menghasilkan kualitas penelitian yang lebih baik karena dikerjakan dengan hati yang tulus dan teliti. Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP UMM, Prof. Dr. Rr. Eko Susetya Rini, M.Si menyampaikan, kelulusan dua mahasiswi ini memang menjadi praktik baik yang perlu diterapkan untuk seluruh mahasiswa, dan Prodi Pendidikan Biologi selalu mendukung hal positif seperti ini, tentunya dengan berbagai program seperti Ekuivalensi Tugas Akhir, Program MBKM dari pemerintah, dan program Center of Excellence kelas Unggulan Anggrek yang dapat mempercepat masa studi hanya dalam 7 semester saja, tangkas professor di bidang reproduksi ini. Percepatan masa studi mahasiswa ini turut sejalan dengan harapan Program Studi Pendidikan Biologi UMM yang akan segera mengajukan diri dalam akreditasi Internasional, sehingga berbagai inovasi telah disiapkan untuk mendukung tercapainya lulusan yang tidak hanya cepat namun berkualitas. Shofita dan najma pun menambahkan untuk menjadi lulusan 3.5 tahun dibutuhkan strategi yang matang. Tips dari mereka berdua agar bisa lulus cepat yakni; 1). harus memiliki target yang akan dicapai, 2). Rajin melakukan bimbingan dengan dosen, 3). Jangan ragu untuk meminta bantuan orang lain, 4). perbanyak studi literatur, 5).selalu berdoa dan berikhtiar atas apa yang dikerjakan, 6). Serta wajib memiliki semangat yang tinggi meskipun pekerjaan tidak selamanya mulus. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2024/01/27/teliti-gen-nyamuk-dua-mahasiswi-pbio-umm-lulus-tercepat-dan-cum-laude/

Dosen UMM Ciptakan Obat Diabetes dari Daun Kembang Bulan

Tanaman Kembang Bulan (Tithonia diversifolia)

Dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., bersama timnya telah menemukan potensi ekstrak daun kembang bulan (Tithonia diversifolia) sebagai obat herbal alternatif untuk penderita Diabetes Mellitus (DM). Penelitian ini turut melibatkan Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., dan mahasiswa Fithri Wening Sasmita, yang juga berasal dari Program Studi Pendidikan Biologi UMM. Roro, sapaan akrab Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya biaya pengobatan diabetes serta potensi efek samping dari terapi konvensional. Selain itu, tren masyarakat menuju pengobatan alami dan gaya hidup back to nature turut mendorong eksplorasi ini. “Permintaan akan tanaman obat meningkat pesat, tidak hanya di Indonesia tetapi juga secara global. Sayangnya, sebagian besar tanaman obat di Indonesia masih dimanfaatkan sebatas jamu tradisional atau direbus saja. Belum banyak yang dikembangkan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) atau fitofarmaka, padahal potensinya luar biasa,” jelas Roro. Keunggulan Ekstrak Daun Kembang Bulan Dalam penelitian ini, ekstrak daun kembang bulan diuji pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) dan menunjukkan hasil signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah. Dengan dosis 5,14 ml per 200 gram berat badan tikus, penurunan kadar glukosa darah rata-rata mencapai 136,80 mg/dL, mendekati rata-rata kelompok kontrol normal sebesar 122,20 mg/dL. “Tanaman kembang bulan dikenal memiliki banyak manfaat, seperti mengatasi sakit perut, kembung, diare, hingga sebagai antiinflamasi. Penelitian kami menunjukkan potensinya juga sebagai antidiabetes,” ujar Roro. Penemuan Pertama di Indonesia Yang menarik, penelitian ini merupakan yang pertama di Indonesia dalam memanfaatkan daun kembang bulan untuk pengobatan diabetes. Temuan ini bahkan telah menjadi rujukan hampir 60 penelitian lain, menunjukkan relevansinya yang tinggi. Namun, Roro menggarisbawahi pentingnya penelitian lanjutan. “Selanjutnya, kami perlu memastikan keamanan ekstrak ini terhadap fungsi hati dan ginjal serta mengkaji efektivitas ekonominya. Apakah bentuk jamu cukup efektif dibanding obat kimia?” Roro juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan industri dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agar produk berbasis penelitian ini dapat masuk tahap hilirisasi dan bermanfaat bagi masyarakat luas. “Kami harap, temuan ini dapat menjadi langkah awal bagi pengembangan obat herbal lokal yang berkualitas tinggi, sekaligus membuka peluang baru bagi pemanfaatan tanaman Indonesia di ranah global,” pungkasnya.   Berita ini telah tayang pada: https://www.tempo.co/politik/dosen-umm-teliti-obat-alami-diabetes-dari-daun-kembang-bulan-102578

Cuan dari Sampah, Mahasiswa PBIO UMM adakan Kunjungan Lapang

Kuliah Kerja Lapang ke KSM Cinta Mahesa Pasuruan

Malang – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengadakan Kuliah Kerja Lapang (KKL) ke KSM Cinta Mahesa Pasuruan pada 23 Desember 2023. Kegiatan ini dipandu oleh Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si, Dr. Husamah, M.Pd., dan Drs. Samsun Hadi, MS., serta bertujuan untuk mengenal lebih dekat implementasi pengelolaan sampah berbasis maggot sebagai solusi lingkungan sekaligus peluang ekonomi. Prof. Abdulkadir memaparkan pentingnya isu sampah dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, masalah sampah muncul akibat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan. “Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2022 menyebutkan jumlah timbunan sampah nasional mencapai 21,1 juta ton. Dari total ini, 65,71% (13,9 juta ton) sudah terkelola, sementara 34,29% (7,2 juta ton) masih belum terkelola dengan baik,” terang Prof. Abdulkadir. Sampah sebagai Sumber Ekonomi Di lokasi, Ibu Lilik dan Pak Hendro, tim pengurus KSM Cinta Mahesa, menjelaskan bagaimana sampah dapat menjadi peluang ekonomi jika dikelola dengan baik. Penggunaan maggot (Black Soldier Fly atau BSF) menjadi salah satu cara inovatif mereka dalam mengolah sampah organik. “Ketika sampah organik dipilah dan diolah menggunakan maggot, dampaknya luar biasa. Maggot memiliki nilai ekonomis tinggi, baik sebagai pakan ternak maupun sebagai produk untuk dijual. Bahkan, dari hasil pengelolaan sampah, kami bisa mendukung upaya pemberantasan stunting dengan menghasilkan daging unggas berkualitas,” jelas Ibu Lilik. Pak Endro Winaryo, Koordinator Pengelola KSM, menambahkan bahwa timnya mampu mengurangi sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), sehingga memberikan efisiensi dan penghasilan tambahan bagi masyarakat. “Kami memiliki 17 anggota tim, dan semua sudah dicover BPJS dari penghasilan pengelolaan sampah berbasis maggot ini. Intinya, kita harus bersahabat dan bijak dengan sampah yang kita hasilkan,” ungkapnya. Produksi Maggot dan Peluang Ekonomi KSM Cinta Mahesa saat ini mengelola 10 biopon pembesaran maggot, masing-masing berkapasitas 10-15 kilogram maggot. Maggot pre pupa dijual seharga Rp 6.000 per kilogram, sedangkan maggot dewasa (pupa) dapat mencapai harga Rp 50.000 per kilogram. Dalam satu bulan, KSM mampu memanen hingga 120 kilogram maggot. Sarifudin Lathif, M.Pd., selaku pendamping yang juga salah satu alumni S1 dan S2 Prodi Pendidikan Biologi UMM, menjelaskan bahwa hasil penjualan maggot digunakan untuk meningkatkan ekonomi warga. “Sebagian warga menggunakan maggot sebagai pakan unggas dan ikan. Sebagian lainnya menjualnya untuk menambah pendapatan. Ini menjadi salah satu solusi nyata dalam mengelola sampah sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat,” jelas Sarifudin. Kolaborasi Pendidikan dan Lingkungan Kegiatan ini menunjukkan sinergi antara mahasiswa UMM dan masyarakat dalam menjawab isu-isu lingkungan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah yang inovatif. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan perekonomian masyarakat. Berita ini telah tayang pada: https://jatimaktual.com/blog/2023/12/24/cuan-dari-sampah-mahasiswa-pbio-umm-adakan-kunjungan-lapang/

Ada Empat Profesor dan Puluhan Doktor PBIO UMM Siap Akreditasi Internasional

Empat Profesor PBIO UMM

PBIO UMM makin percaya diri mengikuti akreditasi internasional, karena ada empat Profesor di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang yang baru saja dikukuhkan. Diantaranya, Prof. Dr. Ainur Rofieq, MKes guru besar bidang pendidikan biologi dan kesehatan, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd guru besar bidang pendidikan Biologi, dan Prof. Dr. Abdulkadir Rahardjanto, M.Si guru besar bidang ilmu biologi. Dengan pengukuhan ini, maka PBIO FKIP UMM telah memiliki empat profesor. Sebelumnya telah dikukuhkan Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si guru besar ilmu biologi reproduksi. Dalam waktu dekat, diharapkan jumlah profesor akan bertambah karena masih ada dosen yang sedang proses penilaian usulan oleh Kemendikbudristek. PBIO FKI UMM juga memiliki dosen-dosen bergelar Doktor dan berstatus Lektor kepala (Associate Professor) dan Lektor (Assist. Profesor). Ada juga dosen yang sedang menempuh Ph.D di Korea dan beberapa lainnya sedang menyiapkan studi doktoral. Dengan modal ini, PBIO UMM siap dan percaya diri untuk melakukan rekognisi internasional. Akreditasi yang akan dituju adalah ASIIN. “UMM layak kita dorong untuk menjadi World Class University. Profesor yang baru dikukuhkan akan menjadi kekuatan pendukungnya,” kata Kepala LLDIKTI VII Prof. Dr. Dyah Sawitri. Jum’at (22/12/2023). Merespon harapan tersebut, Prof. Dr. Rr Eko Susetyarini, M.Si selaku ketua Prodi PBIO FKIP UMM menegaskan bahwa pihaknya siap untuk menuju internasionalisasi. Menurutnya, modal akreditasi unggul yang telah diperoleh selama satu dekade terakhir sangat cukup menjadi kekuatan. “Kami juga telah memperoleh sertifikasi internasional dari ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA). Untuk itu kami terbang dan bersinar lebih tinggi untuk mencetak guru-guru profesional, peneliti, dan entrepreneur masa depan yang gemilang,” ujar Prof. Eko. Secara terpisah, Kepala UPT Akreditasi dan Pemeringkatan UMM Dr. Surya Anoraga menyampaikan bahwa Prodi PBIO FKIP UMM dipersiapkan untuk memproses berkat persyaratan akreditasi ASIIN di tahun 2024. “Dengan demikian, ditargetkan 2025 sudah disubmit dan divisitasi. PBIO FKIP UMM sangat mumpuni dengan pengalaman, SDM, dan capaian-capain luaran selama ini,” tukasnya. Berita ini telah tayang pada: https://mediapribumi.id/ada-empat-profesor-dan-puluhan-doktor-pbio-umm-siap-akreditasi-internasional/

Cerita Salsabilla Rohanah, Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMM yang Kantongi Medali Emas sekaligus Perunggu dalam PIMNAS ke-36

Salsabilla Rohanah dan Tim PKM Lolos PIMNAS 36

Malang — Salsabilla Roihanah, mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil meraih medali emas dan medali perunggu dalam acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2023 ke 36 di Universitas Padjajaran. Prestasi ini diraih melalui kategori poster PKM-RE berjudul “Potensi Bakteriofage Hepatopankreas Dan Serasah Mangrove Sebagai Inovasi Teknologi Kontrol Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease Penyebab Kematian Total Pada Litopenaeus Vannamei”. Salsa, sapaan akrabnya, mengatakan AHPND merupakan penyakit yang berdampak sangat signifikan pada industri perikanan udang di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus yang menyerang organ hepatopankreas pada udang Litopenaeus vannamei.  “Selama ini, belum ditemukan solusi yang efektif untuk mengendalikan dan mencegah penularan penyakit ini, yang mengakibatkan kerugian besar bagi peternak udang,” ungkapnya. Melihat permasalahan tersebut, salsa dan tiga rekannya yang diketuai oleh lely mahasiswa aquakultur melakukan penelitian yang inovatif untuk mencari cara pengendalian dari penyakit AHPND. Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa potensi bakteriofage merupakan solusi yang menjanjikan dalam mengatasi penyakit ini. Bakteriofage adalah virus yang dapat menginfeksi dan menghancurkan bakteri secara spesifik. Dalam penelitiannya, salsa dan tim berhasil mengisolasi bakteriofage yang dapat menginfeksi dan menghancurkan bakteri Vibrio parahaemolyticus penyebab AHPND. Ini menjadikan bakteriofage sebagai solusi alami dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit pada udang Litopenaeus vannamei. Selain itu, dalam penelitiannya, mereka juga menemukan bahwa pemberian serasah mangrove pada kolam budidaya udang dapat meningkatkan daya tahan udang terhadap penyakit AHPND. “Serasah mangrove mengandung beragam mikroorganisme yang dapat berperan sebagai probiotik alami bagi udang, sehingga membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh udang dan mengurangi risiko terkena penyakit,” terang Lely. Hasil penelitian ini sangat menarik perhatian juri dalam acara Pimnas. Poster yang dipresentasikan oleh mereka dalam ajang bergengsi PIMNAS ke-36 dan berhasil menggambarkan secara komprehensif metode dan hasil penelitiannya. Kualitas penelitian dan potensi aplikasinya dalam industri perikanan udang membuat poster ini terpilih sebagai juara dalam kategori Pimnas. Melalui penelitiannya, salabila dan tim telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan inovasi teknologi kontrol penyakit AHPND pada budidaya udang Litopenaeus vannamei. Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini dan meningkatkan produktivitas perikanan udang di Indonesia. Ditanya terkait kemenangannya, Salsa dan tim mengaku tidak mengira akan mendapatkan juara emas dalam kategori poster ini. Pasalnya, mereka kendala waktu yang singkat. Namun karena kegigihan tim dan usaha yang maksimal menjadikan mereka sebagai pemegang juara emas kategori poster di kejuaraan Pimnas ini. “Keterbatasan waktu itu justru menjadi sebuah semangat dan tekat untuk bisa memberikan hasil yang maksimal bagi kami. Alhamdulillah, semua ikhtiar kami mendapatkan hasil terbaik,” ungkapnya sambil tersenyum bangga. Atas capaian ini, pihak Universitas Muhammadiyah Malang juga berkomitmen untuk mendukung pengembangan penelitian ini lebih lanjut, baik dalam bentuk peningkatan sarana dan fasilitas laboratorium, maupun dukungan dana untuk penelitian lebih lanjut. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan Indonesia dapat menghasilkan inovasi-inovasi teknologi yang dapat membantu mengatasi permasalahan di industri perikanan udang dan meningkatkan kualitas sumber daya perairan yang berkelanjutan. Berita ini telah tayang pada: https://suryamalang.tribunnews.com/amp/2023/12/05/tim-mahasiswa-umm-raih-dua-medali-di-pimnas-ke-36-dari-poster-dan-presentasi

Bahas Isu SDGs, PBIO UMM Hadirkan Tiga Profesor

Sabtu, 4 November 2023 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan Seminar Nasional Ke-8. Tema yang diangkat adalah “Biologi dan Pendidikan untuk Mendukung Pencapaian SDG’s”. Seminar Nasional ini diikuti oleh 100an Pemakalah dan 250 peserta non-pemakalah. SDGs adalah singkatan dari “Sustainable Development Goals” dalam bahasa Inggris, yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.” SDGs adalah serangkaian 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 sebagai bagian dari Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. “Tujuan dari SDGs adalah untuk mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan di seluruh dunia, dengan berfokus pada berbagai isu yang sangat penting, seperti mengakhiri kemiskinan ekstrem, mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi, memerangi perubahan iklim, mengamankan air bersih dan sanitasi, meningkatkan kesehatan dan pendidikan, serta banyak isu lainnya yang terkait dengan pembangunan berkelanjutan” ujar Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si selaku Kaprodi PBIO UMM dalam sambutannya. Menurut Prof. Eko, SDGs mencakup 17 tujuan utama yang dibagi menjadi 169 target yang lebih spesifik yang diharapkan dapat dicapai pada atau sebelum tahun 2030. Tujuan-tujuan ini memberikan panduan global bagi negara-negara dan organisasi internasional untuk berusaha mencapai pembangunan berkelanjutan yang lebih baik di seluruh dunia, sambil memperhatikan aspek-aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sementara itu, Prof. Madya M. Faizal A. Ghani, Ph.D dari Universiti Malaya banyak menyampaikan tentang best practices SDGs di Malaysia. Salah satunya bagaiman keterkaitan dengan pendidikan, yaitu Education for Sustainable Development. Dosen yang telah menghasilkan ratusan paper itu juga menyampaikan perlunya pembudayaan Higher-Order Thinking Skills (HOTS). “Saat ini dibutuhkan kontribusi semua pihak. Dan Biologi harus memaikan peran strategis dalam mewujudkan SDGs. Biologi harus berkontribusi menghasilkan generasi yang memiliki HOTS dan terdidik sehingga ramah lingkungan” tegas Professor alumni ESL (Indiana University, USA tahun 2012. Pemateri lainnya adalah Prof. Dr. Ainur Rofieq, M.Kes, guru besar bidang pendikan biologi dan kesehatan. Prof Rofieq secara praktis membahas judul “Mengintegrasikan Aspek Lingkungan dalam Pencapaian SDGs: Kasus Debu Rumah di Perkotaan”. Beliau banyak berbagi pengalaman tentang risetnya selama puluhan tahun. “Secara praktis, Debu rumah perkotaan berkontribusi pada berbagai aspek SDGs terutama aspek kesehatan dan lingkungan. Partikel debu yang ada di udara dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia, yang menyebabkan penyakit pernapasan dan alergi. Partikel debu berperan dalam masalah lingkungan, seperti polusi udara dan perubahan iklim, karena dapat membawa polutan dan gas rumah kaca”, ujar Profesor yang juga kepala BPMI UMM ini. Selain itu, Profesor Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd, selaku guru besar ilmu pendidikan PBIO UMM menyampaikan paparan tentang “Systematic Review : Literasi Sains dalam Pembelajaran IPA Inovatif Mendukung Ketercapaian Tujuan Pendidikan Berkualitas Sustainable Develpoment Goals di Indonesia”. “Mendukung ketercapaian SGDs dapat dilakukan dengan mengintegrasikan literasi dalam pembelajaran. Literasi sains melalui penerapan model pembelajaran dan penggunaan media beserta bahan ajar. Penggunaa meda dan bahan ajar seperti komik, cerita bergambar, buku berbasis SSI, LKPD dan poster dalam pembelajaran IPA. Penerapan model pembelajaran STEM-PjBL, PBL dengan SSI, guided inquiry-blended learning, dan mengintegrasikan dalam model pembelajaran Li-Pro-GP (mengelaborasikan literasi sains dalam program GLS terintegrasi PPK). Hasil penelitian dapat dimanfaatkan oleh guru atau pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan, dsn peneliti bidang Pendidikan melalui pembiasaan literasi sains dalam pembelajaran” jelas Kepala Laboratorium Biologi UMM ini. Sesi akhir dari seminar nasional ini adala presentasi makalah. Pemakalah dibagi menjadi 5 room. Makalah selanjutnya akan dipublikasi di berbagai jurnal mitra dan prosiding. Pada acara ini dipilih juga 5 pemakalah terbaik dan satu penghargaan khusus untuk kepesertaan terbaik.

LPTK (Harus) Mencetak Guru Inovatif dan Reflektif

Tantangan baru Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Indonesia, pasca pandemi Covid-19 dan diterbitkannya peraturan Dirjen GTK Nomor 2019 tahun 2023 adalah memastikan para guru bersifat inovatif dan reflektif. Sebagai penghasil guru, LPTK memang dihadapkan pada tantangan abad ke-21 dan perkembangan IPTEK (misal revolusi industri 4.0) di bidang pendidikan dan pembelajaran. LPTK tentunya harus tepat merespon tantangan tersebut. Logisnya, LPTK mau tidak mau harus memilih untuk mewujudkan profil alumni yaitu guru yang inovatif dan reflektif berada pada jalur yang benar dan tepat (on the right track). Guru yang inovatif dan reflektif tersebut akan menjadi andalan untuk menjadikan siswanya adaptif, responsif, dan sukses menjawab tantangan hidup di pertengahan abad ke-21 dan revolusi industri. Dunia pendidikan membutuhkan guru yang inovatif dan reflektif. Bilamana kebutuhan ini terpenuhi maka perkembangan IPTEK yang seperti apapun, perkembangan tuntutan zaman yang bagaimanapun dan perkembangan tuntutan belajar seperti apapun akan dapat diselesaikan melalui peran guru yang memiliki karakter inovaatif dan reflektif tersebut. Dalam perkembangan sejarah pendidikan, guru yang inovatif dan reflektif telah menunjukkan peran yang signifikan. Mereka tidak sekedaar diharapkan, tetapi mereka telah memberikan kontribusi dan inspirasi pada terwujudnya siswa yang memiliki spirit untuk hidup lebih baik (well-being) dan spirit untuk berprestasi (need for achievement). Namun tantangannya adalah bagaimana mewujudkan guru inovatif dan reflektif tersebut? Guru Inovatif Guru inovatif adalah guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif karena inovasi hanya akan muncul bilamana berpikir kritis dan kreatif dimiliki oleh guru tesebut. Guru yang inovatif adalah guru yang berkualitas dan menjadi harapan masyarakat pendidikan pada umumnya. Berlaku sebaliknya bahwa guru yang berkualitas adalah guru yang inovatif. Ciri karakter inovatif ini diantaranya ditunjukkan oleh komitmen atau sikap yang positif, tidak mudah mengeluh, mencintai pekerjaan, dan mengusahakan yang terbaik dalam bekerja. Dalam aspek pengetahuan guru inovatif selalu melakukan update terhadap informasi baru yang perlu dimanfaatkan untuk menajamkan kompetensi profesionalnya. Dalam aspek keterampilan, guru inovatif selalu belajar dan berupaya mewujudkan hal hal yang unik, tepat guna dan berhasil guna dalam memecahkan tantangan atau permasalahan yang dihadapi. Ke depan, tuntutan hidup akan semakin kompleks dan rumit. Banyak ditemukan perubahan tuntutan dalam semua bidang pekerjaan yang sebelumnya tidak diberlakukan, Hal ini berlaku bagi siapapun yang telah memasuki dunia kerja maupun bagi yang akan memasuki dunia kerja. Perkembangan zaman tidak mundur ke belakang, tetapi selalu maju ke depan. Tuntutan hidup akan semakin kompleks, bukan semakin sederhana. Di bidang pendidikan, tuntutan ataupun permintaan baru yang diberlakukan membutuhkan personal guru yang berkualitas agar dapat memberi respon yang tepat dan akurat atas tantangan yang semakin kompleks. Salah satu tantangan terssebut misalnya guru saat ini harus memahami dan menerapkan kebijakan TRL, CTL, Pembelajaran Berdeferensiasi, Literasi Numerasi, Computational Thinking dan Design Thinking. Semua terminology ini mutakhir berkaitan dengan pembelajaran abad ke-21 yang tidak dikenal dalam dunia keguruan sebelumnya. Guru inovatif tidak lahir secara kebetulan. Walupun kita mengakui bahwa dapat menemukan guru inovatif yang terbentuk secara naluriah atau alamiah, tanpa sentuhan pendidikan. Akan tetapi jumlah guru yang demikian ini terlalu sedikit, sementara kebutuhan untuk menyiapkan guru inovatif dan reflektif sangatlah besar. Dibutuhkan guru inovatif yang dilahirkan melalui proses pendidikan atau proses pembentukan karakter by design karena sifat inovatif dapat dibentuk dan dididik melalui pembentukan karakter inovatif. LPTK diharapkan mampu melahirkan guru berkarkter inovatif melalui proses inovatif yang disiapkannya. Guru Reflektif Sementara itu, guru yang reflektif adalah guru yang mau melihat dirinya sendiri, melakukan refleksi dan introspeksi diri, khususnya terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Selain selalu melihat sisi positif dari setiap saran dan kritik orang lain, guru yang reflektif selalu berusaha mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi peserta didik dan menelaah apakah pembelajaran yang dilakukan telah mengantarkan peserta didik menguasai kompetensi yang diharapkan. Guru yang reflektif tidak dengan mudah merasa puas terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan cenderung ingin mencoba hal baru untuk menyempurnakan pembelajarannya (best practices). Karenanya, guru yang reflektif bersikap terbuka terhadap perubahan, mau terus belajar, dan menerima nilai-nilai baru yang bersifat dinamis. Guru reflektif senantiasa melakukan dan membuat persiapan pembelajaran. Mulai dari melihat dan memahami KI dan KD (CP dan TP) silabus, RPP (modul ajar), buku sumber, sampai pada sumber belajar yang akan dijadikan acuan. Hal tersebut merupakan menu utama seorang guru reflektif. Guru reflektif selamanya menjadi guru pembelajar. Memiliki pemikiran terbuka, sehingga bila mendapat tantangan, ia jadikan sebagai lahan peluang. Sebaliknya, jika ada peluang, dijadikan sebagai tantangan untuk terus maju. Pemikiran yang terbuka pula, apabila mendapat masukan dari teman atau atasan selalu disaring dan direnungkan. Selanjutnya, direalisasikan dalam pembelajaran. Kemampuan reflektif merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Menjadi reflektif sangat penting karena dengan berefleksi, guru dapat menemukan fakt-fakta mengenai kekuatan dan kelemahannya dalam menerapkan suatu pengajaran dan menjadikan hal itu sebagai bahan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Seperti yang dikatakan Dewey bahwa refleksi adalah bertujuan untuk menemukan fakta untuk suatu tujuan tertentu (Reed & Bergemann, 2005). Oleh karena itu, dalam berefleksi melibatkan analisis dan pengambilan keputusan tentang apa yang telah terjadi (Wilson & Jan, 1998). Selain itu, guru reflektif mampu melihat permasalahan dari cara pandang siswa dan bekerja sama dengan siswa untuk membentuk kembali situasi belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa (Posner, 2010) dan aktif merenungkan pengajaran mereka dan pada konteks pendidikan, sosial, dan politik di mana mereka mengajar. Kompetensi reflektif tidak serta merta dapat dimiliki oleh seorang guru. Kompetensi refleksi perlu dilatih, diinisiasi, dan dibiasakan kepada calon guru agar karakter reflektif telah menjadi bagian dari dirinya dan siap diimplementasikan saat mengajar di sekolah. Karenanya, kompetensi berpikir reflektif telah diajarkan pada sesi akhir setiap mata kuliah inti, selektif, maupun elektif yang ditempuh. Untuk menguatkan kompetensi refleksi, secara khusus mahasiswa dilatih melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar seluruh mata kuliah yang ditempuh selama masa studi. Bagaimana Mewujudkan Guru Inovatif dan Reflektif? Bagaimana seseorang mampu inovatif dan berpikir reflektif? Mari kita simak tahapan ketika seseorang menggunakan kemampuan inovatif dan berpikir reflektifnya. Ada 5 tahapan ketika seseorang menjadi inovatif dan menggunakan kemampuan berpikir reflektif-nya, yaitu: 1). Hadirnya sebuah masalah; 2). Memahami permasalahan yang ada; 3). Menghubungkan ilmu yang dimiliki dengan permasalahan; dan 4). Melakukan evaluasi hipotesis; dan 5. Menerapkan cara pemecahan masalah yang dipilih. Dari proses tersebut dapat dilihat bahwa sesungguhnya tahapan akhir dari proses berpikir